Insight Daily 04 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Subsidi Motor Listrik Cair! TOBA, INDY dan MCAS Siap Tarung

Tiga emiten yang berpotensi mendapat keuntungan lebih dari insentif ini adalah PT TBS Energi Utama (TOBA), PT Indika Energy (INDY), dan PT M Cash Integrasi (MCAS).

KABARBURSA.COM – Pemerintah kembali menggelontorkan subsidi motor listrik untuk meningkatkan penjualan. Pemberian subsidi ini juga dilakukan dalam rangka mencapai target net-zero emission. Gelontoran subsidi ini bakal menggairahkan penjualan motor listrik di Tanah Air yang sebelumnya redup. Selama ini pembelian motor listrik di pasar otomotif masih bergantun...

Pameran motor listrik di ajang IIMS 2025. Foto: KabarBursa.com/Abbas Sandji
Pameran motor listrik di ajang IIMS 2025. Foto: KabarBursa.com/Abbas Sandji

Insight Navigator

  1. 01 Kinerja dan Valuasi TOBA, INDY dan MCAS
  2. 02 Persaingan di Pasar Motor Listrik Nasional
  3. 03 Strategi Memenangkan Persaingan Motor Listrik
  4. 04 Emiten Mana yang Paling Menarik?

KABARBURSA.COM – Pemerintah kembali menggelontorkan subsidi motor listrik untuk meningkatkan penjualan. Pemberian subsidi ini juga dilakukan dalam rangka mencapai target net-zero emission. Gelontoran subsidi ini bakal menggairahkan penjualan motor listrik di Tanah Air yang sebelumnya redup. 

Selama ini pembelian motor listrik di pasar otomotif masih bergantung kepada subsidi. Selain membuat penjualan motor listrik bergairah, subsidi Rp7 juta untuk setiap motor listrik akan menjadi sentimen positif beberapa emitan yang bergerak di bisnis motor listrik.

Tiga emiten yang berpotensi mendapat keuntungan lebih dari insentif ini adalah PT TBS Energi Utama (TOBA), PT Indika Energy (INDY), dan PT M Cash Integrasi (MCAS). Ketiga emiten ini mengadopsi pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan sektor kendaraan listrik roda dua. Masing-masing perusahaan memiliki strategi berbeda dalam pengembangan motor listrik.

Di luar tiga emiten tersebut, pasar motor listrik di Indonesia juga semakin ramai oleh pemain lokal seperti Gesits dan Smoot, serta produsen asing seperti Yadea dan Honda EV yang mulai memperkenalkan model listriknya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa hingga akhir 2023, terdapat lebih dari 100 ribu unit motor listrik yang mengaspal di Indonesia. Meskipun kontribusinya masih kecil dibandingkan kendaraan konvensional, pertumbuhan adopsi kendaraan listrik terus meningkat seiring insentif pemerintah dan peningkatan kesadaran lingkungan. 

Ini menunjukkan bahwa kompetisi di sektor ini akan semakin ketat, dan setiap pemain dituntut membangun keunggulan tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga ekosistem pendukung dan layanan purnajual.

Kinerja dan Valuasi TOBA, INDY dan MCAS

Berdasarkan data Stockbit, TOBA mencatatkan laba bersih sebesar Rp451 miliar pada tahun 2024, melonjak signifikan dibandingkan laba tahun sebelumnya yang sebesar Rp121 miliar. Dengan pendapatan sebesar Rp7,063 triliun pada tahun yang sama, margin laba bersih TOBA mencapai sekitar 6,38 persen.

Meski begitu, pendapatan perusahaan sedikit menurun menjadi Rp6,293 triliun pada TTM kuartal I 2025. Meskipun demikian, perusahaan masih mencatat rugi bersih sebesar Rp691 miliar di TTM kuartal I 2025. Return on equity (ROE) TOBA tercatat -14,08 persen dengan net profit margin kuartalan sebesar -83,97% persen, menunjukkan tekanan signifikan pada efisiensi laba.

Berbeda dengan INDY, laba bersih emiten yang fokus di bidang energi bersih ini merosot menjadi Rp190 miliar pada tahun 2024, dari Rp1,826 triliun pada 2023. Pendapatan INDY juga turun dari Rp46,17 triliun menjadi Rp38,78 triliun.

Pada TTM kuartal I 2025, INDY mencatat rugi bersih sebesar Rp114 miliar dengan pendapatan Rp37,94 triliun. ROE INDY tercatat sebesar 0,57 persen. Hal ini menunjukkan tekanan pada imbal hasil terhadap modal sendiri, sementara margin laba bersih sangat rendah di bawah 1 persen.

