Insight Daily 16 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

SWAT: dari IPO Rp160 ke Rp600, Jejak Manipulasi 640 Juta Saham

OJK limpahkan empat tersangka kasus SWAT, ungkap 60.121 transaksi nominee senilai Rp230,89 miliar yang membentuk harga dari IPO Rp160 hingga sempat menyentuh Rp600.

KABARBURSA.COM – Kasus dugaan pembentukan harga semu saham PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) memasuki babak baru setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melimpahkan berkas tersangka Direktur Utama SWAT Shio Alim Susanto, pada 28 Januari 2026. Pelimpahan ini menyusul tiga tersangka lain yang lebih dahulu diserahkan ke kejaksaan pada 13 Januari 2026, masing-mas...

Kasus saham gorengan SWAT melibatkan bos Sritex dan kini tengah diproses di Kejaksaan Surabaya. (Foto: Dok Sriwahana Adityakarta Tbk)
Kasus saham gorengan SWAT melibatkan bos Sritex dan kini tengah diproses di Kejaksaan Surabaya. (Foto: Dok Sriwahana Adityakarta Tbk)

Insight Navigator

  1. 01 Struktur Korporasi dan Kepemilikan
  2. 02 Kronologi Harga: dari IPO ke Puncak
  3. 03 Dugaan Pembentukan Harga Semu
  4. 04 Dari Perusahaan Cangkang hingga Nominee
  5. 05 Seret Bos Sritex
  6. 06 Profil Bisnis dan Perkembangan Operasi
  7. 07 Fundamental Amburadul SWAT
  8. 08 Pertumbuhan Kerja Terkontraksi
  9. 09 SWAT di Zona Abu-abu
  10. 10 Dampak terhadap Pemegang Saham

KABARBURSA.COM – Kasus dugaan pembentukan harga semu saham PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) memasuki babak baru setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melimpahkan berkas tersangka Direktur Utama SWAT Shio Alim Susanto, pada 28 Januari 2026. 

Pelimpahan ini menyusul tiga tersangka lain yang lebih dahulu diserahkan ke kejaksaan pada 13 Januari 2026, masing-masing berinisial CKN, SB, dan H.

Perkara ini menempatkan SWAT dalam daftar emiten yang terseret kasus hukum pasar modal, khususnya terkait dugaan manipulasi harga saham.

Struktur Korporasi dan Kepemilikan

Berdasarkan data terakhir, SWAT memiliki 5.684 pemegang saham per akhir Januari 2026. Struktur kepemilikan menunjukkan PT Sumber Makmur Lumintu sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 2,33 miliar saham atau 77,22 persen.

Kepemilikan publik (free float) tercatat sebesar 21,99 persen saat IPO. Direksi dan komisaris juga memiliki porsi saham, dengan Shio Alim Susanto menggenggam 23,55 juta saham atau 0,78 persen dan Yan Ginarsatwardi memiliki 519 ribu saham atau 0,02 persen.

Anak usaha utama SWAT adalah PT Mulia Cipta Teknologi yang bergerak di industri dan perdagangan umum, dengan total aset Rp315,09 miliar dan kepemilikan 99,80 persen oleh SWAT per pembaruan kuartal III 2024.

SWAT tercatat di papan Pemantauan Khusus Bursa Efek Indonesia, sebuah klasifikasi bagi emiten dengan kondisi tertentu sesuai ketentuan bursa.

Kronologi Harga: dari IPO ke Puncak

SWAT mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juni 2018 dengan harga penawaran umum perdana Rp160 per saham. Jumlah saham yang dilepas sebanyak 664,2 juta lembar dengan dana yang dihimpun Rp106,27 miliar.

Dalam perjalanannya, harga saham SWAT sempat mencapai kisaran Rp600 per saham pada periode sekitar pertengahan 2018, tidak lama setelah pencatatan saham. Kenaikan tersebut berarti lonjakan sekitar 275 persen dari harga IPO.

Pergerakan dari Rp160 menuju Rp600 mencerminkan peningkatan harga lebih dari tiga kali lipat dalam periode relatif singkat. Level tersebut kemudian menjadi titik tertinggi historis sebelum saham memasuki fase penurunan tajam.

Saat ini, harga SWAT berada di level Rp16 per saham. Posisi tersebut menunjukkan koreksi sekitar 90 persen dari harga IPO dan sekitar 97 persen dari level tertinggi di kisaran Rp600.

Dengan harga Rp16 per saham dan jumlah pemegang saham 5.684 pihak, kapitalisasi pasar SWAT menyusut signifikan dibanding periode awal pencatatan.

Dugaan Pembentukan Harga Semu

OJK menyatakan pelimpahan berkas tersangka terkait dugaan pembentukan harga semu saham SWAT. Dalam konteks pasar modal, pembentukan harga semu merujuk pada praktik yang menciptakan kesan pergerakan harga atau transaksi yang tidak mencerminkan mekanisme pasar wajar.

Keterlibatan Direktur Utama SWAT dalam perkara ini menunjukkan bahwa proses hukum menyentuh level manajemen tertinggi perusahaan. Tiga tersangka lain yang telah lebih dahulu dilimpahkan berasal dari latar belakang manajerial dan individu swasta.

Kasus ini menjadi relevan dalam membaca pola kenaikan harga tajam pada periode awal perdagangan saham SWAT.

Dari Perusahaan Cangkang hingga Nominee

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap bahwa empat tersangka menggunakan rekening efek dan rekening bank atas nama pihak lain atau nominee, termasuk pegawai dan perusahaan cangkang. 

Meski tercatat atas nama berbeda, rekening-rekening tersebut dikendalikan oleh para tersangka sebagai beneficial owner. Skema ini memungkinkan pengendalian terpusat atas sejumlah akun yang secara administratif terlihat terpisah.

Rekening nominee tersebut digunakan dalam dua tahap. Pertama, untuk memperoleh penjatahan saham saat IPO SWAT. Kedua, untuk melakukan transaksi di Pasar Reguler Bursa Efek Indonesia setelah saham tercatat pada 8 Juni 2018.

Data penyidikan menunjukkan transaksi melalui rekening nominee mencapai 60.121 kali pertemuan transaksi atau sekitar 10 persen dari total pertemuan transaksi selama periode tersebut. Dari sisi volume, transaksi mencapai 639.778.200 saham atau 14,7 persen dari total volume perdagangan. 

Nilai transaksinya tercatat Rp230,89 miliar atau sekitar 13,3 persen dari total nilai transaksi.

Proporsi ini menunjukkan bahwa sebagian signifikan aktivitas perdagangan berasal dari kelompok rekening yang dikendalikan oleh pihak yang sama. Dengan pangsa volume mendekati 15 persen dan nilai lebih dari 13 persen, aktivitas tersebut memiliki bobot yang cukup untuk memengaruhi dinamika harga dan likuiditas.

OJK menyebut pola yang digunakan meliputi dominasi transaksi, pertemuan transaksi, serta menjadi inisiator beli untuk mendorong kenaikan harga. Dalam konteks mikrostruktur pasar, inisiator beli berarti pihak yang secara aktif menempatkan order beli pada harga penawaran terbaik, sehingga mendorong harga naik. 

Pola buying market impact merujuk pada strategi pembelian agresif yang menciptakan tekanan naik pada harga melalui akumulasi dalam waktu relatif singkat.

Periode 8 Juni hingga 5 Juli 2018 menjadi rentang waktu utama terjadinya pola tersebut. Rentang ini bertepatan dengan fase awal perdagangan saham SWAT setelah IPO, ketika likuiditas dan pembentukan harga masih sangat dipengaruhi oleh aktivitas transaksi awal.

Dengan memanfaatkan sejumlah rekening nominee dan melibatkan sembilan perusahaan efek, transaksi dilakukan melalui berbagai jalur distribusi sehingga secara administratif tersebar. Namun secara substansi, kendali berada pada pihak yang sama. 

Struktur ini menciptakan gambaran semu mengenai minat pasar, frekuensi transaksi, serta pembentukan harga.

Penggunaan perusahaan cangkang dan pegawai sebagai nominee memperluas jangkauan akun yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi silang atau transaksi berulang antar rekening yang terafiliasi. 

Dalam praktiknya, dominasi pada sisi beli dan intensitas pertemuan transaksi dapat membentuk persepsi likuiditas tinggi serta tren kenaikan harga yang terlihat organik.

Data menunjukkan bahwa hampir 640 juta saham diperdagangkan melalui jaringan rekening tersebut. Jika dikaitkan dengan periode awal perdagangan pasca-IPO, volume sebesar itu berkontribusi signifikan terhadap pembentukan harga pada fase ketika saham bergerak dari harga penawaran umum Rp160 menuju level yang lebih tinggi dalam waktu relatif singkat.

Secara struktur, modus ini terdiri atas tiga elemen utama, yaitu penguasaan penjatahan awal melalui rekening nominee, pengendalian transaksi pasar sekunder melalui banyak akun, serta penggunaan pola pembelian agresif untuk menciptakan dampak harga. 

Kombinasi ketiga elemen tersebut membentuk siklus pembentukan harga yang tidak sepenuhnya mencerminkan interaksi independen antara penawaran dan permintaan.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana penguasaan distribusi saham sejak IPO dan pengendalian aktivitas perdagangan melalui rekening yang terkoordinasi dapat memengaruhi statistik transaksi, volume, dan harga pada periode awal pencatatan saham di bursa.

Seret Bos Sritex

Perkembangan perkara dugaan manipulasi saham PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) menunjukkan adanya keterkaitan dengan entitas dalam grup usaha tekstil yang memiliki relasi bisnis dengan SWAT. 

Dalam proses hukum yang ditangani Kejaksaan Negeri Boyolali, terungkap aliran dana yang masuk ke kas PT Senang Kharisma Textile (SKT), anak usaha PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).

Berdasarkan informasi perkara, praktik yang disidik berawal dari dugaan rekayasa transaksi oleh pihak berinisial SAS dan SB. Keduanya diduga membuat dan menggunakan rekening efek atas nama pihak lain dalam jumlah besar. 

Rekening tersebut mencakup nama pegawai SWAT maupun pegawai yang memiliki keterkaitan dengan Sritex.

Rekening efek atas nama nominee tersebut kemudian digunakan untuk melakukan pembelian saham SWAT secara terkoordinasi. Pola pembelian dilakukan dalam jumlah signifikan dalam periode relatif singkat. 

Aktivitas tersebut menciptakan kesan adanya lonjakan permintaan yang tinggi terhadap saham SWAT di pasar reguler.

Dengan penggunaan banyak rekening atas nama berbeda, transaksi terlihat tersebar di berbagai akun. Namun, kendali transaksi diduga berada pada pihak yang sama. Pola ini menghasilkan gambaran bahwa saham SWAT mengalami peningkatan minat pasar secara luas, padahal transaksi terpusat pada kelompok tertentu.

Kasus ini menempatkan hubungan bisnis antara SWAT dan entitas dalam grup Sritex sebagai bagian dari kronologi yang diperiksa aparat penegak hukum. Rangkaian penggunaan rekening pinjam, pembelian terkoordinasi, serta aliran dana ke entitas terkait menjadi elemen yang membentuk konstruksi perkara yang sedang berjalan di ranah hukum.

Profil Bisnis dan Perkembangan Operasi

Didirikan dengan fasilitas awal pada 1990 di Sukoharjo, SWAT bergerak di bidang kemasan karton bergelombang, paper tube, dan paper cone. Ekspansi fasilitas dilakukan pada 2014 melalui pemasangan mesin bergelombang di Sawit, Boyolali, dengan luas terpasang 4.200 meter persegi.

Perusahaan memposisikan diri sebagai penyedia solusi kemasan untuk kebutuhan industri, termasuk perusahaan multinasional. Model bisnisnya berbasis manufaktur dengan fokus pada industri bergelombang.

Struktur usaha menunjukkan kepemilikan hampir penuh pada entitas anak PT Mulia Cipta Teknologi, yang memiliki total aset lebih dari Rp315 miliar per kuartal III 2024.

Fundamental Amburadul SWAT

Jika melihat fundamental PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT), tampak sekali tekanan yang merata pada sisi profitabilitas, arus kas, dan struktur permodalan, berdasarkan data keuangan terakhir yang tersedia.

Dari sisi valuasi, rasio price to earnings (PE) berada di area negatif dengan PE tahunan minus 1,88 dan PE TTM minus 1,62. Earnings yield tercatat minus 61,61 persen, mencerminkan posisi laba bersih yang masih negatif. 

EPS TTM berada di level minus Rp9,86 per saham, sementara EPS tahunan minus Rp8,53. Dengan harga saham Rp16 dan book value per share Rp60,57, price to book value (PBV) berada di kisaran 0,26 kali. Price to sales juga 0,26 kali, berdasarkan revenue per share Rp60,69.

Pendapatan perseroan dalam 12 bulan terakhir mencapai Rp183 miliar. Namun, laba bersih TTM tercatat minus Rp30 miliar. Secara tahunan, SWAT membukukan rugi Rp26 miliar pada 2024 dan rugi Rp25 miliar pada 2023, setelah sebelumnya mencatat rugi Rp58 miliar pada 2022 dan Rp70 miliar pada 2021. 

Terakhir kali perusahaan membukukan laba tahunan terjadi pada 2020 sebesar Rp2 miliar dan 2019 sebesar Rp3 miliar.

Margin usaha mencerminkan tekanan operasional. Gross profit margin kuartalan berada di minus 7,77 persen, operating profit margin minus 19,72 persen, dan net profit margin minus 21,10 persen. 

Pertumbuhan Kerja Terkontraksi

Pertumbuhan kinerja juga terkontraksi, dengan revenue kuartalan turun 24,27 persen secara tahunan, gross profit tertekan 173,99 persen, dan laba bersih turun 235,22 persen.

Dari sisi arus kas, cash flow from operations TTM tercatat minus Rp20 miliar. Free cash flow TTM minus Rp21 miliar, dengan belanja modal sekitar Rp1 miliar. Arus kas dari pendanaan juga negatif Rp8 miliar, sementara arus kas investasi minus Rp1 miliar. 

Kondisi ini menunjukkan tekanan likuiditas operasional meskipun perusahaan masih memiliki kas Rp19 miliar per kuartal.

Struktur permodalan menunjukkan total aset Rp609 miliar dan total liabilitas Rp426 miliar, dengan total ekuitas Rp183 miliar. Total utang mencapai Rp390 miliar, terdiri dari utang jangka panjang Rp370 miliar dan utang jangka pendek Rp20 miliar. 

Net debt tercatat Rp371 miliar, jauh di atas kapitalisasi pasar yang berada di kisaran Rp48 miliar.

Debt to equity ratio kuartalan berada di 2,13 kali dan long term debt to equity 2,02 kali. Total debt terhadap total aset mencapai 0,64, sementara financial leverage 3,33 kali. Interest coverage TTM berada di minus 9,23, mencerminkan laba operasional yang belum mampu menutup beban bunga.

Di sisi lain, rasio likuiditas jangka pendek terlihat relatif tinggi. Current ratio mencapai 7,12 kali dan quick ratio 4,41 kali. Working capital tercatat Rp241 miliar. Namun, siklus konversi kas berada di 361,94 hari, dengan days sales outstanding 196,52 hari dan days inventory 209,19 hari. 

Perputaran piutang hanya 0,46 kali dan inventory turnover 1,67 kali, menunjukkan periode penagihan dan perputaran persediaan yang panjang.

SWAT di Zona Abu-abu

Altman Z-Score yang dimodifikasi berada di level 1,90, yang secara metodologi berada di area abu-abu antara zona aman dan zona risiko. Piotroski F-Score tercatat 4,00, mencerminkan kondisi fundamental yang berada di tengah spektrum kekuatan dan kelemahan.

Dari perspektif pasar, saham SWAT diperdagangkan di Rp16 dengan kapitalisasi pasar Rp48 miliar, jauh di bawah nilai enterprise value yang tercatat Rp420 miliar. 

Dalam lima tahun terakhir, harga saham turun 84,76 persen dan dalam tiga tahun terkoreksi 68 persen. Free float berada di 21,99 persen dari total 3,02 miliar saham beredar.

Secara keseluruhan, data keuangan menunjukkan SWAT berada dalam fase tekanan kinerja yang berkelanjutan, dengan laba bersih negatif, arus kas operasional negatif, serta struktur utang yang relatif tinggi dibanding ekuitas dan kapitalisasi pasar. 

Rasio valuasi yang rendah mencerminkan kondisi fundamental yang sedang tertekan berdasarkan indikator profitabilitas, solvabilitas, dan efektivitas manajemen yang tercermin dalam laporan keuangan terakhir.

Dampak terhadap Pemegang Saham

Dengan 5.684 pemegang saham per Januari 2026 dan harga saham di level Rp16, posisi investor mengalami tekanan signifikan dibanding harga IPO Rp160 maupun puncak Rp600.

Penurunan harga dari Rp600 ke Rp16 setara koreksi sekitar 97 persen. Sementara dari harga IPO Rp160 ke Rp16, penurunan mencapai 90 persen.

Data historis ini menggambarkan transformasi valuasi SWAT sejak pencatatan saham hingga kondisi terkini, bersamaan dengan proses hukum yang berjalan.

Kasus dugaan manipulasi harga saham SWAT kini memasuki tahap penuntutan, menandai fase lanjutan dalam penegakan hukum pasar modal terhadap praktik pembentukan harga yang tidak wajar.

Pengamat pasar modal Hasan Zein Mahmud, mengatakan saham SWAT layaknya kerupuk udang yang melar di wajan panas, dari harga Rp160 menjadi Rp600. Dari sekian banyak saham gorengan, SWAT terperosok ke jarring OJK. Boleh jadi, ini merupakan kasus pidana pertama terkait manipulasi transaksi, manipulasi harga, serta manipulasi pasar.

“Tentu, berharap kolam saham menjadi lebih bening dan pemancing kecil tak mengunyak ikan beracun. Pelajaran bagi kita, investor kecil, terlalu banyak makan gorengan bisa merusak kesehatan,” tulis Hasan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com