KABARBURSA.COM – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengawali paruh kedua 2025 dengan optimisme tinggi.
Perusahaan tambang emas yang berada di bawah naungan Grup Salim ini memang mencatat penurunan pendapatan pada kuartal II 2025 sebesar 9,1 persen secara kuartalan menjadi USD58 juta.
Penurunan ini disebabkan berkurangnya volume penjualan emas akibat pekerjaan pushback terjadwal di tambang terbuka River Reef, Poboya, yang membatasi akses ke bijih berkadar tinggi.
Namun, pelemahan volume berhasil ditopang kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 16,8 persen menjadi USD3.282 per ons.
Kenaikan ini tidak hanya mengompensasi sebagian tekanan dari sisi volume, tetapi juga mencerminkan tren harga emas global yang tengah berada di kisaran USD3.000–3.300 per ons.
Secara tahunan, pendapatan kuartal II 2025 tetap tumbuh 40,5 persen. Sementara itu, pendapatan sepanjang semester I 2025 melonjak 97,2 persen menjadi USD121 juta, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD61 juta.
Laba bersih semester I tercatat USD23 juta. Namun, bila mengeluarkan pengaruh one-off seperti kerugian USD14 juta dari penjualan peralatan carbon-in-leach (CIL) #1 yang sudah usang dan penghapusan proyek bauksit, laba bersih sesungguhnya mencapai USD36,5 juta.
Analis KB Valbury Sekuritas, Laurencia Hiemas, menilai bahwa beban one-off tersebut bersifat nonkas dan tidak berulang.
"Dengan neraca yang lebih bersih dan harga emas yang tetap kuat, kami melihat ruang pertumbuhan yang signifikan untuk BRMS pada periode mendatang," tulis Laurencia dalam riset, Jumat, 8 Agustus 2025.
Proyeksi Produksi Melonjak dengan Fasilitas Heap Leach
Momentum pertumbuhan BRMS diyakini akan semakin kuat mulai 2025.
Perusahaan tengah mempersiapkan operasional fasilitas heap leach di Blok-1 Poboya, yang dijadwalkan mulai beroperasi tahun depan. Teknologi ini akan memaksimalkan ekstraksi emas dari bijih berkadar lebih rendah dengan biaya yang lebih efisien.
KB Valbury memproyeksikan produksi emas BRMS naik menjadi 72,4 ribu ons pada 2025, meningkat 11,4 persen dari tahun sebelumnya. Lonjakan produksi berlanjut pada 2027, dengan target mencapai 89 ribu ons.
Peningkatan kapasitas ini diharapkan akan langsung berdampak pada pendapatan yang diproyeksikan sebesar USD240 juta pada 2025, naik 47,8 persen dibandingkan 2024.
Tak hanya volume yang bertambah, efisiensi biaya produksi juga menjadi faktor pendorong margin. Cash cost diperkirakan berada pada kisaran USD1.508–1.574 per ons, sehingga margin EBITDA diproyeksikan bertahan di atas 38 persen.
Dengan kondisi tersebut, laba bersih BRMS diproyeksikan mencapai USD39 juta pada 2025 dan USD56 juta pada 2026.
Laurencia menambahkan, pengembangan tambang bawah tanah yang direncanakan mulai 2027 berpotensi melipatgandakan produksi. Tambang ini diperkirakan memiliki kadar bijih emas tinggi, sekitar 4,9 gram per ton, dengan umur tambang hingga 20 tahun.
“Ini akan menjadi salah satu pendorong utama valuasi jangka panjang BRMS,” ujarnya.
Revisi Naik Proyeksi Laba dan Margin
KB Valbury melakukan revisi signifikan terhadap proyeksi kinerja BRMS, khususnya untuk 2027.
Laba bersih diproyeksikan naik 163 persen dibanding perkiraan sebelumnya, sementara proyeksi laba 2026 dinaikkan 64,7 persen.
Revisi ini mencerminkan kombinasi dari margin yang lebih tebal, biaya yang lebih rendah, dan asumsi harga emas yang lebih tinggi dibanding perkiraan awal.
Untuk 2025, proyeksi pendapatan juga dinaikkan 11 persen menjadi USD240 juta, seiring asumsi produksi yang lebih tinggi pasca pekerjaan pushback selesai. Margin kotor diperkirakan mencapai 52,7 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 54,9 persen pada 2027.
Sementara itu, margin laba bersih diproyeksikan berada di level 16,2 persen pada 2025 dan naik menjadi 18,9 persen pada 2027.
Di sisi lain, BRMS juga diproyeksikan mempertahankan posisi neraca yang cukup sehat. Net gearing diperkirakan naik dari 0,1 kali pada 2024 menjadi 0,2 kali pada 2026–2027, seiring pendanaan proyek-proyek pengembangan. Meskipun demikian, rasio cakupan bunga tetap solid di kisaran 3,7 kali pada 2027.
Gorontalo Minerals Jadi Penopang Valuasi
Salah satu katalis utama yang disebut Laurencia adalah proyek Gorontalo Minerals, di mana BRMS memiliki 80 persen kepemilikan. Dalam metode valuasi berbasis sum-of-the-parts (SOTP), Gorontalo Minerals menyumbang sekitar 36 persen dari total nilai perusahaan.
Proyek lain yang juga berkontribusi besar adalah Suma Heksa Sinergi (22 persen) dan Citra Palu Mineral (19 persen). Citra Palu Mineral menjadi andalan jangka menengah berkat kontribusi dari Poboya. Selain itu, Dairi Prima Mineral dan Linge Mineral Resources masing-masing berkontribusi 19 persen dan 3 persen terhadap valuasi.
KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli untuk BRMS dengan target harga Rp560 per saham, memberikan potensi kenaikan sekitar 22,3 persen dari harga penutupan 7 Agustus 2025 di level Rp458. Valuasi ini setara dengan EV/Reserves sebesar USD12.183 per ton untuk tahun 2026.
Risiko dan Sentimen Pasar
Meski prospeknya cerah, Laurencia mengingatkan adanya risiko yang patut diwaspadai. Fluktuasi harga emas global menjadi faktor eksternal utama yang dapat mempengaruhi margin dan pendapatan. Penurunan tajam harga emas akan langsung menekan profitabilitas, terutama jika terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya produksi.
Risiko lainnya meliputi potensi keterlambatan penyelesaian proyek, terutama pengembangan fasilitas heap leach dan tambang bawah tanah, serta ketersediaan pendanaan yang memadai.
“Kendala pendanaan dapat memperlambat realisasi proyek ekspansi, sehingga proyeksi produksi dan laba bisa tertunda,” jelasnya.
Namun, tren harga emas yang saat ini berada di kisaran USD3.000–3.300 per ons memberikan sentimen positif. Harga emas global cenderung mendapat dukungan dari ketidakpastian ekonomi global dan permintaan investasi sebagai aset lindung nilai.
Performa Saham dan Perbandingan dengan Peers
Saham BRMS mencatat kinerja impresif sepanjang 12 bulan terakhir, dengan kenaikan 202 persen secara tahunan, jauh mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya naik 4,9 persen. Secara year-to-date, saham ini menguat 30,1 persen.
Jika dibandingkan dengan emiten sejenis, BRMS diperdagangkan pada valuasi premium karena prospek pertumbuhan laba per saham (EPS) yang tinggi.
Untuk 2025, pertumbuhan EPS diproyeksikan mencapai 70,1 persen dan 45,7 persen pada 2026. Rasio harga terhadap laba (P/E) berada di 103,6 kali untuk 2025 dan turun menjadi 71,1 kali pada 2026, mencerminkan ekspektasi pertumbuhan laba di masa depan.
Sementara itu, rasio harga terhadap nilai buku (P/BV) diproyeksikan menurun dari 3,9 kali pada 2025 menjadi 3,6 kali pada 2026, seiring peningkatan ekuitas.
Dibandingkan dengan pemain besar sektor logam dan tambang seperti ANTM, INCO, dan NCKL, BRMS menonjol dari sisi proyeksi pertumbuhan laba, meski memiliki skala pendapatan yang lebih kecil.
Prospek Jangka Panjang
Dengan kombinasi kenaikan produksi, efisiensi biaya, dan potensi harga emas yang kuat, BRMS berada pada jalur untuk memperkuat kinerjanya dalam beberapa tahun ke depan.
Proyeksi KB Valbury menunjukkan pendapatan dapat tumbuh menjadi USD616 juta pada 2029, dengan margin laba bersih meningkat menjadi 26,1 persen dan EPS membukukan CAGR 49,8 persen dari 2024 hingga 2029.
Jika pengembangan tambang bawah tanah berjalan sesuai rencana, kapasitas produksi bisa meningkat tiga kali lipat dengan kadar bijih lebih tinggi.
Hal ini berpotensi mengubah profil pendapatan dan laba BRMS secara signifikan, sekaligus meningkatkan valuasi di mata investor. (*)