KABARBURSA.COM – Saham PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) bergerak naik pada perdagangan Kamis, 9 April 2026, dan hingga sesi I atau pukul 11.59 WIB berada di level Rp1.110.
Berdasarkan data yang dihimpun Kabarbursa.com, posisi itu naik Rp30 atau 2,78 persen dari penutupan sebelumnya di Rp1.080, setelah sempat dibuka di Rp1.080, menyentuh level tertinggi Rp1.115, dan bergerak di level terendah Rp1.070. Nilai transaksi mencapai Rp8,84 miliar dengan volume 80,73 ribu lot dan frekuensi 1,19 ribu kali.
Kenaikan itu datang saat aktivitas perdagangan meningkat dibandingkan rata-rata. Pada panel intraday, volume TOTL tercatat 8,07 juta saham, sedangkan rata-rata volumenya berada di 3,75 juta saham.
Pergerakan tersebut juga berdiri di atas struktur teknikal jangka pendek yang masih rapat. Harga TOTL saat ini berada di atas moving average 5 hari di Rp1.074, moving average 10 hari di Rp1.047, dan moving average 20 hari di Rp1.037.
Merujuk data, posisi harga Rp1.110 juga tercatat lebih tinggi dari ketiga rata-rata itu, bersamaan dengan foreign flow Rp260,80 miliar yang berada di atas foreign flow MA20 Rp257,12 miliar.
Dari sisi aliran dana, TOTL masuk dalam daftar saham yang mencatat pembelian bersih asing. Data screener menunjukkan net foreign buy/sell sebesar Rp874,32 juta, net foreign buy/sell MA10 Rp792,06 juta, serta net foreign buy streak selama lima hari.
Rangkaian data itu muncul setelah dalam beberapa hari sebelumnya asing juga membukukan beli bersih bertahap, yakni Rp2,19 miliar pada 1 April, Rp2,32 miliar pada 2 April, Rp966,76 juta pada 6 April, Rp549,36 juta pada 7 April, dan Rp874,32 juta pada 8 April.
Dengan kata lain, kenaikan TOTL pada sesi ini tidak berdiri sendiri sebagai gerak harian semata. Harga naik bertahap dari Rp1.015 pada 31 Maret menjadi Rp1.035 pada 1 April, Rp1.050 pada 2 April, Rp1.070 pada 6 April, Rp1.080 pada 8 April, lalu mencapai Rp1.110 pada 9 April.
Di saat harga bergerak naik dan aliran dana asing masih tercatat masuk, perhatian pasar kini mengarah ke area Rp1.110 sampai Rp1.115, level yang mulai diuji pada sesi berjalan.
Harga TOTL Naik Bertahap, Asing Konsisten Net Buy
Pergerakan harga TOTL dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kenaikan yang terjadi secara bertahap. Pada 31 Maret 2026, harga tercatat di Rp1.015, kemudian naik ke Rp1.035 pada 1 April dan berlanjut ke Rp1.050 pada 2 April. Kenaikan ini berlanjut ke Rp1.070 pada 6 April, sempat turun ke Rp1.060 pada 7 April, lalu kembali naik ke Rp1.080 pada 8 April dan mencapai Rp1.110 pada 9 April.
Rangkaian kenaikan tersebut berlangsung tanpa lonjakan tunggal yang ekstrem dalam satu sesi. Pergerakan harga cenderung naik dalam beberapa tahap, dengan jeda koreksi terbatas di tengah tren. Pola ini terlihat dari perubahan harian yang berada di kisaran 1 hingga 2 persen, kecuali koreksi tipis pada 7 April sebesar 0,93 persen.
Di sisi lain, data transaksi asing menunjukkan aliran dana yang masuk secara konsisten dalam periode yang sama. Pada 1 April, asing mencatat net buy Rp2,19 miliar, diikuti Rp2,32 miliar pada 2 April. Aliran ini berlanjut pada 6 April sebesar Rp966,76 juta, kemudian Rp549,36 juta pada 7 April, dan Rp874,32 juta pada 8 April.
