KABARBURSA.COM – Wall Street menutup perdagangan Kamis, 2 Juli 2026 WIB, dengan pergerakan yang cenderung datar. Di balik kenaikan mayoritas saham, tekanan dari sejumlah emiten teknologi berkapitalisasi besar membuat reli Wall Street kehilangan tenaga.
Dilansir dari AP, Kamis, 2 Juli 2026, Indeks S&P 500 bergerak nyaris tanpa perubahan setelah sempat berada di zona merah pada awal perdagangan. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 57 poin atau 0,1 persen. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru melemah 0,3 persen akibat tekanan pada saham-saham teknologi.
Salah satu penopang utama pasar datang dari General Mills. Perusahaan pemilik merek Cheerios dan Progresso itu melesat 7,8 persen setelah membukukan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi analis. Perseroan juga mengumumkan program efisiensi dengan memangkas biaya hingga USD3 miliar (sekitar Rp51 triliun) dalam empat tahun ke depan.
Secara keseluruhan, penguatan pasar berlangsung cukup merata. Sekitar dua dari tiga saham yang tergabung dalam indeks S&P 500 berhasil ditutup menguat.
Sentimen positif ikut datang dari sektor manufaktur Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur kembali tumbuh pada bulan lalu, meski lajunya sedikit lebih lambat dibanding perkiraan ekonom. Survei Institute for Supply Management juga mencatat kenaikan harga masih terjadi, tetapi dengan laju yang mulai melambat.
Data tersebut memberi harapan bahwa tekanan inflasi mulai mereda. Kondisi itu dinilai dapat mengurangi peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini.
Setelah laporan tersebut dirilis, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun dari level tertinggi pagi hari yang sempat mendekati 4,50 persen menjadi 4,47 persen.
Penurunan imbal hasil obligasi memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar. Imbal hasil yang tinggi selama ini membuat biaya pinjaman bagi dunia usaha maupun rumah tangga menjadi lebih mahal, sehingga berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut juga biasanya menekan valuasi saham dan berbagai instrumen investasi lainnya.
Meski demikian, tekanan terhadap saham teknologi masih membayangi perdagangan. Sejumlah emiten yang sebelumnya menikmati euforia kecerdasan buatan kembali mengalami aksi jual karena dinilai telah diperdagangkan pada valuasi yang terlalu mahal.
Micron Technology anjlok 9,6 persen. Nvidia turun 0,9 persen, sedangkan Applied Materials merosot hingga 11,1 persen. Ketiga saham tersebut dalam beberapa pekan terakhir bergerak sangat fluktuatif seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap valuasi sektor teknologi.
Di sektor ritel, saham Kroger naik tipis 0,1 persen setelah perusahaan mengumumkan akuisisi sebuah jaringan ritel makanan dan farmasi senilai USD1,25 miliar (sekitar Rp21,25 triliun) secara tunai. Selain itu, Kroger juga akan mengambil alih kewajiban sebesar USD400 juta (sekitar Rp6,8 triliun) dalam transaksi tersebut.
Sementara itu, Nike berhasil berbalik arah dari zona negatif menjadi menguat 2,3 persen. Produsen perlengkapan olahraga tersebut membukukan laba kuartalan yang lebih baik dibanding ekspektasi analis.
CEO Nike Elliott Hill mengatakan perusahaannya masih menghadapi berbagai tantangan yang menekan pendapatan. “Hingga saat ini kami masih menghadapi berbagai hambatan yang membebani pendapatan perusahaan,” ujarnya.
Pergerakan harga emas juga berubah arah. Setelah sempat jatuh di bawah USD3.980 (sekitar Rp67,66 juta) per troy ons pada perdagangan semalam, logam mulia tersebut akhirnya berbalik menguat.
Melemahnya data manufaktur Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil obligasi mendorong harga emas ditutup naik 1,1 persen ke level USD4.082,40 (sekitar Rp69,40 juta) per troy ons.
Di pasar energi, harga minyak dunia justru melemah. Investor masih berharap Amerika Serikat dan Iran pada akhirnya mampu mengakhiri konflik sehingga jalur pelayaran kapal tanker minyak mentah dapat kembali beroperasi normal.
Harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional turun 2,1 persen menjadi USD71,40 (sekitar Rp1,21 juta) per barel. Sementara itu, bursa saham di kawasan Eropa dan Asia ditutup bervariasi.
Indeks Kospi Korea Selatan menjadi salah satu yang mengalami tekanan terbesar setelah terkoreksi 2 persen. Meski demikian, sepanjang tahun ini indeks tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 97 persen berkat reli saham-saham kecerdasan buatan, termasuk SK Hynix.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 justru menguat 0,6 persen setelah nilai tukar yen menyentuh level terlemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam 40 tahun terakhir.(*)