Market Hari Ini 18 Jun 2026 Penulis: Gusti Ridani Editor: Uslimin Usle

Ekonom Peringatkan Program Kompor Listrik Berpotensi Picu Lonjakan Beban PLN

Wacana kompor listrik yang membidik pengguna LPG subsidi justru menjadikan masyarakat kelas bawah sebagai objek eksperimen kebijakan yang merugikan.

Rencana pemerintah meluncurkan program kompor listrik nasional senilai Rp815,6 miliar pada RAPBN 2027 menuai sorotan.

Ekonom Peringatkan Program Kompor Listrik Berpotensi Picu Lonjakan Beban PLN
Ekonom Peringatkan Program Kompor Listrik Berpotensi Picu Lonjakan Beban PLN

KABARBURSA.COM - Rencana pemerintah meluncurkan program kompor listrik nasional senilai Rp815,6 miliar pada RAPBN 2027 menuai sorotan. Kebijakan transisi energi ini dinilai salah mengincar kelompok sasaran dan tidak kompatibel dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menegaskan bahwa wacana kompor listrik yang membidik pengguna LPG subsidi justru menjadikan masyarakat kelas bawah sebagai objek eksperimen kebijakan yang merugikan.

"Jika target utamanya mengurangi impor LPG, sasaran paling logis semestinya kelompok menengah dan atas yang kapasitas listriknya memadai. Sangat tidak adil jika kelompok rentan dipaksa masuk dalam skema yang belum pasti," kata Achmad kepada KABARBURSA.COM, Kamis, 18 Juni 2026.

Achmad menjabarkan, kompor induksi memerlukan daya operasional minimal 1.000 watt ke atas. Karakteristik teknologi ini bertolak belakang dengan kondisi riil mayoritas pelanggan subsidi di Indonesia yang hanya memiliki daya listrik rumah tangga berkisar antara 450 VA hingga 900 VA. Menurutnya, ini adalah kesalahan desain kebijakan yang sangat mendasar.

Dari aspek ekonomi perilaku, kata Achmad, masyarakat miskin dipastikan akan menolak karena kebijakan ini menghilangkan kepastian pengeluaran.

Ia menjelaskan bahwa, pengguna LPG subsidi tahu pasti biaya per tabung yang mereka keluarkan, sementara kompor listrik memicu ketidakpastian tagihan bulanan di tengah daya beli yang sedang tertekan.

Selain membebani konsumen, Achmad menyebut, migrasi massal ini juga berpotensi mengganggu stabilitas sistem ketenagalistrikan nasional.

Menurutnya, lonjakan penggunaan kompor induksi pada jam-jam puncak (peak load) akan memaksa PT PLN (Persero) melakukan investasi raksasa baru untuk penguatan jaringan distribusi dan transformator cadangan.

Achmad pun mempertanyakan apakah biaya investasi jaringan PLN tersebut sudah dihitung secara transparan oleh pemerintah dalam klaim penghematan subsidi.

"Keberhasilan kebijakan energi nasional diukur dari penguatan ketahanan energi yang fundamental, bukan dari kuantitas kompor yang dibagikan. Jika hanya memindahkan beban dari tabung gas ke meteran listrik, ini sekadar pergantian kemasan masalah lama," tegasnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
GU
Jurnalis Madya

Gusti Ridani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait