Insight Daily 06 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Sinyal Koreksi PSAB Menguat Meski Tren Utama Masih Naik

Saham PSAB naik 65 persen sepekan terakhir, tapi indikator teknikal mulai melemah dan investor besar terlihat mengurangi posisi di harga tinggi.

KABARBURSA.COM – Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melesat 65 persen dalam sepekan terakhir. Lonjakan harga emas dan sentimen proyek tambang baru mendorong antusiasme pasar. Tapi sinyal teknikal mulai melemah dan investor besar terlihat mulai melepas kepemilikan. Apakah reli ini masih berlanjut atau justru memasuki fase koreksi?

Kenaikan PSAB tertopang harga emas dan proyek Doup, tapi tekanan jual mulai terlihat. Foto: Dok. PSAB diolah KabarBursa.com.
Kenaikan PSAB tertopang harga emas dan proyek Doup, tapi tekanan jual mulai terlihat. Foto: Dok. PSAB diolah KabarBursa.com.

Insight Navigator

  1. 01 Fundamental dan Operasi Tambang PSAB
  2. 02 Aktivitas Broker dan Bandarmologi 5 Juni 2025
  3. 03 Sinyal Teknis PSAB Mulai Melemah di Tengah Tren Naik
  4. 04 Bagaimana Investor Bisa Menyikapi Situasi ini?

KABARBURSA.COM – Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melesat 65 persen dalam sepekan terakhir. Lonjakan harga emas dan sentimen proyek tambang baru mendorong antusiasme pasar. Tapi sinyal teknikal mulai melemah dan investor besar terlihat mulai melepas kepemilikan. Apakah reli ini masih berlanjut atau justru memasuki fase koreksi?

Menurut riset terbaru dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, penguatan saham PSAB sangat berkorelasi dengan lonjakan harga emas global. Goldman Sachs memproyeksikan harga emas dapat menyentuh USD3.700 per troy ons pada akhir 2025, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global. Selama enam bulan pertama 2025, harga emas telah naik 27,5 persen karena didorong oleh arus beli masif dari bank sentral global yang mencapai rata-rata 80 ton per bulan.

Dalam situasi seperti ini, PSAB menjadi salah satu saham yang paling diuntungkan karena merupakan perusahaan tambang emas murni (pure-play). Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyebut bahwa pergerakan harga saham PSAB cenderung sejalan dengan fluktuasi harga emas global. Namun, ia juga mengingatkan euforia pasar saat ini perlu dibarengi dengan kehati-hatian karena faktor fundamental PSAB belum berubah secara signifikan.

“Ketika harga emas naik, harga saham PSAB cenderung ikut naik,” tulis Liza dalam risetnya kepada KabarBursa.com, dua hari lalu.

Perusahaan milik pengusaha Jimmy Budiaryo ini masih mengandalkan prospek dari Proyek Tambang Emas Doup di Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. Proyek tersebut menjadi penentu masa depan produksi PSAB karena mencakup hampir 60 persen dari total cadangan dan sumber daya perusahaan.

Meski diharapkan akan meningkatkan kinerja keuangan secara signifikan, proyek Doup baru dijadwalkan mulai produksi pada akhir 2025 atau awal 2026. Artinya, risiko eksekusi proyek masih tinggi.

Fundamental dan Operasi Tambang PSAB

PSAB membukukan kinerja yang menguat secara menyeluruh sepanjang kuartal pertama 2025. Berdasarkan laporan keuangan terakhir, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar USD66,74 juta, naik dari USD62,84 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan emas serta harga jual rata-rata yang lebih tinggi. Di sisi operasional, PSAB berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi USD26,95 juta, turun signifikan dari USD38,09 juta tahun lalu. Efisiensi ini mengerek laba kotor perusahaan menjadi USD39,78 juta—melonjak 61 persen dibanding kuartal I 2024 yang hanya USD24,74 juta.

Dari sisi profitabilitas, laba sebelum pajak melonjak menjadi USD22,94 juta dari sebelumnya USD7,65 juta. Setelah dikurangi beban pajak sebesar USD6,45 juta, laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai USD11,46 juta, naik hampir lima kali lipat dibanding USD2,24 juta di kuartal yang sama tahun lalu. Jika dihitung total laba bersih konsolidasian (termasuk non-pengendali), nilainya mencapai USD16,49 juta.

Margin laba kotor juga mengalami perbaikan tajam, dari 39,3 persen pada kuartal I 2024 menjadi 59,6 persen di kuartal I 2025. Ini mencerminkan efektivitas manajemen biaya dan penguatan struktur operasional.

Dari sisi arus kas, PSAB menghasilkan arus kas dari aktivitas operasi sebesar USD28,35 juta, naik dari USD27,21 juta pada kuartal I 2024. Pengeluaran untuk investasi juga meningkat menjadi USD25,16 juta yang menandakan masih aktifnya pembangunan proyek-proyek strategis seperti Tambang Doup.

Di sisi pendanaan, arus kas keluar tercatat sebesar USD1,68 juta, sedikit lebih rendah dibanding tahun lalu. Secara keseluruhan, kenaikan bersih kas selama kuartal ini tercatat sebesar USD1,5 juta.

Saat ini, PSAB mengoperasikan empat tambang emas aktif yang menyumbang produksi utama:

  1. Penjom Mine di Malaysia
  2. North Lanut di Sulawesi Utara
  3. Seruyung di Kalimantan Utara
  4. Bakan di Kalimantan Utara

Keempatnya masih menjadi tulang punggung operasional perseroan. Namun arah pertumbuhan jangka menengah sangat bergantung pada proyek baru yang sedang digarap, yakni Tambang Doup di Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara.

Proyek Doup disebut-sebut sebagai penentu masa depan PSAB karena mengandung lebih dari 60 persen dari total cadangan dan sumber daya emas perusahaan. Nilai investasi dalam aset eksplorasi dan pengembangan naik dari USD39,5 juta menjadi USD 49,1 juta yang menandakan proyek ini sedang dalam tahap konstruksi aktif. Produksi komersial dijadwalkan baru akan dimulai pada akhir 2025 atau awal 2026.

Atas dasar tersebut, Kiwoom merekomendasikan investor untuk menahan diri (Hold) atau menerapkan strategi wait and see. Bagi yang sudah mengoleksi saham ini di harga rendah, Sell on Strength atau take profit bertahap dinilai sebagai langkah yang bijak mengingat harga telah naik signifikan dalam waktu singkat.

Aktivitas Broker dan Bandarmologi 5 Juni 2025

Di balik penurunan harga PSAB ke level Rp515 pada Kamis, 5 Juni 2025, tersimpan pergerakan menarik dari para pelaku besar pasar. Data aktivitas broker mengungkap bahwa meski masih terjadi aksi beli oleh investor asing, distribusi di harga tinggi juga mulai bermunculan.

Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp8,72 miliar di pasar reguler. Nilai ini terbilang signifikan, mengingat total nilai beli asing hari itu mencapai Rp32,6 miliar, jauh melampaui nilai jualnya yang sebesar Rp23,8 miliar. Namun, pergerakan ini tidak sepenuhnya mencerminkan akumulasi penuh. Broker-broker besar mulai menunjukkan tanda-tanda pelepasan barang.

Di sisi pembeli, broker asing seperti Mirae Asset Sekuritas (YP), UBS Sekuritas (AK), OCBC Sekuritas (TP), dan RHB Sekuritas (DR) tercatat melakukan akumulasi aktif. Mirae, misalnya, memborong saham PSAB senilai lebih dari Rp8,3 miliar dengan rata-rata harga beli Rp520 per saham.

Namun, di saat yang sama, aktivitas distribusi mulai terdeteksi di sejumlah broker papan atas. JP Morgan Sekuritas (BK), Valbury Sekuritas (CP), dan Maybank Sekuritas (ZP) tampak melepas kepemilikannya. Indo Premier (PD) dan Stockbit Sekuritas (XL) juga turut mencatatkan penjualan besar di kisaran harga Rp506–522.

Secara keseluruhan, pasar PSAB masih didominasi investor domestik. Dari total nilai transaksi, 77 persen berasal dari pelaku lokal, baik dari sisi volume maupun frekuensi. Investor asing hanya menyumbang sekitar 22,8 persen dari nilai dan 15 persen dari frekuensi transaksi. Ini menandakan euforia harga saham ini masih digerakkan mayoritas oleh investor ritel dan lokal.

Pola ini menunjukkan satu hal: “smart money” mulai bergerak hati-hati. Di tengah tren naik yang masih berlangsung, sejumlah investor institusi memilih untuk mengurangi eksposur dan merealisasikan keuntungan lebih awal. Sementara itu, pelaku pasar ritel tampak masih antusias mengejar momentum, berpotensi terjebak di harga tinggi jika koreksi berlanjut.

Sinyal Teknis PSAB Mulai Melemah di Tengah Tren Naik


Secara teknikal, saham PSAB masih menunjukkan kecenderungan menguat dalam jangka menengah. Namun sejumlah indikator mulai memperlihatkan sinyal bahwa tekanan jual sedang menguat, setidaknya untuk jangka pendek.

Ringkasan indikator yang dihimpun Investing per 5 Juni 2025 menyebutkan status “Strong Buy”, tapi dengan catatan bahwa beberapa sinyal harian mulai melemah. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 57,5 atau berada di zona netral yang condong melemah setelah sebelumnya sempat mendekati kondisi jenuh beli. Penurunan RSI ini menunjukkan bahwa momentum beli mulai surut.

Sementara itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di wilayah positif dengan nilai 33,0, menandakan tren secara umum belum mengalami pembalikan arah. Namun indikator lainnya, yaitu Stochastic RSI, justru menunjukkan kondisi oversold yang secara teknikal bisa menjadi sinyal awal untuk potensi pantulan harga jangka pendek—meski belum menjamin pembalikan tren yang kuat.

Dari sisi rata-rata pergerakan harga (moving averages), situasinya lebih kompleks. Harga PSAB masih berada di atas MA50 hingga MA200, yang artinya tren menengah hingga panjang tetap positif. Tapi untuk jangka pendek, posisi harga sudah berada di bawah MA5, MA10, dan MA20, yang biasa dibaca sebagai sinyal koreksi. Ketika harga menembus ke bawah tiga garis rata-rata pendek itu, pasar umumnya sedang bergerak turun dalam waktu dekat.

Dalam perhitungan titik pivot, PSAB memiliki level support penting di kisaran Rp492 hingga Rp504. Jika harga mampu bertahan di atas level ini, peluang pantulan teknikal terbuka. Namun bila support tersebut jebol, koreksi berpotensi berlanjut ke area lebih dalam, mendekati MA50 yang saat ini berada di kisaran Rp405.

Sinyal peringatan lain juga terlihat dari pola candlestick mingguan. Setidaknya tiga pola teknikal penting terbentuk secara berurutan: Doji Star Bearish, Harami Bearish, dan Evening Doji Star. Ketiga pola ini tergolong sebagai formasi pembalikan arah (reversal) yang muncul setelah tren naik tajam. Dalam konteks PSAB yang baru saja mencatat kenaikan 65 persen dalam sepekan, munculnya pola ini bisa diartikan sebagai alarm bahwa tekanan jual mulai terakumulasi.

Jika dilihat secara keseluruhan, analisis teknikal PSAB mengisyaratkan adanya kekuatan tren naik yang mulai kehilangan tenaga. Sentimen jangka menengah tetap positif selama harga bertahan di atas support kuat. Namun untuk jangka pendek, pelaku pasar perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya konsolidasi atau koreksi teknikal dalam beberapa hari ke depan.

Bagaimana Investor Bisa Menyikapi Situasi ini?

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa PSAB berada di tengah persimpangan antara kekuatan tren jangka menengah dan tekanan jual jangka pendek. Sentimen positif dari lonjakan harga emas global masih menjadi penopang utama. Namun di sisi lain, pergerakan harga yang sudah naik lebih dari 60 persen dalam lima hari, ditambah mulai munculnya sinyal teknikal pelemahan dan aksi jual oleh pelaku besar, memberi tanda bahwa pasar sedang melakukan penyesuaian.

Bagi investor dengan orientasi jangka pendek, situasi seperti ini menuntut kewaspadaan tinggi. Volatilitas berpotensi meningkat, dan ruang koreksi masih terbuka lebar terutama jika harga menembus level support kritis.

Sementara itu, investor jangka menengah hingga panjang yang memegang saham ini karena eksposur terhadap emas dan potensi dari proyek Doup, perlu mempertimbangkan ulang horizon waktunya. Proyek tersebut baru akan memberikan dampak nyata setelah produksi dimulai paling cepat akhir tahun ini dengan risiko eksekusi yang tetap harus dihitung.

Lagi pula, dengan eksposur yang hampir sepenuhnya bergantung pada emas, performa saham PSAB sangat dipengaruhi dinamika harga komoditas ini. Meski kinerja keuangan menunjukkan pemulihan dan efisiensi, investor tetap perlu memperhitungkan penguatan harga saham dalam jangka pendek belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan riil produksi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya