Makro 02 Jul 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Industri Ekspansif, Impor Bahan Baku dan Barang Modal RI Naik Dua Digit

Data BPS mencatat total impor Januari–Mei 2026 melonjak 15,24 persen menjadi USD111,33 miliar.

Kontras dengan narasi pembatasan impor Presiden Prabowo Subianto, data BPS menunjukkan impor bahan baku industri dan barang modal RI kompak melonjak dua digit.

Tren peningkatan aktivitas masuknya barang dari luar negeri mencatatkan pertumbuhan signifikan pada paruh pertama tahun ini. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Tren peningkatan aktivitas masuknya barang dari luar negeri mencatatkan pertumbuhan signifikan pada paruh pertama tahun ini. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

Daftar Isi

  1. 01 Realitas Ketergantungan Impor di Tengah Narasi Swasembada Presiden Prabowo
  2. 02 Pergeseran Sektor: Manufaktur Masuk, Agrikultur Tertekan

KABARBURSA.COM – Tren peningkatan aktivitas masuknya barang dari luar negeri mencatatkan pertumbuhan signifikan pada paruh pertama tahun ini. 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan total nilai impor Indonesia untuk periode Januari–Mei 2026 menembus USD111,33 miliar. Angka kumulatif tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 15,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Lonjakan transaksi impor ini didominasi secara mutlak oleh pemenuhan kebutuhan sektor produktif dalam negeri. Data mencatat masuknya golongan bahan baku/penolong mengalami kenaikan tertinggi secara nominal, yaitu tumbuh sebesar USD10,00 miliar atau naik 14,41 persen. 

Di saat yang sama, pengadaan barang modal dari luar negeri ikut meroket senilai USD3,30 miliar, mencatatkan pertumbuhan persentase tertinggi sebesar 17,53 persen.

Realitas Ketergantungan Impor di Tengah Narasi Swasembada Presiden Prabowo

Kenaikan dua digit pada komoditas penunjang industri ini memperlihatkan dinamika yang kontras dengan visi strategis yang kerap digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto. 

Dalam berbagai pidato kenegaraan dan pengarahan kabinet, Presiden Prabowo secara konsisten menegaskan komitmen pemerintah untuk menekan ketergantungan terhadap barang impor dan mendorong kemandirian nasional melalui swasembada di berbagai sektor inti.

Namun, realitas data perdagangan lima bulan pertama tahun 2026 menunjukkan bahwa struktur ekonomi domestik saat ini masih bertumpu kuat pada pasokan komponen global. 

Dari total impor nonmigas Januari–Mei 2026 yang mencapai USD93,88 miliar, kontribusi dari sepuluh golongan barang utama mencakup porsi 59,44 persen atau senilai USD55,80 juta.

Di dalam struktur tersebut, mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84) menjadi komoditas dengan peningkatan nilai impor tertinggi nasional, yakni melonjak senilai USD2,34 miliar atau tumbuh 16,92 persen. Posisi kedua diikuti oleh kelompok mesin, perlengkapan elektrik, dan bagiannya (HS 85) yang bertambah sebesar USD1,76 miliar atau naik 14,48 persen. 

Fakta ini menegaskan bahwa gerak roda industri manufaktur serta realisasi proyek-proyek modal di dalam negeri masih membutuhkan penetrasi barang impor berskala besar untuk mempertahankan operasionalnya.

Pergeseran Sektor: Manufaktur Masuk, Agrikultur Tertekan

Meningkatnya pasokan bahan baku industri ini berjalan beriringan dengan penurunan kinerja di sektor agrikultur pangan lokal. Ketika impor barang konsumsi secara umum terkerek naik sebesar 17,05 persen hingga menyentuh USD9,81 miliar, kemampuan ekspor untuk hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan Indonesia justru berbalik merosot tajam hingga 24,95 persen. Penurunan performa ekspor lini ini utamanya disumbang oleh menyusutnya pengiriman komoditas kopi ke pasar internasional.

Kondisi sebaliknya terjadi pada industri pengolahan (manufaktur), di mana nilai ekspornya berhasil tumbuh positif sebesar 6,80 persen. Pertumbuhan ekspor manufaktur ini ditopang kuat oleh akselerasi pengiriman hilirisasi nikel dan barang daripadanya yang melonjak 60,88 persen.

Secara keseluruhan, pemenuhan kebutuhan bahan baku/penolong menguasai kue impor nasional dengan kontribusi dominan sebesar 71,32 persen. 

Sementara barang modal menyerap porsi 19,87 persen , meninggalkan kelompok barang konsumsi di peringkat paling buncit dengan peran sebesar 8,81 persen terhadap total impor.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
Syahrianto
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait