PROPER Emas dan Kepemimpinan Lingkungan
INCO mencatatkan tonggak penting dalam sejarah pertambangan hijau nasional. Pada Februari 2025, perusahaan ini menerima PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Ini adalah penghargaan tertinggi dalam evaluasi kinerja perusahaan terhadap lingkungan, dan INCO menjadi satu-satunya perusahaan tambang nikel yang meraihnya tahun itu. Pencapaian ini menempatkan INCO di antara 2 persen perusahaan terbaik dari ribuan peserta PROPER di Indonesia.
Sebelumnya, selama tiga tahun berturut-turut (2021–2023), Vale konsisten mendapat peringkat PROPER Hijau, sebuah penanda bahwa komitmen terhadap keberlanjutan bukan hal baru bagi mereka, melainkan sudah menjadi standar operasional. Penghargaan PROPER Emas ini juga beriringan dengan pengakuan terhadap kepemimpinan CEO INCO ketika itu—Febriany Eddy—yang menerima Green Leadership Madya Award dari KLHK. Ini mengukuhkan bahwa arah keberlanjutan di INCO bukan sekadar kebijakan teknis, tapi visi strategis perusahaan.
Pengakuan tak hanya datang dari kementerian. Dalam kunjungan kerja spesifik ke Makassar, Maret 2024, Komisi VII DPR RI yang membidangi energi (saat ini Komisi XII) juga memberikan apresiasi terbuka terhadap praktik ESG INCO. Ketua Komisi VII, Sugeng Suparwoto, menyebut INCO adalah satu-satunya smelter nikel yang telah menggunakan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Ini menjadikannya sebagai contoh nyata pertambangan yang sangat baik.

“Vale telah membuktikan bagaimana berproduksi dengan memperhatikan aspek-aspek ESG yang ketat. Dari sisi environment, misalnya, hari ini satu-satunya bahkan smelter yang menggunakan listrik renewable energy ya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air, sehingga dalam kategori itulah maka Vale dikategorikan sebagai praktek pertambangan yang sangat baik,” kata Sugeng.
Gabungan antara penghargaan institusional, pengakuan parlemen, dan kepemimpinan strategis menegaskan bahwa keberhasilan INCO adalah hasil kerja menyeluruh. Dari kebijakan di ruang direksi, hingga praktik di lapangan, Vale membuktikan bahwa tambang nikel bisa dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Hijau dari Hulu ke Hilir
Komitmen INCO terhadap keberlanjutan tercermin kuat dalam laporan keberlanjutan 2024. Seluruh kegiatan smelter nikel matte Vale di Sorowako, Sulawesi Selatan, dijalankan menggunakan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sendiri. Langkah ini menempatkan Vale sebagai produsen nikel dengan jejak karbon paling rendah di industri nikel, sekaligus memperlihatkan bahwa tambang bisa berbasis energi bersih tanpa harus mengorbankan produktivitas.
Dalam aspek reklamasi, INCO mencatatkan kemajuan berarti. Sebanyak 178,9 hektare lahan bekas tambang telah direklamasi kembali sepanjang 2024. Rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) juga diperluas secara signifikan, mencapai 14.740 hektare—meningkat 41,3 persen dari tahun sebelumnya. Capaian ini diperkuat dengan penanaman 139.151 pohon di area bekas tambang, termasuk 67.903 pohon endemik yang dipulihkan di kawasan pasca-tambang. Upaya ini tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memperkuat kontribusi INCO terhadap konservasi keanekaragaman hayati.

Dari sisi emisi, intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) Vale tercatat hanya 29,95 ton CO₂e per ton nikel. Angka ini merupakan salah satu yang terendah di industri nikel global. Selain itu, penggunaan energi terbarukan mencapai 30,6 persen dari total konsumsi, sementara efisiensi penggunaan air ditingkatkan melalui daur ulang 510 meter kubik air dari proses produksi.
Dampak dari seluruh capaian ini turut tercermin dalam pemeringkatan ESG resmi dari Bursa Efek Indonesia. Hingga 17 Juni 2025, INCO mencatatkan skor ESG sebesar 29,41 dengan tingkat kontroversi hanya pada level 2. Dalam klasifikasi BEI, skor ini menempatkan INCO dalam kategori paparan risiko ESG sedang cenderung rendah—artinya, emiten ini relatif tangguh dalam menghadapi tekanan isu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Skor ini juga menunjukkan konsistensi antara praktik keberlanjutan yang dilaporkan dan persepsi pemangku kepentingan yang independen.

Jejak keberlanjutan INCO sebenarnya bukan hal baru. Sebagai pelopor hilirisasi nikel nasional, INCO telah menggunakan PLTA untuk menggerakkan operasional pabrik sejak 1978—jauh sebelum pemerintah menggaungkan kebijakan hilirisasi berbasis energi terbarukan. Dengan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), bijih nikel diolah langsung menjadi nikel matte di Sorowako sehingga memastikan nilai tambah tinggi pada sumber daya mineral Indonesia.
Komitmen jangka panjang ini kini diperkuat oleh kepastian hukum melalui perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) hingga 28 Desember 2035, serta peluang perpanjangan selanjutnya. Hal ini menegaskan bahwa strategi berkelanjutan INCO bukan sekadar kampanye citra, melainkan fondasi operasional sejak awal berdiri.
Teknikal INCO Menguat, Harga Masih Ramah Kantong
Selama 200 hari terakhir, harga saham INCO mengalami koreksi tipis. Dari posisi Rp3.800 per saham pada awal periode, harga kini turun menjadi Rp3.640. Penurunan sebesar Rp160 atau sekitar 4,21 persen ini menunjukkan bahwa pasar masih memberikan ruang diskon meski sinyal teknikal jangka pendek menguat.
Justru, koreksi ini bisa dianggap sebagai peluang. Berdasarkan indikator harian dari Investing per 17 Juni 2025, saham INCO mencatat status Strong Buy. Baik indikator moving average maupun indikator teknikal lainnya kompak menunjukkan kecenderungan beli kuat.
Sebanyak 12 dari 12 Moving Averages—baik simple maupun exponential—memberikan sinyal beli. Ini mencakup MA jangka pendek seperti MA5 dan MA10, hingga MA panjang seperti MA200, yang semuanya menunjukkan harga sekarang masih berada di atas rerata pergerakan, mengindikasikan tren naik yang kuat secara struktural.
Sementara itu, indikator teknikal seperti RSI (Relative Strength Index) berada di level 63, mendekati zona overbought tapi belum melewati batas, menandakan momentum naik masih sehat. MACD positif dan ADX di atas 40 menunjukkan tren menguat. CCI dan ROC juga memberi sinyal beli, sementara ATR (Average True Range) menunjukkan volatilitas yang mulai mereda—kondisi ideal untuk akumulasi.
Meski begitu, ada sedikit catatan dari indikator Stochastic dan Stochastic RSI yang menunjukkan posisi oversold, menandakan kemungkinan tekanan jangka pendek yang bisa memberi ruang tarik napas sebelum lanjut naik.
Dari sisi pola candlestick, banyak pola bullish teridentifikasi di berbagai time frame—mulai dari Bullish Engulfing, Morning Doji Star, hingga Three Inside Up. Ini memperkuat argumen teknikal bahwa tekanan jual mulai melemah dan potensi reversal atau kelanjutan tren naik terbuka lebar.
Dengan kata lain, meski harga INCO sempat melemah dalam 200 hari terakhir, indikator teknikal justru menyarankan hal sebaliknya: potensi penguatan jangka pendek hingga menengah terbuka, terutama jika harga menembus level resistance di sekitar Rp3.726–3.823 sebagaimana ditunjukkan oleh pivot points klasik.

Dari sisi valuasi, INCO juga mencatat sejumlah sinyal yang patut dicermati. Price to Book Value (PBV) berada di level 0,84—saham ini masih dihargai di bawah nilai aset bersihnya. Meski P/E ratio cukup tinggi di kisaran 32, valuasi premium ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi pertumbuhan Vale sebagai pemain utama nikel hijau.
Rasio EV/EBITDA di angka 8 dan tekanan kas akibat belanja modal tinggi membuat saham ini tidak murah dalam jangka pendek, namun tetap relevan untuk investor bertema ESG dan green transition. Kombinasi antara teknikal bullish dan valuasi fundamental yang relatif menarik bisa menjadikan INCO kandidat akumulasi yang menjanjikan. Untuk investor jangka panjang, ini bisa jadi momentum akumulasi sebelum sentimen ESG dan harga nikel global kembali mendongkrak valuasi.(*)