Market Hari Ini 17 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Asing Masih Bertahan di GULA, Akuisisi Sragen jadi Taruhan Baru

Rencana akuisisi pabrik gula di Sragen menjadi katalis baru bagi GULA. Namun di tengah sentimen positif itu, tekanan jual di orderbook membesar dan JP Morgan Sekuritas Indonesia memilih keluar dari posisi.

GULA berencana mengakuisisi pabrik gula di Sragen. Simak analisis potensi akuisisi, tekanan orderbook, aksi jual JP Morgan, dan arus dana asing.

Manajemen GULA sedang menyelesaikan proses due diligence untuk mengakuisisi sebuah pabrik gula di Sragen, Jawa Tengah. (Foto: KabarBursa)
Manajemen GULA sedang menyelesaikan proses due diligence untuk mengakuisisi sebuah pabrik gula di Sragen, Jawa Tengah. (Foto: KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 Tekanan Jual Tinggi, JP Morgan Buang Barang
  2. 02 Arus Asing Besar Masuk Bertahap
  3. 03 Apa yang Sedang Terjadi?

KABARBURSA.COM - PT Aman Agrindo Tbk (GULA) mengumumkan rencana ekspansi yang berpotensi mengubah skala bisnisnya. Namun, di sisi lain, pasar merespons dengan tekanan jual yang cukup besar.

Harga saham GULA pada sesi berjalan perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, turun 4,44 persen ke level 645, setelah sempat dibuka di 675 dan menyentuh level tertinggi 710 sebelum akhirnya turun hingga 630.

Sementara, manajemen GULA sedang menyelesaikan proses due diligence untuk mengakuisisi sebuah pabrik gula di Sragen, Jawa Tengah. Targetnya cukup jelas. Pabrik tersebut memiliki kapasitas penggilingan 1.000 ton tebu per hari (TCD) dengan kemampuan produksi sekitar 100 ton gula merah per hari.

Bagi GULA, ini bukan hanya penambahan aset.

Selama ini perseroan dikenal memiliki fokus pada distribusi dan perdagangan gula. Dengan memiliki fasilitas produksi sendiri, GULA akan naik satu level dalam rantai bisnisnya, dari sekadar distributor menjadi produsen yang memiliki kontrol lebih besar terhadap pasokan.

Lebih menarik lagi, lokasi Sragen dipilih karena berada di wilayah dengan suplai tebu yang melimpah. Artinya, risiko kekurangan bahan baku relatif lebih rendah dibandingkan apabila pabrik berada di wilayah dengan produksi tebu yang terbatas.

Manajemen bahkan menargetkan operasional sudah mulai diambil alih pada Juni 2026, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan Semester II 2026. Fokus produksi juga diarahkan untuk memperkuat pasar business-to-business (B2B) yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama perusahaan.

Jika utilisasi pabrik mampu dijaga tinggi, akuisisi ini berpotensi meningkatkan volume penjualan sekaligus memperbaiki margin usaha karena sebagian rantai produksi kini berada di bawah kendali sendiri.

Pendanaan juga berasal dari kas internal sehingga risiko penambahan utang relatif kecil.

Tekanan Jual Tinggi, JP Morgan Buang Barang

Sentimen positif tersebut ternyata belum mampu mengalahkan tekanan jual di pasar. Struktur orderbook memperlihatkan ketimpangan yang cukup mencolok. Total antrean bid hanya mencapai 108.866 lot, sedangkan antrean offer mencapai 343.662 lot.

Artinya, jumlah saham yang ingin dijual hampir tiga kali lebih besar dibandingkan jumlah saham yang siap dibeli.

Tekanan tersebut juga terlihat pada level harga. Di sisi offer, antrean pada harga 670 mencapai lebih dari 21 ribu lot dan di level 675 mencapai sekitar 25 ribu lot. Bahkan pada area 700 hingga 715, antrean jual masih tetap tebal.

Sebaliknya, di sisi bid, antrean terbesar hanya berada di level 610 dengan sekitar 15 ribu lot dan level 620 sekitar 13 ribu lot.

Yang semakin menarik adalah aktivitas broker pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Broker Summary memperlihatkan JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) menjadi salah satu broker dengan nilai jual terbesar sekitar Rp1,3 miliar dengan volume sekitar 18,8 ribu lot pada harga rata-rata 667.

Di saat yang sama, Trust Sekuritas (BR) justru menjadi pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp3,8 miliar, disusul NH Korindo Sekuritas Indonesia (XA) sekitar Rp2 miliar.

Sebagian institusi memilih merealisasikan keuntungan setelah kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir, sementara institusi lain justru memanfaatkan koreksi untuk melakukan akumulasi.

Arus Asing Besar Masuk Bertahap

Berbeda lagi jika melihat dari data historinya. Dalam sembilan hari perdagangan terakhir, investor asing justru masih mencatatkan dominasi pembelian, yaitu pada:

  • 15 Juni: Net foreign +Rp78,78 juta
  • 12 Juni: Net foreign +Rp1,09 miliar
  • 10 Juni: Net foreign +Rp3,67 miliar
  • 9 Juni: Net foreign +Rp1,24 miliar
  • 4 Juni: Net foreign +Rp7,10 miliar
  • 3 Juni: Net foreign +Rp1 miliar

Memang terdapat beberapa hari dengan arus keluar, seperti 11 Juni dan 8 Juni. Namun secara keseluruhan, pola yang muncul masih menunjukkan bahwa investor asing belum meninggalkan saham ini.

Apa yang Sedang Terjadi?

Pasar tampaknya sedang berada dalam fase menunggu. Di satu sisi, investor melihat potensi besar dari akuisisi pabrik Sragen yang dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat bisnis B2B, menambah aset konsolidasi, serta membuka peluang pertumbuhan laba pada Semester II 2026.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menyadari bahwa nilai akuisisi masih menunggu hasil penilaian KJPP yang baru diperkirakan selesai pada Agustus 2026. Ketidakpastian tersebut membuat sebagian investor memilih mengamankan keuntungan terlebih dahulu.

Karena itu, tekanan offer yang sangat besar hari ini belum tentu mencerminkan memburuknya prospek perusahaan.

Justru, jika proses akuisisi berjalan sesuai jadwal dan pabrik mulai memberikan kontribusi pada Semester II, cerita fundamental GULA bisa berubah dari sekadar perusahaan distribusi menjadi pemain yang memiliki kapasitas produksi lebih besar dan margin yang lebih baik.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait