Insight Daily 27 Mar 2026 Penulis: KabarBursa.com

UNTR Ditekan Tambang dan Laba Turun, Kenapa Masih Dijagokan?

Operasional nikel terganggu dan kinerja melemah, namun target analis tetap tinggi di tengah arus asing yang masih masuk.

KABARBURSA.COM – Penghentian sementara operasional tambang nikel Hengjaya di Morowali tiba di saat yang tidak sepenuhnya ideal bagi PT United Tractors Tbk (UNTR). Sentimen ini muncul ketika kinerja keuangan perusahaan justru menunjukkan penurunan yang cukup dalam sepanjang 2025. Dalam konteks tersebut, pasar mulai dihadapkan pada pertanyaan baru tentang arah...

Nickel Industries Ltd menghentikan sementara seluruh operasional tambang nikel Hengjaya di Morowali, Sulawesi Tengah. (Foto: dok United Tractors)
Nickel Industries Ltd menghentikan sementara seluruh operasional tambang nikel Hengjaya di Morowali, Sulawesi Tengah. (Foto: dok United Tractors)

Insight Navigator

  1. 01 Tersandung di Morowali, Tambang Inti Stop
  2. 02 Hengjaya Tulang Punggung Pasokan Nikel
  3. 03 Gangguan Operasional di Tengah Peningkatan Kapasitas
  4. 04 Eksposur UNTR ke Rantai Pasok Nikel
  5. 05 Laba Mulai Turun
  6. 06 Emas dan Mineral Catakan Pertumbuhan Signifikan
  7. 07 Analis Tetap Pasang Target Tinggi

KABARBURSA.COM – Penghentian sementara operasional tambang nikel Hengjaya di Morowali tiba di saat yang tidak sepenuhnya ideal bagi PT United Tractors Tbk (UNTR). Sentimen ini muncul ketika kinerja keuangan perusahaan justru menunjukkan penurunan yang cukup dalam sepanjang 2025. 

Dalam konteks tersebut, pasar mulai dihadapkan pada pertanyaan baru tentang arah pergerakan saham ini.

Laba bersih UNTR juga tercatat turun 24,17 persen menjadi Rp14,81 triliun dari sebelumnya Rp19,53 triliun pada 2024. Penurunan ini menambah lapisan tekanan yang sebelumnya sudah terbentuk dari dinamika sektor komoditas. 

Di tengah kondisi tersebut, ekspektasi terhadap pertumbuhan jangka pendek terlihat tidak lagi seagresif periode sebelumnya.

Namun di balik kombinasi sentimen tersebut, saham UNTR justru masih masuk dalam radar rekomendasi analis dengan target harga hingga Rp33.000. 

Kondisi ini membuka ruang pertanyaan yang lebih dalam mengenai bagaimana pasar membaca posisi UNTR saat ini. Apakah tekanan yang muncul hanya bersifat sementara, atau justru menjadi bagian dari perubahan karakter saham ini ke depan?

Tersandung di Morowali, Tambang Inti Stop 

Penghentian sementara operasional tambang nikel Hengjaya di Morowali, Sulawesi Tengah, membuka babak baru dalam dinamika bisnis PT United Tractors Tbk (UNTR). Penghentian terjadi tepat ketika ekspansi ke sektor nikel tengah menjadi salah satu pilar diversifikasi utama. 

Tambang yang dikelola Nickel Industries Ltd tersebut dihentikan menyusul kecelakaan fatal pada 25 Maret 2026. Seluruh aktivitas operasional dihentikan sambil menunggu investigasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Proses penyelidikan dijadwalkan dimulai pada 27 Maret 2026, yang ditujukan untuk mengungkap penyebab insiden sekaligus memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja.

