Syariah 10 Jun 2025 Penulis: Redaksi KabarBursa Editor: Uslimin Usle

Ini Alasan Arasoft Suntik Dana Rp16,27 miliar ke Indonesia

Berbanding dengan Korea yang telah melakukan banyak usaha dan pencobaan hingga saat ini untuk membangun teknologi edukasi

Perusahaan teknologi edukasi asal Korea Selatan, Arasoft, telah menggelontorkan dana investasi sebesar 1 juta dolar AS atau setara Rp16,27 miliar

2025 Asean Korea Digital Business Partnership, Selasa 10 Juni 2025. Dok: Yubi/KabarBursa.com
2025 Asean Korea Digital Business Partnership, Selasa 10 Juni 2025. Dok: Yubi/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Perusahaan teknologi edukasi asal Korea Selatan, Arasoft, telah menggelontorkan dana investasi sebesar 1 juta dolar AS atau setara Rp16,27 miliar (asumsi kurs Rp16.266,64) ke Indonesia sejak 2019.

CEO Arasoft, Kang Juong-hyon, menyebut keputusan tersebut diambil karena melihat potensi besar yang dimiliki sektor teknologi pendidikan di tanah air.

Menurut Kang, meski Korea Selatan telah lebih dahulu mengembangkan teknologi edukasi melalui berbagai uji coba dan pengembangan, Indonesia tak kalah menarik dari segi potensi.

"Berbanding dengan Korea  yang telah melakukan banyak usaha dan pencobaan hingga saat ini untuk membangun teknologi edukasi," ujar dia dalam acara Asean Korea Digital Business Partnership, di Jakarta, Selasa 10 Juni 2025.

Lebih lanjut, Arasoft masuk ke pasar Indonesia adalah karakter demografi dan semangat belajar yang dinilai tinggi, terutama di kalangan generasi muda.

"Indonesia memiliki potensi tinggi untuk membangun," terangnya.

Ia menilai, dibandingkan dengan Korea, Indonesia memiliki populasi generasi muda yang jauh lebih besar.

Hal ini memberikan peluang besar untuk pengembangan ekosistem teknologi pendidikan ke depan.

Selain itu, antusiasme masyarakat terhadap pembelajaran berbasis teknologi juga dinilai sangat positif.

Perusahaan pun optimistis dapat terus memperluas kontribusinya melalui kemitraan lokal maupun pengembangan konten dan platform edukatif.

Dengan nilai investasi yang telah mencapai Rp16,27 miliar, Arasoft berharap bisa ikut mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia melalui pendekatan teknologi yang inklusif dan berkelanjutan.

"Setidaknya 1 juta USD, kami sudah berinvestasi hingga hari ini," tandasnya.

Optimisme Arasoft terhadap Indonesia juga sejalan dengan tren investasi asing yang terus mengalir ke kawasan Asia Tenggara.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN, Satvinder Singh, menyampaikan bahwa ASEAN merupakan kawasan ekonomi yang tumbuh stabil dan menjadi magnet bagi investor global.

“Pertumbuhan yang kuat di kawasan ASEAN kita saat ini. Ini adalah kawasan ekonomi dengan PDB sebesar 3,8 triliun. Dan kami tumbuh rata-rata antara 4 persen hingga 4,5 persen. Bahkan, tahun lalu kami tumbuh 4,8 persen,” katanya.

Untuk diketahui, Indonesia duduk di peringkat kelima dengan PDB per kapita USD4.958,35 atau Rp80,8 juta. Lebih rendah dari rata-rata ASEAN, yaitu USD5.749,451 atau Rp93,7 juta.

Kendati demikian, merujuk laporan Asian Development Bank (ADB) yang memperkirakan secara umum pertumbuhan PDB ASEAN tahun 2025 ini masih bisa bertumbuh hingga mencapai 4,7 persen, meskipun dunia masih dibayangi ketidakpastian global.

“Terlepas dari semua tantangan ekonomi global. Mereka sebenarnya telah mengindikasikan bahwa PDB ASEAN akan tumbuh tahun ini dan memperkirakan 4,7 persen, yang tidak buruk,” ujarnya.

Dalam hal perdagangan, ASEAN mencatat volume perdagangan mencapai USD 3,5 triliun. “Saya pikir kami adalah blok ekonomi terbesar ketiga dalam perdagangan,” katanya.

Ia juga menyoroti keberhasilan ASEAN menarik investasi asing langsung (FDI) yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Faktanya, USD224 miliar adalah yang kami tarik pada tahun 2024,” kata dia.

Hal ini menempatkan kita sebagai kawasan yang mampu menarik investasi dari luar Amerika Serikat. “Kita adalah penarik FDI terbesar sebagai sebuah blok,” tambah Satvinder.

Menurutnya, semua pencapaian ini menunjukkan bahwa ASEAN memiliki komitmen kuat untuk menjaga relevansi kawasan dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

“Saya pikir statistik ini sekali lagi menunjukkan bagaimana ASEAN benar-benar berkomitmen untuk membuat kawasan kita relevan, dan pertumbuhan pada dasarnya akan menjadi bagian dari DNA kita dalam beberapa dekade mendatang,” pungkasnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
RE
KabarBursa.pro Editorial Team

Redaksi KabarBursa

Berita Terkait