KABARBURSA.COM – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mengalami penurunan tajam pada kuartal I 2025. Pendapatan anjlok 25,1 persen secara tahunan menjadi Rp789,11 miliar. Laba bersih juga merosot 40,3 persen menjadi Rp232,94 miliar dari Rp390,49 miliar pada periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Kondisi ini terjadi karena mobilitas masyarakat saat Lebaran yang justru menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir. Lemahnya daya beli dan pola konsumsi rumah tangga yang stagnan turut memperberat penurunan kinerja.
Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 3,07 persen di kuartal I 2025, jauh di bawah pertumbuhan 24,13 persen yoy.
Meski demikian, manajemen SIDO tetap menargetkan pertumbuhan lebih dari 10 persen untuk pendapatan dan laba bersih sepanjang tahun 2025.
Kiwoom Sekuritas Indonesia mencatat bahwa proyeksi realistis saat ini masih berada di bawah target tersebut. Estimasi pertumbuhan penjualan tahun ini hanya 7,1 persen menjadi Rp4,19 triliun dan laba bersih naik 2,6 persen menjadi Rp1,20 triliun.
Proyeksi kuartal II 2025 dinilai akan lebih baik. Curah hujan tinggi akibat musim kemarau basah dan momentum libur panjang diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap produk herbal, khususnya Tolak Angin.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia masih belum memasuki musim kemarau meskipun sudah melewati bulan Juni.
Menurut Abdul Azis Setyo W., analis riset dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, tekanan kinerja di awal tahun tidak serta merta mengubah arah pertumbuhan jangka menengah SIDO.
“Kinerja kuartal pertama menurun karena daya beli yang lemah dan basis tinggi tahun sebelumnya. Namun, momentum kuartal kedua kami perkirakan membaik seiring curah hujan tinggi dan mobilitas masyarakat saat libur panjang,” jelasnya dalam laporan riset, dikutip Rabu, 16 Juli 2025.
SIDO juga masih mempertahankan margin keuntungan tinggi di tengah tekanan permintaan. Margin laba kotor (GPM) kuartal I 2025 tercatat 52 persen, meskipun turun dari 59 persen pada kuartal I-2024. Margin laba operasi (OPM) tercatat 36 persen, dan margin laba bersih (NPM) tetap stabil di level 37 persen.
Strategi ekspansi internasional menjadi salah satu tumpuan utama. Pada kuartal I-2025, kontribusi penjualan ekspor mencapai 12,1 persen terhadap total pendapatan, melonjak dari hanya 5,2 persen pada kuartal I 2022.
Negara tujuan utama adalah Filipina, Nigeria, dan Malaysia, dengan rencana ekspansi selanjutnya ke China dan Afrika Selatan.
Kinerja ekspor ini sejalan dengan tren pertumbuhan pasar herbal kawasan ASEAN. Menurut Fortune Business Insights, nilai pasar herbal ASEAN diperkirakan mencapai USD10 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 5,5 persen hingga 2026. Produk SIDO seperti Tolak Angin telah meraih penetrasi tinggi, terutama di pasar Filipina.
Menurut Edi Chandren, Lead Investment Analyst di Stockbit, penurunan harga saham SIDO yang terjadi sejak laporan kuartal I telah banyak mencerminkan sentimen negatif pasar.
“Kami menilai penurunan harga saham yang terjadi sudah cukup banyak merefleksikan pesimisme market. Dengan valuasi yang rendah, risiko penurunan lanjutan tampak terbatas,” ujarnya melalui laporan yang dikutip Rabu, 18 Juli 2025.
Valuasi SIDO saat ini dinilai sudah mencerminkan ekspektasi perlambatan laba. Kiwoom Sekuritas memperkirakan laba 2025 akan tumbuh 2,6 persen menjadi Rp1,20 triliun, lebih rendah dari target manajemen yang di atas 10 persen.
“Estimasi kami lebih rendah dari panduan perusahaan, tapi harga saham SIDO saat ini sudah mencerminkan kondisi tersebut. Kami tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp610,” tambah Abdul Azis.
Per Rabu, 9 Juli 2025, SIDO diperdagangkan pada valuasi 13,1 kali P/E forward, atau sekitar minus dua standar deviasi dari rata-rata historis lima tahun terakhir.
“Valuasi ini termasuk yang terendah dalam lima tahun terakhir. Dari sisi teknikal, SIDO juga berada di area support mingguan,” ungkap Edi Chandren dalam catatannya.
Dari sisi valuasi, target Rp610 dihitung berdasarkan metode gabungan DCF dan P/E. Nilai wajar berbasis DCF adalah Rp813 per saham, sedangkan hasil blended final setelah margin of safety sebesar 20 persen menghasilkan target Rp610. Dengan harga pasar saat ini di Rp515, potensi kenaikan mencapai 18,45 persen dalam 12 bulan.
Risiko utama terhadap kinerja SIDO datang dari tekanan daya beli masyarakat dan biaya operasional. Jika tren inflasi kembali naik atau kebijakan fiskal mengerem konsumsi rumah tangga, segmen herbal dan F&B bisa terdampak. Selain itu, persaingan di pasar domestik dari produk substitusi seperti Antangin dan Bejo juga mengintensifkan tekanan margin.
Namun, struktur keuangan tanpa utang dan ketersediaan kas yang tinggi membuat SIDO sangat fleksibel menghadapi tekanan jangka pendek. Perusahaan juga mampu mempertahankan rasio pengembalian yang tinggi bagi pemegang saham melalui dividen dan buyback. Rasio pembayaran dividen 2025 diproyeksikan tetap 100 persen, dengan yield mencapai 6,6 persen.
Portofolio produk yang luas, lebih dari 300 SKU, memberi keunggulan kompetitif yang kuat bagi SIDO di dalam dan luar negeri. Fokus ekspansi ke pasar China dan Afrika Selatan menjadi katalis berikutnya yang dinilai strategis, mengingat tren pertumbuhan konsumsi herbal global diperkirakan terus berlanjut hingga 2029. (*)