Makro 04 Jul 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

JPMorgan Ubah Ramalan Emas, Target Akhir Tahun tak Lagi USD6.000

JPMorgan memangkas proyeksi harga emas tahun ini karena permintaan melemah, meski prospek jangka panjang masih dinilai positif.

JPMorgan memangkas target harga emas tahun ini dari proyeksi sebelumnya. Permintaan yang melemah dan risiko suku bunga menjadi penyebab utama.

JPMorgan memangkas target harga emas tahun ini dari proyeksi sebelumnya. Permintaan yang melemah dan risiko suku bunga menjadi penyebab utama. Foto: Dok. KabarBursa.
JPMorgan memangkas target harga emas tahun ini dari proyeksi sebelumnya. Permintaan yang melemah dan risiko suku bunga menjadi penyebab utama. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Prospek harga emas tahun ini dipandang masih positif, tetapi tidak lagi seagresif perkiraan sebelumnya. JPMorgan memang masih mempertahankan pandangan optimistis dalam jangka panjang, namun bank investasi asal Amerika Serikat itu kini memangkas target kenaikan harga emas karena permintaan dari sejumlah sektor dinilai tidak sekuat ekspektasi awal.

Dilansir dari Reuters, Sabtu, 4 Juli 2026, dalam proyeksi terbarunya, JPMorgan memperkirakan harga emas hanya akan menyentuh USD4.300 per troi ons atau sekitar Rp73,1 juta pada kuartal III 2026. Selanjutnya, harga diproyeksikan naik ke USD4.500 per troy ounce atau sekitar Rp76,5 juta pada kuartal IV 2026.

Revisi tersebut menjadi perubahan signifikan dibanding proyeksi sebelumnya. Baru pada 9 Juni lalu, JPMorgan masih memperkirakan harga emas mampu menembus USD6.000 per troy ounce atau sekitar Rp102 juta sebelum akhir tahun.

Meski demikian, bank tersebut mengingatkan bahwa risiko terhadap proyeksi harga emas justru lebih besar mengarah pada pelemahan. Salah satu faktor yang dapat menekan harga adalah kemungkinan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih cepat apabila data ekonomi selama musim panas menunjukkan penguatan.

Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen investasi yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.

Pada perdagangan Jumat, harga emas spot tercatat naik 1,3 persen menjadi USD4.174,21 per troi ons atau sekitar Rp70,96 juta. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak 23 Juni. Secara mingguan, harga emas juga telah menguat lebih dari 2 persen.

Meski memangkas target jangka pendek, JPMorgan belum mengubah pandangan positifnya terhadap emas dalam horizon investasi yang lebih panjang. Bank itu menilai harga emas masih berpotensi melanjutkan kenaikan hingga 2027 seiring meningkatnya pembelian oleh bank sentral serta menguatnya permintaan fisik yang didorong faktor-faktor struktural.

Selain emas, JPMorgan juga memperbarui proyeksi harga sejumlah logam mulia lainnya.

Untuk perak, bank tersebut memperkirakan harga rata-rata akan berada pada kisaran USD60 hingga USD65 per troi ons atau sekitar Rp1,02 juta hingga Rp1,105 juta. Proyeksi itu didasarkan pada normalisasi rasio harga emas terhadap perak setelah pasar mulai keluar dari kondisi ketatnya pasokan fisik yang terjadi tahun lalu.

Sementara itu, harga platinum diperkirakan mencapai rata-rata sekitar USD1.800 per troy ounce atau sekitar Rp30,6 juta pada akhir 2026. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar USD1.950 per troy ounce atau sekitar Rp33,15 juta pada akhir 2027, didukung fundamental pasokan dari Afrika Selatan.

Adapun untuk palladium, JPMorgan memperkirakan harga akan berada di level USD1.350 per troy ounce atau sekitar Rp22,95 juta pada akhir 2026. Pada 2027, harga logam tersebut diproyeksikan rata-rata berada di kisaran USD1.300 per troi ons atau sekitar Rp22,1 juta, sejalan dengan pelemahan yang diperkirakan masih membayangi pasar logam mulia secara umum.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait