KABARBURSA.COM – Saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) jadi sorotan setelah anjlok tajam di perdagangan Selasa, 29 Oktober 2025. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga TOBA pada sesi I bertahan di level Rp850 per saham, turun 15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp1.000.
Volume transaksi melonjak hingga 5,45 juta lot dengan nilai mencapai Rp473 miliar. Angka ini termasuk salah satu yang tertinggi di sektor energi sepanjang pekan ini dan menandai adanya tekanan jual besar-besaran.
Tekanan tersebut muncul tak lama setelah riset Kiwoom Sekuritas Indonesia merilis pembaruan kinerja perseroan pada 29 Oktober 2025. Dalam riset itu, Kiwoom menyoroti penurunan pendapatan 14,4 persen menjadi USD288,2 juta dan berbaliknya laba operasi menjadi rugi USD11,3 juta hingga September 2025.
Sentimen negatif dari laporan itu memicu aksi jual cepat di awal sesi perdagangan. Namun menjelang penutupan, data orderbook menunjukkan antrean beli di harga dasar mulai menebal.
Berdasarkan pantauan KabarBursa.com terhadap sistem perdagangan, bid di level Rp850 tercatat lebih dari 54 ribu lot. Sementara itu, sisi offer mulai menipis di rentang 865–880, menandakan minat jual berkurang di atas harga dasar.
Secara teknikal, posisi harga kini mendarat di level Fibonacci retracement 61,8 persen pada Rp869. Indikator RSI harian pun turun ke 28, mengonfirmasi kondisi oversold ekstrem yang berpotensi memicu pantulan teknikal.
Bagaimana dengan Harga dan Volume Sahamnya?
Tekanan jual pada saham TOBA hari ini diikuti lonjakan volume transaksi yang besar. Berdasarkan data BEI, total volume mencapai 5,45 juta lot dengan nilai perdagangan sekitar Rp473 miliar.
Frekuensi transaksi menembus kisaran 25 ribu kali pada perdagangan hari ini. Angka tersebut termasuk yang tertinggi dalam dua pekan terakhir untuk kelompok saham energi.
Pergerakan yang menurun tajam membawa TOBA ke area teknikal penting pada 850–870. Berdasarkan pembacaan grafik, level Rp869 bertepatan dengan Fibonacci retracement 61,8 persen dari tren naik sebelumnya.
Area ini lazim dianggap sebagai titik keseimbangan setelah fase koreksi panjang. Catatan historis menunjukkan pola serupa pada April 2024, ketika TOBA sempat memantul beberapa persen setelah menyentuh level teknikal yang sama.
Indikator RSI harian yang tercatat di level 28 menandakan tekanan jual sudah berada di area jenuh. Kondisi ini memberi sinyal pasar mulai mendekati fase stabilisasi harga.
Lonjakan volume hari ini juga menggambarkan reaksi spontan pelaku pasar terhadap laporan kinerja dan sentimen sektor energi. “Penurunan laba dan kenaikan beban tetap telah mendorong pelaku pasar melakukan reposisi portofolio di saham-saham batu bara,” tulis Kiwoom dalam laporannya, Rabu, 29 Oktober 2025.
Adapun struktur orderbook TOBA pada perdagangan hari ini menunjukkan perubahan pola transaksi dibanding pekan sebelumnya. Berdasarkan data BEI, minat beli mulai muncul di area bawah setelah tekanan jual berlangsung hampir sepanjang sesi pertama.
Antrean bid di harga Rp850 tercatat lebih dari 54 ribu lot. Di sisi lain, minat jual atau offer menipis di rentang Rp865–Rp880 dengan total sekitar 38 ribu lot.
Data RTI Business mencatat frekuensi bid sekitar 1.008 kali dan frekuensi offer sekitar 5.377 kali. Rasio tersebut menunjukkan distribusi masih ada, namun permintaan mulai aktif di bawah Rp870.
Menurut catatan BEI, pola seperti ini biasa muncul saat pasar memasuki fase pencarian harga wajar baru. Aktivitas beli di bawah Rp900 mengindikasikan upaya stabilisasi pasca penurunan tajam beberapa sesi terakhir.
Dalam risetnya, Kiwoom Sekuritas Indonesia menuliskan, “Pergerakan harga TOBA yang menurun signifikan telah memicu aksi ambil untung cepat dan reposisi portofolio oleh pelaku pasar,” tulis Kiwoom pada Rabu, 29 Oktober 2025. Pernyataan tersebut menggambarkan dinamika jangka pendek yang sensitif terhadap arus informasi kinerja.
Broker Summary: Lokal Serap, Asing Lepas
Data broker summary pada perdagangan 29 Oktober 2025 menunjukkan perbedaan arah transaksi antara pelaku lokal dan asing. Berdasarkan data BEI, tekanan jual masih didominasi broker asing, sedangkan broker lokal mulai mencatat pembelian bersih di harga bawah.
Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk tercatat sebagai penjual terbesar dengan volume sekitar 1,2 juta lot. UBS Sekuritas Indonesia dan JP Morgan Sekuritas Indonesia juga aktif melepas saham di kisaran harga sekitar Rp1.100–Rp1.120 per saham.
Di sisi beli, aktivitas paling besar dilakukan oleh Mirae Asset Sekuritas Indonesia berkode YP dengan volume sekitar 688 ribu lot. Maybank Sekuritas Indonesia berkode ZP dan OCBC Sekuritas Indonesia berkode TP menambah posisi di kisaran sekitar Rp1.115–Rp1.121 per saham.
Data RTI Business menunjukkan porsi transaksi beli dari broker lokal mencapai sekitar 58 persen dari total volume perdagangan hari ini. Peningkatan ini menandakan mulai adanya akumulasi di area bawah setelah fase distribusi pada pertengahan Oktober.
Perubahan karakter antara pelaku lokal dan asing terlihat jelas dalam pola transaksi hari ini. Broker asing cenderung melepas kepemilikan, sementara investor domestik mulai mengambil posisi di area yang lebih rendah.
Pola transaksi tersebut sejalan dengan peningkatan bid di area bawah yang tercatat pada sesi penutupan. Jika tren akumulasi lokal berlanjut, tekanan jual dari investor asing diperkirakan berkurang secara bertahap.
Kinerja Keuangan TOBA Tertekan
Laporan keuangan konsolidasian TOBA menunjukkan penurunan kinerja sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan data hingga September 2025, pendapatan turun 14,4 persen secara tahunan menjadi USD288,2 juta dan laba operasi berbalik rugi USD11,3 juta.
Laba kotor turun menjadi USD22 juta dan beban pokok penjualan naik menjadi USD266,1 juta. Kondisi ini mempersempit margin usaha di tengah penurunan harga dan volume batu bara.
“Kinerja TOBA sepanjang 2025 menunjukkan tekanan menyeluruh baik dari sisi operasional maupun non-operasional,” tulis Kiwoom dalam laporannya, Rabu, 29 Oktober 2025. Kiwoom menilai penurunan margin usaha dan kenaikan beban tetap menjadi penyebab utama perubahan posisi laba.
“Turunnya harga dan volume batu bara, kenaikan beban tetap, serta rugi divestasi anak usaha menyebabkan laba operasi berbalik negatif dan laba bersih tergerus tajam,” tulis Kiwoom pada laporan yang sama. Rugi divestasi entitas anak disebut mencapai USD96,9 juta.
Berdasarkan laporan keuangan, TOBA mencatat rugi bersih sebesar USD127,9 juta hingga September 2025. Angka tersebut berbanding terbalik dengan laba bersih USD54,4 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam risetnya, Kiwoom menambahkan bahwa sebagian besar kerugian bersifat non-recurring. “Kerugian tahun ini sebagian besar bersifat non-recurring dan terjadi di tengah fase transisi korporasi menuju bisnis energi baru terbarukan,” tulis Kiwoom.
Perhatikan Level Kunci dan Risk Management
Kondisi teknikal menempatkan area Rp850–Rp870 sebagai zona uji untuk pembentukan harga baru. Minat beli yang bertahan di dasar dan menipisnya offer di atas 865–880 akan menjadi indikator awal stabilisasi.
Bila tekanan jual mereda dan aktivitas beli meningkat konsisten dua sesi ke depan, ruang konsolidasi menuju 900–920 terbuka untuk pelaku harian. Level psikologis 1.000 hingga 1.060 menjadi resistensi berikut yang perlu diuji oleh momentum.
Sebaliknya, penembusan ke bawah 848 dengan volume tinggi perlu diwaspadai. Zona 780–800 tercatat sebagai area teknikal berikut yang diawasi pasar apabila tekanan kembali meningkat.
Bagi pelaku pasar, fokus saat ini ada pada kesinambungan akumulasi di sisi bid dan perkembangan porsi pembelian broker lokal. Konfirmasi keseimbangan transaksi akan menjadi penentu arah TOBA memasuki awal November. (*)