KABARBURSA.COM – Meski PT Vale Indonesia Tbk, berkode saham INCO, hanya mendapat 30 persen kuota produksi dari Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang diajukan, namun peluang cuan di 2026 masih besar.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, Vale masih bisa mengajukan revisi RKAB. Adapun deadline pengajuan revisi pada 31 Juli 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno.
“Perusahaan yang telah melengkapi seluruh persyaratan, dapat langsung memperoleh persetujuan. Kan, mereka (yang kuotanya dipangkas) ada kesempatan juga untuk melakukan revisi, paling telat 31 Juli,” kata Tri, 20 Januari 2026.
Serasa mendapat angin segar, Vale langsung gerak cepat. Raksasa nikel Indonesia ini terus melanjutkan transformasi besar-besaran menuju produksi nikel kelas baterai, dengan nilai investasi mencapai miliaran dolar AS.
Artinya, peluang cuan masih ada. Beberapa analis melihat ini dengan positif, bahkan ada beberapa yang merekomendasikan untuk membeli saham INCO.
Investasi USD9 Miliar
Saat ini, Vale telah menggelontorkan investasi senilai USD9 miliar. Langkah ini untuk tiga proyek hilirisasi berbasis baterai dan menandai pergeseran strategis terbesar sejak perusahaan berdiri pada 1968.
Transformasi ini tidak hanya mengubah portofolio produk dari nikel matte menuju material baterai kendaraan listrik, tetapi juga menempatkan perusahaan secara langsung di jantung rantai pasok global energi baru.
Nilai investasi tersebut setara dengan salah satu komitmen belanja modal terbesar di sektor pertambangan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Dari total USD9 miliar, proyek Pomalaa di Sulawesi Tenggara menyerap sekitar USD4,5 miliar dan dikembangkan bersama Ford Motor Co serta Zhejiang Huayou Cobalt.
Proyek Bahodopi di Sulawesi Tengah menelan investasi sekitar USD2 miliar, sementara sisanya dialokasikan untuk pengembangan dan optimalisasi proyek hilirisasi lainnya. Skala investasi ini mencerminkan upaya reposisi Vale Indonesia dari eksportir produk antara menjadi produsen bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Transformasi tersebut berlangsung di tengah perubahan struktur permintaan baterai global. Popularitas baterai lithium iron phosphate (LFP) meningkat pesat, terutama di China, karena biaya lebih murah dan faktor keselamatan yang lebih baik.
Potensi Nikel Baterai EV
International Energy Agency mencatat baterai berbasis lithium telah menguasai hampir separuh pangsa pasar baterai kendaraan listrik global. Nilai pasar baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi diproyeksikan mencapai USD160,3 miliar pada 2030, yang didorong oleh pertumbuhan adopsi kendaraan listrik dan transisi energi.
Hal senada disampaikan manajemen Vale Indonesia. Manajemen menilai, baterai berbasis nikel tetap memiliki prospek jangka panjang, terutama untuk kendaraan listrik berperforma tinggi yang membutuhkan kepadatan energi lebih besar.
Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia Abu Ashar, menjelaskan baterai berbasis nikel unggul dalam daya tahan dan siklus hidup. Fakta bahwa produsen otomotif besar seperti BYD masih menggunakan kombinasi baterai nikel dan LFP menunjukkan struktur pasar belum sepenuhnya bergeser ke satu teknologi tunggal.
Dari sisi struktur industri, langkah Vale Indonesia juga sejalan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah. Sejak 2020, Indonesia melarang ekspor bijih nikel mentah untuk mendorong pembangunan fasilitas pengolahan dalam negeri.
Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia menargetkan penguatan rantai pasok domestik baterai dan kendaraan listrik.
Dengan komposisi kepemilikan saham yang melibatkan Mind ID sebesar 34 persen, Vale Canada sekitar 33,9 persen, dan Sumitomo Metal Mining 11,5 persen, arah investasi Vale Indonesia berada dalam kerangka strategis nasional sekaligus terintegrasi dengan pemain global.
