KABARBURSA.COM – Volkswagen mulai meninggalkan pendekatan yang selama ini berfokus pada kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) di China. Produsen otomotif asal Jerman itu kini menjadikan teknologi plug-in hybrid (PHEV) sebagai salah satu pilar utama untuk mempertahankan daya saing di tengah dominasi produsen lokal.
Perubahan strategi tersebut ditandai dengan peluncuran Volkswagen ID. Era S5, sedan PHEV yang dikembangkan bersama SAIC-Volkswagen. Langkah ini menjadi perubahan penting karena lini ID sebelumnya identik sebagai keluarga kendaraan listrik murni Volkswagen di pasar global.
Melalui model baru tersebut, Volkswagen menggabungkan motor listrik dengan mesin bensin 1,5 liter berteknologi efisiensi tinggi. Kombinasi itu menghasilkan jarak tempuh listrik hingga 160 kilometer berdasarkan standar CLTC dan jarak tempuh gabungan lebih dari 2.000 kilometer.
Strategi tersebut mencerminkan upaya Volkswagen menyesuaikan portofolio produknya dengan kebutuhan konsumen China yang kini semakin banyak memilih kendaraan hybrid sebagai solusi mobilitas jarak jauh tanpa mengandalkan pengisian daya secara penuh.
Ubah Strategi Hadapi Persaingan Produsen Lokal
Perubahan arah bisnis Volkswagen tidak lepas dari ketatnya persaingan di pasar kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) China.
Produsen domestik seperti BYD, Geely, Chery, Li Auto, Aito, hingga Great Wall Motor terus memperluas jajaran kendaraan hybrid dan extended-range electric vehicle (EREV), sehingga memaksa produsen global menyesuaikan strategi produknya.
Volkswagen merespons kondisi tersebut melalui strategi "In China, for China", yakni mengembangkan kendaraan yang dirancang khusus untuk pasar China, mulai dari teknologi, perangkat lunak, hingga karakter produknya.
Perusahaan menilai pendekatan tersebut akan memperkuat daya saing sekaligus membantu menghentikan penurunan penjualan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Target 50 Model Elektrifikasi
Sebagai bagian dari transformasi bisnisnya, Volkswagen menargetkan menghadirkan 50 model kendaraan energi barudi China hingga 2030.
Portofolio tersebut tidak lagi hanya berisi kendaraan listrik murni, tetapi juga mencakup model plug-in hybrid dan extended-range electric vehicle untuk menjangkau lebih banyak segmen konsumen.
Perubahan strategi itu juga didukung pendirian Volkswagen China Technology Company (VCTC) di Hefei sebagai pusat riset dan pengembangan terbesar Volkswagen di luar Jerman.
Melalui fasilitas tersebut, Volkswagen mengembangkan China Electronic Architecture (CEA) yang dirancang khusus untuk kendaraan di pasar China. Platform tersebut memungkinkan integrasi perangkat lunak lokal, sistem kecerdasan buatan, serta fitur berkendara otonom yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen setempat.
Pangkas Waktu Pengembangan Kendaraan
Lokalisasi pengembangan produk juga menjadi bagian dari strategi efisiensi perusahaan.Volkswagen menyebut proses pengembangan kendaraan kini dapat dipangkas menjadi sekitar 36 bulan, atau sekitar 30 persen lebih cepat dibandingkan pendekatan sebelumnya yang mengandalkan pusat riset di Jerman.
CEO Volkswagen Group, Oliver Blume, menegaskan China kini menjadi pusat transformasi perusahaan secara global. Menurutnya, China adalah penggerak utama transformasi kami dan kekuatan vital di balik ambisi global kami.
“Produk serta teknologi yang kami luncurkan merupakan bukti nyata dari kekuatan strategi lokalisasi komprehensif kami. Kami kembali (We are back),” ujar Oliver dalam keterangannya, 21 April 2026.
Senada dengan itu, Member of the Board of Management Volkswagen AG untuk China, Ralf Brandstätter, mengatakan strategi "In China, for China" mulai menunjukkan hasil melalui percepatan peluncuran produk baru.
"Strategi 'In China, for China' kami kini benar-benar turun ke jalan. Hanya dalam waktu 36 bulan, Volkswagen Group telah mengembangkan portofolio produk yang sepenuhnya baru untuk smart electric vehicles di China. Tahun ini saja, kami meluncurkan 20 kendaraan pintar ramah lingkungan baru," ujarnya.
Perubahan strategi tersebut menandai babak baru bagi Volkswagen di China. Alih-alih mengandalkan formula global yang selama ini menjadi andalan, perusahaan kini memilih mempercepat lokalisasi produk, teknologi, dan pengembangan kendaraan untuk mempertahankan posisinya di pasar otomotif terbesar di dunia.(*)