KABARBURSA.COM – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) masih memikul beban liabilitas yang sangat mengkhawatirkan mencapai USD2,04 miliar atau setara Rp34 triliun pada akhir tahun buku 2025.
Hingga kuartal I 2026, tumpukan utang ini masih bertengger di level USD745,7 juta. Fakta neraca keuangan ini menunjukkan bahwa perusahaan negara tersebut masih berada dalam krisis finansial struktural.
Mengomentari kondisi fundamental keuangan yang terbebani utang, Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan, mengakui manajemen masih menghadapi pekerjaan rumah besar terkait penyelesaian kewajiban masa lalu. Ia menegaskan perbaikan struktur modal melalui rasionalisasi portofolio bisnis menjadi prioritas utama manajemen demi menyelamatkan kas.
"Oleh karena itu, Perseroan akan terus melakukan evaluasi portofolio secara aktif dan meninjau kembali kerja sama yang belum memberikan nilai optimal, demi menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh seluruh stakeholders," ujar Akbar dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu, 27 Juni 2026.
Akbar menyatakan bahwa dukungan permodalan pihak eksternal sangat krusial dalam menjaga napas operasional perseroan di tengah besarnya nilai kewajiban. Klaim perbaikan finansial ini tentu harus sejalan dengan kemampuan perseroan dalam mencetak aliran kas bersih dari aktivitas operasi yang pada 2025 tercatat negatif sebesar USD 1,75 juta.
Tanpa perbaikan efisiensi produksi, perolehan laba di atas kertas tidak akan mampu menutup defisit arus kas yang terus menggerus modal kerja perusahaan.
"Dukungan pendanaan dan kepercayaan dari Danantara menjadi pendorong utama bagi kami untuk terus berbenah, dan laba ini adalah titik awal yang kami sikapi dengan rendah hati," kata Akbar.
Membedah Porsi Utang-utang Krakatau Steel
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian 2025, porsi liabilitas perseroan sangat mencekik di level Utang Jangka Pendek (jatuh tempo dalam waktu 1 tahun) yang totalnya mencapai USD800,52 juta.
Komponen liabilitas jangka pendek ini didominasi oleh tagihan pinjaman jangka panjang yang harus segera dibayar tahun ini sebesar USD166,99 juta, serta liabilitas jangka panjang lain-lain yang jatuh tempo sebesar USD53,40 juta.
Besarnya kewajiban tunai ini mengancam fleksibilitas arus kas secara serius, mengingat perusahaan mencatatkan rugi usaha operasional sebesar USD82,71 juta, yang membuktikan bahwa bisnis inti perusahaan gagal menghasilkan keuntungan untuk menutup biaya operasional harian.
Lebih mengerikan lagi, tumpukan Utang Jangka Panjang (jatuh tempo lebih dari 1 tahun) perusahaan tercatat menembus angka raksasa sebesar USD1,23 miliar. Dari jumlah tersebut, beban utang bank jangka panjang (setelah dikurangi bagian lancar) mencapai USD718,06 juta.
Berdasarkan rincian kreditur, Krakatau Steel terpantau terlilit utang ke berbagai sindikasi bank Himpunan Milik Negara (Himbara) dan swasta. Beberapa eksposur utang terbesar di antaranya mengalir ke PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dengan nilai pinjaman mencapai USD171,42 juta, serta bank swasta PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar USD35,38 juta.
Selain itu, terdapat deretan bank lain seperti Bank Mandiri, BNI, Standard Chartered, hingga Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang menjadi kreditur sindikasi perseroan.
Tidak hanya bergantung pada perbankan, struktur utang jangka panjang KRAS juga disokong oleh pinjaman pemegang saham dari PT Danantara Asset Management (Persero) sebesar USD66,72 juta. Perseroan juga menerbitkan instrumen Obligasi Wajib Konversi senilai USD120,84 juta dan memikul liabilitas jangka panjang lain-lain sebesar USD 249,75 juta.
Deretan angka ini memperlihatkan betapa berdarah-darahnya fundamental kas BUMN baja tersebut hingga harus ditambal oleh berbagai jenis instrumen pembiayaan.
Manajemen perseroan secara resmi mengklaim total kewajiban telah turun 17,04 persen dibandingkan tahun 2024. Namun, rasio tumpukan utang tersebut sejatinya masih sangat timpang jika disandingkan dengan total ekuitas perusahaan yang hanya tercatat sebesar USD725,51 juta.
Ketidakseimbangan antara liabilitas dan ekuitas ini mencerminkan tingginya beban pinjaman yang harus dipikul BUMN ini. Ketergantungan terhadap permodalan berbasis utang membuat fundamental Krakatau Steel sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global.
Menyikapi tekanan likuiditas akibat utang, Akbar memastikan manajemen tengah berfokus pada perbaikan efisiensi lini manufaktur.
"Kami fokus memastikan setiap lini produksi berjalan dengan efisien, agar dapat menghasilkan produk baja yang lebih kompetitif dan dapat bersaing di pasar," tegas Akbar.
Penegasan pimpinan tertinggi ini menjadi janji manajemen kepada para kreditur bahwa operasional pabrik sanggup mencetak arus kas bersih bernilai positif yang berkelanjutan.
Tumpukan utang yang menggunung ini mempertegas fakta bahwa lonjakan laba bersih perseroan sebesar USD339,64 juta pada 2025 murni merupakan akal-akalan penyesuaian akuntansi dari restrukturisasi finansial.
Jika program pemulihan operasional manufaktur gagal diwujudkan, tumpukan utang senilai Rp34 triliun ini dipastikan akan kembali menggerus kinerja profitabilitas perseroan dan berpotensi memicu gagal bayar yang berujung pada kebangkrutan teknis.
Pemerintah dituntut memastikan program restrukturisasi benar-benar menyehatkan struktur industri baja nasional secara permanen, bukan sekadar polesan kosmetik di atas kertas.(*)