KABARBURSA.COM - PT Ciputra Development Tbk (CTRA) cukup optimis dengan kebutuhan hunian seiring pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Diketahui pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat di angka 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sedangkan untuk tahun ini, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 4,7 hingga 5,7 persen.
Menurut Aditya Ciputra Sastrawinata, Sekretaris Perusahaan CTRA, permintaan rumah kini lebih banyak didorong oleh end user atau pengguna akhir yang benar-benar membutuhkan hunian. Sehingga selama ekonomi berputar, permintaan hunian di industri properti akan ikut tumbuh.
"Harapan kami, permintaan rumah datangnya dari perputaran ekonomi. Sekarang itu permintaan rumah kebanyakan didorong oleh end user, bukan dari investor. Jadi end user itu mau enggak mau daya belinya datang dari roda ekonomi. Jika roda ekonomi berputar cepat, nanti lama kelamaan larinya ke permintaan rumah," ujarnya selepas Paparan Publik CTRA di Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.
Sejauh ini menurut data yang dibukukan CTRA, permintaan rumah masih didorong oleh insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen dari pemerintah.
Aditya menyebut, kinerja penjualan properti CTRA selama kuartal I 2026 masih banyak terbantu insentif tersebut.
"53 persen dari penjualan di kuartal I itu semua menggunakan PPN DTP. Tapi PPN DTP ini kan sudah ada sebelumnya, jadi bukan katalis yang akan membantu (penjualan)," jelasnya.
Insentif yang diberikan untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun (apartemen) baru dengan harga jual maksimal Rp5 miliar tersebut, memang masih berlangsung hingga 31 Desember 2027.
Meski begitu, CTRA tidak menargetkan secara khusus penjualan properti dari pemberlakuan insentif tersebut.
Aditya menyebut, pihaknya hanya menargetkan marketing sales tahun ini sebesar Rp9,5 triliun. Target ini masih sama dengan tahun 2025.
"Kita enggak menargetkan itu. Pokoknya Rp9,5 (triliun) saja kita targetkan. Tapi seberapa besar datang dari PPN DTP atau tidak tidak kita pakemkan. Harapannya semoga semakin baik," ucapnya.
Namun penjualan properti tahun ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari daya beli konsumen hingga kenaikan suku bunga yang memengaruhi bunga cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Dalam sebulan ini, BI telah menaikkan suku bunga dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen atau 100 basis poin. Dalam hal ini, penjualan properti CTRA juga didominasi konsumen yang menggunakan layanan kredit.
"Tantangan utama pasti suku bunga, karena 72 persen persen pembelian kita datang dari KPR. Jadi apapun yang akan berdampak negatif pada KPR pasti akan berdampak pada pembelian kita," terang Aditya.
Dengan kenaikan tersebut, CTRA menilai perbankan akan makin selektif dalam mencairkan pembiayaan KPR. Sehingga bakal berdampak dalam kepemilikan rumah.
"Jadi kalau suku bunga naik 1 persen dalam satu bulan. Ini pasti akan tunggu waktu kapan bunga KPR akan naik. Sekarang likuiditas di perbankan cukup ketat, sehingga larinya akan kenaikan suku bunga KPR juga," pungkasnya. (*)