KABARBURSA.COM – Pemerintah resmi membuka seleksi pengguna pita 1,4 GHz untuk layanan akses nirkabel pitalebar berbasis jaringan tetap. Tujuannya memperluas jangkauan internet yang andal dan terjangkau, terutama di wilayah yang belum terlayani optimal.
“Langkah ini tidak hanya membuka ruang bagi penyelenggara jaringan untuk meningkatkan kapasitas dan cakupan layanan, tetapi juga memperluas pilihan akses internet yang lebih terjangkau bagi masyarakat,” ujar Direktur Jenderal Infrastruktur Digital, Wayan Toni Supriyanto, dalam siaran resmi, 29 Juli 2025.
Ia menambahkan fokus utamanya memastikan pita ini dimanfaatkan maksimal untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas layanan berbasis jaringan tetap, sekaligus membuka ruang inovasi layanan digital di pendidikan, kesehatan, ekonomi digital, dan layanan publik.
Dasar hukum penggelaran ada di Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 13 Tahun 2025. Regulasi ini menetapkan bahwa pita 1,4 GHz mencakup rentang 1427 sampai 1518 MHz dan digunakan dengan moda TDD. Rentang 1432 sampai 1512 MHz dipakai untuk penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched, sedangkan 1427 sampai 1432 MHz dan 1512 sampai 1518 MHz menjadi guardband untuk menghindari gangguan yang merugikan.
Ketentuan ini memberi kepastian desain radio, skema sinkronisasi antarpemegang IPFR, dan mengunci mitigasi interferensi sejak awal.
Hak penggunaan spektrum diberikan dalam bentuk IPFR kepada penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis packet switched, dengan wilayah layanan per regional sesuai Lampiran Permen. Lampiran menunjukkan pembagian tiga regional yang dipecah menjadi 15 zona, misalnya Zona 4 meliputi Banten, DKI, dan Bodetabek, sedangkan Zona 9 mencakup provinsi di Tanah Papua, dan Zona 10 meliputi Maluku serta Maluku Utara. Zonasi ini akan jadi peta kerja untuk rencana rollout, kebutuhan site, dan penarikan backhaul.
Teknis seleksi dibuka melalui e-Auction oleh Tim Seleksi dengan pengumuman resmi bernomor 1/SP/TIMSEL1,4/KOMDIGI/07/2025. Objek seleksi adalah pita selebar 80 MHz pada 1432 sampai 1512 MHz yang dibagi ke tiga regional.
Peserta wajib mengikuti seluruh regional dengan metode penawaran harga dan menyertakan proposal teknis berisi target jumlah rumah tangga yang terlayani hingga kecepatan up to 100 Mbps dalam lima tahun. Jadwal pengambilan akun e-Auction ditetapkan pada 11 sampai 13 Agustus 2025 pukul 09.00 sampai 15.00 WIB, dengan reservasi paling lambat 8 Agustus 2025 pukul 12.00 WIB. Seluruh proses dan formulir resmi tersedia pada tautan yang dirilis pemerintah.
Kerangka pengawasan juga tegas. Pemegang IPFR wajib memakai perangkat tersertifikasi, membayar BHP, melakukan sinkronisasi parameter TDD lintas operator, dan patuh pada hasil koordinasi teknis.
Pelanggaran bisa berujung teguran sampai pencabutan IPFR. Bagi investor, pasal ini penting karena langsung berdampak ke disiplin capex dan kualitas layanan pascapeluncuran.
Siapa Berpeluang dan Rantai Eksekusi: Operator, Tower, Fiber
Pita 1,4 GHz mengarah ke layanan fixed wireless access untuk rumah tangga dan pelanggan bisnis skala kecil hingga menengah. Bagi operator jaringan yang memenuhi syarat perizinan, spektrum ini membuka jalur pertumbuhan pelanggan broadband tanpa menunggu penarikan serat ke rumah.
Kelebihan TDD adalah fleksibilitas pengaturan uplink dan downlink sesuai pola konsumsi rumah tangga yang dominan unduh. Arah monetisasi bisa berupa paket home broadband berbasis CPE, layanan cadangan untuk kantor cabang, sampai bundling konten dan perangkat rumah pintar.
Emiten menara berpotensi menangkap kenaikan tenancy dari kebutuhan site pemancar di zona suburban dan rural. Model build-to-suit dan colocation bisa berjalan seiring, mengikuti klaster perumahan, kampus, dan sentra UMKM.
Karena layanan berbasis jaringan tetap, trafik malam yang konsisten dapat memperbaiki utilisasi site. Di wilayah padat seperti Zona 4, kepadatan pemancar dan kesiapan backhaul jadi penentu pengalaman pengguna. Di wilayah timur seperti Zona 9 dan Zona 10, strategi logistik, hardening site, dan ketersediaan daya menjadi faktor pembeda.
Emiten fiber dan penyedia jaringan wholesale berada di tulang punggung eksekusi. Setiap site TDD 1,4 GHz membutuhkan backhaul andal ke core network. Kontrak sewa kapasitas menengah sampai panjang dapat mempercepat time-to-market pemenang sambil menekan capex awal.
Sinergi backhaul yang kuat akan mempengaruhi latensi dan throughput ujung ke ujung, yang pada akhirnya menentukan retensi pelanggan dan ARPU broadband.
Di sisi perangkat, rantai pasok radio dan CPE 1,4 GHz perlu perhatian. Ketersediaan perangkat yang tersertifikasi dan kompatibel dengan skema sinkronisasi TDD akan mempengaruhi biaya akuisisi pelanggan serta kecepatan peluncuran komersial.
Regulasi mengharuskan perangkat bersertifikat dan mengikat hasil koordinasi teknis antarpemegang IPFR, termasuk koordinasi perbatasan negara jika cakupan menjangkau area lintas batas. Biaya penyesuaian teknis akibat koordinasi menjadi beban pemegang IPFR.
Secara operasional, dokumen seleksi menegaskan peserta harus mengajukan target rumah tangga terlayani hingga 100 Mbps selama lima tahun dan mengikuti seleksi untuk seluruh regional.
Artinya, tesis eksekusi bukan parsial. Investor sebaiknya menilai ambisi cakupan, urutan prioritas zona, dan kesiapan mitra perangkat serta backhaul sejak hari pertama.
Akankah Menjadi Katalis?
Operator jaringan berpotensi mendapatkan pendorong pertumbuhan pelanggan broadband rumah tangga. Positif di narasi ARPU dan cross-sell, namun menuntut capex jaringan dan strategi subsidi CPE yang disiplin.
Towercos berpeluang pada kenaikan tenancy tambahan, terutama di zona suburban dan luar Jawa. Efeknya bertahap tetapi visibilitas kontrak relatif tinggi.
Penyedia fiber dan jaringan wholesale berpotensi meraih kontrak sewa kapasitas dan IP transit, dengan margin dipengaruhi oleh durasi kontrak dan utilisasi ring fiber.
Pertama, fase administrasi dan pra-kualifikasi yang mengerucut ke daftar peserta sah. Kedua, hari e-Auction dan pengumuman pemenang per regional yang kerap memicu reaksi harga. Ketiga, pengumuman kontrak eksklusif, seperti pengadaan CPE TDD 1,4 GHz, kerja sama backhaul fiber, serta kolokasi dengan towercos. Keempat, momen time-to-first-site on air di setiap regional yang biasanya menguji ekspektasi pasar terhadap eksekusi.
Jika pemenang utama adalah operator besar, sentimen awal cenderung positif pada operator tersebut. Pasar kemudian akan menagih bukti eksekusi berupa laju site on air, take-up rate, dan perkembangan ARPU paket broadband. Towercos berpotensi menikmati kenaikan tenancy sesuai ritme cluster rollout, sedangkan penyedia backhaul dapat mengunci kontrak jangka menengah.
Jika pemenang tersebar ke beberapa pemain termasuk ISP non-seluler, kompetisi paket FWA bisa meningkat. Pasar akan mencari emiten yang paling efisien di biaya akuisisi pelanggan dan paling cepat mengamankan rantai pasok perangkat.
Tarik target cakupan lima tahun per regional yang diserahkan dalam proposal teknis. Ukur take-up rate pelanggan FWA, ARPU broadband rumah tangga, dan besaran subsidi CPE per pelanggan. Di sisi jaringan, pantau jumlah site baru, kontrak backhaul dan kolokasi, serta kepatuhan sinkronisasi TDD. Pelanggaran hasil koordinasi teknis membawa risiko teguran sampai pencabutan IPFR, sehingga manajemen interferensi harus tercermin dalam opex jaringan.
Untuk operator FWA: pendapatan tahunan sederhana bisa dihampiri melalui rumus ilustratif home passed × take-up rate × ARPU bulanan × 12. Ilustrasi konservatif, misalnya 1.000.000 home passed, take-up 15 persen, dan ARPU Rp180.000, menghasilkan sekitar Rp324 miliar pendapatan kotor per tahun. Dari angka ini, kurangi subsidi CPE, biaya spektrum tahunan, dan opex jaringan.
Untuk towercos: kenaikan pendapatan mengikuti site baru × sewa per site × tingkat kolokasi, sambil memantau tenancy ratio dan laju lease-up. Untuk backhaul: tambahan pendapatan kira-kira kapasitas sewa Gbps × tarif bulanan × 12 × durasi kontrak. Angka-angka ini bersifat ilustratif guna mengonversi komitmen jaringan menjadi pendapatan, bukan proyeksi resmi.
Pra-hasil lelang, fokus pada sinyal partisipasi, volume tidak biasa, dan pernyataan kesiapan jaringan. Pada hari pengumuman, reaksi gap di saham operator bisa dipasangkan dengan strategi pairs trade terhadap tower jika pasar hanya menilai pemenang langsung.
Pasca-hasil, satu sampai tiga bulan pertama menjadi fase pembuktian melalui kontrak CPE, kontrak backhaul, dan site komersial pertama di masing-masing regional. Momentum follow-through biasanya kuat jika ada rangkaian pengumuman eksekusi yang berdekatan.
Apakah pemenang menargetkan zona padat lebih dulu demi mempercepat payback. Apakah kontrak backhaul dan kolokasi sudah siap jalan di regional kunci. Bagaimana struktur harga paket dan skema cicilan CPE untuk menekan biaya awal pelanggan. Apakah manajemen memberi guidance awal soal ARPU dan take-up rate. Apakah towercos memberi indikasi pipeline build-to-suit di luar Jawa. Semua butir ini bersandar pada Kerangka Seleksi yang mewajibkan proposal teknis mencantumkan target rumah tangga dan kecepatan layanan hingga 100 Mbps dalam lima tahun.
Kombinasi regulasi yang jelas, metode seleksi berbasis e-Auction, dan pengawasan teknis yang ketat menetapkan panggung untuk fixed broadband berbasis 1,4 GHz.
“Fokus kami adalah memastikan pita frekuensi ini dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas layanan internet berbasis jaringan pitalebar tetap,” kata Wayan Toni.
Untuk investor, katalis terbesar ada pada hasil seleksi dan bukti eksekusi. Untuk trader, momen pengumuman dan rangkaian kontrak eksekusi akan menjadi kunci volatilitas. (*)