KABARBURSA.COM – Saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menguat signifikan dalam perdagangan pertengahan Juli 2025 setelah menembus level teknikal krusial.
Pada Jumat, 18 Juli 2025, harga saham SRTG ditutup naik 1,70 persen ke posisi Rp1.795 dengan volume yang meningkat dan berhasil melampaui Moving Average (MA) 50 dan 100 hari.
Aksi ini menandai berakhirnya fase konsolidasi panjang yang telah berlangsung sejak awal April 2025. Level Rp1.730 kini menjadi support psikologis penting, setelah sebelumnya menjadi area resistensi kuat.
Jika mampu bertahan di atas level tersebut, analis menilai peluang kenaikan lanjutan masih terbuka lebar.
Menurut tim riset Verdhana Sekuritas Indonesia, sinyal positif muncul dari pergerakan harga yang didukung peningkatan volume transaksi harian serta konfirmasi indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD).
"Kami melihat potensi lanjutan ke Rp1.940 dan Rp2.180 apabila penutupan berhasil melampaui Rp1.800," tulis analis teknikal Verdhana, dikutip Senin, 21 Juli 2025.
Dalam strategi perdagangan yang disusun tim riset, terdapat dua pendekatan yang disarankan kepada pelaku pasar.
Pertama, skenario buy on breakout dengan entry point di atas Rp1.800. Kedua, strategi buy on weakness pada area Rp1.730 hingga Rp1.760. Target harga yang ditetapkan berada pada level Rp1.940 dan Rp2.180, dengan batas risiko atau stop loss di kisaran Rp1.700 dan Rp1.650.
Valuasi saham SRTG saat ini juga menarik perhatian investor institusi. Dengan harga saham di kisaran Rp1.795, price to book value (PBV) SRTG berada di level hanya 0,57 kali. Angka ini mencerminkan bahwa saham diperdagangkan di bawah nilai bukunya, yang secara umum dianggap sebagai sinyal undervalued oleh sebagian investor.
Meski demikian, investor tetap diminta waspada. Pergerakan saham Saratoga sempat sangat volatil pada akhir 2024 hingga awal kuartal I 2025, saat harga anjlok dari Rp2.640 ke kisaran Rp1.500-an hanya dalam waktu tiga bulan. Oleh sebab itu, disiplin terhadap batas risiko sangat diperlukan untuk menghindari potensi kerugian berlebih.
Dari sisi teknikal, indikator MACD menunjukkan sinyal golden cross sejak awal Juli 2025. Ini menjadi petunjuk awal bahwa momentum pembelian mulai mendominasi pasar. Volume transaksi pada 17 Juli juga mencapai lebih dari 5,24 juta lembar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata harian satu bulan terakhir.
SRTG selama ini dikenal sebagai perusahaan investasi milik Sandiaga Uno yang memiliki eksposur besar di sektor energi, kesehatan, dan digital. Portofolio investasinya mencakup Adaro Energy, Mitratel, hingga TBS Energi Utama. Oleh karena itu, kinerja saham SRTG juga kerap dipengaruhi pergerakan sektor-sektor tersebut di pasar modal.
Verdhana Sekuritas, menambahkan bahwa kekuatan SRTG terletak pada strategi value investing jangka panjang.
“SRTG punya basis fundamental kuat, terutama karena pemilihan sektor-sektor defensif dan diversifikasi aset yang luas,” ujar tim riset.
Kondisi makroekonomi yang mulai stabil pasca libur panjang Iduladha juga memberi sentimen positif pada indeks saham secara keseluruhan, termasuk SRTG. IHSG tercatat menguat 0,7 persen dalam sepekan terakhir dan investor asing mencatatkan net buy bersih di sektor keuangan dan energi.
Khusus untuk SRTG, saham ini berpotensi mendapat perhatian tambahan dari investor jika mampu mempertahankan momentumnya dan menembus resistance kedua di level Rp2.180. Namun, analis tetap menyarankan strategi disiplin masuk bertahap dan mempertimbangkan batas stop loss yang ketat.
Saham SRTG masih berada di bawah garis MA200, yang saat ini berada di kisaran Rp2.000. Oleh sebab itu, pergerakan menuju target atas akan diuji oleh kekuatan resistensi jangka menengah. Jika breakout MA200 terjadi, peluang reli berlanjut bisa semakin terbuka. (*)