Insight Daily 02 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Terkoreksi di Hari RUPS, Begini Nasib Saham ADRO Selanjutnya

Harga ADRO turun saat RUPS digelar, sinyal teknikal memburuk, aksi asing mendominasi jual, dan support Rp2.000 jadi titik krusial.

KABARBURSA.COM – Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tertekan saat RUPS digelar. Di hari yang sama, buyback senilai Rp4 triliun rampung, tapi harga justru longsor ke Rp2.130. Asing melepas dalam jumlah jumbo dan sinyal teknikal mulai goyah. Apakah ini tanda koreksi baru akan dimulai?

Saham ADRO melemah di tengah berakhirnya buyback dan tekanan asing. Simak analisis teknikal dan proyeksi arah harga menuju zona support Rp2.000. Foto: KabarBurs
Saham ADRO melemah di tengah berakhirnya buyback dan tekanan asing. Simak analisis teknikal dan proyeksi arah harga menuju zona support Rp2.000. Foto: KabarBurs

Insight Navigator

  1. 01 Tekanan Asing saat Euforia Buyback Surut
  2. 02 Sinyal Distribusi dari Candlestick dan Indikator Teknis

Tekanan Asing saat Euforia Buyback Surut

RUPS ADRO yang digelar Senin, 2 Juni 2025, justru diwarnai tekanan jual. Harga saham ditutup melemah 3,18 persen ke level Rp2.130, turun cukup dalam dari posisi pembukaan yang masih menyentuh Rp2.180. Rentang pergerakan intraday menyempit di kisaran Rp2.110–Rp2.210, memperlihatkan pasar mulai kehilangan arah setelah sentimen buyback mereda.

Padahal, program pembelian kembali saham yang dilaksanakan sejak 16 Mei dengan anggaran jumbo Rp4 triliun resmi berakhir tepat di hari RUPS. Namun alih-alih menahan tekanan, aksi korporasi ini tampak gagal menjadi penopang harga. Sinyal pelemahan justru muncul bersamaan dengan selesainya fase pertama buyback. Momentum yang sebelumnya memberi dukungan psikologis bagi investor, kini tak lagi memberi efek berarti.

Data perdagangan menunjukkan bahwa tekanan terbesar datang dari investor asing. Dalam satu hari, net sell asing di seluruh pasar mencapai Rp112 miliar. Lebih rinci, total penjualan asing tercatat Rp151,55 miliar, sementara pembeliannya hanya Rp40 miliar. Dengan kata lain, investor luar tidak lagi tertarik mempertahankan posisi di ADRO, bahkan saat perusahaan baru saja menyelesaikan agenda penting tahunan.

Volume perdagangan yang tercatat juga tak main-main—menyentuh 1,38 juta lot. Artinya, tekanan jual terjadi dalam skala besar dan diserap mayoritas oleh investor domestik. Namun kekuatan lokal ini tampaknya belum cukup mengimbangi arus keluar dari dana asing.

Jika menilik susunan mata acara RUPS, tak ada keputusan strategis yang mengejutkan pasar. Dividen, laporan keuangan, dan program lanjutan buyback memang disahkan, tapi tidak menambah energi baru bagi pergerakan harga. Dalam konteks teknikal dan psikologis, RUPS ini bisa dibilang ‘dingin’—formalitas yang datang di saat pasar butuh kejutan positif.

Sinyal Distribusi dari Candlestick dan Indikator Teknis

Tekanan jual yang muncul di hari RUPS bukan semata peristiwa tunggal. Secara teknikal, saham ADRO memang menunjukkan gejala melemah sejak pekan lalu. Berdasarkan data Investing, indikator-indikator kunci seperti RSI, MACD, hingga ADX kompak memberi sinyal negatif. Per 2 Juni 2025 pukul 10.56 WIB, semua 9 indikator teknikal utama menyuarakan Strong Sell.

RSI (14) tercatat 41,85—turun menuju zona jenuh jual. Stochastic dan Williams %R bahkan sudah berada di bawah threshold oversold, memperkuat sinyal pelemahan. MACD juga menyilang negatif, dengan nilai -12,41, mengindikasikan momentum turun yang mulai menguat. ADX sebesar 51,5 menunjukkan tren kuat, tapi arahnya negatif. Semua ini menyiratkan tekanan teknikal yang konsisten, bukan hanya reaksi sesaat atas RUPS.

Tekanan tersebut makin terasa ketika kita menilik pola pergerakan harga terhadap moving average. MA jangka pendek (MA5, MA10, MA20, hingga MA50) seluruhnya berada di atas harga saat ini dan memberi sinyal jual. Hanya MA100 dan MA200 yang masih berada di bawah, tetapi gap-nya menyempit, memperbesar kemungkinan terjadi death cross jangka menengah jika tekanan berlanjut.

Di sisi pola candlestick, sinyal bearish datang bertubi-tubi. Pola Three Black Crows, Dark Cloud Cover, hingga Engulfing Bearish muncul di chart harian dan mingguan menjelang RUPS. Bahkan pada grafik 30 menit dan 1 jam, pola seperti Evening Doji Star dan Falling Three Methods makin menegaskan bahwa distribusi besar-besaran tengah berlangsung.

Secara keseluruhan, arah harga teknikal cenderung bearish. Jika tekanan asing masih dominan dan tidak ada katalis baru dari aksi korporasi, potensi koreksi menuju zona support Rp2.050—bahkan menembus ke Rp2.000—bukan sekadar kemungkinan, tapi ancaman nyata.

Pada grafik mingguan yang diambil dari Stockbit, tampak candle merah dominan di akhir Mei hingga awal Juni 2025. Volume transaksi juga meningkat signifikan dibanding minggu-minggu sebelumnya dengan puncak volume terjadi di pertengahan Mei—periode saat program buyback mulai aktif. Menurut teori teknikal klasik, kombinasi candle turun dengan volume besar sering diasosiasikan dengan fase distribusi, terutama jika terjadi setelah fase akumulasi yang ditandai dengan kenaikan tajam.

Dari grafik pergerakan harga harian (intraday), ADRO diperdagangkan dalam rentang sempit antara Rp2.110 hingga Rp2.210 pada 2 Juni 2025. Harga penutupan di Rp2.130 juga berada di bawah harga pembukaan (Rp2.200), menciptakan candle merah dengan ekor atas yang lebih panjang. Pola ini dalam teori candlestick mencerminkan tekanan jual intraday yang menekan harga setelah pembukaan yang optimis.

Sementara itu, berdasarkan data ringkasan broker, aktivitas beli terbesar datang dari broker Stockbit Sekuritas Indonesia (Rp31,8 miliar), diikuti Mirae Aset Sekuritas Indonesia (Rp22,2 miliar), dan Mandiri Sekuritas (Rp16,5 miliar). Ketiganya membeli dengan rata-rata harga di kisaran Rp2.141–2.145. Sementara itu, sisi jual didominasi oleh broker Maybank Sekuritas Indonesia (Rp36,7 miliar), OCBC Sekuritas Indonesia (Rp31,5 miliar), dan J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (Rp13,7 miliar), dengan rata-rata harga jual serupa.

Dalam terminologi distribusi pasar, jumlah penjualan yang besar dari broker tertentu tanpa diimbangi akumulasi jangka panjang dapat diidentifikasi sebagai tanda distribusi aktif. Namun dalam penilaian yang berbasis teori bandarmologi, distribusi harus dikonfirmasi dengan pola jangka waktu yang konsisten dan bukan berdasar satu hari transaksi semata.

Dari sisi aktivitas asing, tercatat total net foreign sell sebesar Rp112 miliar di seluruh pasar. Total pembelian asing sebesar Rp40 miliar, sementara penjualan asing tercatat Rp151,55 miliar. Ini berarti investor asing menjual saham ADRO hampir empat kali lipat lebih besar dari nilai belinya. Secara persentase, partisipasi asing menyumbang 32,46 persen dari total nilai transaksi.

Jika dilihat dari volume (lembar saham), asing membeli 18,71 juta lembar dan menjual 70,67 juta lembar, dengan rasio partisipasi 27,37 persen terhadap total volume. Sisanya didominasi oleh investor domestik (sekitar 67–72 persen tergantung metrik nilai, volume, atau frekuensi).

Secara teknikal, zona Rp2.000–2.100 menjadi area penting yang patut dipantau oleh pelaku pasar. Jika harga menembus ke bawah Rp2.100 disertai peningkatan volume, maka potensi pelemahan lanjutan ke kisaran Rp1.980–2.000 terbuka lebar menurut prinsip support-resistance klasik.

Bagi pelaku pasar jangka pendek, kondisi saat ini menunjukkan risiko yang cukup tinggi untuk manuver spekulatif. Tanpa dukungan volume beli yang kuat atau sinyal pembalikan arah yang jelas, pergerakan harga cenderung tidak stabil dan mudah dipengaruhi aksi jual lanjutan.

Bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang, fase seperti ini umumnya dianggap sebagai tahap observasi—menunggu pembentukan area konsolidasi baru atau munculnya sinyal akumulasi teknikal di level bawah. Tanpa konfirmasi pola pembalikan arah yang jelas, aksi spekulatif jangka pendek cenderung berisiko tinggi.

Dalam konteks saat ini, euforia pasca-RUPS sebaiknya disikapi hati-hati. Hingga ada sinyal kuat berupa rebound teknikal atau konfirmasi akumulasi institusi, pendekatan wait and see tetap menjadi langkah analitis yang dapat dipertimbangkan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya