KABARBURSA.COM – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai sektor manufaktur nasional masih mampu mempertahankan laju ekspansi pada Juni 202. Kemenperin mencatat, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 berada di level 52,90 atau turun 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski mengalami perlambatan, Kemenperin menilai capaian tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan aktivitas industri manufaktur tetap berada pada fase ekspansi.
Kondisi ini dinilai mencerminkan optimisme pelaku industri yang masih terjaga di tengah meningkatnya tantangan ekonomi global dan domestik.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan tekanan yang dihadapi industri pada Juni lebih berat dibandingkan Mei. Jika sebelumnya tantangan lebih banyak berasal dari sisi produksi, kini pelaku industri juga mulai menghadapi pelemahan permintaan.
Febri mengungkapkan, industri manufaktur nasional pada Juni menghadapi tantangan yang lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya. Menurutnya, tantangan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan.
“Sektor industri tetap menunjukkan resiliensi yang kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional masih tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026 ini," ujar Febri dalam keterangannya, dikutip Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut dia, tekanan dari sisi produksi masih dipicu kenaikan harga bahan baku impor akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dunia. Kondisi tersebut diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya impor bahan baku sehingga menambah beban produksi industri.
Selain itu, sejumlah kawasan industri juga mengalami gangguan pasokan listrik yang menghambat proses produksi, terutama bagi perusahaan yang bergantung penuh pada pasokan listrik dalam menjalankan operasionalnya.
"Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah industri dan kawasan industri menyebabkan sebagian perusahaan harus menghentikan proses produksinya selama gangguan berlangsung. Kondisi tersebut tentu memengaruhi efisiensi operasional industri," kata Febri.
Di sisi lain, pelaku industri juga menghadapi kenaikan harga gas industri, khususnya gas hasil regasifikasi LNG. Meski demikian, Kemenperin mengapresiasi langkah penurunan harga gas regasifikasi LNG untuk industri dari USD23 per MMBTU menjadi USD13 per MMBTU karena dinilai dapat membantu menekan biaya produksi serta meningkatkan daya saing industri nasional, terutama bagi industri yang memperoleh fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Permintaan Domestik Melambat, Ekspor jadi Penopang
Selain tekanan biaya produksi, Kemenperin mencatat mulai muncul tantangan dari sisi permintaan domestik. Kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan rumah tangga serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi dinilai mengurangi ruang belanja masyarakat terhadap produk manufaktur.
Meski demikian, pemerintah menilai daya beli masyarakat secara umum masih relatif terjaga karena inflasi diperkirakan tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Febri menyebut keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi turut membantu menjaga stabilitas inflasi sekaligus menopang konsumsi masyarakat terhadap produk industri dalam negeri.
"Kami mengapresiasi kebijakan Presiden Prabowo yang tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Kebijakan tersebut memberikan kontribusi penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat terutama daya beli atas produk manufaktur," ujarnya.
Di tengah perlambatan permintaan domestik, kinerja ekspor manufaktur justru masih menunjukkan tren positif. Permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor nonmigas terus meningkat sehingga menjadi salah satu penopang utama aktivitas industri nasional pada Juni.
Menurut Febri, pertumbuhan ekspor tersebut turut mendorong peningkatan produksi pada industri yang berorientasi ekspor sehingga membantu menjaga momentum ekspansi sektor manufaktur.
Selain pasar ekspor, besarnya pasar domestik juga dinilai tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Berbagai program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, implementasi mandatori biodiesel B50, Program Kampung Nelayan, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang tahun ajaran baru 2026/2027 diperkirakan akan terus mendorong permintaan terhadap produk manufaktur.
"Kombinasi antara pasar domestik yang besar, dukungan belanja pemerintah, serta membaiknya prospek ekspor menjadi fondasi penting bagi industri manufaktur untuk tetap bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian global," kata Febri.
Ia menegaskan, capaian IKI sebesar 52,90 menunjukkan optimisme pelaku industri masih terjaga meski tantangan yang dihadapi semakin kompleks.
Menurutnya, Kementerian Perindustrian akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga daya saing industri, mulai dari menjamin kelancaran pasokan bahan baku, memperkuat pasar domestik, mempercepat hilirisasi, meningkatkan produktivitas industri, hingga memperluas akses pasar ekspor.(*)