Produksi TINS terus merosot, bukan karena cadangan yang habis, tapi karena tambang-tambang liar yang makin masif di wilayah konsesi perusahaan. Masalah ini bukan baru. Dalam empat tahun terakhir, produksi bijih timah TINS tak pernah menyentuh target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Tahun 2022, dari target 45.000 ton, yang terealisasi hanya 20.079 ton. Setahun kemudian, capaian lebih buruk: hanya 14.855 ton dari target 29.000 ton. Tahun lalu, meski target dinaikkan ke 37.000 ton, realisasi tak sampai separuhnya, cuma 19.437 ton yang berhasil dikeruk.
Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, menyebut tambang ilegal sebagai penyebab utama. Ia mengaku aktivitas liar ini tak hanya merusak cadangan dan sumber daya yang sah, tapi juga menciptakan kerusakan lingkungan dan mengganggu jalur pasokan internal perusahaan.
“Sudah ratusan kali kami lakukan penertiban dan penenggelaman kapal-kapal ilegal, tapi yang terjadi bukan berkurang, malah bertambah. Ini jadi masalah serius,” kata Restu dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Mei 2025.

Lokasi tambang ilegal menyebar luas di darat dan laut Bangka–Belitung. Mulai dari kawasan eks PT Koba Tin di Bangka Tengah, hutan bakau Lubuk Besar, hingga perkampungan nelayan Pangkal Arang yang sebenarnya masuk zona larangan tambang. Bahkan di Kampung Reklamasi Air Jangkang, Kabupaten Bangka, Anggota DPR RI periode 2019-2024 Luluk Nur Hamidah pernah menemukan penambangan liar langsung di wilayah kerja PT Timah.
Terbaru, pada 15 Mei 2025, polisi menangkap penambang timah ilegal di Desa Juru Sebrang, Belitung, dan menyita alat berat seperti rajuk dan mesin penyedot.
Upaya penertiban pertambangan ilegal ini sudah dilakukan, dari operasi ponton hingga koordinasi antarinstansi. Tapi hasilnya belum signifikan. Tambang liar tetap beroperasi karena didukung jaringan pasok dan pembeli yang sulit disentuh hukum.
Restu bahkan meminta DPR RI mendorong regulasi khusus agar hasil tambang dari Wilayah Izin Usaha Pertambangan atau WIUP TINS wajib dikembalikan ke perusahaan. Tanpa itu, ia menilai produksi akan terus terganggu dan cadangan perusahaan terkikis dari luar.
Saat Timah tak Lagi Cukup Jadi Batangan
PT Timah Tbk (TINS) tak lagi sekadar menambang dan menjual timah batangan. Dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan pelat merah ini diarahkan menjadi pemain penting dalam industri logam bernilai tambah alias hilirisasi. Mandat itu datang langsung dari induk usahanya, MIND ID.
Lewat rapat umum pemegang saham terbaru, MIND ID meminta TINS mempercepat transformasi ke hilirisasi—bukan cuma untuk mengejar margin, tapi juga untuk memastikan keberadaan perusahaan memberi dampak ekonomi nyata. Di hadapan DPR, Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, menyebut pengembangan logam tanah jarang (rare earth element/REE) sebagai prioritas baru. Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah dan holding yang ingin memperluas manfaat ekonomi tambang ke industri strategis nasional.
Salah satu anak usaha TINS, PT Timah Industri, kini tengah bersiap memperkuat lini produksi tin solder dan bahan kimia berbasis timah—produk yang selama ini lebih banyak diimpor. Perusahaan juga menargetkan bisa mendukung pembentukan Material Center pemerintah lewat perluasan jaringan hilir di dalam negeri.
Tak hanya itu, perusahaan juga diminta menghidupkan kembali fasilitas pengolahan mineral ikutan seperti monasit. Monasit merupakan bahan baku logam tanah jarang (rare earth) yang kini jadi rebutan dunia. PT Timah mencatat, wilayah konsesinya menyimpan setidaknya 25.700 ton cadangan monasit.
Kandungan logam tanah jarang dalam monasit memang tak besar, kurang dari satu persen dari total bijih timah. Tapi unsur-unsur di dalamnya—seperti cerium, lantanum, neodimium, praseodimium, dan itrium—punya harga yang menggoda. Nilai jualnya bisa mencapai USD5.000 hingga USD6.000 per ton, setara puluhan juta rupiah. Jika seluruh potensi itu bisa diolah, nilainya bisa tembus ratusan miliar rupiah.
Di tingkat nasional, potensi itu jauh lebih besar. BRIN memperkirakan Indonesia menyimpan sekitar 1,5 miliar ton pasir monasit, tersebar di Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Namun kekayaan itu masih tertidur. Sebab hingga kini, teknologi untuk memisahkan logam-logam langka dari pasir monasit masih belum banyak dikuasai industri dalam negeri.
Di Tanjung Ular, Bangka Barat, TINS tengah menyulap ulang fasilitas pilot plant pengolahan logam tanah jarang yang sempat terbengkalai. Pabrik kecil yang dibangun sejak 2010 itu kini direvitalisasi. Targetnya bukan lagi sekadar meneliti, tapi mulai memproses monasit menjadi produk antara berupa rare earth hydroxide atau karbonat—bahan dasar industri magnet, baterai kendaraan listrik, katalis, dan komponen elektronik mutakhir.
Untuk mempercepatnya, TINS menggandeng mitra teknologi dari dalam dan luar negeri. Sebab pengolahan rare earth tak bisa dijalankan dengan mesin tambang biasa. Butuh laboratorium, keahlian kimia lanjutan, dan sistem pemisahan unsur yang sangat presisi.
Tapi mencari mitra bukan perkara mudah. Upaya menggandeng perusahaan pengolahan asal Tiongkok sempat kandas karena tak mau berbagi teknologi. Mereka hanya berniat membeli hasil olahan Timah, bukan membangun industri bersama. Pada 2023 lalu, TINS pun menjajaki kerja sama dengan perusahaan asal Kanada yang direncanakan membangun pabrik pengolahan berkapasitas 1.000 ton monasit per tahun. Nama perusahaan itu masih disimpan rapat, tapi kesepakatannya menyebut bahwa Timah akan menyuplai bahan mentah, sementara mitra Kanada menyediakan teknologi pemrosesan.
Dalam negeri, kerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sejauh ini menjadi langkah paling konkret. Lewat prosedur perengkahan, Timah dan BATAN sudah berhasil mengekstraksi 300 ton monasit hidroksida dari bijih timah. Bahan itu kini tersimpan sebagai stok awal sambil menunggu kesiapan teknologi industri pengolahannya.
Sementara itu, di Cilegon, Banten, anak usaha TINS, yakni PT Timah Industri, sudah lebih dulu berlari. Tiga pabrik kimia timah dan satu pabrik solder berdiri di sana. Kapasitasnya tak kecil: 3.000 ton stannic chloride, 8.000 ton dimethyltin, 10.000 ton methyltin, dan 2.000 ton solder per tahun. Produk-produk itu bukan komoditas biasa. Tin solder misalnya—dengan merek BANKAESA—dipakai oleh industri elektronik dan otomotif global, sementara tin chemical menjadi bahan utama stabilizer PVC untuk pipa dan plastik bebas timbal.

Pabrik ini menargetkan bisa menyerap seluruh produksi ingot TINS di dalam negeri. Produksi massal dijadwalkan mulai awal 2025 dengan sebagian outputnya telah menembus pasar ekspor ke Amerika, India, China, Taiwan, dan negara-negara Eropa.
Tak jauh dari situ, proyek yang lebih ambisius sedang dibangun di Batam. Di kota industri itu, PT Timah bersama mitranya dari PT Cipta Persada Mulia mendirikan fasilitas hilirisasi berskala raksasa. Nilai investasinya menyentuh Rp1,2 triliun untuk tahap awal. Smelter tin ingot bakal menyuplai bahan baku ke dua jalur, yakni ke PT Bangka Tin Smelter (BTS) untuk diolah menjadi tin chemical dan ke PT Timah Industri untuk dijadikan solder dan heat stabilizer.
