KABARBURSA.COM – Harga emas dunia bergerak naik tajam sejak pertengahan September 2025 dan terus mencetak rekor baru. Pada Senin, 29 September 2025, harga emas spot melonjak 1,96 persen ke level USD3.834,07 per ons. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember ditutup naik 1,2 persen di USD3.855,20.
Tren penguatan berlanjut hingga Selasa, 30 September 2025, dengan harga emas stabil di kisaran USD3.800 per ons. Dorongan datang dari ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pelemahan indeks dolar AS. Kondisi geopolitik yang memanas juga menambah minat investor pada aset safe haven.
Kenaikan harga emas menciptakan optimisme pasar terhadap perusahaan yang berkaitan dengan emas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Terdapat sejumlah emiten yang tampak menjanjikan jika dilihat dari bisnis saat ini termasuk prospek ke depan, pendapatan, laba bersih, hingga valuasi sahamnya, seiring kenaikan harga logam kuning.
Nama seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk, PT Hartadinata Abadi Tbk, dan PT Archi Indonesia Tbk menarik diperhatikan. Alasannya karena bisnis yang dijalankan masing-masing emiten terus menunjukkan pertumbuhan dengan valuasi saham yang masih relatif menarik.
Di antara deretan emiten tersebut, emiten berkode saham BRMS menjadi salah satu yang paling menonjol. Perusahaan ini berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih signifikan hingga kuartal II 2025, sekaligus menunjukkan valuasi saham yang masih berada di level rendah.
Screening fundamental menempatkan BRMS di posisi terdepan untuk dibahas lebih dahulu sebelum melihat kinerja emiten emas lainnya di BEI.
Saham BRMS Masih Undervalued Kuat
Bumi Resources Minerals tampil sebagai salah satu emiten emas yang masih undervalued di BEI. Dengan harga saham Rp875 pada 30 September 2025, valuasi pasar belum mencerminkan kinerja keuangan yang terus membaik. Screening merujuk laporan keuangan memperlihatkan adanya ruang penguatan harga saham yang signifikan.
Harga wajar saham BRMS diestimasi Rp1.400 per saham dengan metode price to earnings (P/E) ratio. Earning per share (EPS) semester I 2025 sebesar USD0,16 atau Rp2,3 (kurs Rp16.233/USD), lalu disetahunkan menjadi Rp4,6 per saham. Nilai ini dikalikan target P/E 20 kali menghasilkan Rp92, yang kemudian disesuaikan dengan proyeksi produksi penuh tahun 2025 sehingga valuasi wajar naik ke Rp1.400.
Potensi kenaikan harga saham mencapai 60 persen, dihitung dari (Rp1.400–Rp875) dibagi Rp875. Peningkatan valuasi ini realistis karena proyeksi produksi dan penjualan emas sepanjang 2025 lebih tinggi dibandingkan 2024. Dengan asumsi harga emas dunia stabil di atas USD3.800 per ons, target kenaikan harga saham BRMS semakin kuat.
P/E ratio BRMS saat ini memang terlihat tinggi, sekitar 190 kali, jika hanya memakai EPS interim semester I 2025. Namun, jika laba penuh 2025 menembus Rp44 miliar berdasarkan ekstrapolasi semester I, maka P/E turun ke kisaran 20–25 kali. Angka ini jauh lebih rendah dan mendekati rata-rata industri emas di Asia Tenggara.
Price to book value (P/BV) juga memberikan indikasi ruang pertumbuhan. Ekuitas per 30 Juni 2025 mencapai USD1,016 miliar atau Rp16,5 triliun, dengan jumlah saham beredar 93,68 miliar lembar. Book value per share (BVPS) tercatat Rp176, sehingga harga saham Rp875 mencerminkan P/BV sekitar 4,97 kali, angka yang terlihat tinggi tetapi belum mencerminkan cadangan emas besar dari Gorontalo Minerals (GM) dan Citra Palu Minerals (CPM).
Produksi emas BRMS tahun 2024 melalui CPM tercatat 3,5 ton dengan penjualan USD193,5 juta. Pada semester I 2025, produksi lebih dari 2 ton emas dengan penjualan USD120,8 juta. Jika tren ini berlanjut, produksi penuh 2025 diperkirakan mencapai 4,2–4,5 ton emas dengan penjualan USD240 juta–USD250 juta.
Pendapatan penuh 2025 dihitung melalui ekstrapolasi semester I, menghasilkan USD241,6 juta, sementara laba bersih disetahunkan mencapai USD44,4 juta. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi 2024 yang mencatat laba bersih USD15,7 juta. Pertumbuhan kinerja tersebut menegaskan prospek BRMS yang lebih solid pada 2025.
Skenario konservatif menggunakan asumsi harga emas stabil di USD3.800 per ons dengan produksi 4 ton emas. Perhitungan volume produksi dikalikan harga rata-rata menghasilkan pendapatan USD230 juta–USD240 juta dengan laba bersih USD38 juta–USD40 juta.
Skenario agresif dengan asumsi harga emas menembus USD4.000 per ons dan produksi 5 ton emas memberikan peluang pendapatan USD260 juta–USD270 juta dengan laba bersih USD45 juta–USD50 juta.
Dalam jangka menengah, GM diproyeksikan menambah produksi emas tahunan sekitar 2 ton mulai 2026. Unit Dairi Prima Mineral (DPM) ditargetkan menghasilkan 200 ribu ton konsentrat timah hitam dan seng per tahun. CPM tetap menjadi tulang punggung dengan kapasitas stabil 4–5 ton emas per tahun.
Jika seluruh unit usaha beroperasi penuh, BRMS berpotensi mengelola 6–7 ton emas per tahun ditambah kontribusi logam dasar. Proyeksi ini akan mendorong arus kas operasional naik lebih dari 50 persen dibandingkan 2025.
Dengan dukungan harga emas global yang masih bullish, prospek pertumbuhan BRMS tetap terjaga untuk tahun-tahun berikutnya.
Potensi Pertumbuhan Bisnis Perhiasan Emas bagi HRTA
Setelah melihat proyeksi kinerja dan valuasi BRMS yang masih menyimpan potensi kenaikan signifikan, perhatian investor juga mengarah ke sektor perhiasan emas. Hartadinata Abadi muncul sebagai emiten dengan model bisnis berbeda karena fokus pada rantai produksi dan distribusi perhiasan.
Kombinasi permintaan emas fisik di pasar domestik dan strategi ekspansi ritel menjadikan HRTA salah satu pemain penting yang layak dikaji lebih lanjut.
Dengan harga saham HRTA Rp935 pada 30 September 2025, valuasinya belum sepenuhnya mencerminkan kinerja keuangan yang solid. Screening merujuk laporan keuangan menunjukkan peluang besar bagi pertumbuhan bisnis perhiasan emas di pasar domestik.
Harga wajar saham HRTA diestimasi Rp1.400 per saham dengan pendekatan P/E ratio. Perhitungannya adalah EPS semester I 2025 sebesar Rp25 disetahunkan menjadi Rp50, lalu dikalikan target P/E 28 kali menghasilkan Rp1.400. Potensi kenaikan ini memberikan upside sekitar 49 persen dibanding harga pasar Rp935.
P/E ratio HRTA saat ini berada di kisaran 18 kali, lebih rendah dari rata-rata industri perhiasan emas yang di atas 22 kali. Hal ini menandakan valuasi saham masih di bawah standar sektoral. P/BV HRTA tercatat 1,8 kali, dengan ekuitas Rp2,7 triliun per Juni 2025 dan jumlah saham beredar 2,2 miliar lembar menghasilkan BVPS Rp425.
Pendapatan HRTA pada 2024 mencapai Rp13,2 triliun dengan laba bersih Rp302 miliar. Pada semester I 2025, pendapatan tercatat Rp7,1 triliun dengan laba bersih Rp168 miliar. Jika tren ini berlanjut, maka pendapatan penuh 2025 diperkirakan menembus Rp14 triliun dengan laba bersih Rp336 miliar, lebih tinggi dibanding capaian 2024.
Produksi perhiasan emas HRTA pada 2024 tercatat lebih dari 28 ton dengan distribusi melalui 600 toko mitra dan jaringan ritel. Pada semester I 2025, produksi sekitar 15 ton dengan penjualan Rp7,1 triliun, sehingga proyeksi produksi penuh tahun ini bisa mencapai 30 ton. Kenaikan volume produksi sejalan dengan strategi perusahaan memperluas penetrasi pasar ritel di kota-kota besar.
Skenario konservatif HRTA memperhitungkan produksi 28 ton emas dengan harga jual stabil, menghasilkan pendapatan Rp13,5 triliun dan laba bersih Rp310 miliar. Skenario agresif menggunakan asumsi produksi meningkat menjadi 31 ton dengan harga jual lebih tinggi, sehingga pendapatan berpotensi Rp15 triliun dengan laba bersih Rp360 miliar. Kedua skenario memperlihatkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka lebar.
Return on asset (ROA) HRTA pada semester I 2025 tercatat 7,2 persen, sedangkan return on equity (ROE) mencapai 12,4 persen. Return on invested capital (ROIC) berada di atas 10 persen, mencerminkan efisiensi modal yang digunakan. Debt to equity ratio (DER) HRTA terjaga di 0,6 kali, menunjukkan struktur permodalan yang sehat dan terkontrol.
Dividen menjadi daya tarik lain bagi investor. HRTA konsisten membagikan dividen tunai dengan payout ratio sekitar 40 persen dari laba bersih. Pada 2024, perusahaan membagikan dividen Rp120 miliar atau setara Rp55 per saham, dan tren ini diproyeksikan berlanjut di 2025.
Dalam jangka menengah, HRTA menjalankan strategi ekspansi jaringan toko modern dengan merek Aurum Collection Center (ACC). Perusahaan juga meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan emas domestik yang tumbuh rata-rata 8 persen per tahun. Diversifikasi produk perhiasan dan optimalisasi rantai distribusi memperkuat daya saing perusahaan.
Jika seluruh ekspansi berjalan sesuai target, HRTA berpotensi memperbesar pangsa pasar perhiasan emas nasional menjadi lebih dari 20 persen pada 2027. Dengan dukungan harga emas global yang tinggi dan permintaan ritel domestik yang solid, prospek bisnis HRTA diproyeksikan semakin kuat.
Potensi kenaikan valuasi saham tetap terbuka melalui kombinasi pertumbuhan produksi, margin usaha stabil, dan strategi ekspansi jangka menengah.
Saham ARCI Masih di Bawah Harga Wajar
Setelah meninjau prospek HRTA yang berfokus pada bisnis perhiasan emas dengan jaringan ritel luas, perhatian investor juga tertuju pada segmen pertambangan emas murni. Archi Indonesia hadir sebagai salah satu pemain besar di industri ini dengan basis produksi dari tambang Toka Tindung.
Perbedaan model bisnis HRTA dan ARCI justru memberikan gambaran lengkap bahwa peluang investasi emas di BEI terbuka lebar, baik dari sisi ritel maupun tambang.
ARCI menjadi salah satu emiten emas dengan prospek kuat. Dengan harga saham Rp1.030 pada 30 September 2025, valuasinya belum sepenuhnya mencerminkan kinerja keuangan yang membaik. Screening merujuk laporan keuangan menegaskan adanya ruang kenaikan valuasi saham ARCI di tengah tren harga emas dunia yang menembus rekor baru.
Harga wajar saham ARCI diperkirakan Rp1.600 per saham dengan metode P/E ratio. EPS semester I 2025 tercatat Rp32 dan jika disetahunkan menjadi Rp64, lalu dikalikan target P/E 25 kali menghasilkan Rp1.600. Dengan harga Rp1.030, saham ARCI memiliki potensi kenaikan sebesar 55 persen.
P/E rasio ARCI saat ini berada di kisaran 16 kali, lebih rendah dari rata-rata industri pertambangan emas global yang berada di 20–22 kali. P/BV sebesar 1,9 kali, dengan ekuitas Rp11,2 triliun per Juni 2025 dan jumlah saham beredar 9,5 miliar lembar menghasilkan BVPS Rp1.050. Dengan harga Rp1.030, saham ARCI diperdagangkan mendekati nilai buku, memperlihatkan valuasi yang masih wajar.
Pendapatan ARCI pada 2024 tercatat USD780 juta dengan laba bersih USD142 juta. Pada semester I 2025, perusahaan mencatat pendapatan USD420 juta dengan laba bersih USD81 juta. Jika tren ini berlanjut, pendapatan penuh 2025 bisa menembus USD850 juta dengan laba bersih USD160 juta, atau tumbuh masing-masing 9 persen dan 12 persen dibanding 2024.
Produksi emas ARCI pada 2024 mencapai 130 ribu ons dari tambang Toka Tindung di Sulawesi Utara. Pada paruh pertama 2025, produksi sudah melebihi 70 ribu ons yang menghasilkan penjualan USD420 juta.
Dengan peningkatan kapasitas, total produksi penuh 2025 diperkirakan mencapai 145 ribu hingga 150 ribu ons emas, atau naik 15 persen dibanding tahun sebelumnya.
Skenario konservatif menggunakan asumsi harga emas stabil di USD3.800 per ons dengan produksi 145 ribu ons, menghasilkan pendapatan USD830 juta dan laba bersih USD155 juta.
Skenario agresif menggunakan asumsi harga emas menembus USD4.000 per ons dengan produksi 150 ribu ons, sehingga pendapatan bisa mencapai USD880 juta dengan laba bersih USD170 juta. Dengan rata-rata biaya produksi (all-in sustaining cost/AISC) ARCI sekitar USD1.100 per ons, margin laba kotor tetap terjaga tinggi di atas 65 persen.
Rasio profitabilitas juga menunjukkan tren positif. ROA ARCI semester I 2025 tercatat 6,5 persen, ROE 11,2 persen, dan ROIC 10,7 persen. DER berada di 0,7 kali, menunjukkan struktur modal yang sehat dan ruang bagi ekspansi. Net debt/EBITDA juga terjaga di bawah 2 kali, menandakan risiko leverage rendah.
ARCI konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham. Pada 2024, perusahaan membayar dividen Rp400 miliar atau sekitar Rp42 per saham, dengan payout ratio 35 persen. Dengan laba bersih 2025 yang berpotensi Rp160 miliar, proyeksi dividen bisa naik ke Rp50 per saham jika payout ratio tetap terjaga.
Dalam jangka menengah, ARCI fokus pada ekspansi kapasitas produksi tambang Toka Tindung. Perusahaan sedang mengembangkan pit baru untuk meningkatkan cadangan terbukti dan terukur, yang saat ini mencapai 3,7 juta ons emas.
Investasi teknologi pengolahan bijih bertujuan menurunkan biaya produksi sekaligus meningkatkan recovery rate emas hingga di atas 90 persen.
Jika seluruh rencana ekspansi berjalan sesuai target, ARCI berpotensi meningkatkan produksi emas menjadi 160 ribu ons per tahun mulai 2026. Dengan cadangan emas yang cukup untuk menopang produksi lebih dari 15 tahun ke depan, prospek ARCI semakin terjaga.
Dukungan harga emas global yang masih bullish dan kebutuhan pasar domestik yang terus tumbuh menjadikan ruang kenaikan valuasi saham semakin terbuka di tahun-tahun mendatang. (*)