Syariah 29 Dec 2024 Penulis: Redaksi KabarBursa Editor: Tim Editorial

Analisa Tantangan dan Prospek Ekonomi Syariah Indonesia 2025

Analisa Tantangan dan Prospek Ekonomi Syariah Indonesia 2025
Analisa Tantangan dan Prospek Ekonomi Syariah Indonesia 2025

KABARBURSA.COM – Penasihat Center of Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abdul Hakam Naja, menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki banyak tantangan dalam mengembangkan sektor ekonomi syariah, meskipun memiliki potensi besar, terutama di sektor UMKM.

Dalam diskusi yang digelar oleh Indef mengenai outlook ekonomi syariah 2025, Hakam menyoroti perbandingan antara Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan perbankan syariah dan pembiayaan UMKM.

Ia mencatat bahwa pembiayaan UMKM di Malaysia telah mencapai 15 persen, sementara di Indonesia sudah lebih tinggi di angka 17,7 persen. Namun, Hakam menekankan bahwa pembiayaan ini harus terus didorong, dengan target mencapai 30 persen pada 2025.

Hakam juga membahas prospek perbankan syariah Indonesia menjelang 2025. Menurutnya, pertumbuhan unorganik melalui spin-off (pemisahan unit usaha syariah) harus diutamakan. Beberapa bank syariah besar seperti BDN dan CIMB Niaga di Malaysia telah berhasil berkembang pesat, dan Indonesia perlu mengikuti jejak tersebut. Konversi bank konvensional menjadi bank syariah juga harus didorong, mengingat potensi besar sektor ini di Indonesia.

"Digitalisasi menjadi elemen penting dalam pengembangan ekonomi syariah, dengan bank digital syariah di Malaysia mencapai 40 persen,"ujar Hakam dalam acara diskusi tentang outlook ekonomi syariah 2025 di Jakarta, Minggu, 29 Desember 2024.

Hakam menekankan perlunya menjaga keamanan data dan transaksi dalam dunia digital, apalagi saat menyasar generasi milenial.

Pengembangan Ekosistem Ekonomi Syariah

Hakam menekankan pentingnya membangun ekosistem ekonomi syariah yang solid, menghubungkan sektor keuangan, perbankan, dan industri halal. Tanpa adanya sinergi antara sektor real dan keuangan, ekonomi syariah di Indonesia tidak dapat berkembang maksimal.

"Sebagai negara dengan 87 persen penduduk Muslim, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah global. Hakam berharap Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2028, dengan fokus pada pengembangan ekonomi syariah yang juga selaras dengan ekonomi hijau dan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, Governance)," paparnya.

Harapan untuk Masa Depan

Hakam optimis bahwa ekonomi syariah akan menjadi kunci penting dalam perekonomian Indonesia di masa depan, terutama dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi.

Namun, untuk mewujudkannya, Indonesia harus memperkuat kebijakan dan langkah strategis dalam mendukung sektor perbankan syariah dan industri halal yang terus berkembang.

"Ekonomi syariah adalah masa depan Indonesia. Kita harus memastikan sektor ini tumbuh dengan baik agar Indonesia bisa menjadi pemain utama di kancah global," pungkas Hakam.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
RE
KabarBursa.pro Editorial Team

Redaksi KabarBursa

Berita Terkait