Saham WIFI mencuri perhatian pasar pada perdagangan Senin, 21 Juli 2025. Data dari Stockbit menunjukkan adanya net buy asing senilai Rp66,5 miliar sepanjang pekan ini dengan porsi pembelian investor asing mencapai lebih dari 16 persen dari total transaksi harian.
Volume transaksi melonjak tinggi dengan frekuensi lebih dari 150 ribu kali sehingga menjadikan WIFI salah satu saham paling aktif ditransaksikan di papan teknologi IDXTechno. Lonjakan harga ini terjadi nyaris seiring waktu dengan rilis riset Kiwoom Sekuritas Indonesia pada 17 Juli lalu, yang menaikkan target harga 12 bulan WIFI dari Rp2.410 menjadi Rp2.960 per saham.
Dalam laporan tersebut, tim riset Kiwoom yang dipimpin oleh Liza Camelia Suryanata dan Matthew Nixon Tan menyebut bahwa kinerja kuartal II 2025 menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan.
“Pada kuartal II 2025, WIFI melanjutkan kinerja solidnya dengan membukukan penjualan sebesar Rp281,5 miliar, tumbuh 67,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih melonjak tajam menjadi Rp145,3 miliar, mencatatkan kenaikan sebesar 140 persen secara tahunan,” tulis mereka dalam riset bertajuk WIFI – 2Q25 Short Note yang dikutip Senin, 21 Juli 2025.
Mereka juga menyoroti perbaikan struktur profitabilitas dengan margin laba kotor yang melonjak dari 58,8 persen menjadi 77,4 persen dan margin laba bersih dari 35,7 persen menjadi 51,6 persen. Menurut laporan itu, pencapaian ini menunjukkan peningkatan efisiensi operasional dan disiplin dalam pengendalian biaya.
Riset Kiwoom juga menilai bahwa strategi ekspansi nasional yang dilakukan WIFI lewat rights issue dan kerja sama strategis menjadi kunci lonjakan kinerja dan proyeksi valuasi. Dalam periode 7–15 Juli 2025, perusahaan meluncurkan aksi korporasi besar berupa penerbitan 2,94 miliar saham baru senilai total Rp5,9 triliun yang seluruh dananya dialokasikan untuk perluasan jaringan fiber-to-the-home (FTTH) hingga mencakup 4 juta homepass di Pulau Jawa.
Selain itu, pendanaan juga diperkuat lewat investasi dari perusahaan Jepang NTT East yang menyuntikkan Rp4 triliun ke entitas anak WIFI, yaitu WEAVE—terdiri dari Rp1 triliun dalam bentuk tunai dan Rp3 triliun dalam bentuk kontribusi non-tunai seperti alih teknologi dan aset tak berwujud lainnya.
“Kemitraan ini tidak hanya membawa pendanaan, tetapi juga keahlian global untuk mempercepat pengembangan infrastruktur,” tulis tim analis Kiwoom.
Dengan basis asumsi pertumbuhan tersebut, Kiwoom memproyeksikan pendapatan WIFI tahun 2025 akan melonjak hingga Rp2,03 triliun dan laba bersih mencapai Rp582,7 miliar dengan margin EBITDA yang dipatok mencapai 74,81 persen.
Rasio valuasi forward price-to-earnings (P/E) dipatok sebesar 26,92 kali, sementara price-to-book value (PBV) ditetapkan 1,94 kali. Namun, berdasarkan harga pasar per 21 Juli 2025 di Rp2.950, saham ini telah diperdagangkan di P/E trailing 24,56x dan PBV 5,09x yang berarti pasar sudah mendekati batas valuasi target jangka pendek.
Sinyal Teknikal Menguat, Tapi Mulai Masuk Zona Jenuh Beli
Dari sisi teknikal, saham WIFI menunjukkan kecenderungan penguatan yang kuat berdasarkan indikator harian yang terpantau hingga Investing. Mayoritas sinyal dari indikator maupun rata-rata pergerakan harga (moving averages) mengindikasikan dominasi tekanan beli dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, sistem ringkasan teknikal mengelompokkan status saham WIFI dalam kategori Strong Buy, baik dari indikator teknikal maupun pergerakan rata-rata harga. Dari total 7 indikator teknikal utama, tercatat 6 berada dalam posisi buy, dan hanya 1 indikator yang mengarah ke sinyal jual.
Beberapa indikator momentum menunjukkan bahwa saham WIFI saat ini berada dalam zona jenuh beli (overbought). Relative Strength Index (RSI) periode 14 mencatat angka 84,8—melewati ambang batas 70 yang lazim digunakan sebagai penanda overbought. Indikator Williams %R juga memperkuat sinyal ini dengan posisi -4,9 yang umumnya mengindikasikan tekanan beli ekstrem.
Hal serupa terlihat pada Commodity Channel Index (CCI) yang mencetak angka 359,5, jauh di atas ambang +100 yang menandakan potensi jenuh beli. Sementara indikator Stochastic RSI bahkan mencapai nilai penuh 100, mengindikasikan bahwa reli harga telah menyentuh batas atas siklus teknikalnya.
Namun, tidak semua indikator mengarah pada euforia. Indikator Stochastic Oscillator (STOCH) versi 9,6 justru menunjukkan sinyal sell dengan nilai 35,09, yang bisa diartikan sebagai potensi perlambatan momentum jangka pendek. Meskipun begitu, indikator ADX (Average Directional Index) yang berada di angka 47,3 tetap mengindikasikan tren yang kuat, mengingat nilai di atas 25 umumnya dipandang sebagai konfirmasi atas kekuatan arah tren yang sedang berlangsung.
Sementara itu, analisis dari pergerakan rata-rata harga konsisten menunjukkan kecenderungan positif. Seluruh MA mulai dari MA5 hingga MA200 berada di bawah harga pasar saat ini, baik dalam pendekatan sederhana (simple) maupun eksponensial (exponential). Misalnya, MA5 simple berada di level Rp2.404, sementara harga terkini berada di kisaran Rp2.950. Kondisi ini mengindikasikan bahwa saham telah berada dalam tren naik konsisten dalam beberapa minggu terakhir.
Dari sisi volatilitas, indikator Average True Range (ATR) menunjukkan nilai 142,85, yang mengindikasikan pergerakan harga harian yang cukup lebar—cerminan dari tingginya aktivitas dan volume perdagangan belakangan ini.
Sebagai referensi tambahan, level pivot point klasik menempatkan titik tengah di angka Rp2.570, dengan resistance terdekat (R1) di Rp2.880 dan resistance berikutnya (R2) di Rp3.060. Dengan harga pasar telah menembus area pivot dan mendekati resistance pertama, pelaku pasar biasanya akan mencermati apakah momentum akan berlanjut atau memasuki fase konsolidasi.
Di luar indikator numerik, tidak ditemukan pola candlestick signifikan untuk saham WIFI dalam periode harian, meskipun platform mendeteksi pola Doji Star Bearish pada Ethereum dan beberapa pola bearish di indeks berjangka global. Namun karena pola tersebut tidak muncul pada grafik saham WIFI itu sendiri, tidak ada sinyal pembalikan tren teknikal yang secara langsung terasosiasi dengan saham ini untuk saat ini.
Dengan mayoritas indikator mengarah pada penguatan dan sejumlah sinyal teknikal menunjukkan posisi jenuh beli, situasi ini menunjukkan bahwa saham WIFI sedang berada dalam tren naik yang kuat dengan tingkat volatilitas tinggi. Namun, sinyal overbought di beberapa indikator mengindikasikan pergerakan harga mendekati batas atas rentang teknikalnya.(*)