Harga saham ENRG mencuat tajam sepanjang perdagangan Jumat, 25 Juli 2025. Berdasarkan data Stockbit, saham emiten energi milik Grup Bakrie itu ditutup di level Rp525, menguat 10,29 persen dalam sehari dan naik 9,38 persen dalam sepekan. Lonjakan harga ini diiringi arus masuk asing yang deras dengan net buy mencapai Rp37,9 miliar di pasar reguler. Volume pembelian asing tercatat 114,7 juta saham, jauh melampaui volume jual yang hanya 40 juta saham. Kondisi ini menandakan minat akumulasi yang kuat dari investor luar negeri.
Dua Langkah Besar yang Mengubah Peta Permainan ENRG
Namun euforia pasar ini tidak datang tiba-tiba. Aksi beli investor asing terjadi tepat setelah ENRG mengumumkan dua langkah besar yang menyentuh langsung inti bisnisnya, yakni mengambil alih 100 persen kepemilikan Blok Kangean dan sekaligus melepas setengah porsi kepemilikan Blok Gebang kepada perusahaan migas Jepang, JAPEX. Keduanya merupakan bagian dari strategi rekonstruksi portofolio migas yang lebih fokus pada efisiensi dan penguatan arus kas jangka menengah.
Blok Kangean, yang sebelumnya dimiliki bersama dengan Mitsubishi dan Japex, kini sepenuhnya dikuasai ENRG setelah menuntaskan pembelian sisa 25 persen saham dari dua mitranya tersebut. Pengambilalihan ini strategis, sebab Blok Kangean merupakan penyumbang produksi gas terbesar kedua bagi ENRG. Dengan penguasaan penuh, perusahaan memiliki keleluasaan lebih dalam mengatur skema pengembangan dan monetisasi aset. Targetnya bukan kecil, yakni meningkatkan produksi gas dari sekitar 40 MMSCFD saat ini menjadi 324 MMSCFD pada 2031. Artinya, hampir delapan kali lipat dalam enam tahun ke depan.
Sebaliknya, di Blok Gebang—yang belum berproduksi dan baru direncanakan mulai eksploitasi pada 2027—ENRG justru memilih melepas 50 persen sahamnya ke JAPEX. Langkah ini memang mengurangi kepemilikan langsung atas cadangan, namun lebih penting dari itu, ENRG berhasil memangkas beban modal awal (capex) hingga USD283 juta. JAPEX akan menanggung biaya awal pengembangan, sementara ENRG tetap punya hak atas separuh nilai ekonomi dari proyek ini. Dengan cadangan gas yang ditaksir bisa mencapai produksi 136 MMSCFD pada 2035, Blok Gebang tetap menyimpan potensi nilai masa depan yang besar tanpa harus menguras kas perusahaan dari awal.
Manuver ini memberi ruang bagi ENRG untuk mengalihkan sumber daya ke proyek lain yang lebih mendesak, seperti eksplorasi Blok Selat Malaka. Untuk mendanai aktivitas pengeboran di blok tersebut, ENRG telah menyiapkan aksi korporasi berupa penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) sebanyak 2,5 miliar saham. Sekitar 70 persen dari dana hasil rights issue ini akan dialokasikan untuk kebutuhan eksplorasi dan pengeboran, sementara sisanya untuk modal kerja dan penguatan struktur permodalan.
Arah restrukturisasi portofolio ini mendapat respons positif dari analis pasar. Dalam riset terbarunya, Samuel Sekuritas menetapkan rekomendasi BUY untuk saham ENRG dengan target harga Rp650 per saham. Valuasi ini didasarkan pada model diskonto arus kas (DCF) dengan asumsi EV/EBITDA tahun 2026 di kisaran 4,6 kali. Level ini masih tergolong murah dibandingkan rata-rata sektor energi gas domestik.
“Kami menilai perusahaan minyak dan gas seperti ENRG akan memiliki fundamental yang lebih solid, didorong oleh meningkatnya penggunaan energi fosil dalam jangka panjang karena energi terbarukan menghadapi tantangan ke depan,” demikian riset Samuel Sekuritas yang ditulis oleh Equity Research Analyst, Juan Oktavianus Harahap dan Equity Research Associate, Fadhlan Banny Firmansyah.
Secara keseluruhan, investor kini dihadapkan pada satu pertanyaan penting, apakah kenaikan harga saham ENRG saat ini sudah mencerminkan seluruh prospek yang sedang disiapkan manajemen atau baru permulaan dari rerating valuasi yang akan terealisasi secara bertahap hingga proyek-proyek besar seperti Kangean, Gebang, dan Selat Malaka mencapai titik produksi optimal dalam 5–6 tahun ke depan?
Tekanan Beli Meninggi, Jalan Terjal Menanti ENRG
Langkah ENRG menata ulang portofolio energi fosilnya mulai mendapat respons serius dari pasar. Bukan hanya dari arus modal asing yang memborong sahamnya sepanjang pekan terakhir, tapi juga dari hampir semua indikator teknikal yang kini mengarah pada satu kata: strong buy.
Berdasarkan data Investing, sinyal “Strong Buy” sedang meliputi ENRG. Dari total 8 indikator teknikal utama, seluruhnya memberi sinyal beli. Tidak ada satu pun yang berada dalam posisi netral atau jual. Ini tergolong langka, terutama untuk saham di sektor energi yang selama ini bergerak mengikuti siklus harga komoditas global.
Relative Strength Index (RSI) ENRG berada di level 80,48 alias sudah masuk zona overbought, artinya permintaan terhadap saham ini sangat tinggi dalam waktu singkat. Average Directional Index atau ADX juga mencetak angka ekstrem di 70,2 yang mengindikasikan tren penguatan yang sangat kuat. Pola ini diperkuat oleh indikator Williams %R dan STOCHRSI, yang keduanya juga berada di zona overbought namun belum menunjukkan sinyal koreksi berarti.
Tekanan beli bukan hanya impulsif, tapi terkonfirmasi oleh kekuatan tren jangka pendek hingga menengah. Semua moving average (MA) dari MA5 hingga MA200 menyatakan posisi “Buy”. Artinya, dalam rentang waktu dari satu minggu hingga hampir satu tahun, harga ENRG tetap bergerak di atas rerata masing-masing periode. Bahkan MA200-nya sudah jauh tertinggal di bawah harga pasar saat ini (Rp243 vs Rp525). Ini menandakan momentum rerating yang sedang berlangsung.
Arah penguatan juga tercermin dari pola candlestick. Tiga hari lalu, pola Upside Gap Three Methods muncul, yang secara historis dikenal sebagai pola kelanjutan tren naik yang solid. Meski sebelumnya sempat muncul pola bearish seperti Doji Star dan Deliberation, pasar tidak memberi respons penurunan yang berarti. Sentimen pasar tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh katalis fundamental seperti akuisisi penuh Blok Kangean dan rights issue non-HMETD untuk ekspansi Selat Malaka.
Tantangannya sekarang bukan pada sisi teknikal, tapi pada ekspektasi investor terhadap eksekusi strategi perusahaan. Semua sinyal “strong buy” yang terpampang di layar monitor hari ini adalah cerminan kepercayaan bahwa manuver ENRG, baik akuisisi, divestasi, maupun ekspansi, akan membuahkan hasil dalam 1–2 tahun ke depan. Namun pasar juga cepat menghukum bila ekspektasi tidak dipenuhi. Harga yang sudah naik hampir 80 persen dalam tiga bulan terakhir akan menciptakan tekanan koreksi bila ada delay proyek atau anomali harga minyak dunia.
Investor ritel maupun institusi kini punya alasan untuk tertarik pada ENRG, tapi juga harus bersiap menghadapi volatilitas tinggi sebagaimana tercermin dalam indikator Average True Range atau ATR yang mencapai 30 poin. Ini menandakan setiap hari perdagangan bisa berfluktuasi besar dan peluang sekaligus risiko.(*)