KABARBURSA.COM – Pasar mulai membaca ulang pergerakan saham PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). Emiten baja pelat merah ini selama beberapa waktu berada di zona yang cenderung diabaikan pelaku pasar aktif dengan pergerakan harga yang relatif lambat dan sentimen yang tertahan.
Namun, dinamika perdagangan beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan struktur yang tidak lagi bisa dibaca sebagai fluktuasi biasa. Alasannya, ada pergerakan volume, penyerapan suplai, dan para pembelinya.
Berdasarkan data di platform Stockbit, pada perdagangan sesi I Jumat, 9 Januari 2026, KRAS ditutup di level 376, menguat 18 poin atau sekitar 5,03 persen.
Secara kasat mata, ini terlihat seperti reli teknikal yang wajar. Namun lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan volume transaksi sekitar 89,19 juta saham, jauh di atas rata-rata volume harian yang berada di kisaran 66,21 juta saham.
Secara intraday, pergerakan KRAS dimulai dari area pembukaan di sekitar 360. Harga sempat turun ke level 354 hingga akhirnya menyentuh level tertinggi harian di 380.
Menjelang akhir sesi, harga kembali bergerak di area 370–376. Harga rata-rata transaksi tercatat berada di sekitar 370. Fakta ini penting. Artinya, mayoritas transaksi besar tidak terjadi di harga ekstrem, melainkan di area tengah.
Struktur Harga, Volume, dan Orderbook
Masuk ke struktur orderbook, data memperlihatkan sebaran antrean beli dan jual pada beberapa lapisan harga.
Pada sisi bid, antrean beli tercatat aktif di level 360, 362, 364, 366, 368, 370, 372, hingga 374. Permintaan tidak terkonsentrasi pada satu titik harga, melainkan tersebar di beberapa level yang berdekatan.
Level 370 tercatat sebagai titik bid terbesar sepanjang sesi. Antrean beli pada level ini muncul paling dominan dengan frekuensi transaksi yang berulang. Tepat di bawahnya, level 368 juga mencatat antrean besar dengan frekuensi transaksi yang tinggi. Dua level ini menjadi pusat aktivitas transaksi intraday.
Pada level 372 dan 374, antrean bid tetap tercatat aktif meskipun ukurannya lebih kecil dibandingkan 368 dan 370. Eksekusi tetap terjadi di kedua level tersebut, sehingga transaksi berpindah di antara beberapa lapisan harga yang berdekatan tanpa berhenti pada satu titik tunggal.
Di lapisan harga bawah, yakni 366, 364, 362, dan 360, antrean bid tetap muncul sepanjang sesi. Jumlah lot pada level-level ini lebih terbatas, disertai frekuensi transaksi yang lebih rendah. Namun keberadaan antrean tetap konsisten dan tidak menghilang dari struktur orderbook.
Pada sisi offer, antrean jual tercatat muncul mulai dari level 374, lalu berlanjut ke 376, 378, 380, hingga beberapa level di atasnya mendekati 400. Antrean jual tersebut tersebar dalam beberapa lapisan harga dengan jumlah lot yang relatif besar secara nominal.
Rentang harga 374 hingga 378 menjadi area interaksi utama antara bid dan offer. Pada level ini, sebagian antrean offer tercatat tereksekusi ketika harga mendekat. Sebagian lainnya mengalami perubahan posisi, baik berkurang maupun digantikan, seiring pembaruan orderbook yang terjadi berulang sepanjang sesi.
Frekuensi transaksi tertinggi tercatat di area harga tengah. Level 368, 370, dan 372 mencatat jumlah eksekusi paling sering dibandingkan level harga lainnya. Harga berpindah dalam rentang tersebut dalam durasi yang relatif panjang sebelum bergerak ke level lain.
Sementara itu, pada level di atas 380, meskipun antrean offer terlihat besar, frekuensi transaksi tercatat lebih rendah. Eksekusi di area tersebut tidak berlangsung intens, sehingga harga tidak berkembang jauh dari pusat aktivitas.
Konsentrasi transaksi yang bertahan di area tengah membuat pergerakan harga KRAS berlangsung dalam ritme yang terukur. Harga bergerak naik, namun tetap kembali ke zona transaksi utama.
Broker Summary dan Pola Perpindahan Saham
Data broker summary memberikan konteks kuantitatif terhadap struktur perdagangan KRAS pada periode tersebut.
Pada sisi beli, Mandiri Sekuritas (CC) tercatat sebagai broker dengan nilai beli terbesar. Pada perdagangan 5 Januari 2026, CC mencatatkan nilai beli sekitar Rp2,1 miliar dengan volume sekitar 63,2 ribu lot dan harga rata-rata beli di kisaran 330.
Aktivitas beli CC berlanjut pada hari-hari berikutnya, termasuk pada 8 Januari 2026 dengan nilai beli sekitar Rp814,5 juta atau setara 22,8 ribu lot pada harga rata-rata 357.
Indo Premier Sekuritas (PD) juga tercatat meningkatkan aktivitas beli secara signifikan. Pada 7 Januari 2026, PD mencatatkan nilai beli sekitar Rp5,7 miliar dengan volume sekitar 166 ribu lot dan harga rata-rata beli di kisaran 344.
Aktivitas PD berlanjut pada 8 Januari 2026 dengan nilai beli sekitar Rp11,9 miliar, volume sekitar 337,4 ribu lot, dan harga rata-rata beli di kisaran 353.
Selain itu, Stockbit Sekuritas Digital (XL) tercatat konsisten berada di sisi beli. Pada 7 Januari 2026, XL mencatatkan nilai beli sekitar Rp1,9 miliar dengan volume sekitar 55,5 ribu lot pada harga rata-rata 344.
Pada 8 Januari 2026, XL kembali mencatatkan nilai beli sekitar Rp1,2 miliar dengan volume sekitar 35,1 ribu lot pada harga rata-rata 350.
Phillip Sekuritas Indonesia (KK) juga tercatat muncul di sisi beli, meskipun dengan nilai yang lebih kecil. Pada 5 Januari 2026, KK mencatatkan nilai beli sekitar Rp463,1 juta dengan volume sekitar 14,1 ribu lot dan harga rata-rata beli di kisaran 330.
Di sisi jual, UBS Sekuritas Indonesia (AK) tercatat sebagai salah satu broker dengan nilai jual terbesar. Pada 5 Januari 2026, AK mencatatkan nilai jual sekitar Rp2,1 miliar dengan volume sekitar 35,6 ribu lot dan harga rata-rata jual di kisaran 333.
Aktivitas jual AK kembali muncul pada 7 Januari 2026 dengan nilai jual sekitar Rp2,5 miliar, volume sekitar 72 ribu lot, dan harga rata-rata jual di kisaran 344.
Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) tercatat melakukan transaksi jual dengan nilai sekitar Rp2,4 miliar pada 5 Januari 2026, dengan volume sekitar 72,2 ribu lot dan harga rata-rata jual di kisaran 328.
Pada 8 Januari 2026, LG kembali tercatat di sisi jual dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar dan volume sekitar 35,1 ribu lot pada harga rata-rata 350.
Sementara itu, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) tercatat melakukan transaksi jual pada beberapa sesi. Pada 5 Januari 2026, ZP mencatatkan nilai jual sekitar Rp907,3 juta dengan volume sekitar 27,3 ribu lot dan harga rata-rata jual di kisaran 330.
Pada 8 Januari 2026, ZP kembali mencatatkan nilai jual sekitar Rp693,8 juta dengan volume sekitar 19,4 ribu lot pada harga rata-rata 354.
Secara keseluruhan, data broker summary menunjukkan bahwa perpindahan saham KRAS terjadi pada rentang harga yang relatif berdekatan, dengan harga rata-rata beli dan jual broker-broker utama berada di kisaran 330 hingga 354.
Ritme Perdagangan dan Konsentrasi Transaksi
Jika seluruh data harga, volume, orderbook, dan broker summary disusun berurutan, terlihat bahwa ritme perdagangan KRAS mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya.
Aktivitas meningkat, frekuensi bertambah, dan antrean di orderbook lebih padat. Namun pergerakan harga tetap berada dalam rentang yang terkendali.
Area 368 hingga 372 menjadi pusat aktivitas sepanjang sesi. Di sinilah sebagian besar transaksi tercatat terjadi.
Kondisi ini membuat struktur perdagangan KRAS berbeda dibandingkan fase sebelumnya, ketika volume dan frekuensi transaksi cenderung lebih rendah.
Pergerakan selanjutnya akan tercermin dari perubahan konsentrasi transaksi ini. Pergeseran volume, perubahan frekuensi, serta distribusi antrean di orderbook akan menjadi penanda utama.
Untuk saat ini, data perdagangan menunjukkan bahwa KRAS tidak lagi berada dalam kondisi pasif.
Saham ini mencatat aktivitas yang lebih ramai, dengan struktur transaksi yang lebih padat dan keterlibatan pasar yang meningkat dibandingkan periode sebelumnya. (*)