SETELAH melepas PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) lewat spin-off yang dikemas dalam IPO raksasa, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tampil dengan wajah baru: lebih hijau di atas kertas, tapi belum tentu di pasar. RUPS terakhir menyetujui buyback jumbo Rp4 triliun dan menyegarkan susunan direksi. Namun setelah itu harga saham justru melemah, dibayangi aksi jual investor asing, dan ketidakpastian proyek energi bersih.
Langkah ADRO untuk mengekspor listrik ke Singapura tertahan aturan. Proyek PLTA Mentarang dan smelter aluminium anak usahanya PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) jadi harapan jangka menengah. Tapi di saat yang sama, pendapatan dan laba ADRO anjlok pasca spin-off. Risiko dividen menyusut pun membayangi.
Laporan ini akan mengupas:
- Strategi buyback: sinyal undervalue atau sekadar penyangga harga?
- Kenapa ekspor listrik EBT belum jalan dan siapa yang menahannya?
- Risiko jangka pendek pasca spin-off: penurunan EPS, ancaman DPS, hingga tekanan asing.
- Data teknikal & bandarmologi: siapa jual, siapa akumulasi, dan arah harga dalam 3 bulan ke depan.
- Peta jalan EBT ADRO: narasi hijau atau transformasi sungguhan?
Buat investor yang ingin tahu bukan hanya arah harga, tapi juga napas bisnis jangka panjang ADRO, laporan ini wajib dibaca sebelum memutuskan ikut bertahan atau justru minggir dari saham energi yang sedang mencari jati diri ini.(*)