Langkah penghentian ini tidak berdiri sendiri dalam konteks UNTR, mengingat perusahaan memiliki kepemilikan efektif sekitar 20,1 persen di Nickel Industries. Investasi tersebut dilakukan melalui anak usaha PT Danusa Tambang Nusantara dengan nilai mencapai AUD942,7 juta atau sekitar Rp9,4 triliun, yang diselesaikan pada September 2023. 

Dengan status sebagai entitas asosiasi, kontribusi kinerja Nickel Industries tercermin langsung dalam laporan keuangan UNTR melalui metode ekuitas, dan menjadikan setiap dinamika operasional di dalamnya relevan terhadap kinerja konsolidasian.

Hengjaya Tulang Punggung Pasokan Nikel

Dalam struktur bisnis Nickel Industries, tambang Hengjaya tidak hanya berperan sebagai aset tambahan, melainkan menjadi fondasi utama dalam rantai pasok nikel terintegrasi. Tambang ini memiliki sumber daya sekitar 300 juta dry metric tons berdasarkan estimasi JORC 2022, dan menjadikannya salah satu deposit nikel terbesar di dunia. 

Lokasinya yang bersebelahan langsung dengan kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) juga memberikan keunggulan logistik melalui jalur angkut khusus, sehingga biaya distribusi bijih relatif lebih efisien dibandingkan model transportasi konvensional.

Dari sisi operasional, Hengjaya mencatatkan produksi sebesar 19 juta wet metric tonnes pada 2024, sekaligus menjadi pemasok utama bagi berbagai lini bisnis Nickel Industries. Bijih saprolite dari tambang ini digunakan untuk memasok fasilitas smelter berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi Nickel Pig Iron (NPI). 

Sementara itu, bijih limonite menjadi bahan baku utama untuk proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) yang terkait dengan rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Selain memasok kebutuhan internal, Hengjaya juga menjual bijih nikel ke sejumlah fasilitas pengolahan pihak ketiga di kawasan IMIP, seperti proyek Huayue dan QMB. Pola ini menjadikan tambang tersebut sebagai sumber pasokan multi-channel yang menopang baik produksi internal maupun optimalisasi arus kas melalui penjualan eksternal.

Gangguan Operasional di Tengah Peningkatan Kapasitas

Signifikansi tambang Hengjaya semakin terlihat ketika dikaitkan dengan rencana peningkatan kapasitas produksi. Pemerintah sebelumnya telah menaikkan kuota penjualan tahunan tambang ini dari 9 juta wet metric tonnes menjadi 14,3 juta wet metric tonnes untuk 2026, atau meningkat sekitar 60 persen. 

Dengan peningkatan tersebut, peran Hengjaya dalam menopang produksi dan distribusi bijih nikel menjadi semakin krusial dalam struktur bisnis Nickel Industries.

Dari sisi keuangan, tambang ini juga mencatatkan kontribusi EBITDA sebesar US$100,9 juta pada 2024. Angka ini menempatkan Hengjaya sebagai salah satu kontributor utama dalam pembentukan profitabilitas Nickel Industries, yang pada akhirnya tercermin dalam kinerja UNTR sebagai pemegang saham asosiasi.

Penghentian operasional yang terjadi saat ini berlangsung di tengah momentum peningkatan kapasitas tersebut. Dalam konteks ini, jeda aktivitas tambang tidak hanya terkait dengan aspek operasional jangka pendek, tetapi juga berkaitan dengan kesinambungan pasokan bijih dalam sistem produksi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Eksposur UNTR ke Rantai Pasok Nikel

Masuknya UNTR ke Nickel Industries merupakan bagian dari strategi diversifikasi dari bisnis alat berat dan batu bara menuju sektor mineral, khususnya nikel yang terkait dengan ekosistem kendaraan listrik. 

Melalui kepemilikan sekitar 20 persen, UNTR tidak hanya terpapar pada bisnis pengolahan, tetapi juga secara tidak langsung pada aktivitas hulu melalui tambang Hengjaya.

Struktur ini memberikan akses terhadap keamanan pasokan bijih sekaligus potensi margin dari integrasi hulu-hilir. Dalam model bisnis tersebut, keberadaan tambang seperti Hengjaya menjadi penghubung utama antara produksi bijih dan proses pengolahan lanjutan di kawasan industri.

Dengan demikian, penghentian sementara operasional tambang Hengjaya menempatkan UNTR dalam posisi yang terhubung langsung dengan dinamika operasional di level hulu. 

Keterkaitan ini menjadikan setiap perkembangan di tambang tersebut relevan dalam membaca arah pergerakan bisnis nikel UNTR ke depan, terutama dalam konteks diversifikasi yang tengah dibangun melalui investasi di Nickel Industries.

Laba Mulai Turun

Tekanan terhadap PT United Tractors Tbk (UNTR) sudah lebih dulu tercermin pada kinerja keuangan sepanjang 2025, sebelum munculnya dinamika terbaru di lini nikel. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp14,81 triliun, turun 24,17 persen dibandingkan Rp19,53 triliun pada 2024, seiring pendapatan yang ikut terkoreksi menjadi Rp131,3 triliun dari Rp134,4 triliun. 

Pada level operasional, pendapatan kuartal IV 2025 tercatat Rp30,84 triliun atau turun 11,57 persen secara tahunan, sementara EBITDA mencapai Rp7,52 triliun atau turun 6,33 persen, mencerminkan penurunan kinerja yang terjadi secara bertahap sepanjang tahun.

Struktur penurunan tersebut berkaitan langsung dengan segmen bisnis utama yang selama ini menjadi penopang UNTR. Segmen kontraktor penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) tetap menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp54,1 triliun, diikuti segmen mesin konstruksi sebesar Rp36,6 triliun, serta segmen pertambangan batu bara sebesar Rp24,2 triliun. 

Namun, dua segmen utama tersebut, baik itu kontraktor penambangan maupun batu bara, justru mengalami penurunan masing-masing sekitar 7 persen secara tahunan, yang berdampak langsung terhadap penurunan kinerja secara keseluruhan.

Penurunan pada segmen inti tersebut dipengaruhi oleh kondisi operasional dan pasar yang berjalan bersamaan. Curah hujan yang tinggi tercatat menghambat aktivitas operasional kontraktor tambang, sementara harga jual batu bara termal dan metalurgi mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. 

Di sisi lain, beban operasional meningkat 46,27 persen menjadi Rp3,10 triliun, sementara margin laba bersih tercatat turun menjadi 10,82 persen, menunjukkan adanya tekanan pada efisiensi dan profitabilitas dalam periode tersebut.

Emas dan Mineral Catakan Pertumbuhan Signifikan

Berbeda dengan segmen utama, lini bisnis emas dan mineral lainnya justru mencatatkan pertumbuhan signifikan. Pendapatan dari segmen ini mencapai Rp14 triliun atau naik 41 persen secara tahunan, menjadikannya satu-satunya segmen yang tumbuh di tengah tekanan kinerja. 

Kenaikan ini terjadi di tengah penguatan harga emas dan mulai berkembangnya kontribusi dari lini mineral, termasuk eksposur ke nikel melalui investasi di Nickel Industries.

Dari sisi arus kas dan struktur keuangan, UNTR masih mencatatkan kas dan setara kas sebesar Rp26,57 triliun atau naik 5,89 persen, dengan total aset mencapai Rp177,64 triliun. Arus kas dari operasi tercatat Rp8,79 triliun atau naik 3,08 persen, sementara free cash flow meningkat signifikan menjadi Rp3,23 triliun atau naik 147,21 persen. 

Di sisi lain, arus kas dari investasi tercatat negatif Rp5,57 triliun, mencerminkan aktivitas ekspansi yang masih berjalan, termasuk pada sektor mineral.

Dalam periode yang sama, UNTR juga menjalankan aksi korporasi yang berkaitan dengan pengelolaan modal dan ekspansi bisnis. Perusahaan menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun pada Januari 2026 setelah dimulai sejak Oktober 2025, serta melanjutkan tahap kedua dengan nilai maksimal Rp2 triliun hingga April 2026. 

Selain itu, melalui PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, UNTR menyelesaikan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam pada Februari 2026, yang bergerak di sektor pertambangan emas di Sulawesi Utara.

Dengan komposisi tersebut, kinerja UNTR sepanjang 2025 terbentuk dari pergerakan yang tidak seragam antarsegmen. Segmen inti yang selama ini menjadi penopang mengalami tekanan, sementara lini mineral mulai menunjukkan pertumbuhan, diikuti oleh aktivitas ekspansi dan pengelolaan modal yang berjalan dalam periode yang sama.

Analis Tetap Pasang Target Tinggi

Namun di tengah kombinasi tekanan tersebut, pandangan analis terhadap saham UNTR justru bergerak ke arah yang berbeda. Data konsensus menunjukkan mayoritas analis masih menempatkan UNTR dalam kategori buy, dengan 20 rekomendasi beli, 9 hold, dan tanpa rekomendasi jual. 

Target harga rata-rata berada di level Rp31.872, dengan proyeksi tertinggi mencapai Rp40.000 dan batas bawah Rp25.000, sementara harga saat ini berada di kisaran Rp30.425.

Pandangan ini sejalan dengan rekomendasi Phintraco Sekuritas yang memasukkan UNTR sebagai salah satu saham pilihan pada perdagangan 27 Maret 2026 dengan target harga Rp33.000. Dalam skenario tersebut, area Rp33.500 menjadi batas sell on strength, sementara level Rp28.500 ditempatkan sebagai batas risiko penurunan. 

Pada perdagangan sebelumnya, saham UNTR tercatat menguat 0,08 persen ke Rp30.800 dan mencatat net foreign buy sebesar Rp36,94 miliar, setelah sehari sebelumnya juga naik 2,58 persen ke level Rp30.775.

Di sisi proyeksi kinerja, konsensus analis memperkirakan laba bersih UNTR akan kembali meningkat menjadi Rp15,5 triliun pada 2026 dan Rp17,06 triliun pada 2027, dari realisasi Rp14,81 triliun pada 2025. Pendapatan diproyeksikan berada di kisaran Rp127,2 triliun pada 2026 sebelum naik ke Rp132,7 triliun pada 2027.

Sementara itu, laba per saham diperkirakan meningkat dari 3.970 menjadi 4.179 dan 4.700 dalam dua tahun ke depan. Proyeksi ini menunjukkan adanya ekspektasi pemulihan bertahap setelah fase penyesuaian yang terjadi pada 2025.

Dalam periode yang sama, UNTR juga telah menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 16 April 2026, dengan salah satu agenda utama terkait penggunaan laba bersih tahun buku 2025. 

Sebelumnya, perusahaan telah membagikan dividen interim sebesar Rp2,05 triliun atau Rp567 per saham pada Oktober 2025, sementara untuk tahun buku 2024 total dividen mencapai 40 persen dari laba bersih. 

Dengan pola tersebut, potensi dividen tahun buku 2025 diperkirakan berada di kisaran Rp5,9 triliun, dengan sisa sekitar Rp3,86 triliun yang belum dibagikan.

Kombinasi antara proyeksi pemulihan laba, rekomendasi analis yang masih dominan positif, serta aliran dana asing yang masih masuk dalam beberapa sesi perdagangan terakhir menunjukkan bahwa pergerakan saham UNTR tidak sepenuhnya mengikuti tekanan fundamental jangka pendek. 

Dalam konteks ini, posisi UNTR mulai mencerminkan karakter saham dengan pendekatan yang lebih defensif, di mana stabilitas kinerja dan kemampuan menjaga arus kas menjadi faktor yang terus diperhatikan oleh pasar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya