KABARBURSA.COM - Pasar modal kerap kali menampilkan ironi. Di saat pemerintah meluncurkan stimulus jumbo Rp200 triliun untuk menggenjot perekonomian, saham-saham perbankan justru tertekan.
Beberapa emiten besar seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Syariah Indonesia (BRIS) dalam sepekan terakhir melemah, seolah merespons stimulus dengan cara yang berlawanan arah.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah pelemahan tersebut semata aksi ambil untung setelah reli panjang, atau justru ada kekhawatiran pasar terhadap dampak stimulus terhadap margin keuntungan bank?
Stimulus Rp200 Triliun untuk Jaga Likuiditas Himbara
Diberitakan sebelumnya oleh KabarBursa.com, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyalurkan dana sebesar Rp200 triliun ke bank-bank Himbara, yang jumlahnya bervariasi.
Menurut mantan Ketua LPS ini, dana mengendap tersebut merupakan bagian dari total simpanan pemerintah sebesar Rp425 triliun. Karenanya, akan dialihkan ke perbankan guna memperkuat penyaluran kredit ke masyarakat.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, menjelaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah mempercepat perputaran uang di perekonomian.
Dengan likuiditas tambahan, bank-bank diharapkan mampu menyalurkan kredit produktif yang dapat mendorong konsumsi, investasi, serta mendukung program-program prioritas pemerintah.
Adapun skema pemberiannya disebut mirip dengan program penempatan dana sebelumnya yang dilakukan pemerintah untuk mendukung Koperasi Desa Merah Putih.
Dan, pada 12 September 2025, dana tersebut dibagikan dengan rincian sebagai berikut:
- Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing mendapat alokasi Rp55 triliun,
- BTN Rp25 triliun,
- BSI memperoleh Rp10 triliun.
Purbaya menegaskan, besaran yang berbeda disesuaikan dengan nilai kapitalisasi pasar dan kapasitas masing-masing bank. Ia juga menyebut adanya alasan strategis dalam penempatan dana, seperti BSI yang mendapat Rp10 triliun karena menjadi satu-satunya bank dengan akses penuh ke Aceh.
Harapannya, bank-bank Himbara bisa mengoptimalkan likuiditas tambahan ini untuk memperluas pembiayaan, menjaga pertumbuhan ekonomi, sekaligus memastikan distribusi dana lebih merata.
Namun, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira, menilai ada dua risiko yang harus diwaspadai jika penyaluran dana ini tidak dikawal secara ketat.
Risiko tersebut yakni potensi terbentuknya aset terlantar (stranded asset) dan meningkatnya risiko kredit macet.
Ia menyoroti kecenderungan dana perbankan lebih banyak dialirkan untuk proyek energi fosil ketimbang ke sektor hijau. Jika hal ini berlanjut, langkah pemerintah justru bisa menjadi batu sandungan transisi energi nasional.
Dalam hal ini Bhima menekankan pentingnya kebijakan lanjutan, misalnya melalui peraturan menteri keuangan, agar dana tersebut digunakan sejalan dengan misi Presiden Prabowo Subianto mencapai 100 persen energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan.
Bukan Stimulus, tapi Aksi Ambil Untung yang Lebih Bertaji
Sayangnya, yang terjadi di pasar tidak sesuai harapan. Hal ini dibuktikan dengan performa saham perbankan, terutama Himbara, yang terus merosot.
Ambil contoh performa BRIS (Bank Syariah Indonesia) dan BMRI (Bank Mandiri). Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) misalnya, pada perdagangan siang ini ditutup melemah 1,14 persen ke level Rp2.610, setelah bergerak di kisaran Rp2.600–Rp2.640.
Secara harian, BRIS terkoreksi 1,52 persen, meski dalam rentang sepekan masih mencatat kenaikan tipis 4 persen. Namun, dalam horizon lebih panjang, saham ini justru menunjukkan tren negatif, turun 6,14 persen dalam sebulan, minus 4,76 persen secara year-to-date, dan terkoreksi hingga 9 persen sepanjang setahun terakhir.
Kondisi serupa juga dialami Bank Mandiri (BMRI). Saham bank terbesar dari sisi aset ini pada perdagangan terakhir turun 0,45 persen ke level Rp4.460. Padahal, valuasi BMRI relatif murah dengan price-to-earnings ratio hanya 7,4 kali, dan menawarkan dividend yield di atas 10 persen.
Namun, sejak awal tahun, saham Mandiri sudah terkoreksi 23,7 persen, dan jika dihitung dalam setahun, penurunannya mencapai hampir 40 persen. Artinya, meski fundamental masih kuat, harga saham BMRI justru terseret oleh tekanan pasar yang lebih luas terhadap sektor perbankan.
Mengapa stimulus Rp200 triliun yang digadang-gadang pemerintah melalui Menkeu Purbaya belum mampu menjadi katalis positif? Salah satu jawabannya adalah ekspektasi pasar yang sudah lebih dulu terbentuk.
Stimulus besar memang menambah likuiditas dalam sistem keuangan, namun investor melihat distribusinya lebih banyak diarahkan untuk menopang sektor riil dan program pemerintah. Dampaknya terhadap profitabilitas bank tidak serta-merta langsung terasa.
Bahkan, ada kekhawatiran stimulus semacam ini dapat menekan margin bunga bersih (NIM) jika bank harus menyalurkan pembiayaan dengan bunga lebih rendah atau dalam skema penugasan.
Selain itu, aksi ambil untung turut berperan. Saham BRIS sempat naik dalam beberapa pekan terakhir, begitu pula BMRI yang sebelumnya sempat bergerak rebound.
Ketika ada berita besar seperti stimulus, sebagian investor justru menjadikannya momentum untuk merealisasikan keuntungan, apalagi di tengah ketidakpastian global. Faktor eksternal seperti arah suku bunga The Fed, fluktuasi rupiah, serta arus modal asing juga memberi tekanan tambahan.
Dengan kombinasi faktor-faktor itu, penurunan BRIS dan BMRI lebih merefleksikan respons hati-hati pasar ketimbang kegagalan stimulus. Investor tampaknya masih menunggu bukti nyata bagaimana Rp200 triliun tersebut akan mengalir ke sistem perbankan dan mengubah kinerja laba bank.
Selama ketidakpastian global dan kekhawatiran atas margin masih ada, saham perbankan bisa tetap volatil. Namun bagi investor jangka panjang, valuasi yang kian murah dan posisi fundamental bank besar yang solid justru bisa menjadi peluang akumulasi di tengah koreksi.
Tekanan Sentimen Lebih Besar untuk Aksi Jual
Tekanan kembali membayangi saham perbankan besar maupun syariah pada perdagangan terakhir. Analisis teknikal harian memperlihatkan sinyal pelemahan yang cukup tegas, baik pada saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) maupun PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI).
Untuk BRIS, rangkuman indikator teknikal menunjukkan posisi “sangat jual”. Sebanyak 12 indikator moving average konsisten memberi sinyal jual, sementara indikator momentum seperti MACD, ADX, hingga Rate of Change (ROC) juga menunjukkan tren menurun.
RSI berada di level 42, mengindikasikan saham mendekati area jenuh jual namun belum mencapai titik ekstrem. Kondisi ini mengisyaratkan tekanan jual yang dominan, didukung volatilitas tinggi sebagaimana tercermin dari Average True Range (ATR).
Dengan harga yang masih berada di bawah seluruh rata-rata pergerakan utama (MA20, MA50, MA100, hingga MA200), tren jangka pendek hingga menengah untuk BRIS memang masih lemah.
Situasi serupa juga terlihat pada BMRI. Indikator teknikal memperlihatkan sinyal lebih tegas lagi, yaitu satu-satunya indikator yang sempat memberi isyarat beli justru kalah oleh sepuluh indikator lain yang konsisten menunjukkan arah jual.
RSI turun ke level 40, mendekati area oversold. MACD, ADX, hingga Williams %R juga memperlihatkan tekanan jual berlanjut.
Sama seperti BRIS, harga BMRI saat ini diperdagangkan di bawah seluruh moving average kunci, termasuk MA200 yang menjadi penanda tren jangka panjang. Artinya, tekanan di saham big caps perbankan konvensional pun belum mereda.
Muncul pertanyaan, apakah yang terjadi murni aksi ambil untung atau ada faktor lain? Indikator teknikal memberi sinyal kuat bahwa aksi jual lebih dominan, dan tidak seluruhnya bisa dijelaskan sebagai realisasi keuntungan.
Justru, pola yang terbentuk memperlihatkan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap sektor perbankan, meski fundamentalnya relatif kokoh. Investor institusional kemungkinan menilai bahwa stimulus Rp200 triliun belum cukup menjadi katalis laba bank dalam jangka pendek, sehingga memilih menunggu kepastian distribusi dana tersebut.
Dengan kondisi teknikal yang lemah, saham BRIS maupun BMRI tampak lebih didorong oleh tekanan sentimen ketimbang kinerja fundamental. Namun, di sisi lain, mendekatnya indikator RSI ke area jenuh jual membuka peluang adanya rebound teknikal jika tekanan jual mereda.
Bagi investor jangka panjang, situasi ini bisa menjadi ruang akumulasi bertahap di area support yang kuat. Akan tetapi, disiplin pada manajemen risiko sangat penting, mengingat tren jangka menengah masih menandakan dominasi seller.
Singkatnya, baik BRIS maupun BMRI saat ini tengah berada dalam fase pelemahan yang kental dengan aroma aksi jual. Apakah pelemahan ini sepenuhnya aksi ambil untung atau cerminan kekhawatiran pasar, jawabannya kemungkinan campuran dari keduanya.
Investor perlu cermat membaca momentum, karena meski tekanan masih kuat, koreksi yang terjadi juga bisa membuka ruang bagi peluang akumulasi jangka panjang.(*)