Jika dijumlahkan, pembelian bersih asing sejak 1 hingga 8 April mencapai sekitar Rp6,90 miliar. Nilai ini terbentuk dari beberapa sesi berturut-turut yang seluruhnya mencatat net buy, tanpa jeda distribusi asing dalam skala besar. Data ini sejalan dengan screener yang mencatat net foreign buy streak selama lima hari.
Konsistensi aliran dana tersebut tetap terlihat bahkan ketika harga sempat mengalami penurunan. Pada 7 April, saat harga turun dari Rp1.070 ke Rp1.060, asing tetap mencatat pembelian bersih Rp549,36 juta. Kondisi ini menunjukkan aktivitas beli tetap berlangsung di tengah pergerakan harga yang tidak selalu searah dalam setiap sesi.
Dengan demikian, kenaikan harga TOTL dalam periode ini berjalan seiring dengan masuknya aliran dana asing secara bertahap. Harga bergerak naik dari satu level ke level berikutnya, sementara pembelian bersih tetap muncul dalam beberapa hari beruntun. Pola ini menjadi latar pergerakan harga yang kini berada di area atas dan mendekati level yang sedang diuji pada sesi berjalan.
Orderbook TOTL Menumpuk, Supply Tebal Tahan di 1.115
Struktur antrean di pasar reguler memperlihatkan ketidakseimbangan antara sisi bid dan offer. Total antrean jual tercatat 52.691 lot, lebih besar dibandingkan antrean beli sebanyak 29.386 lot. Namun dari sisi frekuensi, bid tercatat 466 kali, lebih tinggi dibandingkan offer yang berada di 301 kali.
Komposisi tersebut menunjukkan permintaan muncul dalam jumlah transaksi yang lebih sering, meskipun dengan ukuran lot yang relatif lebih kecil. Sebaliknya, penawaran terkonsentrasi dalam jumlah lot yang lebih besar pada level harga tertentu. Pola ini membuat distribusi supply terlihat menumpuk di titik-titik spesifik di atas harga berjalan.
Lapisan offer paling tebal terlihat di level Rp1.115 dengan total 7.787 lot dan 53 frekuensi. Posisi ini menjadi titik terdekat dari harga terakhir Rp1.110 dan sekaligus menjadi area yang telah disentuh pada sesi intraday. Ketebalan antrean di level ini menjadikannya sebagai lapisan supply utama yang sedang diuji pasar.
Di atasnya, antrean jual kembali terlihat menebal di level Rp1.150 dengan 5.394 lot dan 24 frekuensi. Selain itu, distribusi supply juga tersebar di beberapa level lain seperti Rp1.135 sebesar 2.401 lot, Rp1.145 sebesar 2.212 lot, dan Rp1.130 sebesar 1.865 lot. Penyebaran ini membentuk lapisan bertingkat yang mengisi sisi atas pergerakan harga.
Sementara itu, dari sisi permintaan, antrean beli terbesar terlihat di level Rp1.080 sebesar 2.676 lot dan Rp1.075 sebesar 2.450 lot. Di atasnya, bid juga tersebar di Rp1.085 sebesar 1.186 lot dan Rp1.060 sebesar 1.362 lot. Lapisan ini menunjukkan area bawah yang aktif menampung permintaan dalam pergerakan intraday.
Dengan struktur tersebut, pergerakan harga berada di antara dua sisi yang berbeda karakter. Di satu sisi, permintaan muncul lebih tersebar dengan frekuensi tinggi, sementara di sisi lain penawaran terkonsentrasi dalam jumlah besar pada level tertentu. Kondisi ini menempatkan area Rp1.110 hingga Rp1.115 sebagai titik temu antara arus permintaan dan lapisan supply yang sedang dihadapi pasar.
Broker Bergantian Akumulasi, Distribusi Sempat Muncul
Pergerakan TOTL dalam beberapa sesi terakhir juga tercermin dari aktivitas broker yang bergantian muncul di sisi beli. Pada 1 April 2026, transaksi mencatat net buy sebesar Rp2,7 miliar dengan volume bersih 26.675 lot dan harga rata-rata Rp1.030. Aktivitas ini berlanjut pada 2 April dengan net buy Rp3 miliar dan volume bersih 28.769 lot di harga rata-rata Rp1.055.
Pada sesi berikutnya, pola akumulasi masih terlihat pada 6 April dengan net buy Rp2,3 miliar dan volume bersih 21.791 lot di harga rata-rata Rp1.066. Kemudian pada 8 April, akumulasi kembali tercatat sebesar Rp1,9 miliar dengan volume bersih 18.234 lot di harga rata-rata Rp1.067. Nilai transaksi bersih pada beberapa hari tersebut menunjukkan adanya aliran dana masuk secara bertahap dalam rentang harga yang terus naik.
Di sisi pelaku, beberapa broker muncul bergantian sebagai pembeli utama. KZ, ZP, AK, CC, BK, dan GR tercatat masuk di sisi beli pada hari yang berbeda dengan nilai dan volume yang bervariasi. Misalnya, KZ mencatat pembelian Rp1 miliar pada 1 April dan kembali muncul Rp656,3 juta pada 8 April, sementara ZP dan AK masing-masing mencatat pembelian di atas Rp1 miliar pada 2 April.
Sementara itu, distribusi juga muncul dari beberapa broker pada sisi jual. XL dan CC tercatat beberapa kali menjadi penjual terbesar, dengan XL mencatat penjualan Rp774,6 juta pada 8 April dan CC sebesar Rp536,5 juta pada hari yang sama. Pada 6 April, XL juga mencatat penjualan Rp520,6 juta, sementara ZP muncul sebagai penjual Rp385,7 juta.
Satu sesi yang berbeda terlihat pada 7 April ketika status perdagangan berubah menjadi distribusi. Pada hari itu, net sell tercatat Rp2 miliar dengan volume bersih 18.669 lot, dipimpin oleh CC yang mencatat penjualan Rp1,5 miliar. Namun kondisi tersebut tidak berlanjut, karena pada sesi berikutnya aktivitas kembali beralih ke akumulasi.
Kembalinya pola akumulasi pada 8 April menunjukkan aliran dana tetap masuk setelah jeda distribusi. Aktivitas beli kembali muncul dari beberapa broker dengan nilai bersih positif, menjaga kesinambungan transaksi di sisi permintaan. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa pergerakan harga berlangsung di tengah aktivitas beli dan jual yang bergantian, dengan akumulasi kembali muncul menjelang pergerakan harga ke area atas.
Pergerakan TOTL Menguat dalam Tren Lebih Panjang
Dalam rentang yang lebih luas, pergerakan TOTL tidak hanya terbentuk dalam beberapa hari terakhir. Pada grafik satu tahun, harga tercatat di Rp1.110 dengan kenaikan sekitar 107,48 persen. Pergerakan ini menunjukkan tren naik yang telah berlangsung sejak harga berada di kisaran Rp500 hingga Rp600 pada awal periode.
Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam beberapa fase. Pada periode sebelumnya, harga sempat bergerak di bawah Rp1.000 sebelum kemudian menembus dan bertahan di atas level tersebut. Sejak November hingga awal April, harga terlihat lebih stabil di atas Rp1.000 dengan beberapa kali pengujian ke area Rp1.100.
Dalam konteks jangka pendek, pergerakan sejak akhir Maret menjadi bagian dari kelanjutan tren tersebut. Harga bergerak dari Rp1.015 pada 31 Maret dan naik bertahap hingga Rp1.110 pada 9 April. Kenaikan ini terjadi dalam beberapa sesi dengan pola yang relatif konsisten.
Seiring dengan pergerakan harga, aktivitas transaksi juga menunjukkan peningkatan. Nilai transaksi harian bergerak dari kisaran Rp1 miliar hingga Rp5 miliar pada akhir Maret dan awal April. Pada 9 April, nilai transaksi meningkat menjadi Rp8,84 miliar dengan volume 80,73 ribu lot.
Frekuensi transaksi juga mengalami perubahan dalam periode tersebut. Pada 30 Maret, frekuensi tercatat 442 kali, kemudian meningkat menjadi 630 pada 31 Maret dan 695 pada 1 April. Pada 9 April, frekuensi mencapai 1,19 ribu kali, menunjukkan peningkatan aktivitas pasar dalam pergerakan harga terbaru.(*)