Insight Daily 25 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

Titah Menkeu Purbaya Sikat Rokok Ilegal: Emiten GGRM, HMSP, ITIC, WIIM Menggeliat, Ada Potensi?

Sentimen tegas Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memberantas rokok ilegal memicu reli saham rokok, dengan WIIM, HMSP, GGRM, dan ITIC kompak mengirim sinyal beli.

Pernyataan tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait komitmen pemerintah memberantas peredaran rokok illegal, menjadi sorotan pasar. Sentimen ini langsung memberi angin segar bagi emiten rokok besar seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), yang sahamnya sempat menggeliat di tengah tekanan industri. Investor menilai langkah...

Ilustrasi - Tembakau yang telah dikeringkan. Foto: Shutterstock.com.
Ilustrasi - Tembakau yang telah dikeringkan. Foto: Shutterstock.com.

Insight Navigator

  1. 01 Sudah Kantongi Nama, Siap Sikat Sampai ke Akarnya
  2. 02 Geliat Emiten Rokok: GGRM, HMSP, ITIC, WIIM, Mulai “Terbakar”
  3. 03 Sama-sama Menghijau, Siapa yang Paling Solid?
  4. 04 Teknikal Keluarkan Sinyal Beli Kuat, Bagaimana Strateginya?

KABARBURSA.COM - Pernyataan tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait komitmen pemerintah memberantas peredaran rokok illegal, menjadi sorotan pasar. Sentimen ini langsung memberi angin segar bagi emiten rokok besar seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), yang sahamnya sempat menggeliat di tengah tekanan industri. 

Investor menilai langkah pengetatan pengawasan dapat memperbaiki iklim persaingan dan membuka potensi pemulihan kinerja di sektor tembakau yang selama ini tergerus praktik ilegal.

Lalu, apakah ini menjadi waktu yang tepat untuk menjadikan emiten-emiten rokok ini sebagai portofolio baru?

Sudah Kantongi Nama, Siap Sikat Sampai ke Akarnya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan peringatan keras kepada seluruh pihak yang masih nekat memperjualbelikan rokok ilegal, sebuah praktik yang selama ini merugikan negara dari sisi penerimaan cukai sekaligus merusak tatanan persaingan di industri tembakau. 

Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa, 23 September 2025, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Ia bahkan menyebut pihaknya sudah mengantongi data penjual rokok ilegal dan akan segera melakukan penindakan dalam waktu dekat.

Penegasan Purbaya bukan sekadar retorika. Ia menyatakan siap mendatangi langsung para penjual, baik di warung kecil, pasar tradisional, maupun platform digital, untuk memastikan mereka mematuhi aturan. 

Razia acak atau random check akan digencarkan guna memutus rantai distribusi yang sudah terdeteksi. Upaya ini diproyeksikan mampu mempersempit ruang gerak pelaku, baik di tingkat pengecer maupun pemasok, sehingga pasokan rokok ilegal di pasaran berkurang secara signifikan. 

Pemerintah juga menaruh perhatian serius pada praktik penjualan rokok murah dalam kemasan kecil di warung-warung, yang disebutnya masih marak beredar.

Selain menyasar level pengecer, Purbaya menggarisbawahi potensi masuknya rokok ilegal lewat jalur impor. Menurutnya, jalur hijau yang selama ini tidak diperiksa rawan disalahgunakan sebagai celah penyelundupan. 

Karena itu, ia memerintahkan agar dilakukan pengecekan acak untuk memastikan tidak ada kecurangan. Purbaya menekankan, siapapun yang terlibat dalam rantai peredaran rokok ilegal akan ditindak tanpa pandang bulu. 

Bahkan jika ditemukan keterlibatan aparat pemerintah, termasuk oknum Bea Cukai atau pegawai Kemenkeu sendiri, mereka akan dikenai sanksi tegas.

Langkah-langkah yang dirancang ini menegaskan dua hal utama, yaitu menjaga penerimaan negara dari cukai yang vital bagi pembiayaan APBN, dan menciptakan efek jera bagi para pelaku usaha nakal yang selama ini memanfaatkan celah hukum maupun lemahnya pengawasan. 

Dengan komitmen keras yang diucapkan langsung oleh Menteri Keuangan, pemerintah berupaya menutup rapat ruang gerak peredaran rokok ilegal yang sudah lama menjadi masalah kronis. 

Keberhasilan implementasi kebijakan ini akan menjadi tolok ukur, bukan hanya dalam memperkuat penerimaan negara, tetapi juga dalam mempertegas supremasi hukum di sektor perpajakan dan kepabeanan.

Geliat Emiten Rokok: GGRM, HMSP, ITIC, WIIM, Mulai “Terbakar”

Performa saham-saham rokok di Bursa Efek Indonesia kembali mencatat penguatan mencolok dalam beberapa sesi terakhir. Dorongan ini muncul seiring langkah tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang berkomitmen memberantas peredaran rokok ilegal. 

Sentimen kebijakan tersebut dinilai pasar mampu memperbaiki iklim persaingan di industri tembakau, yang selama bertahun-tahun dirugikan praktik distribusi produk tanpa cukai.

Mengutip data Stockbit, Kamis, 25 September 2025, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) menguat 3,16 persen ke 815 per saham dengan transaksi tinggi mencapai 2,48 juta lot. Dalam sepekan terakhir, saham HMSP sudah naik 32 persen dan dalam sebulan bahkan melonjak lebih dari 54 persen. 

Meskipun secara jangka panjang lima tahun ke belakang harga sahamnya masih tertekan hingga minus 41 persen, tren jangka pendek jelas menunjukkan pemulihan, terutama karena potensi pengetatan pasar yang akan mengurangi penetrasi rokok ilegal.

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) pun tak ketinggalan, menguat 3,47 persen ke 14.175 per saham. Hanya dalam sepekan, nilainya sudah naik 33 persen. Sementara dalam satu bulan terakhir lonjakan mencapai hampir 60 persen. 

Meski dalam horizon sepuluh tahun GGRM masih mencatat penurunan lebih dari 66 persen akibat tekanan regulasi dan tren konsumsi yang berubah, investor kini melihat peluang kebangkitan jika pasar domestik kembali lebih sehat setelah penindakan keras terhadap distribusi rokok ilegal.

PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC), emiten skala lebih kecil, justru tampil sebagai salah satu bintang dengan lonjakan 6,85 persen dalam sehari ke level 515. Sepanjang satu bulan terakhir, kenaikannya menembus 138 persen dan dalam enam bulan melonjak lebih dari 160 persen. 

Pergerakan ekstrem ini menunjukkan sensitivitas ITIC terhadap sentimen kebijakan pemerintah, di mana ekspektasi berkurangnya kompetisi dari produk ilegal memberi ruang lebih luas bagi pemain resmi untuk bertumbuh.

Sementara itu, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menorehkan kinerja gemilang dengan kenaikan harian 8 persen ke 1.350 per saham. Dalam rentang satu bulan, WIIM sudah naik 62 persen, dan sejak awal tahun pergerakannya melonjak hampir 93 persen. 

Bahkan dalam horizon lima tahun terakhir, WIIM justru mencatat penguatan fantastis lebih dari 324 persen, menjadikannya salah satu emiten rokok dengan kinerja terbaik di lantai bursa. 

Penguatan WIIM menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai prospek emiten skala menengah yang adaptif terhadap kebijakan pemerintah bisa lebih menarik di tengah ketidakpastian.

Korelasi antara langkah pemerintah dan pergerakan saham terlihat jelas. Titah Purbaya yang menargetkan jalur distribusi, pengecer, hingga potensi penyelundupan impor rokok ilegal memberi sinyal kuat bagi investor bahwa pangsa pasar emiten legal berpotensi membesar. 

Dengan pengawasan lebih ketat, margin keuntungan yang sebelumnya tergerus bisa mulai pulih, dan ini menjadi katalis positif yang mendorong reli saham rokok dalam jangka pendek.

Namun, euforia pasar tetap perlu dicermati. Meski prospek kebijakan memberantas rokok ilegal menjanjikan, tantangan jangka panjang seperti regulasi cukai yang terus naik, tren kesehatan publik, dan pergeseran konsumsi ke produk alternatif tetap menjadi faktor risiko. 

Bagi investor, langkah pemerintah ini bisa menjadi momentum taktis, tetapi strategi jangka panjang harus tetap memperhitungkan dinamika industri tembakau global yang kian kompleks.

Sama-sama Menghijau, Siapa yang Paling Solid?

Empat emiten rokok besar di Bursa Efek Indonesia tengah mendapat sorotan pasar, terutama setelah pemerintah mengumumkan langkah tegas memberantas rokok ilegal. 

Dari sisi fundamental, kinerja keuangan, dan kebijakan dividen, profil masing-masing emiten menunjukkan karakter yang berbeda dengan kekuatan dan kelemahan tersendiri.

PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) muncul sebagai salah satu emiten dengan fondasi paling solid. Rasio valuasinya relatif menarik, dengan PER tahunan di level 9,46 kali, sedikit di atas median IHSG, dan imbal hasil laba mencapai 10,57 persen. 

Perusahaan mencatat return on equity (ROE) 15,58 persen serta return on capital employed (ROCE) 19,14 persen, angka yang menunjukkan efisiensi tinggi dalam mengelola modal. Neraca WIIM sehat dengan debt to equity ratio hanya 0,16 dan current ratio 2,28, menandakan likuiditas kuat serta risiko utang yang rendah. 

Dari sisi dividen, WIIM konsisten membagikan payout ratio sekitar 45 persen dengan dividend yield mendekati 5 persen. Ini memberi sinyal keseimbangan antara pertumbuhan dan imbal hasil bagi pemegang saham.

Berbeda dengan WIIM, PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) menunjukkan karakter yang lebih agresif. Rasio PE berada di kisaran 23,54 kali, jauh lebih tinggi dibanding WIIM. Artinya, valuasi premium akibat ekspektasi pertumbuhan. 

ITIC memang berhasil mencetak pertumbuhan laba signifikan dengan net income naik lebih dari 56 persen secara tahunan. Namun, profitabilitasnya masih tipis dengan ROE hanya 4,67 persen dan ROA 3,28 persen.

Neraca ITIC pun menunjukkan leverage lebih tinggi dibanding WIIM, dengan debt to equity ratio 0,32. Meski tetap membagikan dividen, yield yang dihasilkan hanya 0,97 persen, sehingga peran ITIC lebih cocok sebagai saham bertumbuh ketimbang penyumbang pendapatan dividen.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) masih berjuang mengatasi tekanan struktural. Valuasinya terlihat timpang dengan PE ratio TTM menembus 158 kali akibat laba yang menipis drastis. Net profit margin hanya 0,06 persen, dengan penurunan laba bersih lebih dari 96 persen secara tahunan. 

Meski memiliki neraca sehat dengan debt to equity ratio 0,09 dan kas besar mencapai hampir Rp4 triliun, efektivitas pengelolaan modal rendah, tercermin dari ROE hanya 0,28 persen. 

GGRM masih membagikan dividen Rp500 per saham dengan yield 3,51 persen, namun payout ratio mencapai lebih dari 400 persen. Artinya dividen ini tidak ditopang kinerja operasional, melainkan menggerus cadangan keuangan. 

Secara fundamental, GGRM menghadapi tantangan serius untuk kembali ke jalur profitabilitas.

Sementara itu, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mempertahankan posisinya sebagai pemain besar dengan stabilitas dividen. Valuasi HMSP lebih masuk akal dibanding GGRM, dengan PER 17,58 kali dan forward PE 11,63 kali, dan mencerminkan harapan pemulihan. 

Profitabilitas cukup baik, ROE mencapai 22,75 persen dan ROA 12,18 persen, meski margin laba bersih hanya 0,8 persen karena tingginya biaya operasional dan tekanan harga jual. 

Dari sisi dividen, HMSP konsisten royal membagi keuntungan, dengan dividend yield 6,79 persen dan payout ratio lebih dari 150 persen. Artinya, komitmen pada pemegang saham meski profit belum sepenuhnya menopang. 

Hal ini membuat HMSP lebih unggul sebagai saham dividen, walau risiko ketergantungan pada kebijakan pembagian laba cukup besar.

Secara keseluruhan, WIIM tampak sebagai emiten paling solid dari sisi fundamental dan efisiensi operasional, sehingga menjadikannya kandidat kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan dengan tetap memberi imbal hasil menarik. 

HMSP menonjol dalam konsistensi dividen dan pengelolaan modal, cocok bagi investor berorientasi pada pendapatan pasif. 

ITIC menawarkan prospek pertumbuhan agresif, tetapi dengan risiko lebih tinggi. GGRM, di sisi lain, masih bergulat dengan tekanan profitabilitas, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk kembali menjadi pilar utama industri. 

Bagi investor, pilihan bergantung pada orientasi, yaitu stabilitas jangka panjang, dividen reguler, atau pertumbuhan agresif di tengah risiko tinggi.

Teknikal Keluarkan Sinyal Beli Kuat, Bagaimana Strateginya?

Empat emiten rokok besar, yaitu HM Sampoerna (HMSP), Gudang Garam (GGRM), Indonesian Tobacco (ITIC), dan Wismilak Inti Makmur (WIIM), menunjukkan sinyal teknikal harian yang seragam kuat: “sangat beli”. 

Indikator teknikal pada seluruh saham kompak memperlihatkan tren bullish, meski masing-masing memiliki nuansa berbeda terkait kekuatan momentum dan potensi risiko.

Untuk HMSP, rangkuman indikator teknikal memperlihatkan sinyal dominan beli dengan dukungan penuh dari moving average. RSI berada di 72, sedikit di area jenuh beli, namun belum menunjukkan pelemahan signifikan. 

ADX di atas 40 menandakan tren yang cukup kuat, meski volatilitas tinggi tercermin dari ATR. Dengan posisi harga yang sudah jauh di atas rata-rata jangka menengah, HMSP masih punya peluang naik, tetapi ruang koreksi teknis dalam jangka pendek juga patut diwaspadai.

GGRM memberikan sinyal teknikal yang bahkan lebih solid. Semua indikator mayoritas menunjuk ke arah beli, dengan RSI di 73 dan ADX sangat tinggi di atas 68, menandakan tren penguatan yang sangat kuat. 

Namun kondisi ini juga menunjukkan potensi overbought, di mana harga mungkin terlalu cepat naik dalam waktu singkat. Sinyal ini mendukung potensi kelanjutan reli, tetapi risiko koreksi teknikal bisa datang kapan saja. Investor perlu disiplin dengan manajemen risiko jika masuk di level tinggi.

ITIC tampil sebagai saham dengan karakteristik teknikal paling ekstrem. RSI menembus 92, Stochastic RSI menyentuh 100, dan CCI melesat di atas 200, semuanya mengonfirmasi kondisi jenuh beli yang tajam. 

Meskipun momentum naik masih berlanjut, lonjakan cepat ini membuat ITIC rawan koreksi tajam dalam jangka pendek. Sinyal teknikal masih bertahan di “sangat beli”, namun justru menjadi peringatan bahwa reli bisa terlalu jauh. 

Bagi investor, ITIC lebih cocok untuk spekulasi jangka pendek ketimbang simpanan jangka panjang.

WIIM memperlihatkan tren kenaikan yang kuat dengan RSI di 74 dan dukungan penuh dari moving average. Seperti ITIC, sinyal jenuh beli mulai muncul, tetapi tidak se-ekstrem ITIC. ADX yang masih moderat di angka 35 menandakan tren belum terlalu ekstrem, sehingga WIIM masih punya ruang untuk melanjutkan penguatan. 

Volatilitasnya cukup tinggi, namun dengan dukungan fundamental yang sehat, kenaikan harga terlihat lebih berimbang dan berkelanjutan.

Jika teknikal harian dikombinasikan dengan fundamental, WIIM muncul sebagai kandidat paling solid untuk portofolio baru. Valuasi yang menarik, profitabilitas yang efisien, dan pembagian dividen stabil membuatnya unggul dibanding ITIC yang overvalued dan rentan, maupun GGRM yang masih tertekan laba, atau HMSP yang sangat bergantung pada dividen dengan payout ratio tinggi. 

Dengan tren teknikal yang masih bullish namun tidak terlalu ekstrem, WIIM terlihat mampu memberi kombinasi ideal antara momentum jangka pendek dan daya tahan jangka panjang.

Dengan demikian, meski seluruh emiten rokok saat ini sedang “hijau” secara teknikal, pilihan strategis tetap harus memperhitungkan fondasi keuangan. 

WIIM layak dipertimbangkan sebagai portofolio baru karena menawarkan keseimbangan antara pertumbuhan, stabilitas, dan potensi imbal hasil yang berkesinambungan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya