Market Hari Ini 17 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Pasar Tunggu Arah Warsh, Rupiah Turun 0,21 Persen

Rupiah ditutup melemah ke Rp17.762 per dolar AS di tengah penantian keputusan FOMC, arah kebijakan The Fed di bawah Kevin Warsh, serta dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar global.

Rupiah melemah ke Rp17.762 per dolar AS akibat penantian hasil FOMC, arah kebijakan The Fed, serta sentimen geopolitik dan RDG Bank Indonesia.

Rupiah turun 0,21 persen atau 37 poin dan mantap di posisinya 17.762 per dolar AS. (Foto: KabarBursa)
Rupiah turun 0,21 persen atau 37 poin dan mantap di posisinya 17.762 per dolar AS. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah kembali turun setelah sehari sebelumnya berada di posisi 17.725 per dolar As. Hari ini, rupiah turun 0,21 persen atau 37 poin dan mantap di posisinya 17.762 per dolar AS.

Pelemahan kali ini disebabkan banyak hal, salah satunya dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Pertemuan kali ini menjadi rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.

Pasar memang sepakat bahwa suku bunga acuan kemungkinan besar akan dipertahankan pada level saat ini. Namun, bukan itu yang ditunggu. Investor justru memburu setiap kalimat dalam proyeksi ekonomi terbaru The Fed, termasuk dot plot atau peta ekspektasi suku bunga para pejabat bank sentral Amerika Serikat.

Bagi pasar, dot plot ini ibarat kompas. Jika mayoritas pejabat The Fed masih melihat ruang penurunan suku bunga pada akhir tahun, aset berisiko seperti saham dan mata uang emerging market berpeluang mendapatkan angin segar.

Sebaliknya, jika nada yang disampaikan lebih hawkish, dolar AS berpotensi kembali menguat dan memberikan tekanan baru terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.

Karena itulah pelaku pasar memilih tidak terburu-buru mengambil risiko. 

Faktor lainnya adalah harapan tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan itu disebut-sebut membuka peluang bagi Iran untuk kembali mengekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata selama proses negosiasi berlangsung.

Jika skenarionya benar-benar terealisasi, pasokan minyak dunia berpotensi meningkat sehingga tekanan harga energi dapat berkurang.

Namun perjalanan normalisasi itu tidak akan berlangsung singkat. Fasilitas produksi dan penyulingan minyak Iran membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi secara penuh. Artinya, sentimen positif tersebut masih lebih banyak bersifat ekspektasi dibandingkan realisasi.

Dan lagi-lagi, ketidakpastian itulah yang membuat investor tetap memilih aset yang dianggap paling aman.

Di dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

Rapat kali ini menjadi sangat penting setelah Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen pada RDG mingguan pekan lalu, menyusul kenaikan 50 basis poin pada RDG sebelumnya.

Dalam waktu yang relatif singkat, BI telah mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan tersebut sebenarnya memberikan sinyal kuat bahwa otoritas moneter berkomitmen mempertahankan stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Namun, pasar tampaknya masih memilih menunggu apakah langkah tersebut cukup untuk meredam volatilitas yang berasal dari luar negeri.

Ada satu kabar yang relatif membuat tenang. Risiko gangguan pasokan energi nasional dinilai lebih terkendali, karena Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah.

Pemerintah tidak lagi bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz, melainkan telah mengamankan kontrak jangka panjang dengan berbagai negara pemasok lainnya.

Strategi tersebut menjadi bantalan penting ketika ketegangan geopolitik kembali meningkat. Pemerintah juga menegaskan bahwa efisiensi tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan sumber impor minyak sehingga beban fiskal dapat tetap terjaga.

Dengan berbagai faktor tersebut, pelemahan rupiah hari ini lebih mencerminkan sikap defensif investor global daripada memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait