KABARBURSA.COM - Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai menarik karena harga minyak berpeluang naik imbas memanasnya konflik Timur Tengah (Timteng) usai Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran.
BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan, harga minyak berpotensi melonjak tajam saat pasar dibuka kembali imbas serangan besar AS dan Israel ke Iran. Menurutnya, kondisi ini meningkatkan ketegangan di Timteng dan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
BRI Danareksa dalam risetnya pada Minggu, 1 Maret 2026 merekomendasikan saham MEDC. Disebutkan, secara teknikal, MEDC sedang berada dalam kondisi pullback dengan level resistance became supportnya pada Rp1.580 - Rp1.655.
"Potensi lanjutan bullish terbuka hingga Rp1.775 - Rp1.835," tulis BRI Danareksa dalam risetnya.
Pada perdagangan terakhir pekan ini atau Jumat, 27 Februari 2026, saham MEDC ditutup menguat sebesar 2,68 persen atau naik 45 poin ke level Rp1.725.
Meski begitu, saham emiten minyak dan gas bumi ini tercatat belum menjadi target utama akumulasi investor asing pada perdagangan pekan ini.
Berdasarkan broker summary Stockbit, saham MEDC periode 23–27 Februari 2026, pergerakan transaksi investor asing menunjukkan bahwa saham ini belum berada dalam fase akumulasi signifikan sepanjang pekan lalu. Aktivitas transaksi selama sepekan terakhir justru lebih mencerminkan kecenderungan distribusi dibandingkan akumulasi bersih.
Dari sisi penjualan, sejumlah broker asing tercatat melakukan aksi distribusi dalam nilai yang relatif besar. Broker CC menjadi kontributor terbesar di sisi jual dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp61 miliar dan volume sebanyak 353,8 ribu lot.
Tekanan jual juga terlihat dari broker YU yang mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp27,5 miliar dengan volume 166,3 ribu lot, serta broker NI senilai Rp21,9 miliar dengan volume mencapai 128,4 ribu lot.
Selain itu, distribusi tambahan turut dilakukan oleh broker BB sebesar Rp8,8 miliar, diikuti oleh LG senilai Rp1,4 miliar dan BK sebesar Rp1,1 miliar. Secara kumulatif, dominasi nilai jual dari broker-broker tersebut menunjukkan adanya kecenderungan pelepasan posisi oleh investor asing terhadap saham MEDC selama pekan berjalan.
Sementara itu, dari sisi pembelian, aktivitas akumulasi memang tetap tercatat, namun nilainya belum mampu mengimbangi tekanan distribusi yang terjadi pada periode yang sama.
Broker ZP tercatat sebagai pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp52,6 miliar atau setara dengan volume 306 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.715 per saham.
Aktivitas beli juga datang dari broker KZ sebesar Rp14,4 miliar dengan volume 84,4 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.710, serta broker AG yang membukukan pembelian senilai Rp6,1 miliar dengan volume 35,7 ribu lot di harga rata-rata Rp1.722.
Pembelian tambahan juga tercatat dari broker KI, AK, dan TP, masing-masing dengan nilai Rp3,4 miliar, Rp2,7 miliar, dan Rp1,5 miliar, meskipun kontribusinya relatif lebih kecil dibandingkan tekanan jual yang muncul.
Banyaknya distribusi investor asing tersebut membuat saham MEDC selama satu pekan terakhir mengalami pelemahan sebesar 0,29 persen.
Pergerakan Saham
Di luar kinerja selama sepekan, pergerakan saham MEDC di beberapa periode terakhir sejatinya menunjukkan tren penguatan yang relatif solid dalam jangka menengah hingga panjang.
Dalam periode satu bulan, saham MEDC mencatatkan kenaikan sebesar 13,49 persen, diikuti penguatan dalam tiga bulan terakhir sebesar 30,19 persen.
Tren positif tersebut berlanjut dalam periode enam bulan dengan kenaikan mencapai 48,07 persen, serta secara year-to-date (YTD) yang telah menguat sekitar 28,25 persen. Bahkan, dalam jangka waktu satu tahun terakhir, saham MEDC berhasil mencatatkan lonjakan harga hingga 72,50 persen.
Penguatan yang lebih signifikan terlihat dalam horizon investasi jangka panjang, saham ini mencatatkan kenaikan sebesar 50 persen dalam tiga tahun terakhir dan melonjak hingga 148,20 persen dalam lima tahun. Sementara dalam rentang waktu 10 tahun, saham MEDC bahkan membukukan pertumbuhan mencapai 823,07 persen.
Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi menjadi katalis eksternal yang perlu dicermati oleh investor dalam menilai prospek saham sektor energi seperti MEDC. Ketegangan geopolitik di wilayah produsen minyak utama dunia berisiko mengganggu stabilitas pasokan global, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan harga minyak mentah dan meningkatkan margin keuntungan bagi perusahaan energi hulu.
Namun demikian, pelaku pasar tetap diimbau untuk memperhatikan volatilitas jangka pendek yang dapat muncul seiring perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang masih bersifat dinamis.
Sementara itu, berdasarkan data konsensus analis Stockbit, sebanyak 20 analis memberikan rekomendasi beli terhadap saham MEDC, tanpa adanya rekomendasi jual. Sentimen tersebut turut mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek kinerja Perseroan, khususnya di tengah potensi penguatan harga minyak dunia yang dipicu oleh risiko gangguan pasokan energi global.
Dari sisi valuasi, target harga rata-rata analis untuk saham MEDC tercatat berada di level Rp2.023 per saham, dengan estimasi target tertinggi mencapai Rp2.500 dan estimasi terendah di kisaran Rp1.730.
Pada posisi harga saat ini di sekitar Rp1.725, saham MEDC dinilai masih memiliki ruang penguatan yang cukup lebar menuju konsensus target tersebut.
Selisih antara harga pasar dan target rata-rata analis ini menunjukkan adanya potensi upside yang menjadi pertimbangan bagi investor dalam mengakumulasi saham sektor energi di tengah dinamika pasar global.
Kinerja Keuangan Medco Kuartal III 2025
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2025 yang disampaikan Perseroan, total pendapatan usaha Medco tercatat sebesar USD1,76 miliar, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD1,78 miliar.
Sejalan dengan itu, laba bruto Medco tercatat sebesar USD658,25 juta, turun dari posisi USD679,61 juta pada periode sembilan bulan tahun sebelumnya.
Laba sebelum pajak Perseroan yang tercatat sebesar USD296,06 juta, turun dibandingkan capaian USD506,87 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, total laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar USD85,65 juta, menurun dibandingkan capaian USD273,27 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi neraca, posisi keuangan Medco menunjukkan peningkatan total aset menjadi USD8,42 miliar per 30 September 2025, dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar USD7,93 miliar.
Peningkatan tersebut antara lain ditopang oleh kenaikan nilai aset minyak dan gas bumi menjadi USD2,97 miliar dari sebelumnya USD2,67 miliar, serta aset eksplorasi dan evaluasi yang meningkat menjadi USD258,25 juta.
Dari sisi liabilitas, total kewajiban Perseroan tercatat sebesar USD6,04 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya sebesar USD5,57 miliar.
Dari sisi arus kas, Medco mencatatkan kas yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar USD925,48 juta, meskipun menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD1,16 miliar.
Mengutip Stockbit, Medco menunjukkan fundamental keuangan yang relatif solid dari sisi likuiditas dan profitabilitas. Berdasarkan data key statistics terbaru, Medco mencatatkan current ratio sebesar 1,37 pada periode kuartalan, hal ini menunjukkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar yang dimiliki.
Selain itu, quick ratio tercatat sebesar 1,25, mengindikasikan bahwa likuiditas Medco tetap terjaga. Dari sisi struktur permodalan, Medco membukukan debt to equity ratio (DER) sebesar 1,71.
Sementara itu, pada aspek profitabilitas, Medco mencatatkan return on assets (ROA) sebesar 2,08 persen secara trailing twelve months (TTM), yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan aset dalam menghasilkan laba bersih.
Adapun return on equity (ROE) tercatat sebesar 8,03 persen, mencerminkan tingkat pengembalian terhadap modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham dalam periode yang sama.
Dari sisi margin, MEDC membukukan gross profit margin sebesar 35,96 persen, yang mengindikasikan kemampuan Perseroan dalam menjaga efisiensi biaya produksi di tengah fluktuasi harga energi global.
Margin operasional juga tercatat cukup kuat dengan operating profit margin sebesar 26,69 persen, sementara net profit margin berada di level 7,83 persen pada periode kuartalan. Rasio tersebut menunjukkan bahwa MEDC masih mampu menjaga profitabilitas operasional di tengah tekanan biaya pendanaan serta volatilitas pasar komoditas. (*)