Secara operasional, perubahan portofolio produk menjadi faktor kunci. Selama puluhan tahun, Vale Indonesia dikenal sebagai produsen nikel matte dengan kapasitas historis sekitar 70.000 ton per tahun dari fasilitas Sorowako di Sulawesi Selatan.
Seluruh produksi tersebut diekspor ke Jepang melalui kontrak jangka panjang dengan Sumitomo Metal Mining dan Vale Japan. Model bisnis ini relatif stabil, namun bergantung pada permintaan baja tahan karat sebagai pengguna utama nikel matte.
Kapasitas Produksi Pomalaa dan Bahodopi
Proyek Pomalaa dan Bahodopi mengubah struktur tersebut. Fasilitas high-pressure acid leach (HPAL) di Pomalaa ditargetkan memproduksi 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun mulai kuartal IV 2026.
Bahodopi dirancang mengolah 10,4 juta ton limonit per tahun dengan kapasitas sekitar 66.000 ton MHP. Produk MHP merupakan bahan baku penting untuk katoda baterai berbasis nikel. Dengan demikian, Vale Indonesia memperluas nilai tambah dari hulu hingga mendekati tahap manufaktur baterai.
Integrasi ini juga memaksimalkan pemanfaatan cadangan. Limonit, bijih berkadar rendah yang sebelumnya kurang optimal secara ekonomi, kini dapat diolah menjadi MHP melalui teknologi HPAL. Sementara saprolit berkadar tinggi tetap diproses menjadi nikel matte.
Model ini memungkinkan satu operasi tambang menghasilkan dua jenis produk berbeda secara simultan. Dari perspektif efisiensi sumber daya, strategi ini meningkatkan rasio pemanfaatan cadangan dalam wilayah konsesi seluas lebih dari 118.000 hektare di Sulawesi.
Di sisi pasar, dinamika harga menjadi variabel penting. Sepanjang sebagian besar 2025, harga nikel relatif stagnan sebelum melonjak lebih dari 12 persen pada Desember, dan mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak April 2024.
Pada 6 Februari, kontrak berjangka nikel di London Metal Exchange berada di level USD16.784 per ton. Kenaikan tersebut dipicu ekspektasi pengetatan pasokan dari Indonesia.
Strategi dan Target Produksi
Pemerintah berencana membatasi produksi nikel pada 2026, termasuk kuota maksimal 30 persen untuk proyek Pomalaa dan Bahodopi. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan pasar dan menopang harga.
Dalam konteks tersebut, strategi Vale Indonesia menghadapi dua dinamika sekaligus, yakni ekspansi kapasitas di tengah pembatasan produksi. Produksi nikel matte Sorowako tetap berjalan penuh, sementara proyek HPAL akan disesuaikan dengan kuota pemerintah.
Dari sisi kinerja, Vale Indonesia menargetkan produksi 71.234 ton pada 2025. Hingga November, realisasi telah mencapai 66.848 ton, meningkat 3 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan stabilitas operasional di tengah fase transisi investasi besar.
Jika proyek hilirisasi mulai beroperasi komersial sesuai jadwal, struktur pendapatan perusahaan berpotensi mengalami diversifikasi signifikan mulai 2026 dan seterusnya.
Proyeksi lembaga keuangan global turut memengaruhi sentimen. Macquarie memperkirakan pemerintah Indonesia akan terus menyempurnakan kebijakan produksi untuk menjaga harga nikel di kisaran USD18.000 per ton.
Bank tersebut merevisi proyeksi harga rata-rata LME 2026 menjadi USD17.750 per ton dari sebelumnya USD15.000, dengan asumsi intervensi pemerintah signifikan dan berkelanjutan. Jika proyeksi tersebut terealisasi, proyek hilirisasi dengan struktur biaya yang kompetitif berpotensi mendapat dukungan harga yang lebih stabil.
Secara keseluruhan, investasi USD9 miliar Vale Indonesia mencerminkan konsolidasi posisi sebagai pemain utama dalam rantai pasok baterai global. Transformasi dari produsen nikel matte menjadi pemasok material baterai memperluas eksposur terhadap sektor kendaraan listrik yang tengah tumbuh.
Pada saat yang sama, perusahaan tetap mempertahankan basis produksi tradisionalnya. Kombinasi ekspansi hilirisasi, dukungan kebijakan nasional, serta dinamika harga global membentuk lanskap sentimen yang kompleks terhadap prospek jangka menengah dan panjang perusahaan.
Analisis Saham INCO
Sentimen terhadap PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat seiring kombinasi proyeksi lonjakan laba dan dominasi rekomendasi beli dari analis.
Data konsensus menunjukkan 29 analis memantau saham ini, dengan 24 memberikan rekomendasi buy, 4 hold, dan 1 sell per 15 Februari 2026. Komposisi tersebut mencerminkan kecenderungan positif pasar terhadap prospek kinerja INCO dalam jangka menengah.
Dari sisi fundamental, proyeksi peningkatan laba menjadi pendorong utama. Laba bersih INCO diperkirakan melonjak hingga 355 persen pada 2026 setelah perusahaan mengamankan kuota produksi bijih nikel sebesar 8 juta ton.
Riset CLSA menyebutkan INCO berencana menambang dan menjual seluruh kuota tersebut pada semester I-2026. Strategi ini membuka peluang pengajuan tambahan kuota pada pertengahan tahun, sehingga kapasitas produksi tahunan berpotensi meningkat.
CLSA menilai rencana produksi agresif tersebut dapat mendorong laba bersih naik hingga tiga kali lipat. Proyeksi ini berbasis asumsi optimalisasi kuota dan peningkatan volume penjualan. Dengan struktur biaya yang relatif tetap, kenaikan volume produksi berimplikasi langsung terhadap ekspansi margin operasional apabila harga jual tetap terjaga.
Di sisi lain, Macquarie mencatat dinamika berbeda pada proyeksi penjualan. Broker tersebut menurunkan estimasi penjualan bijih nikel INCO menjadi 8,5 juta ton tahun ini, seluruhnya berasal dari saprolit.
Sebelumnya, proyeksi mencapai 13 juta ton yang terdiri atas 5 juta ton saprolit dan 8 juta ton limonit. Revisi ini mencerminkan penyesuaian terhadap kesiapan proyek hilirisasi, khususnya HPAL Bahodopi dan pengembangan Sorowako yang belum sepenuhnya beroperasi sesuai rencana awal.
Meski demikian, Macquarie menyebut dampak perubahan komposisi produk relatif terbatas karena perbedaan harga jual rata-rata. ASP bijih nikel limonit tercatat sekitar tiga kali lebih besar dibanding saprolit.
Artinya, meskipun volume limonit tidak terealisasi sesuai proyeksi awal, kontribusi nilai per ton tetap menjadi variabel penting dalam struktur pendapatan. Penyesuaian juga dilakukan pada proyeksi produksi nikel matte menjadi 61 ribu ton dari sebelumnya 71 ribu ton.
Perbedaan asumsi antara CLSA dan Macquarie menunjukkan spektrum ekspektasi yang berkembang di pasar. Di satu sisi, potensi optimalisasi kuota dan tambahan produksi menjadi katalis positif terhadap laba 2026.
Di sisi lain, revisi volume dan komposisi produk mencerminkan faktor teknis dan kesiapan proyek yang mempengaruhi realisasi jangka pendek.
Konteks harga komoditas turut membentuk sentimen. Pergerakan harga nikel global dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan volatilitas, dengan kenaikan signifikan pada akhir 2025 akibat ekspektasi pengetatan pasokan.
Dengan posisi Indonesia sebagai produsen utama dunia, kebijakan kuota produksi menjadi faktor penentu keseimbangan pasar. Bagi INCO, kepastian kuota 8 juta ton memberikan visibilitas produksi, sementara peluang tambahan kuota membuka ruang peningkatan pendapatan.
Secara struktural, fokus penjualan pada saprolit berarti eksposur perusahaan lebih besar pada segmen bahan baku dengan harga relatif lebih rendah dibanding limonit yang diproses melalui fasilitas HPAL menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.
Hal ini menempatkan kesiapan proyek hilirisasi sebagai variabel penting dalam transformasi model bisnis INCO ke depan.
Dengan dominasi rekomendasi buy dari mayoritas analis dan proyeksi pertumbuhan laba signifikan pada 2026, sentimen pasar terhadap INCO berada dalam fase konstruktif. Namun, dinamika kuota produksi, komposisi produk, serta kesiapan fasilitas pengolahan tetap menjadi faktor yang memengaruhi realisasi proyeksi tersebut dalam periode mendatang.
Target Harga dan Analisis Konsensus
Konsensus analis terhadap PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan kecenderungan positif dengan ruang apresiasi harga yang masih terbuka dibandingkan posisi pasar saat ini.
Data target harga analis mencatat rata-rata target di level Rp7.153 per saham, dengan estimasi tertinggi Rp10.000 dan terendah Rp4.300. Sementara itu, harga terkini berada di Rp6.975.
Dengan posisi tersebut, rata-rata target harga mencerminkan potensi kenaikan tipis dari harga berjalan. Rentang estimasi yang cukup lebar, antara Rp4.300 hingga Rp10.000, menggambarkan variasi asumsi terhadap prospek produksi, harga nikel, serta realisasi proyek hilirisasi.
Target tertinggi berada sekitar 43 persen di atas harga saat ini, sedangkan estimasi terendah berada di bawah level pasar.
Dari sisi kinerja keuangan, konsensus memperkirakan pertumbuhan signifikan hingga 2026. Pendapatan INCO diproyeksikan meningkat dari 15.064 miliar pada 2024 menjadi 16.397 miliar pada 2025, lalu melonjak ke 22.361 miliar pada 2026.
Kenaikan pendapatan pada 2026 merefleksikan ekspektasi peningkatan volume dan optimalisasi harga jual.
Laba operasional diperkirakan naik dari 1.012 miliar pada 2024 menjadi 1.513 miliar pada 2025, kemudian meningkat tajam menjadi 4.526 miliar pada 2026. Pola yang sama terlihat pada laba bersih, yang diproyeksikan bertumbuh dari 916 miliar pada 2024 menjadi 1.393 miliar pada 2025 dan melonjak ke 3.695 miliar pada 2026.
Proyeksi ini menunjukkan akselerasi pertumbuhan laba bersih lebih dari dua kali lipat pada 2026 dibandingkan 2025.
Dari sisi laba per saham, EPS diperkirakan meningkat dari 86,86 pada 2024 menjadi 140,99 pada 2025, lalu melonjak menjadi 418,77 pada 2026. Kenaikan EPS 2026 mencerminkan ekspektasi peningkatan profitabilitas yang signifikan, sejalan dengan asumsi ekspansi produksi dan kontribusi proyek hilirisasi.
Struktur proyeksi tersebut mengindikasikan 2026 sebagai tahun percepatan kinerja, dengan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Kenaikan laba operasional yang lebih cepat dibanding pendapatan menunjukkan asumsi perbaikan margin, yang biasanya berkaitan dengan kombinasi volume produksi, komposisi produk, serta harga jual rata-rata.
Sentimen analis yang tercermin dari konsensus target harga dan estimasi keuangan menunjukkan ekspektasi perbaikan fundamental dalam dua tahun ke depan. Harga pasar yang berada sedikit di bawah rata-rata target mengindikasikan pasar telah mengantisipasi sebagian proyeksi tersebut, namun masih menyisakan ruang penyesuaian apabila realisasi kinerja sesuai dengan estimasi.
Rentang target harga yang luas juga menandakan sensitivitas tinggi terhadap variabel eksternal, terutama harga nikel global dan kebijakan produksi dalam negeri.
Dalam konteks tersebut, konsensus analis terhadap INCO mencerminkan pandangan konstruktif berbasis proyeksi pertumbuhan laba dan pendapatan hingga 2026, dengan variasi asumsi yang tercermin pada perbedaan estimasi target harga.
Tekanan Jual JP Morgan Tertahan
Dilihat dari pergerakan saham INCO pada sesi terakhir perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, ditutup di level Rp6.975, melemah 125 poin atau turun 1,76 persen dari harga sebelumnya Rp7.100.
Sepanjang perdagangan, saham ini dibuka di Rp7.000, sempat menyentuh level tertinggi Rp7.050 dan terendah Rp6.800. Rata-rata harga transaksi tercatat di Rp6.917 dengan volume 188,5 ribu lot dan frekuensi 272,54 ribu kali.
Struktur orderbook menunjukkan akumulasi antrean jual lebih besar dibandingkan sisi beli. Total lot pada sisi bid tercatat 57.426 lot dengan 2.180 frekuensi, sedangkan sisi offer mencapai 89.815 lot dengan 1.510 frekuensi.
Ketimpangan ini mencerminkan tekanan pasokan yang lebih dominan di atas harga pasar saat ini.
Di sisi bid, antrean terbesar terlihat di level Rp6.800 sebesar 10.837 lot dan Rp6.850 sebesar 3.875 lot. Level Rp6.950 mencatat 192 lot dan Rp6.900 sebesar 905 lot.
Sementara di sisi offer, tekanan jual paling tebal berada di Rp7.000 sebesar 11.987 lot, diikuti Rp7.050 sebesar 5.289 lot, serta Rp7.200 sebesar 4.910 lot. Konsentrasi lot pada rentang Rp7.000–Rp7.100 menunjukkan area tersebut menjadi zona distribusi utama dalam sesi ini.
Dengan harga penutupan berada di Rp6.975, posisi saham berada tepat di bawah lapisan jual Rp7.000 yang cukup tebal. Kondisi ini menggambarkan upaya pasar untuk menahan penurunan lebih dalam di bawah Rp6.900, sementara sisi atas masih dibayangi tekanan suplai.
Dari sisi broker summary, hari yang sama, arus transaksi menunjukkan dominasi nilai jual pada beberapa sekuritas. Di sisi beli, aktivitas terbesar dicatat oleh Mandiri Sekuritas (CC) dengan nilai beli 23,1 miliar dan volume 33,4 ribu lot pada harga rata-rata Rp6.920.
Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) membukukan beli 9,1 miliar dengan rata-rata Rp6.933, serta Ciptadana Sekuritas Asia (KI) sebesar 8,1 miliar dengan rata-rata Rp6.926.
Sementara itu, tekanan jual terbesar berasal dari CGS International (YU) dengan nilai jual 12,3 miliar dan volume 17,8 ribu lot pada harga rata-rata Rp6.906. JP Morgan (BK) mencatat jual 12,2 miliar pada rata-rata Rp6.910, sedangkan Trimegah Sekuritas (LG) melepas 10,6 miliar pada rata-rata Rp6.861.
Pola ini menunjukkan distribusi terjadi di kisaran harga Rp6.860–Rp6.910.
Perbandingan nilai transaksi memperlihatkan adanya akumulasi signifikan oleh CC yang melampaui nilai jual individual dari masing-masing broker di sisi distribusi. Dengan rata-rata beli di Rp6.920 dan posisi harga penutupan Rp6.975, akumulasi tersebut berada relatif dekat dengan harga pasar.
Secara struktur mikro, ketebalan antrean jual di atas Rp7.000 serta total offer yang lebih besar dibanding bid menunjukkan tekanan jual masih dominan dalam jangka pendek. Namun keberadaan antrean beli tebal di Rp6.800 dan Rp6.850 serta aktivitas akumulasi oleh CC menjadi faktor penahan penurunan lebih lanjut di bawah area Rp6.900.
Dengan komposisi tersebut, saham INCO pada sesi ini bergerak dalam fase tekanan jual yang masih terlihat dari ketimpangan orderbook. Namun terdapat aktivitas akumulasi terukur pada rentang harga Rp6.800–Rp6.920 yang menjaga stabilitas harga di kisaran tersebut.(*)