Makro 04 Jul 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Tim Editorial

Tren Investasi Picu Financial Anxiety, Anak Muda Didorong Perkuat Fondasi Keuangan

Generasi muda saat ini cenderung langsung mengalokasikan dana ke instrumen investasi dengan harapan memperoleh keuntungan secara cepat

Tren investasi instan memicu fenomena financial anxiety di kalangan anak muda. Prudential Indonesia ingatkan pentingnya dana darurat dan asuransi

Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)
Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Kemudahan mengakses aplikasi investasi dan layanan teknologi finansial (fintech) mendorong semakin banyak generasi muda mulai berinvestasi.

Namun di balik tren tersebut, anak muda sebaiknya tidak terburu-buru mengejar keuntungan tanpa membangun fondasi keuangan yang kuat.

VP Head of Digital Marketing & Partnership Prudential Indonesia, Albertus Andre mengatakan, generasi muda saat ini cenderung langsung mengalokasikan dana ke instrumen investasi dengan harapan memperoleh keuntungan secara cepat.

Menurutnya, pola tersebut berisiko jika tidak diimbangi dengan kesiapan dana darurat maupun perlindungan finansial.

"Kalau saya yang lihat sekarang lebih trennya ke investasi, lebih ke instant cuan. Mungkin karena hadirnya investment app atau fintech yang mudah diakses. Ketika mereka punya sisihan tabungan, mereka mungkin akan lebih memilih yang bisa menghasilkan keuntungan lebih cepat," ujarnya saat ditemui Kabarbursa.com di ajang Young On Top (YOT) National Conference 16 di Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026.

Ia menilai keputusan tersebut belum sepenuhnya bijak karena banyak anak muda justru melewatkan tahapan dasar dalam perencanaan keuangan.

"Sebetulnya mereka lupa di situ ada  risiko, di mana risiko itu bisa dimitigasi dengan adanya proteksi atau emergency fund. Makanya tadi saya sampaikan juga untuk bisa memiliki emergency fund, juga proteksi sebagai fondasi ketika kita melakukan financial planning," jelas Andre.

Ia juga menjelaskan, generasi muda perlu membangun kondisi keuangan yang sehat melalui pengelolaan anggaran, dana darurat, dan perlindungan finansial sebelum memulai investasi.

Langkah tersebut dinilai penting agar investasi tidak menjadi satu-satunya tumpuan dalam mencapai tujuan keuangan.

Ia juga menyinggung hasil Survei Nasional  Literasi dan Inklusi Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2025 yang menunjukkan tingkat literasi keuangan masyarakat meningkat dengan indeks mencapai 66,46 persen.

Pada tahun sebelumnya, indeks literasi keuangan menurut survei tersebut sebesar 65,43 persen.

Namun, inklusi pada produk asuransi masih relatif rendah, terutama di kalangan generasi muda yang sebagian besar belum memiliki penghasilan tetap.

"Memang secara literasi tinggi hampir 70 persen, tapi inklusi untuk asuransi sendiri masih rendah. Karena mereka rata-rata belum berpenghasilan. Jadi mereka mungkin masih melihat kebutuhan untuk berproteksi atau punya asuransi itu masih ditanggung oleh orang tuanya," tutur Andre.

Menurut dia, kondisi tersebut juga membuat sebagian generasi muda lebih tertarik mengejar potensi imbal hasil investasi dibandingkan menyiapkan perlindungan terhadap risiko keuangan.

Albertus juga mengingatkan munculnya fenomena financial anxiety, yakni tekanan psikologis yang timbul ketika seseorang terlalu bergantung pada hasil investasi untuk memenuhi harapan finansial.

"Makanya ada yang disebut jargon namanya financial anxiety, di mana kita sadar mungkin uang kita enggak banyak, tapi kita tergantung sama return yang dihasilkan dari investasi. Itu membuat secara mental dan psikologi jadi terganggu," katanya.

Karena itu, Andre berharap generasi muda untuk mengenali kebutuhan dasar dalam perencanaan keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.  (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait