Market Hari Ini 18 Jun 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Nilainya Jumbo, Matahari Putra Prima (MPPA) Gelar Rights Issue

Ini rencana penggunaan dana MPPA yang Gelar Rights Issue 23,99 miliar saham.

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) resmi menggelar rights issue senilai Rp1,19 triliun. Simak struktur pemegang saham, profil manajemen, dan rencana bisnis pers

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) resmi memulai proses penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) VIII atau rights issue. (Foto: Dok. MPPA)
PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) resmi memulai proses penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) VIII atau rights issue. (Foto: Dok. MPPA)

Daftar Isi

  1. 01 Respons Pasar dan Kinerja Saham MPPA
  2. 02 Struktur Pengendalian dan Kepemilikan Saham

KABARBURSA.COM – PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) resmi memulai proses penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) VIII atau rights issue dengan target dana maksimal Rp1,19 triliun. 

Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 23,99 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp50 per saham.

Rencana aksi korporasi ini tertuang dalam pengumuman informasi tambahan yang dirilis perseroan pada Kamis, 18 Juni 2026, menyusul persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Maret 2026. 

Setiap pemegang 114 saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 29 Juni 2026 pukul 16.15 WIB berhak atas 211 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

"Dana hasil PMHMETD VIII akan digunakan untuk belanja modal guna memperkuat pengembangan jaringan usaha serta ekspansi bisnis secara selektif," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Kamis, 18 Juni 2026.

Rincian penggunaan dana tersebut mencakup pembelian aset tanah dan bangunan di sejumlah lokasi strategis, seperti Surabaya, Gresik, Bogor, dan Yogyakarta, serta sisanya dialokasikan sebagai modal kerja operasional.

PT Multipolar Tbk (MLPL), selaku pemegang saham utama, telah menyatakan kesanggupannya untuk melaksanakan seluruh HMETD yang dimiliki. 

Selain itu, MLPL juga bertindak sebagai pembeli siaga yang siap menyerap sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang hak lainnya dengan nilai maksimal Rp980 miliar. 

Apabila porsi HMETD tidak dilaksanakan oleh pemegang saham lainnya, kepemilikan MLPL dalam perseroan berpotensi meningkat hingga 80,14 persen.

Perseroan menegaskan bahwa langkah akuisisi aset melalui skema ini bertujuan untuk memastikan kepastian lokasi usaha jangka panjang, yang dinilai lebih efisien dibandingkan skema sewa konvensional. 

Pengembangan aset tersebut rencananya akan dilakukan secara bertahap mulai tahun 2027 setelah perizinan dan persyaratan teknis terpenuhi.

Bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya, perseroan memberikan peringatan mengenai potensi dilusi kepemilikan saham hingga maksimal 64,92 persen. 

PMHMETD VIII ini menjadi efektif setelah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan periode perdagangan HMETD yang dijadwalkan berlangsung pada 1-3 Juli dan 6-7 Juli 2026.

Respons Pasar dan Kinerja Saham MPPA

Pergerakan harga saham MPPA menunjukkan dinamika positif di tengah rencana aksi korporasi tersebut. 

Berdasarkan data historis perdagangan selama sepekan terakhir, saham MPPA mencatatkan penguatan signifikan, di mana pada penutupan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, harga saham berada di level Rp46 per lembar, naik 4,55 persen dibandingkan sesi sebelumnya.

Dalam periode 8 hingga 18 Juni 2026, harga saham MPPA sempat menyentuh level tertinggi di Rp46 per saham dan level terendah di Rp39 per saham. 

Perseroan saat ini tercatat dalam papan pemantauan khusus dengan tingkat free float sebesar 40,99 persen dan didominasi oleh kepemilikan publik serta institusi seperti Consilium Frontier Equity Fund LP sebesar 8,86 persen.

Struktur Pengendalian dan Kepemilikan Saham

Berdasarkan data MLPL tercatat sebagai pemegang saham utama MPPA dengan kepemilikan sebesar 6,50 miliar saham atau setara dengan 50,14 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. 

Adapun kendali atas perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, berada di bawah Ultimate Beneficiary Owner (UBO), yaitu James T. Riady.

Selain Multipolar, struktur pemegang saham publik atau masyarakat non-warkat tercatat memiliki porsi kepemilikan sebesar 40,99 persen. 

Beberapa investor asing juga tercatat dalam daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, di antaranya Consilium Frontier Equity Fund LP sebesar 8,86 persen, Threadmore Capital sebesar 2,21 persen, serta Panbridge Investments sebesar 1,94 persen.

Secara organisasi, susunan manajemen MPPA dipimpin oleh Adrian Suherman sebagai Presiden Direktur, didampingi Yerry Goei sebagai Wakil Presiden Direktur. 

Sementara itu, jajaran Dewan Komisaris dipimpin oleh Fendi Santoso sebagai Presiden Komisaris, dengan John Riady dan Johan Anthony masing-masing menjabat sebagai Komisaris dan Komisaris Independen. 

Per kuartal I 2026, perseroan memiliki kendali mayoritas di sejumlah entitas, di antaranya PT Fortuna Optima Distribusi yang bergerak di bidang holding dengan kepemilikan 99,99 persen, serta PT Super Ekonomi Retailindo yang berfokus pada perdagangan eceran dengan kepemilikan 99,99 persen.

Selain itu, terdapat PT Tomorrow Brands Internasional dan PT Tomorrow World Internasional yang masing-masing mendukung penjualan eceran dalam ekosistem ritel MPPA.

Dengan dukungan jaringan logistik dan teknologi informasi dari anak perusahaan tersebut, MPPA terus memfokuskan strategi operasional pada efisiensi biaya serta peningkatan pengalaman pelanggan di lebih dari 176 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
Syahrianto
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait