KABARBURSA.COM - Produksi migas PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memang turun sepanjang 2025. Namun, justru di tengah penurunan itu, arah bisnis perusahaan mulai berubah cukup agresif. Produksi gas yang selama ini menjadi penopang utama mulai melemah, sementara produksi minyak perlahan naik dan membuka cerita baru di tubuh ENRG.
Perubahan arah ini bukan sekadar soal angka produksi. Akuisisi blok baru, tambahan kepemilikan di Kangean, hingga temuan minyak baru di Malacca Strait mulai membentuk peta pertumbuhan baru yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Yang mulai menarik perhatian pasar bukan hanya target produksi minyak yang dipatok naik 10–15 persen pada 2026. Di belakang target tersebut, ada potensi tambahan produksi ribuan barel per hari, estimasi cadangan puluhan juta barel minyak, hingga proyeksi valuasi yang mulai dinaikkan analis.
Di saat produksi total migas masih tertekan, ENRG justru sedang menguji mesin pertumbuhan baru dari minyak. Pertanyaannya, apakah perubahan komposisi bisnis ini cukup kuat untuk mengubah arah kinerja dan persepsi pasar terhadap saham ENRG dalam beberapa tahun ke depan?