Insight Daily 02 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Sektor Kesehatan Responsif terhadap Social Warning COVID-19

Peringatan dini Kemenkes dan data WHO memicu sentimen pasar terhadap emiten kesehatan. Apakah tren cuan seperti pandemi akan terulang?

KABARBURSA.COM - Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah merilis surat edaran peningkatan kewaspadaan atau early warning COVID-19 pekan lalu, Rabu, 28 Mei 2025. Isinya menjabarkan kondisi terkini kasus penyakit yang ditemukan di China pada 2019 lalu di beberapa negara Asia.Pengumuman terbit tepat di hari terakhir perdagangan Bursa Efek Ind...

Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Makassar atau RS Vertikal Makassar di Sulawesi Selatan. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)
Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Makassar atau RS Vertikal Makassar di Sulawesi Selatan. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)

Insight Navigator

  1. 01 Pengamat Tagih Langkah Konkret, bukan Sekadar Early Warning
  2. 02 Potensi Cuan Saham Sektor Kesehatan akan Kembali Terulang?
  3. 03 Data Perdagangan Sektor Kesehatan Hari ini

KABARBURSA.COM - Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah merilis surat edaran peningkatan kewaspadaan atau early warning COVID-19 pekan lalu, Rabu, 28 Mei 2025. Isinya menjabarkan kondisi terkini kasus penyakit yang ditemukan di China pada 2019 lalu di beberapa negara Asia.

Pengumuman terbit tepat di hari terakhir perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), sebelum libur panjang hari besar umat beragama. Tak banyak pergerakan signifikan pada saham sektor kesehatan signifikan. Namun di awal perdagangan pekan ini, Senin, 2 Juni 2025, beberapa saham mulai reaktif terhadap isu tersebut.

Merujuk surat edaran Kemenkes, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, hingga Mei 2025 (M21) total kasus global telah mencapai 778 juta kasus dengan angka kematian lebih dari 7 juta orang (case fatality rate/CFR 0,91 persen). Di Indonesia sendiri, kasus kumulatif tercatat 6,8 juta dengan 162.066 kematian (CFR 2,37 persen), meski tambahan kasus baru sangat kecil (3 kasus di M21).

Lonjakan kasus tetap terpantau di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Thailand dan India, seiring dengan munculnya sejumlah varian baru seperti JN.1, KP.3, LB.1, dan XEC. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi dampaknya terhadap ekonomi dan sektor kesehatan nasional.

Merespons situasi tersebut, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan bahwa peringatan dari Kemenkes ini diharapkan tidak akan menimbulkan efek ekonomi yang signifikan seperti di masa pandemi 2020–2022. “Kami tidak menginginkan terjadi lonjakan wabah COVID-19 seperti tahun-tahun lalu. Tapi peringatan ini merupakan peningkatan kewaspadaan yang lebih baik dibanding awal pandemi,” ujar Nailul kepada Kabarbursa.com pada Senin, 2 Juni 2025.

Walau begitu, sambung Nailul, masyarakat saya rasa tidak akan mengurangi mobilitasnya karena peringatan ini belum signifikan

Nailul menjelaskan bahwa salah satu dampak utama dari pandemi COVID-19 sebelumnya adalah tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat kontraksi ekonomi. Namun saat ini, narasi ketakutan masyarakat telah bergeser.

“Masyarakat sekarang lebih takut kelaparan ketimbang peringatan dari Kemenkes. Dampaknya akan terbatas dan tidak signifikan terhadap perekonomian,” ujar dia.

Ia juga menepis kemungkinan bahwa pemerintah akan kembali agresif dalam pengadaan vaksin atau anggaran tambahan untuk sektor kesehatan.

“Tidak ada lagi penambahan anggaran untuk sektor kesehatan akibat surat peringatan ini karena bukan prioritas utama saat ini,” tutur dia.

Pengamat Tagih Langkah Konkret, bukan Sekadar Early Warning

Sementara itu, pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah, mengatakan pemerintah harus bergerak lebih dari sekadar memberikan peringatan. Ia menekankan pentingnya langkah konkret agar peringatan tidak hanya menjadi “social warning” yang minim substansi.

“Kalau hanya mengeluarkan imbauan, ya itu cuma sebatas peringatan. Harus ada kebijakan nyata yang menyentuh substansi, seperti vaksinasi ulang, penerapan kembali protokol kesehatan, dan edukasi publik,” ujar Trubus saat berbicara kepada Kabarbursa.com melalui telepon, Senin, 2 Juni 2025.

Trubus menilai, dengan pengalaman panjang Indonesia menghadapi pandemi pada 2020–2022, seharusnya pemerintah sudah memiliki skenario antisipatif yang siap dijalankan. Ia menyoroti pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan, distribusi vaksin, hingga kolaborasi antara pusat dan daerah.

“Daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan luar negeri seperti Batam atau wilayah Kepulauan Riau harus jadi prioritas. Pemerintah pusat seharusnya memfasilitasi regulasi dan logistik, sementara pemda fokus membangun kolaborasi dengan masyarakat,” lanjutnya.

Lebih jauh, Trubus juga menyoroti potensi dampak ekonomi yang bisa muncul akibat lonjakan kasus. Menurutnya, perlambatan ekonomi bisa kembali terjadi jika sektor kesehatan tidak siap menghadapi gelombang baru.

“Kalau tidak ada persiapan, ekonomi akan kembali terganggu. Apalagi biaya sektor kesehatan cukup besar. Kita pernah lihat bagaimana anggaran jumbo justru membuka celah penyimpangan. Itu jangan sampai terulang,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah harus menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran untuk menciptakan tata kelola anggaran yang lebih transparan dan akuntabel. Pengawasan ketat menurutnya menjadi hal krusial untuk mencegah munculnya kembali praktik-praktik korupsi berkedok kedaruratan.

Di sisi lain, Trubus juga menyoroti kebijakan insentif fiskal pemerintah yang akhir-akhir ini digulirkan, seperti subsidi listrik dan berbagai stimulus konsumsi. Ia berharap momentum kewaspadaan COVID-19 bisa menjadi pintu masuk untuk menyinergikan perlindungan kesehatan dengan stimulus ekonomi secara menyeluruh.

“Ini saatnya pemerintah menyatukan langkah antara kebijakan kesehatan dan kebijakan fiskal. Jangan sampai jalan masing-masing. Momentum COVID ini bisa jadi entry point reformasi sistem,” kata dia.

Potensi Cuan Saham Sektor Kesehatan akan Kembali Terulang?

Sementara dari lantai bursa, berdasarkan analisis teknikal Analis Kabarbursa.com, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini menunjukkan, sinyal pelemahan teknikal setelah gagal menembus area resistance di kisaran 7.200.

IHSG pada saat penutupan berada di level 7.062,53 dengan kemungkinan menguji dua area permintaan (demand area) di 7.059, 6.951 dan 6.951–6.873. Jika tekanan jual terus berlanjut, potensi penurunan lanjutan ke kisaran 6.563 bahkan mendekati 6.000 tetap terbuka.

Community and Equity Analyst Lead IndoPremier Sekuritas, Angga Septianus, menyampaikan, tren teknikal memang menunjukkan kemungkinan retest ke level psikologis 7.000, namun secara fundamental, ada katalis positif yang dapat menahan tekanan penurunan lebih lanjut.

“IHSG kemungkinan akan retest ke level 7.000 sebagai support psikologis terlebih dahulu. Namun, dengan pelemahan dolar AS dan penguatan rupiah yang sedang terjadi, ruang untuk pemotongan suku bunga oleh BI bisa terbuka lagi,” ujar Angga kepada Kabarbursa.com, Senin, 2 Juni 2025.

Angga menambahkan, ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih terbuka tersebut dapat mendorong masuknya kembali aliran dana asing (foreign inflow) ke pasar saham domestik.

Sementara dari sisi teknikal, area demand di kisaran 6.950 akan menjadi perhatian utama para pelaku pasar sebagai titik potensi pembalikan arah (rebound). Namun apabila tekanan global kembali meningkat, termasuk kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) dan data tenaga kerja, maka tren koreksi berpeluang berlanjut lebih dalam.

Sementara Nailul menyampaikan, saham-saham sektor kesehatan belum menunjukkan sinyal rebound signifikan seperti saat awal pandemi. Ia menyebut bahwa potensi cuan besar seperti periode 2020–2022 tidak akan terulang, meskipun sektor kesehatan tetap memiliki daya tahan dalam portofolio jangka panjang.

Data Perdagangan Sektor Kesehatan Hari ini

Berdasarkan data perdagangan hari ini, Isu Covid-19 yang kembali mencuat dalam beberapa waktu terakhir memicu fluktuasi signifikan pada saham-saham sektor kesehatan yang tergabung dalam indeks IDXHealth.

Dari total 34 emiten yang terdaftar, mayoritas menunjukkan pergerakan harga yang mencolok dalam perdagangan terakhir, baik dalam bentuk kenaikan tajam maupun tekanan jual.

Sebanyak 15 emiten mencatatkan kenaikan harga saham, dengan beberapa di antaranya membukukan lonjakan signifikan. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengalami kenaikan tertinggi dengan lonjakan sebesar 22,43 persen ke level Rp655. PT Phapros Tbk (PEHA) menyusul dengan kenaikan 22,30 persen ke harga Rp340. PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) juga melesat 19,37 persen ke Rp530.

Selain itu, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) naik 7,02 persen ke Rp244, Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) meningkat 6,33 persen ke Rp168, dan Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) naik 6,29 persen ke Rp169. Royal Prima Tbk (PRIM) mencatat kenaikan 4,92 persen ke Rp64, sementara Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH) naik 4,27 persen ke Rp440.

PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) naik 2,33 persen ke Rp264, PT Soho Global Health Tbk (SOHO) naik 2,24 persen ke Rp685, dan PTHaloni Jane Tbk (HALO) naik 1,96 persen ke Rp52. PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) naik 1,16 persen ke Rp175, disusul oleh PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) yang naik 0,97 persen ke Rp520. Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) menutup daftar dengan kenaikan 0,67 persen ke Rp3.020.

Di sisi lain, terdapat 13 emiten yang mengalami penurunan harga saham. PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) mencatat penurunan terdalam sebesar 6,82 persen ke Rp1.435. PT Murni Sadar Tbk (MTMH) turun 4,40 persen ke Rp870, diikuti oleh PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) yang melemah 3,28 persen ke Rp236. PT Penta Valent Tbk (PEVE) juga mengalami penurunan sebesar 2,89 persen ke Rp336, dan PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) melemah 2,58 persen ke Rp454. 

Siloam International Hospitals Tbk (SILO) turun 1,68 persen ke Rp2.340, sedangkan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) melemah 1,43 persen ke Rp2.760. PT Bundamedik Tbk (BMHS) turun 0,87 persen ke Rp228, PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) turun 0,81 persen ke Rp615, dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) terkoreksi 0,74 persen ke Rp2.700. PT Merck Tbk (MERK) juga mencatat penurunan 0,28 persen ke Rp3.610.

Sementara itu, terdapat 6 emiten yang stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. PT Ikapharmindo Putramas Tbk (IKPM) tercatat tetap di Rp232, PT Indofarma Tbk (INAF) di Rp126, PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) di Rp132, PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) di Rp50, PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK) di Rp980. Beberapa saham seperti INAF dan SCPI juga tidak mencatat adanya transaksi, yang mengindikasikan potensi status suspensi atau minimnya aktivitas pasar terhadap saham tersebut.

Secara umum, kenaikan saham-saham ini mencerminkan sentimen positif investor terhadap emiten-emiten yang dianggap mendapat manfaat langsung dari meningkatnya permintaan produk kesehatan, farmasi, hingga layanan rumah sakit di tengah kekhawatiran penyebaran kembali COVID-19. Dari 34 emiten, terdapat 15 yang naik, 13 yang turun, dan 6 stagnan.

Kabarbursa.com berupaya menghubungi emiten-emiten kesehatan seperti KAEF, SILO, DKHH, dan BMHS untuk menanyakan perihal isu COVID-19. Hingga berita ini ditulis belum ada jawaban. (*)

 

*Jurnalis Kabarbursa.com, Desty Luthfiani, ikut berkontribusi dalam penulisan naskah ini.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya