Market Hari Ini 24 Jun 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Bukan Lagi Saham Batu Bara Biasa, ini Alasan Harga ADMR Lebih Mahal

Valuasi premium ADMR tidak lagi hanya ditopang bisnis batu bara metalurgi, tetapi juga ekspektasi pasar terhadap proyek smelter aluminium yang berpotensi mengubah struktur pendapatan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.

ADMR diperdagangkan dengan valuasi jauh lebih tinggi dibanding PTBA dan ITMG. Pasar menaruh harapan besar pada proyek aluminium.

PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: dok ADMR
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: dok ADMR

Daftar Isi

  1. 01 Pasar Berharap pada Aluminium
  2. 02 Risiko Sudah Mulai Diperhitungkan

KABARBURSA.COM – PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi salah satu saham yang direkomendasikan MNC Sekuritas untuk dicermati di tengah koreksi pasar. Namun, di balik rekomendasi teknikal tersebut, valuasi ADMR jadi sorotan, terutama jika dibandingkan dengan mayoritas emiten batu bara di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam riset MNCS Daily Scope Wave edisi 24 Juni 2026, MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness untuk ADMR pada rentang harga Rp1.430-Rp1.480 dengan target harga Rp1.670 hingga Rp1.795.

“MNC memperkirakan posisi ADMR saat ini sedang berada pada bagian dari wave [b] dari wave B," tulis tim riset MNC Sekuritas, Rabu, 24 Juni 2026.

Rekomendasi tersebut sepenuhnya didasarkan pada analisis teknikal Elliott Wave. Namun, jika dilihat dari sisi fundamental, ADMR saat ini diperdagangkan dengan valuasi yang jauh lebih tinggi dibanding emiten batu bara lainnya.

Berdasarkan data per Juni 2026, ADMR memiliki rasio price to earnings (PER) sekitar 12,5 kali. Angka tersebut berada jauh di atas PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang berada di kisaran 8,5 kali, Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sekitar 5,5 kali, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sekitar 5 kali.

Dengan kata lain, investor bersedia membayar lebih dari dua kali lipat valuasi ITMG dan ADRO untuk memiliki saham ADMR. Perbedaan tersebut tidak lepas dari karakteristik bisnis ADMR yang berbeda dibanding emiten batu bara pada umumnya.

Jika PTBA, ITMG, ADRO maupun BUMI mengandalkan batu bara termal yang digunakan untuk pembangkit listrik, ADMR merupakan satu-satunya emiten besar di BEI yang fokus pada produksi batu bara metalurgi atau hard coking coal.

Komoditas tersebut digunakan sebagai bahan baku utama industri baja dan tidak secara langsung terdampak tren transisi energi yang selama ini menjadi tantangan bagi industri batu bara termal.

Posisi tersebut membuat ADMR memiliki daya tarik tersendiri di mata investor institusi yang mulai membatasi eksposur terhadap batu bara termal namun masih dapat berinvestasi pada komoditas penunjang industri baja.

Selain itu, fundamental operasional ADMR juga menunjukkan pertumbuhan yang relatif kuat. Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan Rp4,5 triliun, naik 35,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih tumbuh lebih tinggi, yakni 38,1 persen menjadi Rp1,48 triliun. Sementara EBITDA meningkat 48,3 persen menjadi Rp2,02 triliun dengan margin EBITDA mencapai sekitar 44,7 persen.

Kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan volume produksi serta harga batu bara metalurgi yang masih berada pada level tinggi.

Harga hard coking coal global pada Juni 2026 tercatat berada di sekitar USD243 per ton atau melonjak hampir 39 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pasar Berharap pada Aluminium

Meski demikian, tingginya harga batu bara metalurgi dinilai belum cukup menjelaskan mengapa ADMR diperdagangkan jauh lebih mahal dibanding produsen batu bara metalurgi global.

Sebagai perbandingan, produsen batu bara kokas asal Amerika Serikat, Alpha Metallurgical Resources, diperdagangkan dengan PER sekitar 6 kali. Sementara Coronado Global Resources dan Stanmore Resources di Australia berada pada kisaran 5 hingga 6 kali laba.

Padahal perusahaan-perusahaan tersebut memiliki volume produksi dan cadangan yang lebih besar dibanding ADMR.

Perbedaan valuasi tersebut menunjukkan bahwa pasar Indonesia tidak lagi menilai ADMR semata sebagai perusahaan tambang batu bara.

Perhatian investor kini mulai tertuju pada proyek smelter aluminium yang tengah dikembangkan melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Proyek tersebut saat ini telah memasuki tahap commissioning dengan target ramp-up operasional penuh pada akhir 2026 hingga awal 2027.

Kapasitas tahap pertama mencapai 500.000 ton aluminium ingot per tahun.

Dengan asumsi harga aluminium sekitar US$2.400 per ton, fasilitas tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan kotor sekitar US$1,2 miliar atau setara Rp19,5 triliun per tahun.

Angka tersebut bahkan lebih besar dibanding pendapatan ADMR sepanjang 2025 yang tercatat sekitar Rp16,3 triliun.

Jika proyek tersebut berjalan sesuai rencana, kontribusi aluminium berpotensi mengubah struktur bisnis ADMR secara signifikan dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara metalurgi.

Risiko Sudah Mulai Diperhitungkan

Di sisi lain, valuasi premium juga membuat ruang kesalahan menjadi lebih sempit. ADMR saat ini memiliki total utang sekitar Rp23,8 triliun yang sebagian besar digunakan untuk mendukung pembangunan proyek hilirisasi.

Karena itu, pasar akan mencermati pelaksanaan proyek aluminium tersebut dalam beberapa kuartal ke depan. Keterlambatan commissioning, hambatan ramp-up, maupun pelemahan harga aluminium global berpotensi memengaruhi ekspektasi pertumbuhan yang selama ini menjadi dasar valuasi premium ADMR.

Dengan kondisi tersebut, rekomendasi teknikal MNC Sekuritas memang menunjukkan peluang perdagangan jangka pendek. Namun untuk investor jangka panjang, faktor yang lebih menentukan kemungkinan bukan lagi harga batu bara, melainkan keberhasilan ADMR mengubah dirinya dari produsen batu bara metalurgi menjadi pemain aluminium terintegrasi.

Di sinilah letak alasan mengapa pasar bersedia membayar valuasi yang jauh lebih tinggi dibanding PTBA, ITMG, maupun emiten batu bara lainnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait