Insight Daily 14 May 2026 Penulis: KabarBursa.com

ULTJ Solid Secara Fundamental, tapi Harga Saham Belum Terangkat

Valuasi saham ULTJ dinilai masih murah meski laba, margin, kas, dan dividend yield perusahaan tetap kuat

KABARBURSA.COM - PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dinilai masih memiliki valuasi yang relatif murah di tengah kondisi fundamental solid.Berdasarkan data Stockbit dikutip pada Kamis, 14 Mei 2026, saham ULTJ saat ini diperdagangkan di Price to Earnings Ratio (PER) tahunan sekitar 8,42 kali, sedangkan PER trailing twelve months (TTM) bera...

Ilustrasi: Suasana pekerja di dalam pabrik Ultrajaya. (Foto: Dok. Ultrajaya)
Ilustrasi: Suasana pekerja di dalam pabrik Ultrajaya. (Foto: Dok. Ultrajaya)

Insight Navigator

  1. 01 Kinerja Keuangan ULTJ
  2. 02 Pergerakan Saham

KABARBURSA.COM - PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dinilai masih memiliki valuasi yang relatif murah di tengah kondisi fundamental solid.

Berdasarkan data Stockbit dikutip pada Kamis, 14 Mei 2026, saham ULTJ saat ini diperdagangkan di Price to Earnings Ratio (PER) tahunan sekitar 8,42 kali, sedangkan PER trailing twelve months (TTM) berada di level 11,24 kali.

Bisa dibilang, valuasi tersebut tergolong rendah untuk emiten consumer defensive yang memiliki kestabilan bisnis serta arus kas kuat.

Tak hanya itu, rasio Price to Book Value (PBV) ULTJ juga berada di level 1,91 kali. Angka ini menandakan jika pasar hanya menghargai perusahaan kurang dari dua kali nilai buku perusahaan, meski ULTJ memiliki berada yang sehat.

Bahkan rasio EV to EBITDA saham di industri makanan dan minuman ini hanya berada di kisaran 6,61 kali. Dalam prespektif valuasi institusi, level tersebut sering dianggap relatif murah untuk perusahaan dengan merek kuat di pasar domestik.

Adapun berdasarkan hitungan yang dilakukan Kabarbursa.com pada Kamis, 14 Mei 2026, harga wajar ULTJ berada di kisaran Rp2.363. Sementara harga di penutupan terakhir pekan ini berada di level Rp1.605.

Menariknya, kondisi valuasi yang rendah itu justru tertera ketika profitabilitas ULTJ masih cukup terjaga. Data menunjukkan Return on Equity (ROE) ULTJ berada di level 17,02 persen, sementara Return on Assets (ROA) mencapai 14,84 persen.

Angka tersebut bisa diartikan jika kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset dan modal yang dimiliki masih sangat efisien.

Margin keuntungan ULTJ juga tergolong tinggi untuk sektor consumer. Gross profit margin kuartalan tercatat mencapai 34,14 persen, sedangkan operating profit margin berada di level 21,10 persen.

Adapun net profit margin perusahaan mencapai 17,81 persen. Artinya, dari setiap Rp100 penjualan, perusahaan masih mampu mengantongi laba bersih hampir Rp18. Margin setebal ini menjadi indikator bahwa model bisnis ULTJ masih memiliki pricing power dan efisiensi operasional yang baik.

Dari sisi likuiditas, kondisi keuangan perusahaan bahkan terlihat sangat konservatif. Current ratio ULTJ mencapai 5,78 kali dan quick ratio berada di level 4,62 kali. Angka tersebut menunjukkan aset lancar perusahaan jauh lebih besar dibanding kewajiban jangka pendeknya.

Di sisi lain, daya tarik utama saham ULTJ saat ini juga datang dari pembagian dividennya. Perusahaan mencatat dividend yield sekitar 8,10 persen, jauh di atas rata-rata deposito maupun sebagian besar emiten consumer di Bursa Efek Indonesia.

ULTJ tercatat membagikan dividen sebesar Rp130 per saham dengan payout ratio mencapai 68,19 persen. Artinya, sebagian besar laba perusahaan dikembalikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.

Kondisi ini membuat ULTJ mulai dilihat bukan hanya sebagai saham consumer defensive, tetapi juga sebagai salah satu dividend play menarik di tengah pasar yang masih diliputi volatilitas global.

Meski demikian, pasar tetap akan mencermati satu faktor penting, yakni kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan pendapatan di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Sebab, valuasi murah saja biasanya belum cukup menjadi katalis apabila pertumbuhan laba mulai melambat.

Namun dengan kombinasi valuasi rendah, neraca super sehat, margin tinggi, dan dividend yield besar, ULTJ saat ini berada dalam posisi yang cukup menarik bagi investor yang mencari keseimbangan antara stabilitas bisnis dan imbal hasil.

Kinerja Keuangan ULTJ

ULTJ mampu menunjukkan ketahanan bisnis yang relatif positif sepanjang 2025. Mengutip laporan keuangan yang dipublikasikan, pada tahun lalu, laba bersih  ULTJ sebesar Rp1,35  triliun, naik sekitar 19,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,13 triliun.

Kenaikan laba tersebut justru terjadi di tengah penjualan yang menurun tipis. Pada 2025, ULTJ membukukan penjualan Rp8,76 triliun, angka yang sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp8,87 triliun. 

Beban pokok penjualan ULTJ pada 2025 mengalami peningkatan menjadi Rp5,89 triliun dibanding Rp5,85 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan catatan itu, laba bruto ULTJ pada 2025 sebesar Rp2,86 triliun, atau menyusut dibanding tahun 2024 yang mencapai Rp3,02 triliun.

Di sisi lain, posisi keuangan ULTJ juga masih tergolong sangat sehat. Perseroan membukukan kas dan setara kas mencapai Rp3,16 triliun pada akhir 2025, meroket jika dibandingkan akhir 2024 yang sebesar Rp2,43 triliun.

Menariknya, kenaikan  kas tersebut beriringan dengan total liabilitas perusahaan yang menurun menjadi Rp937 miliar dari Rp1,03 triliun.

Sementara itu, total ekuitas ULTJ pada 2025 mencapai Rp8,31 triliun sedangkan total aset sebesar Rp9,25 triliun.

Di sisi lain, ULTJ membuka tahun 2026 dengan performa agresif. Merujuk data keuangan perusahaan, ULTJ mencatat penjualan mencapai Rp2,78 triliun atau naik 21,84 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu yang sebesar Rp2,28 triliun

Tak kalah dengan penjualan, laba perusahaan juga melesat tinggi. Pada tiga bulan pertama 2026, ULTJ mencatat laba bersih sebesar Rp502,27 miliar atau melonjak 36,87 persen dibandingkan laba periode yang sama tahun lalu sebesar Rp366,97 miliar

Adapun laba bruto ULTJ pada kuartal I 2026 naik menjadi Rp950 miliar dari sebelumnya Rp792,67 miliar. Sementara itu, beban penjualan ULTJ justru menyusut menjadi Rp266,13 miliar dibandingkan Rp316,04 miliar pada kuartal I 2025

Di samping itu, beban umum dan administrasi ULTJ meningkat menjadi Rp96,7 miliar. Namun, lonjakan penjualan dan efisiensi biaya bisa membuat laba sebelum pajak melonjak di posisi Rp622,97 miliar dari sebelumnya Rp464,84 miliar.

Berpindah ke neraca, keuangan ULTJ juga masih nampak semakin kokoh. Kas dan setara kas perusahaan mencapai Rp3,71 triliun pada akhir Maret 2026, naik dibandingkan akhir 2025 sebesar Rp3,16 triliun.

Sedangkan, total aset ULTJ kini telah mencapai Rp10 triliun. Angka ini meningkat dibanding posisi akhir 2025 yang sebesar Rp9,25 triliun.

Pergerakan Saham

Saham ULTJ mulai menunjukkan pemulihan dalam beberapa bulan terakhir. Pada perdagangan terakhir pekan ini atau Rabu, 13 Mei 2026, saham ini melemah 0,62 persen ke level Rp1.605.

Dalam sepekan terakhir, saham ULTJ juga masih terkoreksi 1,23 persen dengan rentang perdagangan berada di level Rp1.575 hingga Rp1.650.

Meski masih mengalami tekanan jangka pendek, tren pemulihan mulai terlihat dalam satu bulan terakhir. Saham ULTJ tercatat menguat 7 persen dengan pergerakan harga berada di kisaran Rp1.495 sampai Rp1.725 per saham.

Dalam periode tiga bulan, saham ULTJ naik 2,88 persen dengan rentang harga Rp1.465 hingga Rp1.725. Sementara dalam enam bulan terakhir, penguatan saham mencapai 14,64 persen dengan pergerakan harga berada di level Rp1.380 hingga Rp1.725.

Secara year to date (YTD), saham ULTJ juga masih menguat 11,46 persen dengan rentang harga Rp1.400 sampai Rp1.725 per saham.

Adapun dalam satu tahun terakhir, saham ULTJ mencatat kenaikan 17,58 persen dengan harga bergerak dari Rp1.215 hingga Rp1.725 per saham.

Namun jika ditarik lebih panjang, performa saham ULTJ masih terlihat relatif terbatas. Dalam tiga tahun terakhir, saham ini hanya naik 9,56 persen dengan rentang harga Rp1.215 hingga Rp2.130.

Bahkan dalam lima tahun terakhir, kenaikan saham hanya mencapai 4,22 persen dengan pergerakan harga tetap berada di kisaran Rp1.215 hingga Rp2.130.

Sementara dalam rentang 10 tahun, saham ULTJ memang masih mencatat penguatan 63,28 persen. Pada periode tersebut, harga saham bergerak dari Rp953 hingga Rp2.130 per saham.

Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun ULTJ dikenal memiliki fundamental yang cukup solid, pasar masih cenderung berhati-hati dalam memberikan valuasi premium terhadap saham ini.

Padahal dalam pembahasan di atas sebelumnya, secara fundamental, ULTJ   memiliki posisi keuangan yang relatif sehat dengan arus kas yang stabil.

Meski demikian, investor masih akan mencermati apakah tren penguatan tersebut benar-benar didukung percepatan laba dan pertumbuhan bisnis perseroan pada kuartal-kuartal berikutnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com