Pabrik BTS saat ini sedang dalam fase konstruksi. Sementara lini produksi solder milik TINS di Batam telah memasuki tahap commissioning penuh.
Jalan Panjang Hilirisasi, dari Modal sampai Manusia
Ambisi hilirisasi TINS bukan tanpa batu sandungan. Skala proyek yang ditargetkan perusahaan terbilang masif dan tak semuanya bisa dituntaskan hanya dengan semangat. Untuk pabrik tin chemical di Batam saja, dana yang dikucurkan menyentuh Rp1,2 triliun di tahap awal. Itu belum termasuk rencana pembangunan pabrik pengolahan logam tanah jarang (rare earth) dalam skala komersial—yang tentu akan menyedot investasi jauh lebih besar.
Masalah tak berhenti di dana. Teknologi menjadi penghalang besar. Hingga kini, teknologi pemrosesan monasit menjadi unsur logam tanah jarang masih langka, bahkan di level global. Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, secara terbuka mengakui bahwa lambannya progres hilirisasi rare earth lebih disebabkan oleh sulitnya akses teknologi yang cocok dan terbukti. Itulah kenapa perusahaan perlu menggandeng mitra dari luar negeri yang bersedia berbagi teknologi, bukan hanya menjadi pembeli.
Regulasi dan kewajiban lingkungan juga menjadi tantangan tersendiri. Sejak lama, seluruh operasi tambang diwajibkan menjalankan reklamasi, revegetasi, dan proses pascatambang sesuai standar ketat. Kegagalan memenuhi itu bisa membuat izin pembangunan pabrik baru tersendat. Apalagi, larangan ekspor bijih timah sudah berlaku sejak 2002 silam. Artinya, jika lini hilirisasi belum siap, hasil tambang bisa menumpuk di gudang—tergantung pada pasar domestik yang belum tentu stabil atau harga internasional yang gampang berubah.
Belum lagi tantangan internal. Restu menyebut sendiri bahwa kapasitas SDM dan fasilitas kerja saat ini belum sebanding dengan potensi besar yang dimiliki perusahaan. Area operasi luas, cadangan timah dan monasit terbentang di darat dan laut, tapi tenaga ahli di bidang teknik kimia, metalurgi, serta manajerial proyek masih terbatas.
Jika proyek ini tak berjalan sesuai rencana, risikonya tak kecil. Cadangan bisa hilang karena tergerus tambang ilegal. Kepercayaan investor bisa menyusut. Dan hilirisasi yang seharusnya menjadi jalan keluar dari jebakan komoditas mentah bisa gagal di tengah jalan—bukan karena tak mungkin, tapi karena tak cukup kuat dikelola.
Kinerja dan Valuasi TINS
Kinerja keuangan PT Timah Tbk (TINS) sepanjang 2024 ibarat nafas lega di tengah tekanan bertubi-tubi dari sisi produksi. Perusahaan pelat merah ini akhirnya membukukan laba bersih sebesar Rp1,19 triliun—melonjak drastis dari rugi Rp449,7 miliar pada 2023. Peningkatan itu ditopang lonjakan pendapatan yang naik hampir 30 persen menjadi Rp10,86 triliun. Perolehan tersebut menjadikan margin laba bersih TINS berada di angka sehat: sebelas persen. Tak hanya itu, EBITDA perusahaan juga melonjak ke kisaran Rp2,7 triliun, menandakan efisiensi operasional yang mulai membaik.
Namun, laju itu tak serta-merta mencerminkan kondisi yang bebas dari risiko. Kas dan setara kas TINS memang masih cukup kuat—sekitar Rp1,99 triliun di akhir 2024. Tapi likuiditas saja tak cukup untuk menopang ambisi hilirisasi yang sudah dimandatkan induk usaha, MIND ID. Terutama jika mengingat sebagian besar proyek hilir, seperti pembangunan pabrik tin chemical dan rare earth, memerlukan investasi besar yang bisa tembus triliunan rupiah.
Masuk ke kuartal pertama 2025, kinerja TINS tampak stabil di pendapatan, dengan perolehan Rp2,10 triliun, atau naik 2,1 persen dibanding periode sama tahun lalu. Namun yang mencuri perhatian adalah lonjakan laba bersih kuartalan yang mencapai Rp116,86 miliar—naik hampir 300 persen secara tahunan. Lonjakan ini terjadi meskipun volume produksi bijih dan logam timah mengalami penurunan akibat cuaca buruk dan gangguan tambang ilegal. Artinya, perbaikan efisiensi dan strategi harga mulai terasa di neraca perusahaan.
Aset TINS sedikit terkoreksi ke Rp12,49 triliun, sedangkan liabilitas turun ke Rp4,85 triliun. Ekuitas justru meningkat menjadi Rp7,64 triliun. Struktur keuangan yang relatif solid ini memberi ruang manuver bagi TINS untuk menjalankan proyek-proyek transformasi bisnis, meski tetap harus menjaga disiplin belanja modal.
Dari sisi valuasi, saham TINS sebenarnya masih tergolong murah. Price to Earnings Ratio (PER) TINS berada di kisaran 5,99 kali, sedangkan Price to Book Value (PBV) tercatat 0,96 kali. Angka ini jauh di bawah rerata sektor tambang logam, dan bahkan lebih rendah dibanding emiten seperti ANTM atau MDKA yang sudah lebih dulu dihargai premium oleh pasar. Dengan valuasi demikian, saham TINS berpotensi mencerminkan undervaluation, asalkan roadmap hilirisasi bisa dijalankan dengan disiplin dan efektif.
Aksi Investasi

Dari sisi teknikal, saham TINS.berada di persimpangan arah. Secara keseluruhan, indikator teknikal harian menunjukkan sinyal netral.dengan sedikit kecenderungan ke arah penguatan jangka pendek. Indeks RSI di level 45,8 menandakan saham belum masuk wilayah jenuh jual, sementara indikator seperti ROC, Bull/Bear Power, dan Stochastic RSI mengindikasikan potensi teknikal rebound. Namun demikian, indikator MACD dan ADX masih menunjukkan sinyal lemah dan volatilitas rendah.
Sinyal moving average pun bercampur. MA jangka pendek seperti MA5 dan MA10 cenderung menekan ke bawah, sedangkan MA100 dan MA200 justru mengonfirmasi bahwa tren jangka menengah masih dijaga. Ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan jangka pendek, struktur teknikal jangka panjang belum patah.

Dari sisi pola candlestick, kemunculan pola Harami Bullish dan Doji Star Bearish secara bergantian mengindikasikan pasar sedang dalam fase kebimbangan. Investor tampaknya menunggu kejelasan arah, terutama terkait keberlanjutan hilirisasi dan kemampuan TINS mengatasi tantangan tambang ilegal.
Area teknikal penting yang perlu dicermati saat ini adalah:
- Support kuat di kisaran Rp1.130–1.135.
- Resistance pendek berada di area Rp1.150–1.160.
- Jika harga mampu breakout dan bertahan di atas Rp1.160, ruang kenaikan ke Rp1.200–1.230 terbuka dalam jangka menengah.

Untuk saat ini, posisi wait and see lebih rasional bagi investor konservatif. Namun, bagi investor berprofil agresif, akumulasi bertahap di area support bawah bisa dipertimbangkan—dengan tetap mengawasi sentimen makro dan tindak lanjut konkret hilirisasi. Sentimen yang bisa mengubah arah tren harga antara lain:
- Kepastian investor asing dalam proyek rare earth.
- Keberhasilan pengoperasian pabrik solder dan tin chemical di Batam.
- Langkah tegas pemerintah menertibkan tambang ilegal.
Jika sentimen-sentimen tersebut terealisasi dalam waktu dekat, saham TINS berpeluang keluar dari fase stagnan dan kembali mencetak tren naik yang solid. Namun jika gagal, investor perlu bersiap menghadapi tekanan valuasi dan risiko penurunan ke area bawah kembali.(*)
