KABARBURSA.COM - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pukul 13:43 WIB sampai 14:13 WIB pada Rabu, 28 Januari 2026. Hal ini dikarenakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun drastis hingga 8 persen.
Bahkan pada perdagangan hari ini, Kamis, 29 Januari 2026, BEI kembali menerapkan trading halt setelah IHSG kembali tergelincir sebesar 8 persen.
Sebagai informasi, kebijakan trading halt merupakan sebuah upaya dari BEI untuk menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien sesuai.
Terdapat tiga kebijakan yang ditetapkan mengenai trading halt ini. Pertama, trading halt diterapkan selama 30 menit apabila IHSG mengalami penurunan hingga 8 persen.
BEI masih akan menerapakan trading halt dalam waktu serupa andai indeks menyentuh koreksi 15 persen. Kemudian langkah terakhir ialah BEI akan memberlakukan trading suspend apabila IHSG mengalami penurunan lanjutan hingga lebih dari 20 persen.
Kejadian trading halt pada perdagangan 28 Januari 2026 tidak lama setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara rebalancing indeks saham Indonesia. Alasan MSCI mengambil tindakan tersebut ialah terkait transparansi di pasar saham Indonesia.
Menanggapi hal itu, BEI menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad memandang masukan yang disampaikan MSCI adalah bagian penting dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.
"Kami memahamibahwa pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor," ujar dia dalam keterangannya.
Sejalan dengan hal tersebut, Kautsar memastikan jika BEI berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.
Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik secara global dan ekspektasi pemangku kepentingan global.
"Sebagai bagian dari langkah konkret yang telah dilakukan, BEI telah menyampaikan pengumuman data free-float secara komprehensif melalui website resmi BEI sejak 2 Januari 2026, serta akan disampaikan secara rutin setiap bulannya," jelasnya.
Selanjutnya, Kautsar menyebut BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi.
"Melalui koordinasi yang berkesinambungan ini, kami optimistis dapat terus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional," terangnya.
Sementara itu Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan, sejak pagi BEI menerima pengumuman resmi dari MSCI terkait permintaan keterbukaan data free float sesuai proposal metodologi yang telah dikonsultasikan sejak akhir tahun lalu.
Dalam proposal tersebut, MSCI meminta pemisahan data kepemilikan saham kategori korporasi dan others, khususnya untuk kepemilikan di bawah 5 persen, guna meningkatkan transparansi perhitungan free float emiten.
Ia menjelaskan MSCI berencana menggunakan data yang bersumber dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Namun, data yang ada saat ini masih mencampurkan kepemilikan saham di bawah dan di atas 5 persen, sehingga dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan metodologi MSCI.
Iman mengatakan, sejak awal BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI telah melakukan diskusi langsung dan intensif dengan MSCI untuk menjelaskan kondisi tersebut sekaligus menyampaikan keberatan.
“Kami minta equal treatment sebagai bagian dari konstituen indeks MSCI,” kata Iman di Gedung BEI Jakarta pada Rabu, 28 Januari 2026.
Selain meminta perlakuan yang setara dengan bursa lain, BEI juga aktif mengusulkan sejumlah opsi teknis agar MSCI dapat menghitung free float secara lebih akurat tanpa menimbulkan salah tafsir data. Diskusi tersebut telah berlangsung sejak tahun lalu dan terus berlanjut hingga minggu lalu.
Sebagai bentuk tindak lanjut konkret, Iman menegaskan bahwa BEI pada 2 Januari 2026 telah memublikasikan data free float yang lebih tersegmentasi dan komprehensif melalui situs resmi bursa. Data itu menurut Iman lebih komprehensif baik dari sisi BEI maupun KSEI.
“Per 2 Januari, data free float per segmen sudah kami tampilkan di website,” ujar Iman.
Ia menegaskan bahwa data tersebut bukan data baru, melainkan hasil pengelompokan yang lebih rinci dari data yang selama ini sudah tersedia. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan transparansi sekaligus mempermudah pihak eksternal, termasuk MSCI, dalam memahami struktur kepemilikan saham di Indonesia.
Namun dalam pengumuman terbarunya, MSCI menyampaikan dua poin utama. Pertama, MSCI menetapkan rebalancing indeks pada Februari 2026 dalam kondisi freeze, sehingga tidak ada penambahan maupun pengurangan emiten Indonesia dalam indeks MSCI.
“Tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen,” kata Iman.
Lalu, apa yang harus dilakukan investor ritel dalam kondisi trading halt seperti ini?
Pengamat pasar modal, Wahyu Tri Laksono mengatakan situasi trading halt pada 28 Januari 2026 dipicu oleh kepanikan pasar merespons pembekuan indeks MSCI untuk Indonesia.
Wahyu menyebut setelah trading halt, pasar biasanya tidak langsung stabil. Menurutnya, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai oleh investor.
"Pertama, penurunan tajam dapat memicu forced sell pada akun-akun margin, yang berpotensi menambah tekanan jual di sesi berikutnya," ujar dia kepada Kabarbursa.com, Rabu, 28 Januari 2026.
Kedua, Wahyu memandang selama isu perbedaan standar data antara emiten, KSEI, dan MSCI belum sinkron, investor asing kemungkinan besar akan terus melakukan net sell untuk mengurangi risiko.
Terpisah, pengamat pasar modal Desmond Wira menyebut pasca trading halt, IHSG masih berpotensi terkoreksi. Meski begitu, ia melihat masih ada peluang rebound bagi indeks.
"Walaupun kadang cuma singkat dan terbatas. Istilahnya dead cat bounce. Setelah rebound bisa jadi lanjut koreksi lagi," kata dia kepada Kabarbursa.com, kemarin.
BEI sendiri meminta investor tetap tenang dan tidak melakukan panic selling menyusul pengumuman MSCI terkait permintaan transparansi data free float yang memicu tekanan pasar saham pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026.
Iman Rachman, menegaskan bahwa reaksi pasar yang terjadi kemarin lebih bersifat sentimen jangka pendek, bukan karena perubahan fundamental pasar modal Indonesia.
“Dari apa yang terjadi hari ini memang ada menurut saya panic selling,” ujar Iman.
Strategi yang Harus Dilakukan Investor Ritel
Wahyu menyampaikan dalam kondisi volatilitas ekstrem seperti ini, emosi adalah musuh terbesar. Salah satu srategi yang disarankan ia adalah wait and see.
"Jangan terburu-buru serok bawah jika volume jual masih sangat masif. Biarkan pasar menemukan titik keseimbangan baru (price discovery)," ujarnya.
Langkah selanjutnya ialah fokus pada likuiditas. Wahyu mengimbau investor ritel memiliki cadangan kas (cash on hand) yang cukup. Dia menyampaikan jika investor tidak perlu menggunakan seluruh modal untuk membeli di satu titik.
Selain itu, hindari saham spekulatif. Wahyu mengimbau agar investor ritel menjauhi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau yang sedang terkena Auto rejection Bawah (ARB) berjilid-jilid.
Sebelum kembali masuk secara agresif, investor ritel juga diimbau untuk memperhatikan sejumlah indikator, penyusutan rentang volatilitas.
"Jika rentang harga harian mulai mengecil dan IHSG tidak lagi bergerak liar (di atas 2-3 persen per jam), itu sinyal stabilitas awal," ungkapnya.
Hal yang harus dicermati ialah melambatnya foreign net sell, dalam hal ini investor harus memperhatikan data transaksi harian. Wahyu menerangkan jika aksi jual asing mulai mereda atau beralih menjadi net buy tipis, kepercayaan mulai pulih.
"Kemudian reaksi pasar global. Stabilitas di Wall Street dan bursa regional Asia (Nikkei/Hang Seng) sangat krusial untuk memberikan "napas" bagi IHSG," tuturnya.
Beralih ke Saham Fundamental?
Wahyu mengatakan koreksi tajam akibat sentimen teknis MSCI seringkali membuka peluang beli pada saham yang fundamentalnya tidak berubah namun harganya "terdiskon" karena kepanikan.
Wahyu sendiri memiliki pilihan sejumlah saham yang dinilai mempunyai fundamental baik seperti BBCA dan BMRI. Menurutnya, kedua saham ini adalah pilihan utama.
"Keduanya memiliki fundamental solid dan manajemen risiko yang baik di tengah gejolak," kata dia.
Dua saham pilihan Wahyu lainnya ialah. UNTR atau PGEO. Menurutnya, kedua sahham ini menarik untuk dipantau (buy on weakness), terutama jika harga komoditas global tetap suportif.
"Cari saham yang memang dimiliki publik secara luas dan transparan, karena ini yang paling aman dari radar pengetatan MSCI," katanya.
Sementara itu Desmon juga menyampaikan jika investor bisa merilik saham dengan fundamental bagus di Bursa Efek Indonesia.
"Ya, untuk investor jangka panjang yang memiliki time horizon sampai dekade," katanya. (*)