Sementara untuk MCAS membukukan laba bersih Rp4,6 miliar pada kuartal I 2024, meningkat 122 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Meskipun secara tahunan MCAS mencatatkan rugi TTM sebesar Rp5 miliar, strategi efisiensi operasional membuahkan hasil di kuartalan.

Pendapatan TTM MCAS mencapai Rp6,151 triliun. ROE MCAS sebesar -2,40 persen dan Net Profit Margin kuartalan sangat tipis, mencerminkan fase ekspansi dengan skala yang masih terbatas.

Sementara dari sisi Valuasi, ketiga emiten menunjukkan karakteristik yang sedikit berbeda. TOBA memiliki valuasi yang tergolong konservatif dengan Price to Book Value (PBV) sebesar 0,75 kali dan Price to Sales (P/S) sebesar 0,59 kali.

Meski demikian, Price to Earnings Ratio (PER) TTM TOBA berada di wilayah negatif sekitar -5,35 kali, mencerminkan kerugian di periode berjalan. Earnings Yield-nya pun tercatat negatif di -18,71 persen, menunjukkan bahwa pasar belum memberikan premium terhadap kinerja profitabilitas jangka pendeknya.

INDY menunjukkan valuasi pasar yang bahkan lebih rendah. Dengan PBV sebesar 0,36 kali dan P/S hanya 0,19 kali, harga sahamnya diperdagangkan jauh di bawah nilai buku dan pendapatannya. PER TTM INDY berada di -62,71 kali dan Earnings Yield-nya di -1,59 persen. Namun, valuasi ke depan sebesar 6,46 kali memberi sinyal kemungkinan pemulihan profit, mengingat langkah diversifikasi dan penggalangan dana strategis yang dilakukan.

Sebaliknya, MCAS justru mencerminkan valuasi yang sangat premium, dengan PBV mencapai 6,60 kali dan P/S sebesar 0,20 kali. PER TTM MCAS tercatat -275,55 kali, menandakan beban rugi yang signifikan terhadap kapitalisasi pasarnya.

Earnings Yield MCAS pun hanya -0,36 persen. Hal ini menunjukkan ekspektasi pasar lebih didasarkan pada potensi ekosistem digital jangka panjang ketimbang profitabilitas saat ini.

Secara keseluruhan, valuasi TOBA dan INDY lebih mencerminkan pendekatan konservatif yang masih sejalan dengan fundamental, sementara valuasi MCAS lebih menggambarkan narasi pertumbuhan agresif.

Investor yang mempertimbangkan pilihan jangka menengah dan panjang perlu mencermati keseimbangan antara valuasi saat ini dan kapasitas masing-masing emiten dalam mengonversi strategi menjadi profitabilitas berkelanjutan.

Sekadar informasi, hingga akhir Mei 2025, harga saham TOBA mengalami koreksi sekitar 21 persen secara tahunan (YoY), mencerminkan tekanan akibat rugi kuartalan meski prospek jangka panjang tetap kuat. Saham INDY turun lebih tajam, yakni sekitar 26 persen YoY, sejalan dengan penurunan kinerja keuangan dan belum pulihnya sentimen pasar terhadap transisi bisnisnya.

Sementara itu, saham MCAS justru naik tipis sekitar 2 persen YoY, mencerminkan respons positif investor terhadap narasi pertumbuhan ekosistem digital dan kemitraan strategis, meskipun valuasinya jauh melampaui nilai bukunya. Pola ini menunjukkan bahwa investor saat ini cenderung lebih menghargai prospek jangka panjang dan model bisnis inovatif, meskipun profitabilitas terkini masih terbatas.

Persaingan di Pasar Motor Listrik Nasional

Meski pemerintah telah mengeluarkan lampu hijau dalam hal subsidi motor listrik, tapi implementasi program ini harus menunggu regulasi resmi dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Keuangan. (Kemenkeu).

Upaya menggelontorkan subsidi motor listrik ini disambut baik oleh Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli). Sebagai asosiasi yang menaungi merek-merek motor listrik, pihak Aismoli siap mendukung upaya pemerintah.

“Aismoli menyambut baik dan sangat berterima kasih kepada pemerintah yqng telah menggulirkan berbagai macam program, baik fiskal dan non fiskal dalam rangka percepatan kendaraan listrik khususnya roda dua,” ujar Sekjen Asismoli Hanggoro Ananta saat dihubungi KabarBursa.com, pada Minggu, 1 Juni 2025.

Jika mengacu kepada subsidi motor listrik tahun lalu, pemerintah menetapkan kuota subsidi sebesar 50 ribu unit motor listrik dan ditambah 10 ribu unit sehingga menjadi 60 ribu.

Namun, realisasi penyaluran subsidi mencapai 62.541 unit, melebihi kuota yang ditetapkan. Untuk tahun 2025, kuota subsidi kemungkinan akan disesuaikan dengan mempertimbangkan sisa waktu pelaksanaan program yang tinggal enam bulan.

Sekadar informasi, program subsidi ini diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 21 Tahun 2023, yang merupakan revisi dari Permenperin Nomor 6 Tahun 2023.

Berdasarkan regulasi tersebut, subsidi sebesar Rp7 juta diberikan untuk satu KTP. Artinya, satu orang hanya dapat mengajukan satu kali pembelian motor listrik. Di sisi lain, merek motor listrik yang bisa mendapat subsidi wajib memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 40 persen dan terdaftar di Sistem Informasi Pemberian Bantuan Pembelian Kendaraan Listrik Roda Dua (SISAPIRa).

Kendati demikian, Aismoli belum mendapat informasi terkait besaran subsidi motor listrik yang akan digelontorkan pemerintah pada tahun 2025. Namun, jika besaran subsidi berkaca pada tahun 2024 maka besarannya adalah Rp7 juta dengan kapasitas 50.000 unit.

Aismoli berharap pemerintah dapat menetapkan subsidi dengan periode lebih panjang atau bukan secara per tahun agar para pelaku industri electric vehicle (EV), khususnya roda dua bisa lebih tenang menghadapi dinamika pasar.

“Kami belum tahu (soal kuotanya), tapi kami berharap program ini dapat multi years agar khususnya para industri dapat mempersiapkan aktivitas Investasi dan produksinya, dan tidak ada jeda saat pergantian tahun,” ucap Hanggoro.

Selain besaran subsidi yang belum jelas, tantangan berikutnya adalah pengembangan infrastruktur pendukung, seperti stasiun penukaran baterai dan stasiun pengisian daya. Tantangan dalam hal infrastruktur paling besar ada di luar wilayah perkotaan. Hal ini dapat mempengaruhi adopsi kendaraan listrik oleh masyarakat.

Sementara peluang yang dapat dilihat adalah konsistensi pemerintah dalam mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik. Dukungan ini diberikan sebagai langkah strategis untuk mencapai target emisi nol bersih.

Sejumlah kebijakan dan insentif telah dirumuskan, membuka peluang bagi ketiga emiten untuk memperluas pasar mereka di sektor ini. Di sisi lain, meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya energi bersih dan lingkungan yang sehat menjadi faktor pendukung yang signifikan. 

Hal ini menciptakan momentum bagi ketiga emiten untuk mengedepankan kendaraan listrik sebagai solusi mobilitas ramah lingkungan. Selain itu, mereka juga telah menjalin kemitraan strategis guna memperkuat posisi di industri kendaraan listrik. 

Strategi Memenangkan Persaingan Motor Listrik

Agar dapat memenangkan persaingan, TOBA melakukan joint venture bernama Electrum, bersama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. TOBA tidak hanya memproduksi motor listrik, tetapi juga membangun infrastruktur pendukung seperti stasiun penukaran baterai dan sistem manajemen baterai.

Target perusahaan patungan ini adalah menjual 500.000 motor listrik hingga tahun 2025. TOBA juga mengalokasikan sekitar 30 persen dari belanja modal tahunan sebesar sekitar Rp3,9 triliun untuk Electrum, dan telah menunjukkan komitmen kuat dengan menjual aset-aset PLTU untuk mendanai ekspansi ke sektor energi bersih.

Berbeda dengan TOBA, INDY justru tetap melanjutkan strategi diversifikasi dari batu bara ke sektor kendaraan listrik melalui anak usaha PT Ilectra Motor Group (IMG) yang memproduksi motor listrik dengan merek ALVA.

INDY menargetkan separuh pendapatannya berasal dari sektor non-batu bara pada 2025. IMG sendiri berhasil menghimpun dana Seri B sebesar sekitar Rp790 miliar dari investor global, dan menggunakan dana ini untuk mempercepat pengembangan produk ALVA dan memperluas jaringan showroom serta pusat layanan nasional.

Sementara strategi MCAS berfokus pada pengembangan motor listrik Volta melalui anak usaha PT Volta Indonesia Semesta. Perusahaan menargetkan produksi 900.000 unit dalam lima tahun ke depan melalui kemitraan dengan Petronas.

MCAS juga membangun lebih dari 300 stasiun penukaran baterai dengan skema infrastruktur berbasis digital dan logistik. Selain itu, MCAS menjalin kerja sama dengan PT Pos Logistik Indonesia untuk memperluas distribusi dan titik layanan ke berbagai daerah di Indonesia.

Dengan pendekatan yang unik di antara ketiga perusahaan, TOBA tampil paling agresif dalam realokasi modal untuk mendukung transisi energi bersih, sementara INDY mengandalkan anak usaha dengan fokus jangka panjang, dan MCAS mendorong ekosistem infrastruktur digital kendaraan listrik. Ketiganya menjadi aktor penting dalam peta persaingan industri motor listrik Indonesia yang terus berkembang.

Namun, risiko utama yang dihadapi adalah ketergantungan terhadap kebijakan subsidi pemerintah yang hingga pertengahan 2025 masih menunggu realisasi penuh. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti stasiun penukaran baterai masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan, membatasi adopsi luas.

Selain itu, terdapat beberapa risiko tambahan yang patut diperhatikan investor. Pertama, persaingan industri yang makin ketat dengan kehadiran merek lokal seperti Gesits dan Smoot, serta merek asing seperti Yadea dan Honda EV, dapat menekan pangsa pasar pemain lama.

Kedua, ketidakpastian regulasi lanjutan seperti perubahan kuota atau mekanisme subsidi menimbulkan risiko perencanaan jangka panjang. Ketiga, pengembangan ekosistem seperti battery swap dan layanan purnajual memerlukan investasi besar dan waktu adopsi yang tidak instan, sehingga bisa menggerus margin dalam jangka pendek. 

Keempat, dari sisi pasar modal, tingginya ekspektasi investor terhadap narasi transisi energi dapat menciptakan valuasi yang tidak selalu sejalan dengan kinerja fundamental.

Dengan memperhitungkan faktor-faktor di atas, TOBA berada pada posisi unggul dalam jangka panjang karena alokasi investasi dan pembangunan ekosistem yang masif. INDY kuat dalam akses pendanaan dan merek ALVA yang memiliki nilai jual premium, sementara MCAS fleksibel melalui pendekatan digital dan mitra logistik yang luas.

Emiten Mana yang Paling Menarik?

Baik TOBA, INDY dan MCAS menawarkan pendekatan yang berbeda dalam memanfaatkan peluang di sektor kendaraan listrik roda dua, terutama dengan dorongan subsidi pemerintah sebesar Rp7 juta per unit.

Dari sisi kinerja keuangan, TOBA mencatat lonjakan laba signifikan pada 2024 namun kembali merugi di kuartal I 2025. INDY menunjukkan tren penurunan laba dengan margin sangat tipis, sementara MCAS meskipun skalanya kecil, berhasil mencetak laba kuartalan setelah efisiensi.

Dalam aspek strategi bisnis, TOBA tampil paling agresif dengan belanja modal besar untuk proyek Electrum dan pengalihan dari batu bara. INDY menonjol lewat diversifikasi portofolio dan pendanaan strategis untuk merek ALVA, sedangkan MCAS mengandalkan penguatan jaringan infrastruktur digital dan kemitraan jangka panjang seperti bersama Petronas dan Pos Logistik.

Dari segi valuasi, TOBA dan INDY berada dalam zona konservatif dengan rasio PBV dan P/S rendah, cocok untuk investor yang mengincar fundamental yang stabil. MCAS justru mencerminkan valuasi premium, lebih mencerminkan ekspektasi masa depan ketimbang profit saat ini.

Sementara risiko terbesar ketiganya adalah ketergantungan pada kebijakan subsidi dan belum meratanya infrastruktur di luar kota besar. Namun, masing-masing menunjukkan kekuatan ekosistemnya masing-masing. Emiten TOBA nampak paling kuat dalam integrasi hulu-hilir kendaraan listrik. Sementara INDY kuat dalam pengembangan merek dan dukungan investor. Kemudian MCAS membangun jaringan digital dan logistik yang adaptif.

Dengan mempertimbangkan aspek tersebut, TOBA layak diposisikan sebagai emiten dengan prospek jangka panjang terbaik berkat realokasi besar-besaran ke sektor energi bersih. Sebaliknya, INDY menarik bagi investor menengah-panjang yang menilai transisi energi lewat ALVA sebagai nilai tambah. MCAS menjanjikan untuk investor berprofil agresif yang percaya pada potensi ekosistem digital dan kemitraan strategisnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya