Market Hari Ini 22 Jun 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Siap Melantai di BEI, Harga Saham EMMI Kemahalan atau Murah?

Merujuk prospektus awal perusahaan, saham yang ditawarkan bernilai Rp50 persaham dengan penawaran harga di kisaran Rp446 hingga Rp515.

PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) bersiap menggelar IPO dan mengincar dana segar hingga Rp269,27 miliar. Simak analisis valuasi dan kisaran harga sahamnya di sin

Logo PT Esa Medika Mandiri (Foto: Dok.EMMI)
Logo PT Esa Medika Mandiri (Foto: Dok.EMMI)

Daftar Isi

  1. 01 Penggunaan Dana IPO
  2. 02 Usaha EMMI

KABARBURSA.COM - PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) akan melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia.

Dalam IPO tersebut, perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 522,86 juta saham ke publik atau mewakili 30 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Merujuk prospektus awal perusahaan, saham yang ditawarkan bernilai Rp50 per saham dengan penawaran harga di kisaran Rp446 hingga Rp515. Manajemen menyampaikan dengan nominal penawaran tersebut, perseroan berpeluang membukukan dana segar hingga Rp269,27 miliar.

Bebicara mengenai kinerja, EMMI mencatatkan kinerja mentereng di tahun 2025. Pada periode tersebut, perusahaan mampu membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp32,43 miliar, atau naik drastis dibanding tahun sebelumnya yang senilai Rp11,25 miliar.

Sementara dari segi neraca, hingga 2025 EMMI memiliki total aset sebesar Rp564 miliar, menurun dibanding tahun 2024 yang sebanyak Rp714 miliar

Jumlah liabilitas perseroan pada tahun 2025 menurun menjadi Rp419 miliar dari Rp641 miliar pada tahun sebelumnya. Sedangkan ekuitas EMMI naik tajam sebesar Rp145 miliar dibanding tahun 2024 yang hanya Rp73 miliar.

Bagi investor ritel, salah satu pertanyaan yang kerap muncul saat ada IPO adalah apakah harga yang ditawarkan tergolong murah, wajar, atau justru mahal.

Berdasarkan perthitungan Kabarbursa.com, pada harga IPO di kisaran Rp446 hingga Rp515 per saham, EMMI akan memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp777,7 miliar hingga Rp897,6 miliar.

Perhitungan tersebut serupa dengan Ajaib Sekuritas yang menyebut maket cap EMMI akan berkisar Rp777,3 miliar (Rp446) dan Rp897,5 miliar (Rp515).

Sementara BRI Danareksa Sekuritas, mereka mencatat perhitungan market cap EMMI di harga Rp446-Rp515 berpotensi menyentuh Rp898 miliar.

Sementara itu, Kabarbursa.com menghitung valuasi IPO EMMI berada pada kisaran price to earnings ratio (PER) 22,8 kali hingga 26,3 kali.

Ajaib mencatat, PER EMMI saat penawaran umum perdana  mencapai 22,7 kali dan 26,3 kali. Sedangkan BRI Danareksa mencatat PER EMMI sebesar 22,8 kali hingga 26,3 kali.

Berdasarkan PER tersebut, Ajaib Sekuritas dikutip dari situs resminya, menyatakan harga EMMI berada pada level yang masih relatif wajar untuk emiten healthcare yang sedang bertumbuh.

Penggunaan Dana IPO

Untuk penggunaan dana IPO, manajemen EMMI menyampaikan sebanyak Rp50 miliar dari dana segar tersebut akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman Perseroan.

Kemudian, sekitar 11,8 persen akan digunakan untuk pengembangan usaha dalam bentuk pembiayaan belanja modal yaitu pembangunan gedung pabrik Cikupa.

Sementara itu, alokasi terbesar yang sekitar 68,7 persen bakal dipakai sebagai modal kera yang di antaranya dimanfaatkan untuk membeli barang terkait proyek dan pembelian bahan baku/persediaan.

Adapun, masa penawaran umum berlangsung pada tanggal 2-6 Juli 2026. Sementara pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 8 Juli 2026.

Usaha EMMI

EMMI beserta entitas anak beroperasi pada industri sektor kesehatan dengan fokus pada perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi dan alat kedokteran untuk manusia.

Manajemen EMMI menuturkan, di Indonesia, industri alat kesehatan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif pascapandemi.

"Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan terus meningkat, sehingga permintaan terhadap alat diagnostik, monitoring, dan pencegahan penyakit semakin bertambah," tulis manajemen.

Disampaikan, sektor ini juga didukung oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), peningkatan fasilitas rumah sakit dan klinik, serta kebijakan substitusi impor dan peningkatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri), sehingga membuka peluang besar bagi produsen lokal untuk mengembangkan manufaktur alat kesehatan sederhana hingga menengah, distribusi dan perdagangan alat medis khusus, serta produksi barang habis pakai (consumables).

Manajemen menyebut beberapa alat kesehatan yang saat ini paling diminati antara lain alat monitoring pasien seperti patient monitor, ventilator, dan ECG, serta peralatan diagnostik seperti USG, X-ray digital, dan hematology analyzer.

"Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat sektor kesehatan melalui berbagai kebijikan fiskal dan program strategis nasional," tulis manajemen.

"Dengan mempertimbangkan beberapa hal diatas, Perseroan berkeyakinan bahwa bisnis operasional perusahaan dapat terus berkembang seiring dengan adanya pertumbuhan kinerja sektoral kesehatan," tambah manajemen. 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait