Makro 23 Apr 2026 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Likuiditas Ekonomi Menguat, Uang Beredar M2 Tembus Rp10.355 Triliun

Dorongan utama berasal dari percepatan uang beredar sempit (M1) yang melesat 14,4 persen (yoy)

Peningkatan likuiditas perekonomian Indonesia kian terlihat pada Maret 2026. Indikasi tersebut tercermin dari pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2)

Likuiditas Ekonomi Menguat, Uang Beredar M2 Tembus Rp10.355 Triliun
Likuiditas Ekonomi Menguat, Uang Beredar M2 Tembus Rp10.355 Triliun

KABARBURSA.COM - Peningkatan likuiditas perekonomian Indonesia kian terlihat pada Maret 2026. Indikasi tersebut tercermin dari pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) yang terus menanjak. Bank Indonesia mencatat, M2 tumbuh 9,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga mencapai Rp10.355,1 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 8,7 persen (yoy). Sebuah akselerasi yang menunjukkan pergerakan moneter semakin dinamis.

Dorongan utama berasal dari percepatan uang beredar sempit (M1) yang melesat 14,4 persen (yoy). Lonjakan ini mencerminkan likuiditas yang lebih cair—siap digunakan masyarakat untuk aktivitas transaksi harian. Di sisi lain, uang kuasi—yang mencakup simpanan berjangka dan tabungan—ikut tumbuh 5,2 persen (yoy). Ini menandakan preferensi masyarakat terhadap instrumen simpanan masih relatif terjaga, meski likuiditas meningkat.

Dari aspek pembentuknya, ekspansi M2 dipengaruhi oleh peningkatan signifikan pada tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit. Tagihan bersih tersebut melonjak tajam hingga 39,2 persen (yoy), jauh melampaui capaian bulan sebelumnya yang sebesar 25,6 persen (yoy). Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan fiskal dan belanja negara pada awal tahun anggaran.

Sementara itu, fungsi intermediasi perbankan tetap menunjukkan ketahanan. Penyaluran kredit pada Maret 2026 tercatat tumbuh 8,9 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang sektor-sektor produktif, mulai dari industri pengolahan, perdagangan, hingga konsumsi rumah tangga—sektor yang menjadi denyut utama ekonomi domestik.

Secara keseluruhan, peningkatan likuiditas mencerminkan sinergi antara stimulus fiskal dan aktivitas ekonomi domestik yang tetap solid. Namun demikian, kondisi likuiditas yang longgar tidak luput dari perhatian otoritas moneter. Stabilitas inflasi dan nilai tukar menjadi fokus krusial, terutama di tengah lanskap global yang masih dipenuhi ketidakpastian.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait