KABARBURSA.COM – Pasar modal Indonesia tengah bersiap menyambut satu nama baru dari sektor yang tak biasa: bursa kripto.
PT Indokripto Koin Semesta Tbk, perusahaan induk dari dua entitas kunci di industri aset digital, akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham COIN. Jika tak ada perubahan, masa penawaran awal (bookbuilding) dijadwalkan berlangsung mulai 23 hingga 25 Juni 2025.
Lewat aksi penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) ini, COIN akan melepas sebanyak-banyaknya 2,2 miliar saham baru atau setara 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Harga penawaran awal ditetapkan pada kisaran Rp100 sampai Rp105 per saham. Dengan demikian, target dana segar yang akan dihimpun perseroan mencapai maksimum Rp231 miliar.
COIN bukanlah perusahaan kripto yang muncul tiba-tiba. Entitas ini menaungi dua anak usaha yang justru telah lebih dahulu dikenal di industri perdagangan aset digital. Pertama, PT Central Finansial X (CFX), penyelenggara bursa berjangka dan pasar fisik aset kripto. Kedua, PT Kustodian Koin Indonesia (ICC), yang menyediakan layanan kustodian untuk aset kripto.
“Perusahaan telah memperoleh izin usaha sebagai Bursa Berjangka dan izin pendaftaran sebagai Bursa Penyelenggara Pasar Fisik Aset Kripto dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti),” tulis manajemen dalam prospektus awal yang dipublikasikan pada 21 Juni 2025.
Perusahaan ini juga sedang dalam tahap transisi pengawasan dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Proses ini menjadi penting karena menjadi sinyal bahwa COIN akan beroperasi dalam koridor pengawasan yang sama dengan pelaku pasar modal lainnya.
Menurut data dalam prospektus, CFX telah memiliki 31 anggota bursa, terdiri dari 19 pedagang aset kripto yang telah mengantongi izin dan 7 pialang berjangka. Sementara itu, ICC telah menjalankan peran kustodian terhadap berbagai aset digital yang diperdagangkan di dalam ekosistem CFX.
Dengan basis operasional tersebut, COIN menjelma sebagai pionir dalam menghubungkan ekosistem kripto dengan pasar saham konvensional.
"Emiten ini menarik karena mengikuti tren adopsi digital di Indonesia, namun juga membawa volatilitas tinggi yang perlu diantisipasi. Risiko regulasi dan fluktuasi pasar kripto menjadi faktor krusial," kata analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Tri Laksono kepada Kabarbursa.com.
Yang menarik, IPO COIN akan dikawal oleh satu underwriter saja: PT Ciptadana Sekuritas Asia. Perusahaan ini ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek tunggal.
Dalam lanskap pasar modal, keterlibatan Ciptadana bukan hal baru. Sekuritas yang berbasis di Jakarta ini dikenal berpengalaman dalam mengantarkan sejumlah emiten mencatatkan sahamnya dengan hasil memuaskan.
Rekam Jejak Ciptadana Sekuritas Asia sebagai Underwriter Tunggal
Di antara banyak nama besar, PT Ciptadana Sekuritas Asia telah membuktikan diri sebagai salah satu pemain kunci yang mampu menjalankan peran ini secara eksklusif.
Salah satu pencapaian paling menonjol adalah keberhasilan Ciptadana menjadi underwriter tunggal dalam IPO PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pada Januari 2022. ADMR merupakan anak usaha dari grup pertambangan besar PT Adaro Energy Indonesia Tbk, yang fokus pada produksi batu bara metalurgi untuk keperluan industri baja.
Dalam penawaran perdananya, ADMR melepas sebanyak 6,04 miliar saham baru, atau setara 15 persen dari modal disetor, dengan harga penawaran Rp100 per saham.
Hasilnya mencengangkan. IPO ADMR disambut sangat antusias oleh pasar, hingga mengalami oversubscription sebanyak 179 kali dalam porsi pooling (ritel). Artinya, permintaan investor jauh melampaui jumlah saham yang tersedia.
Lonjakan minat ini bahkan tercermin dalam kinerja sahamnya di hari pertama perdagangan, yang langsung meroket 250 persen, ditutup di level Rp350 pada sesi penutupan.
Nilai transaksi ADMR saat listing pun menembus Rp1,5 triliun dalam satu hari, menjadikannya salah satu debut tersukses dalam sejarah IPO dekade terakhir.
Keberhasilan tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran Ciptadana. Bertindak sendirian sebagai underwriter, Ciptadana menunjukkan kemampuannya dalam membangun permintaan yang kuat di pasar, menjaga kredibilitas pricing, sekaligus mengarahkan distribusi saham ke segmen investor yang tepat.
Kualitas eksekusi seperti inilah yang membangun reputasi perusahaan sebagai penjamin emisi yang tidak hanya berlisensi, tetapi juga berpengaruh.
Setahun sebelumnya, Ciptadana juga memegang peran serupa dalam IPO PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia.
Pada April 2021, TAPG menawarkan 8,66 juta saham ke publik, mewakili 4,36 persen dari modal ditempatkan, dengan harga penawaran di level Rp200 per saham. Total dana yang dihimpun mencapai Rp173,24 miliar, menjadikannya salah satu IPO terbesar di sektor agribisnis pasca-pandemi.
Meski tidak sefenomenal ADMR dalam hal oversubscription, TAPG tetap mencatat kinerja solid di pasar sekunder. Sahamnya mengalami apresiasi harga stabil dan konsisten dalam beberapa pekan pertama setelah pencatatan, didukung oleh portofolio kebun yang luas dan posisi produksi yang efisien.
Lagi-lagi, seluruh proses IPO, dari penyusunan prospektus hingga distribusi, dipimpin secara tunggal oleh Ciptadana.
Bagaimana Lansekap Pasar Kripto?
COIN sendiri telah menyiapkan rencana alokasi dana dari hasil IPO secara terperinci. Sekitar Rp35 miliar akan digunakan untuk penambahan modal ke ICC, terutama untuk pengembangan infrastruktur teknologi dan sistem keamanan digital.
Sementara sekitar Rp74 miliar akan disuntikkan ke CFX, termasuk untuk penyempurnaan fitur perdagangan, pengembangan derivatif kripto, dan optimalisasi server. Sisanya akan digunakan untuk modal kerja, termasuk biaya operasional, pemasaran, serta keperluan belanja modal (capital expenditure).
Meski menjanjikan peluang baru, bisnis COIN bukan tanpa risiko. Dalam prospektus disebutkan secara gamblang sejumlah risiko usaha yang perlu dicermati investor. Mulai dari ketergantungan terhadap regulasi pemerintah, fluktuasi minat terhadap aset kripto, hingga risiko keamanan siber.
“Perubahan regulasi, baik di dalam negeri maupun global, dapat berdampak signifikan terhadap model bisnis, struktur biaya, dan kelangsungan usaha kami,” tulis manajemen dalam bagian penjelasan risiko.
Selain itu, risiko kehilangan kepercayaan publik terhadap kripto sebagai kelas aset, yang bisa dipicu oleh serangan siber atau manipulasi pasar, juga menjadi sorotan. Dalam konteks ini, perseroan menekankan pentingnya tata kelola, audit sistem, dan pembaruan teknologi secara berkala.
Namun, bukan berarti semua sinyal bersifat negatif. Masuknya COIN ke BEI justru membuka pintu baru bagi investor ritel yang selama ini tidak punya akses langsung ke pasar kripto. Dengan mekanisme IPO dan perdagangan saham di BEI, investor kini bisa ikut berpartisipasi dalam pertumbuhan industri aset digital tanpa harus memiliki dompet kripto atau akun di exchange kripto.
Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan dan Bursa Karbon OJK, Aldrin Herwany, menyebut bahwa proses transisi pengawasan terhadap bursa kripto dari Bappebti ke OJK memang sedang berlangsung dan akan menjadi momentum penting penguatan regulasi.
“Kami sedang menyiapkan infrastruktur pengawasan terhadap industri aset kripto, termasuk mekanisme pelaporan dan perlindungan konsumen yang setara dengan pelaku pasar modal lainnya,” ujar Aldrin dalam konferensi pers OJK, Mei 2025.
Investor Perlu Bersikap Rasional
Dengan latar belakang tersebut, IPO COIN bukan hanya menjadi tonggak penting bagi perusahaan itu sendiri, tetapi juga bagi lanskap pasar keuangan Indonesia. Ini adalah momen pertemuan antara dunia digital yang selama ini berada di luar sistem pasar modal formal dengan koridor bursa yang diawasi secara ketat oleh otoritas.
Yang jelas, investor perlu bersikap cermat. Memahami model bisnis COIN, menimbang rekam jejak Ciptadana, serta mencermati dinamika industri kripto akan sangat menentukan dalam mengambil keputusan investasi.
“Kesuksesan sebuah IPO bukan hanya bergantung pada emiten, namun juga peran sekuritas penjamin emisi atau underwriter. Penjamin emisi itu bukan sekadar makelar, tapi jembatan strategis antara emiten dan investor. Pricing, distribusi, dan analisis pasar mereka sangat menentukan,” jelas analis pasar modal dari Traderindo itu.
Sekuritas berperan dalam menentukan harga yang adil, menyusun struktur penawaran, menjalankan pemasaran, melakukan due diligence, hingga mengantisipasi fluktuasi harga pasca IPO dengan mekanisme seperti greenshoe option.
“Reputasi sekuritas juga menjadi salah satu indikator kepercayaan investor terhadap kualitas IPO,” sambung dia.
Meski COIN menawarkan akses baru ke sektor yang berkembang pesat, potensi keuntungan tinggi tetap datang bersama risiko yang tak kecil.
Sebagaimana IPO pada umumnya, keputusan akhir tetap di tangan investor. Namun dengan keterbukaan informasi melalui prospektus dan rekam jejak profesional underwriter-nya, setidaknya investor punya dasar yang cukup untuk bersikap rasional. (*)
*Jurnalis Kabarbursa.com, Desty Luthfiani, ikut berkontribusi dalam artikel ini.