KABARBURSA.COM - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) berencana mengakuisisi 63,4 persen saham PT Sawit Mandiri Lestari (SML) dari PT Citra Borneo Indah dengan nilai Rp1,6 triliun. Rencananya, aksi ini akan dimintai persetujuan lebih dulu di dalam RUPSLB pada 30 Oktober 2025.
Perlu diketahui, SML merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah beroperasi secara komersial di Kalimantan Tengah dengan luas lahan 11.046 hektare. Alasan SSMS mengakusisi lahan ini karena lokasi kebun SML berada pada wilayah yang sama dengan aset SSMS.
Selain itu, manajemen SSMS juga mempertimbangkan terkait umur tanaman yang masih muda. Sehingga, hal ini diyakini bisa meningkatkan produktivitas Perseroan
Analisa Proyeksi Kinerja SSMS Jika Resmi Akusisi Saham SML
Dari sisi operasional, kedekatan geografis berpotensi memangkas biaya angkut tandan buah segar (TBS) dan CPO serta mendorong utilisasi pabrik ke tingkat yang lebih optimal.
Penyelarasan standar panen, perbaikan tata angkut, dan penguatan pengendalian mutu diharapkan mampu mengerek rendemen minyak (OER). Jika pengadaan input utama seperti pupuk dan bahan kimia diintegrasikan, biaya pokok per kilogram berpeluang turun sehingga mendukung pertumbuhan pendapatan dan EBITDA konsolidasian.
Dalam skenario terbaik yang bersifat asumtif dan bukan proyeksi resmi, integrasi yang mulus berpotensi meningkatkan serapan TBS SML ke pabrik-pabrik SSMS sehingga utilisasi mendekati kisaran optimal.
Peningkatan mutu panen dan efisiensi logistik dapat mendorong OER naik bertahap, sementara skala operasi yang lebih besar memberi ruang penguatan marjin. Arus kas juga berpotensi lebih stabil dan penilaian pasar terhadap SSMS bisa membaik seiring kombinasi kenaikan volume dan perbaikan profitabilitas.
Meski demikian, investor tetap harus cermat. Di tingkat operasional, keberhasilan integrasi sangat dipengaruhi produktivitas aktual kebun, kondisi infrastruktur jalan kebun, jarak ke pabrik, dan konsistensi OER. Selain itu, kinerja SSMS tetap sensitif terhadap dinamika harga CPO, hingga biaya pupuk.
Secara keseluruhan, rencana akuisisi SML berpeluang positif bagi SSMS karena menambah landbank siap produksi, memperbesar skala, dan menurunkan biaya per unit.
Harga HR CPO Meningkat Periode September 2025
Merujuk keterangan resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga referensi komoditas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) untuk penetapan bea keluar dan tarif Pungutan Ekspor (PE) periode 1—30 September 2025 adalah sebesar USD954,71/MT. Nilai ini meningkat USD 43,80 atau 4,81 persen dari HR CPO periode 1—31 Agustus 2025 yang tercatat sebesar USD910,91/MT.
Penetapan ini tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 1845 tahun 2025 tentang Harga Referensi Crude Palm Oil yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk periode 1—30 September 2025.
“Saat ini, Harga Referensi CPO meningkat menjauhi ambang batas USD 680/MT. Untuk itu, merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang berlaku saat ini, pemerintah mengenakan bea keluar CPO sebesar USD 124/MT dan pungutan Ekspor CPO sebesar 10 persen dari Harga Referensi CPO periode 1—30 September 2025, yaitu sebesar USD 95,4711/MT,” kata Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar
Negeri Kemendag, Tommy Andana.
Sumber harga untuk penetapan HR CPO diperoleh dari rata-rata harga selama periode 25 Juli—24 Agustus 2025 pada bursa CPO di Indonesia yang sebesar USD895,72/MT, bursa CPO di Malaysia sebesar USD1.013,70/MT, dan harga port CPO Rotterdam sebesar USD 1.240,12/MT.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 46 Tahun 2022, bila terdapat perbedaan harga rata-rata pada tiga sumber harga sebesar lebih dari USD 40, maka perhitungan HR CPO menggunakan rata-rata dari dua sumber harga yang menjadi median dan sumber harga terdekat dari median, sehingga harga referensi bersumber dari bursa CPO di Malaysia dan bursa CPO di Indonesia. Sesuai dengan perhitungan tersebut, ditetapkan HR CPO sebesar USD 954,71/MT.
Peningkatan HR CPO tersebut karena adanya peningkatan permintaan terutama dari India dan rencana penerapan kebijakan mandatory B50 di Indonesia. Penyebab berikutnya adalah peningkatan harga minyak nabati lainnya, yang dalam hal ini adalah minyak kedelai.
Hal itu diakibatkan rencana Tiongkok untuk mengenakan antidumping duty minyak canola asal Kanada serta kebijakan mandatory biodiesel Amerika Serikat untuk menggunakan minyak kedelai.
Kinerja SSMS Semester I 2025
Seperti diberitakan sebelumnya, SSMS mencatat kinerja positif pada semester I 2025. Emiten perkebunan kelapa sawit ini membukukan laba bersih sebesar Rp691,44 miliar, atau meningkat 80,81 persen dibandingkan Rp382,40 miliar pada periode sama tahun lalu.
Laba per saham dasar pun ikut terangkat dari Rp40,14 menjadi Rp72,59. Lonjakan ini bukan datang tiba-tiba, melainkan buah dari kombinasi kenaikan pendapatan dan efisiensi operasional yang mampu mengimbangi kenaikan biaya produksi.
Sementara itu, SSMS sukses meraup pendapatan sebanyak Rp7,19 triliun, naik hampir 40 persen. Catatan ini
ditopang oleh segmen minyak dan lemak nabati senilai Rp6,66 triliun. Sektor perkebunan juga menyumbang Rp534,72 miliar.
Setelah eliminasi antar-segmen, perusahaan tetap membukukan pertumbuhan signifikan di sisi top line. Meski beban pokok penjualan melonjak dari Rp3,53 triliun menjadi Rp4,67 triliun, laba bruto justru meningkat dari Rp1,61 triliun ke Rp2,52 triliun.
Laba usaha pun naik dari Rp886,77 miliar menjadi Rp1,25 triliun, menandakan kemampuan SSMS menjaga margin di tengah kenaikan ongkos produksi.
Proyeksi Saham SSMS
Merujuk data Stockbit, konsensus analis menunjukan rasa positif terhadap saham SSMS. Dari 10 analis yang terpantau, seluruhnya memberikan rekomendasi buy, tanpa ada yang menempatkan SSMS pada posisi hold maupun sell. Kecenderungan ini ditopang oleh proyeksi perbaikan fundamental yang agresif pada 2025.
Estimasi konsensus memproyeksikan pendapatan SSMS naik dari Rp10,52 triliun pada 2024 menjadi Rp11,98 triliun pada 2025, atau tumbuh sekitar 13,9 persen, sebelum melandai ke Rp12,12 triliun pada 2026.
Perbaikan yang lebih menonjol terlihat di sisi profitabilitas. Laba operasi diperkirakan melejit dari Rp1,77 triliun pada 2024 menjadi Rp2,92 triliun pada 2025 (naik sekitar 65 persen), lalu bertambah tipis ke Rp2,98 triliun pada 2026.
Laba bersih diperkirakan melonjak paling tajam. Dari Rp820 miliar pada 2024, konsensus memperkirakan perolehan bersih 2025 mencapai Rp1,97 triliun—setara pertumbuhan sekitar 141 persen dan berlanjut ke Rp2,08 triliun pada 2026.
Dampaknya ke para pemegang saham tercermin pada proyeksi laba per saham (EPS) yang diproyeksikan naik dari 86,04 pada 2024 menjadi 207,17 pada 2025, lalu 218,52 pada 2026.(*)