KABARBURSA.COM – Setelah dua tahun menghadapi tekanan pendanaan dan perlambatan belanja digital, emiten-emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menampilkan tanda pemulihan hingga akhir kuartal III 2025.
Menurut data Laporan Ekonomi Digital Indonesia 2025 dari Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), nilai ekonomi digital nasional tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong peningkatan permintaan pada layanan berbasis cloud dan infrastruktur data.
Dari sisi pasar modal, indeks sektor teknologi BEI (IDXTECHNO) juga naik 6,3 persen year to date (ytd) hingga akhir September 2025, mencerminkan pergeseran minat investor ke perusahaan dengan neraca kas positif dan efisiensi beban operasi.
Sebanyak 13 dari 20 emiten teknologi yang telah merilis laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2025 membukukan laba bersih positif, meningkat dibanding sembilan perusahaan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan rekap data dari 20 laporan keuangan yang diajukan ke BEI, total pendapatan agregat sektor naik dari sekitar Rp84,7 triliun pada 9M24 menjadi Rp91,5 triliun pada 9M25, atau tumbuh 7,9 persen secara tahunan.
Rata-rata margin laba bersih (net profit margin/NPM) tercatat 2,8 persen, sedikit menurun dari 3,2 persen pada 9M24, sementara posisi kas kolektif turun 10 hingga 15 persen atau Rp54,2 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp46,8 triliun per September 2025, akibat pembiayaan proyek dan pelunasan utang jangka pendek.
Rasio keuangan sektor teknologi juga menunjukkan arah yang lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan data IDX Sectoral Statistics per September 2025, rata-rata rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) sektor teknologi berada di level 0,65 kali, menurun dari 0,71 kali pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini terutama disumbang oleh subsektor integrator sistem yang mencatat penurunan utang jangka pendek masing-masing antara 8 hingga 12 persen yoy.
Di sisi lain, kebutuhan belanja modal tetap tinggi menunjukkan pengeluaran investasi mencapai lebih dari Rp4,5 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini, sebagian besar untuk penguatan infrastruktur teknologi dan perluasan jaringan layanan digital.
Pada kelompok platform digital, tiga pemain utama, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), dan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), masih menjadi penopang utama volume transaksi daring di Tanah Air.
GOTO mencatat pendapatan Rp30,9 triliun atau tumbuh 7 persen yoy, dengan EBITDA disesuaikan berbalik positif Rp672 miliar dan rugi bersih Rp1,3 triliun. BUKA meraih pendapatan Rp2,69 triliun dengan rugi bersih Rp231 miliar, sementara BELI mencatatkan pendapatan Rp5,56 triliun dan rugi bersih Rp307 miliar.
Ketiganya masih menghadapi tekanan biaya promosi dan insentif, sebagaimana tercatat pada laporan laba rugi, yakni pos “marketing and promotion expenses” GOTO mencapai Rp3,4 triliun, BUKA Rp1,2 triliun, dan BELI Rp940 miliar hingga akhir September 2025.
Dari segmen integrator sistem dan solusi teknologi informasi, kinerja terlihat lebih solid. PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI) membukukan pendapatan Rp3,26 triliun dengan laba bersih Rp310,34 miliar, sedangkan PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) mencatat pendapatan Rp14,1 triliun dan laba bersih Rp532 miliar.
PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) meraih pendapatan Rp6,45 triliun dan laba bersih Rp252,55 miliar, sementara PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) mencatat pendapatan Rp2,74 triliun dan laba Rp268 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan keempatnya, marjin laba kotor rata-rata 16 persen, dan marjin laba bersih 8 hingga 10 persen, menjadikan subsektor ini penyumbang terbesar bagi total kapitalisasi sektor teknologi di BEI, yakni sekitar 46 persen per akhir kuartal III 2025.
Kinerja kuat juga terlihat pada subsektor data center dan infrastruktur digital. PT Indonet Tbk (EDGE) mencatat pendapatan Rp1,22 triliun, naik 18 persen secara tahunan dengan laba bersih Rp312 miliar.
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) membukukan pendapatan Rp2,07 triliun dan laba bersih Rp659 miliar, sedangkan PT Dunia Virtual Online Tbk (AREA) menghasilkan pendapatan Rp37,45 miliar dengan laba bersih Rp6,34 miliar.
Ketiga perusahaan melaporkan peningkatan permintaan layanan colocation dan cloud enterprise, sejalan dengan data Kominfo Digital Infrastructure Outlook 2025 yang menyebut pertumbuhan kapasitas pusat data nasional mencapai 21 persen yoy hingga akhir September.
Sebaliknya, subsektor media digital dan periklanan interaktif menunjukkan hasil yang beragam. PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) mencatat pendapatan Rp492,01 miliar, turun hampir setengah dari tahun sebelumnya, namun berhasil membalikkan rugi menjadi laba bersih Rp28,48 miliar setelah dekonsolidasi dua entitas anak.
PT WIR Asia Tbk (WIRG) membukukan pendapatan Rp682 miliar dengan rugi bersih Rp114 miliar, sedangkan PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) memperoleh pendapatan Rp1,17 triliun dan laba bersih Rp29,6 miliar.
Aktivitas di lini ini masih tertekan penurunan belanja iklan digital dan rasionalisasi proyek kemitraan, selaras dengan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mencatat penurunan belanja iklan digital nasional sebesar 9,8 persen yoy hingga September 2025.
Pada subsektor perangkat keras dan manufaktur elektronik, pemulihan terlihat lebih kuat dibanding lini digital. PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) mencatat pendapatan USD177,86 juta, naik hampir dua kali lipat dari USD92,79 juta pada periode sama tahun lalu, dengan laba bersih USD10,40 juta.
PT Remala Abadi Tbk (REAL) membukukan pendapatan Rp193,8 miliar dan laba bersih Rp9,8 miliar, sementara PT Planet Teknologi Digital Tbk (CHIP) mencatat pendapatan Rp455,7 miliar dan laba Rp14,2 miliar.
Kinerja positif ini sejalan dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Sektor Industri Elektronika yang mencatat kenaikan ekspor komponen elektronik sebesar 42,5 persen yoy hingga September 2025, serta peningkatan permintaan perangkat elektronik domestik sebesar 11,3 persen selama periode yang sama.
Secara umum, struktur keuangan sektor teknologi menunjukkan posisi yang lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata kas dan setara kas menurun 10 hingga 15 persen secara tahunan, namun 70 persen perusahaan mencatat arus kas operasi positif.
Kontribusi kapitalisasi pasar juga mengalami pergeseran. Subsektor integrator sistem dan solusi korporasi kini menyumbang sekitar 46 persen dari total kapitalisasi sektor teknologi di BEI, diikuti platform digital sebesar 34 persen, data center 15 persen, dan sisanya berasal dari lini media digital serta perangkat keras.
Data IDX Financial Indicators Q3-2025 menunjukkan bahwa rasio likuiditas (current ratio) sektor teknologi berada di kisaran 1,4 kali, lebih tinggi dari rata-rata sektor non-keuangan nasional di 1,2 kali.
Apakah Sektor Teknologi Masih Menarik atau Harus Ubah Arah?
Berdasarkan proyeksi PwC Indonesia Technology Industry Outlook 2026, pertumbuhan rata-rata pendapatan sektor teknologi nasional diperkirakan berada di kisaran 8 hingga 10 persen per tahun selama dua tahun ke depan, seiring kenaikan belanja korporasi pada solusi digital, keamanan siber, dan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Jika tren margin bersih 9M25 sebesar 2,8 persen bertahan dan pendapatan agregat sektor tumbuh moderat 8 persen pada 2026, maka total laba bersih sektor berpotensi mencapai sekitar Rp2,56 triliun, naik dari estimasi laba agregat Rp2,36 triliun pada 2025.
Namun, proyeksi konservatif dari IDX Sectoral Outlook Q4-2025 menyebut subsektor platform digital masih akan menghadapi tekanan kas dan promosi hingga pertengahan 2026, dengan estimasi belanja insentif e-commerce sekitar 3,5–4 persen dari pendapatan.
Dalam simulasi net margin, jika beban promosi turun satu poin persentase, GOTO dan BELI berpotensi menekan rugi bersih hingga Rp900 miliar di 2026, dibanding posisi 9M25 yang masih di atas Rp1,3 triliun.
Sebaliknya, subsektor integrator sistem dan data center menunjukkan ruang pertumbuhan yang lebih stabil.
Dengan marjin laba bersih rata-rata 8–10 persen dan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan 10–12 persen, MSTI, MTDL, ATIC, dan EDGE berpotensi menghasilkan tambahan laba sekitar Rp800–900 miliar secara agregat pada 2026, jika rasio biaya tetap terhadap pendapatan tetap di bawah 4 persen.
Dari sisi valuasi, data BEI menunjukkan kapitalisasi pasar sektor teknologi per September 2025 mencapai Rp615 triliun, dengan rasio price-to-earnings (PER) median 22,4 kali dan price-to-book value (PBV) 2,1 kali.
Sektor integrator dan data center mencatat rerata PER lebih rendah di kisaran 13–15 kali, dibanding subsektor platform digital yang masih berada di atas 40 kali.
Dengan asumsi pertumbuhan laba bersih agregat 9 persen per tahun, maka rasio PER sektor dapat turun ke sekitar 20 kali pada 2026, mendekati rerata valuasi sektor keuangan dan infrastruktur.
Dari perspektif makro, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional 2026 di kisaran 5,3 persen, dengan investasi teknologi informasi menjadi salah satu komponen utama pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Jika proporsi investasi teknologi terhadap PDB tetap di kisaran 2,1 persen, nilai tambahan belanja digital nasional dapat mencapai Rp230 triliun pada tahun depan.
Angka ini menjadi potensi pasar langsung bagi subsektor integrator sistem, data center, dan keamanan siber yang saat ini mendominasi kontrak korporasi.
Berdasarkan simulasi kombinasi pertumbuhan pendapatan, margin stabil, dan rasio leverage 0,65 kali, sektor teknologi Indonesia masih memiliki ruang kenaikan laba agregat 8–10 persen dalam jangka 12–18 bulan ke depan.
Namun, risiko penurunan tetap muncul pada subsektor dengan arus kas negatif dan beban insentif tinggi, terutama platform digital berbasis transaksi ritel. (*)