Insight Daily 04 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

WIFI Tancap Gas Ekspansi di 2025, Segini Target Harga Saham Analis?

Rights issue jumbo, kolaborasi BUMN, dan investor asing dorong WIFI rebut pasar internet rumah.

KABARBURSA.COM - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mempercepat ekspansi jaringan internet rumah sepanjang 2025. Aksi korporasi yang dilakukan terstruktur dan masif. Dampaknya mulai terlihat dari pertumbuhan pendapatan dan laba yang melonjak di awal tahun.Pada Januari 2025, anak usaha WIFI, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE), mendapatkan pinjaman inve...

Solusi Sinergi Digital atau WIFI (Foto: Dok. Surge)
Solusi Sinergi Digital atau WIFI (Foto: Dok. Surge)

KABARBURSA.COM - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mempercepat ekspansi jaringan internet rumah sepanjang 2025. Aksi korporasi yang dilakukan terstruktur dan masif. Dampaknya mulai terlihat dari pertumbuhan pendapatan dan laba yang melonjak di awal tahun.

Pada Januari 2025, anak usaha WIFI, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE), mendapatkan pinjaman investasi dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Nilainya mencapai Rp978 miliar. Dana itu dipakai untuk membangun jaringan fiber to the home (FTTH) di kawasan Jabodetabek, Bandung, dan Sukabumi.

“Kredit ini mendukung proyek konektivitas internet murah untuk rakyat,” ujar Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, dalam siaran pers pada 30 Januari 2025.

Pada April 2025, WIFI kembali mengumumkan kolaborasi penting. Nippon Telegraph and Telephone East Corporation (NTT East), anak usaha dari raksasa telekomunikasi Jepang, masuk sebagai investor strategis. Nilai investasi yang dikucurkan ke WEAVE sebesar Rp4 triliun. Rp1 triliun berupa dana tunai dan sisanya dalam bentuk non-kas seperti pelatihan, teknologi, dan sistem operasional.

“Kami percaya investasi ini akan mempercepat misi SURGE untuk menyediakan ‘Internet Rakyat’ yang andal dan terjangkau,” kata Naoki Shibutani, President & CEO NTT East.

Sebagai bentuk dukungan modal lanjutan, WIFI melakukan rights issue. Penambahan modal ini diumumkan akan berlangsung pada Juni 2025 dengan target penghimpunan dana sebesar Rp5,89 triliun. Dana hasil aksi korporasi akan digunakan untuk membangun 4 juta homepass baru.

Seluruh rangkaian aksi korporasi tersebut berperan dalam memperkuat posisi keuangan perusahaan. Dalam laporan keuangan kuartal I 2025, pendapatan naik 65,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilainya mencapai Rp231,6 miliar. Laba bersih meningkat 181 persen menjadi Rp82,6 miliar. Margin EBITDA mencapai 77,9 persen.

Kinerja itu tidak lepas dari ekspansi layanan internet rumah dengan paket berbiaya rendah. WIFI menawarkan paket internet dengan kecepatan hingga 200 Mbps seharga Rp100.000 per bulan. Harga ini jauh di bawah rata-rata pasar.

Direktur Utama WIFI, Yune Marketatmo, menyatakan strategi harga ini menyasar kelompok masyarakat yang belum mampu menjangkau layanan internet rumah. "Dengan infrastruktur yang sudah kami miliki dan kerja sama dengan banyak pihak, harga segitu memungkinkan secara bisnis," katanya dalam paparan publik pada Februari 2025.

Model distribusi yang digunakan juga efisien. WIFI menggandeng ISP lokal dengan skema Mini-CEO. Pola ini memungkinkan pemasangan cepat dan efisien. Menurut data internal, tingkat penggunaan jaringan yang dibangun mencapai lebih dari 80 persen.

Langkah ekspansi juga terus berlanjut. Perusahaan menyasar total 690 ribu home connect hingga Juli 2025. Perluasan merek layanan Viberlink ke Surabaya dan Yogyakarta dijadwalkan berlangsung pada Maret.

Selain ekspansi jaringan sendiri, WIFI juga menjalin kerja sama strategis dengan sejumlah pemain besar. Pada Mei 2025, perusahaan menandatangani nota kesepahaman dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur (TIF). Kolaborasi ini mencakup pembangunan metro ethernet, penyediaan infrastruktur pasif, dan pengembangan layanan edge data center.

Keputusan WIFI menggandeng Telkom dan TIF dinilai tepat oleh analis Stocknow.id, Abdul Haq Alfaruqy. Ia menyebut kerja sama ini sebagai langkah penting dalam memperkuat posisi perusahaan di industri infrastruktur digital nasional. 

"Secara profitabilitas, kontribusi kerja sama ini diperkirakan bisa menyumbang sekitar Rp42–45 miliar terhadap laba bersih WIFI, atau sekitar 40 persen dari estimasi laba 2025 sebesar Rp105,79 miliar," ujar Abdul kepada Kabarbursa.com, Rabu, 4 Juni 2025.

Abdul menambahkan bahwa ekspansi ini didukung oleh kredit investasi senilai Rp978 miliar dari BNI untuk membangun 700.000 homepass. Targetnya menambah 4,8 juta pelanggan FTTH hanya dalam sembilan bulan, mencapai total lima juta pelanggan pada akhir 2025. 

"Dengan strategi pembangunan infrastruktur yang masif dan penetrasi harga yang kompetitif, kerja sama ini bukan hanya mendorong peningkatan skala bisnis WIFI secara signifikan, tetapi juga berpotensi mengubah peta persaingan industri internet nasional," ungkapnya.

Menurut Abdul, kolaborasi ini menargetkan ekspansi jaringan ke 25 juta rumah tangga di Jawa, didukung backbone fiber 7.000 km dan kapasitas bandwidth hingga 64.000 Gbps. WIFI juga telah membangun 58 Edge Data Center (EDC), dengan potensi peningkatan hingga 592 lokasi untuk mendukung layanan cloud dan CDN.

"Jika angka tersebut direalisasikan dengan baik, Surge bisa menjadi pemain utama di industri infrastruktur digital nasional," pungkasnya.

Di sektor FBB ritel, WIFI juga bekerja sama dengan PT Indonesia Network (INET). Kerja sama ini mendukung distribusi jaringan fiber ke kawasan perumahan di luar jangkauan utama, menggunakan pola revenue sharing. Kemitraan ini memperluas penetrasi layanan internet murah ke daerah-daerah yang selama ini minim akses.

Di tengah ekspansi, kompetisi tetap menjadi tantangan. IndiHome masih mendominasi pasar. Pemain lain seperti Biznet, First Media, ICON+, dan Linknet juga semakin agresif. 

Namun menurut Niko Margaronis, analis BRI Danareksa Sekuritas, keunggulan biaya bisa menjadi senjata utama bagi WIFI.

“Dengan biaya capex (capital expenditure) dan opex (operational expenditure) yang lebih ramping, serta model pendanaan yang sudah terkunci, WIFI bisa menciptakan unit ekonomi yang lebih sustain dalam jangka panjang,” tulisnya dalam riset tertanggal 24 Januari 2025.

Simulasi sederhana menunjukkan potensi pendapatan yang besar di tahun ini. Jika WIFI berhasil menghubungkan 1 juta pelanggan pada akhir 2025, dengan rata-rata paket Rp100.000 per bulan, maka total pendapatan bulanan bisa mencapai Rp100 miliar.

Jika dikalikan selama 12 bulan, potensi pendapatan kotor mencapai Rp1,2 triliun. Angka ini belum termasuk segmen iklan dan layanan tambahan lainnya.

Berdasarkan proyeksi dari Jonathan Guyadi dan Jason Sebastian, analis Samuel Sekuritas, jumlah pelanggan WIFI bisa mencapai 2,9 hingga 3 juta pada akhir 2025. 

Jika ARPU rata-rata mencapai Rp125.000 per bulan, maka potensi pendapatan tahunan bisa menembus Rp4,3 triliun. “Angka ini mendekati proyeksi pendapatan resmi perusahaan sebesar Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun di tahun 2025,” ujar mereka dalam riset, dikutip Rabu, 4 Juni 2025.

Dari sisi valuasi saham, Samuel Sekuritas menetapkan target harga WIFI sebesar Rp5.200 per saham. Valuasi tersebut menggunakan pendekatan DCF dan EV/EBITDA, dengan mempertimbangkan margin EBITDA yang tinggi, potensi EPS 2026 sebesar Rp50,8, serta ekspansi pelanggan yang diproyeksikan mencapai lima juta koneksi di akhir 2025. 

“Target harga ini menunjukkan potensi kenaikan lebih dari 140 persen dibandingkan harga pasar saat ini,” pungkas riset tersebut.

Dalam jangka panjang, strategi WIFI berfokus pada sinergi antara teknologi, operasional efisien, dan pembiayaan kuat. 

Jika seluruh proyek berjalan sesuai rencana, pertumbuhan pendapatan dan laba bisa berlanjut pada paruh kedua tahun ini. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya