Insight Daily 27 May 2025 Penulis: KabarBursa.com

Saratoga (SRTG) Naik Tajam, tapi Asing Justru Kabur, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Kenaikan saham SRTG disambut investor domestik, tapi aksi jual asing dan tekanan sektor tambang jadi peringatan dini.

KABARBURSA.COM - Harga saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) melesat 6 persen lebih dalam sehari ke level Rp1.790. Kenaikan ini seolah memberi angin segar bagi investor domestik. Tapi di balik euforia itu, investor asing justru angkat kaki diam-diam sehingga meninggalkan pertanyaan, apakah lonjakan ini mencerminkan optimisme riil atau hanya fatamorga...

Harga saham SRTG naik lebih dari 6 persen, tapi asing justru keluar. Apakah strategi diversifikasi Saratoga cukup kuat menahan tekanan komoditas? Gambar dibuat
Harga saham SRTG naik lebih dari 6 persen, tapi asing justru keluar. Apakah strategi diversifikasi Saratoga cukup kuat menahan tekanan komoditas? Gambar dibuat

Insight Navigator

  1. 01 Harga Melejit, tapi Volume Bicara Lebih Banyak
  2. 02 Analisis Teknikal, Sinyal Kuat tapi Rawan Koreksi
  3. 03 Bagaimana Harusnya Langkah Investor?

Di balik papan harga yang tampak hijau, dunia komoditas sedang berawan. Khususnya untuk sektor tambang—rumah besar bagi sebagian portofolio SRTG seperti Adaro dan Merdeka Copper Gold. Harga nikel, misalnya, terjun bebas ke kisaran USD15.049 per dmt (setara Rp246.805.600), turun lebih dari 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar angka di layar Bloomberg, tapi sinyal bahwa investor perlu bersiap menghadapi musim yang mungkin lebih panjang dari yang diduga pasar domestik.

Sementara itu, komoditas logam lain seperti aluminium juga ikut masuk angin. Ditutup di level USD2.472 per ton (setara Rp40.540.800), harga logam ini mencerminkan tekanan lanjutan dari perlambatan industri global—terutama dari China yang belakangan seperti ragu menekan pedal gas pertumbuhan ekonominya. Di tengah sentimen seperti itu, investor global jelas tak punya banyak ruang untuk bermain agresif.

Namun di tanah air, ceritanya tak sesederhana itu. Pemerintah sedang menggeber agenda hilirisasi nasional secara besar-besaran. Pada Maret 2025, Kementerian Investasi menetapkan 21 proyek strategis tahap pertama dengan nilai investasi total mencapai USD40 miliar (setara Rp656 triliun dengan kurs Rp16.400). Proyek-proyek ini mencakup sektor tambang, energi, pertanian, hingga kelautan, sebagai langkah mendorong nilai tambah industri dari hulu ke hilir.

Langkah ini terdengar menjanjikan, tetapi jalan ke sana tak sepenuhnya mulus. Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 yang mulai berlaku sejak 26 April lalu. Isinya menetapkan skema tarif royalti progresif untuk komoditas seperti nikel dan batu bara—misalnya, royalti nikel kini dipatok antara 14 sampai 19 persen, tergantung harga mineral acuan.

Alih-alih menyambut dengan tepuk tangan, pelaku industri justru mulai gelisah. Kenaikan royalti dianggap memberatkan di tengah harga komoditas yang sedang lesu. Beberapa pengusaha menyuarakan kekhawatiran bahwa kebijakan ini bisa malah bikin investor balik kanan, ketimbang memperkuat hilirisasi. Apalagi, perubahan drastis regulasi sering kali datang tanpa aba-aba sehingga membuat pelaku usaha merasa bermain dalam medan yang peraturannya bisa berubah di tengah jalan.

Investor asing tampaknya tak sedang berselancar di tengah gelombang optimisme yang sama dengan investor lokal. Mereka membaca gelagat pasar Indonesia dengan kacamata penuh kehati-hatian. Beberapa analis menyebut langkah ini sebagai bentuk defensive allocation—alih-alih memburu peluang, mereka memilih bertahan, mengamati, menanti arah angin.

Kondisi ini tak lepas dari konteks politik-ekonomi dalam negeri. Pasca-pemilu, Indonesia berada di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang baru saja dilantik. Namun hingga akhir Mei 2025, arah kebijakan ekonominya belum sepenuhnya terbaca. Investor menunggu, apakah janji keberlanjutan hilirisasi akan benar-benar diwujudkan dengan tata kelola yang pasti, atau justru diwarnai tikungan regulasi yang mendadak dan tak terduga.

Akibat ketidakpastian itu, arus modal asing cenderung menjauh dari sektor-sektor strategis, terutama yang berbasis komoditas. Pada kuartal pertama 2025, sektor barang baku mencatatkan pelemahan terdalam di Bursa Efek Indonesia—terkontraksi hingga 17,05 persen secara tahunan. SRTG yang menanamkan investasinya di perusahaan tambang dan energi, tentu ikut terdampak oleh sentimen tersebut.

SRTG banyak terlibat di sektor barang baku melalui sejumlah investasi strategis. Yang paling dominan adalah kepemilikannya di PT Merdeka Copper Gold Tbk. Per awal Maret 2025, Saratoga membeli 121,76 juta saham tambahan di harga Rp1.405 per lembar sehingga total kepemilikannya kini mencapai 4,91 miliar saham atau setara 20,08 persen dari keseluruhan saham MDKA yang beredar.

Selain portofolio di MDKA, SRTG juga memperkuat pijakannya di sektor energi lewat aksi borong saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)—anak usaha dari grup Adaro yang fokus di bidang pertambangan batu bara. Pada 21 April 2025, Saratoga membeli 71,56 juta saham AADI di harga Rp6.005 per saham, dengan nilai transaksi total Rp429,76 miliar. Aksi ini meningkatkan kepemilikan langsung mereka dari 3,46 persen menjadi 4,38 persen.

Tak hanya itu, SRTG juga memiliki kepemilikan tidak langsung atas 1,02 miliar saham AADI, yang setara 13,2 persen dari total saham. Artinya, secara total Saratoga menggenggam lebih dari 17 persen saham AADI. Dari emas, batu bara hingga nikel, ketiganya jadi bukti bahwa SRTG memang berkutat cukup dalam di sektor barang baku. Ketika sektor ini tertekan oleh gejolak harga global atau regulasi dalam negeri, wajar jika persepsi pasar terhadap SRTG ikut terguncang.

Harga Melejit, tapi Volume Bicara Lebih Banyak

Dibanding dramanya di halaman depan, pergerakan SRTG di papan transaksi justru jauh lebih subtil dan layak diamati pelan-pelan. Bukan hanya karena harganya melesat ke Rp1.790, tapi karena cara ia sampai di sana.

Selama satu hari perdagangan, SRTG mencatat volume transaksi hingga 138.200 lot dengan nilai mencapai Rp24,11 miliar. Untuk ukuran saham investasi yang cenderung diam-diam menghanyutkan, angka ini termasuk mencolok. Lonjakan volume semacam itu kerap terbaca sebagai sinyal bahwa “ada yang masuk banyak”—entah untuk akumulasi jangka menengah atau sekadar ikut nimbrung karena melihat tren mulai hidup.

Yang lebih menarik lagi, struktur orderbook-nya condong ke sisi pembeli dengan posisi bid rata-rata yang lebih tinggi dari harga historis lima hari terakhir. Berdasarkan data Investing, harga rata-rata MA5 SRTG per 27 Mei 2025 tercatat di Rp1.721 (simple) dan Rp1.733 (exponential). Namun, dalam sesi perdagangan terakhir, pembeli aktif mengeksekusi transaksi di harga Rp1.775—jauh di atas dua MA pendek tersebut.

Artinya, mereka tidak menunggu koreksi untuk masuk. Mereka justru menyasar level atas. Ini pertanda bahwa ekspektasi terhadap kelanjutan kenaikan cukup tinggi. Dalam logika pelaku pasar, kondisi seperti ini disebut “berani ngangkat barang”. Ini bukan aksi spekulasi murahan, melainkan bentuk keyakinan bahwa momentum sedang berpihak ke saham tersebut.

Jika grafik harga SRTG memberi kesan bullish, maka daftar broker yang beraksi di balik layar menyuguhkan kisah yang agak lain. Data Stockbit per 27 Mei 2025 menunjukkan bahwa akumulasi terbesar justru datang dari broker-broker lokal. Tiga broker teratas yang paling aktif membeli saham SRTG adalah:

  1. Ajaib Sekuritas Asia (XL) dengan nilai beli sekitar Rp635 juta di harga rata-rata atau average Rp1.698
  2. Stockbit Sekuritas Digital (XL) sebesar Rp538 juta di harga rata-rata Rp1.700)
  3. BCA Sekuritas senilai Rp388 juta di harga rata-rata Rp1.698

Dari angka-angka itu, terlihat bahwa pembelian dilakukan sedikit di bawah harga rata-rata hari ini (Rp1.775) dan menandakan mereka masuk sebelum breakout terjadi. Aksi seperti ini biasa dibaca pasar sebagai sinyal keyakinan jangka pendek, bukan sekadar spekulasi menit terakhir. Namun, di sisi lain papan transaksi, muncul gelagat distribusi dari sejumlah broker besar:

  1. Sinarmas Sekuritas (DH) dengan nilai jual mencapai Rp1,5 miliar (rata-rata Rp1.692)
  2. Ciptadana Sekuritas Asia (KI) sebesar Rp848 juta (rata-rata Rp1.701)
  3. KB Valbury Sekuritas (CP) sebesar Rp462 juta (rata-rata Rp1.693)

Dua di antara tiga broker tersebut—Ciptadana dan KB Valbury—saat ini berada di bawah kendali perusahaan sekuritas asing asal Korea Selatan. Ini memberi konteks bahwa sebagian tekanan jual bisa saja mencerminkan sentimen kehati-hatian dari pelaku pasar global.

Secara keseluruhan, data menunjukkan net foreign sell mencapai minus Rp1,2 triliun. Angka ini semacam pesan diam-diam dari investor global bahwa mereka belum sepenuhnya yakin untuk menumpang di gerbong SRTG saat ini.

Fenomena ini pun menghadirkan paradoks kecil, ketika investor lokal sedang optimistis memborong saham SRTG, investor asing justru meninggalkan panggung. Apakah mereka melihat risiko jangka pendek yang belum disadari pelaku lokal? Atau justru pasar domestik yang lebih jeli melihat peluang dari strategi kontra-siklus SRTG?

Analisis Teknikal, Sinyal Kuat tapi Rawan Koreksi

 

Dari sisi teknikal, saham SRTG sedang memperlihatkan gestur bullish yang cukup meyakinkan—setidaknya di permukaan grafik. Data indikator dari Investing per 27 Mei 2025 menunjukkan konsensus yang relatif solid, yakni ringkasan teknikal mencatat status Strong Buy atau sinyal beli yang cukup kuat, baik dari sisi moving average maupun indikator momentum lainnya.

Relative Strength Index (RSI) berada di angka 66,89. Ini memang belum masuk ke zona jenuh beli secara ekstrem (biasanya ditandai pada angka 70 ke atas), tapi sudah cukup tinggi untuk memicu kewaspadaan. Dalam banyak kasus, RSI di kisaran ini menggambarkan saham yang sedang naik daun—namun sekaligus rawan overheat jika tidak disertai sentimen baru yang mendukung.

Sementara itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) dan Average Directional Index (ADX) masih mengarah naik. MACD menunjukkan momentum kenaikan yang masih berlanjut, sedangkan ADX di atas angka 25—yakni 27,3—menandakan tren saat ini cukup kuat dan bukan hanya gerakan acak jangka pendek. Ini berarti secara teknikal, pasar belum kehilangan tenaga untuk melanjutkan reli.

Tapi, cerita teknikal tak selalu mulus. Pola candlestick yang muncul dalam beberapa timeframe memperlihatkan konflik antara dorongan naik dan potensi koreksi. Di satu sisi, pola Bullish Doji Star (5H) dan Harami Bullish muncul yang secara historis sering dibaca sebagai sinyal permulaan dari fase naik lanjutan. Keduanya menunjukkan bahwa pasar sedang mempertimbangkan untuk kembali menguat, setelah periode ketidakpastian pendek.

Namun di sisi lain, grafik juga menampilkan pola Advance Block Bearish (1W) dan Engulfing Bearish (5H). Kedua formasi ini biasanya menandakan bahwa momentum naik mulai melambat dan ada risiko koreksi teknikal—terutama dalam jangka pendek.

Artinya, meskipun saat ini SRTG masih di jalur naik, ada potensi pullback apabila tidak ada katalis lanjutan yang mendorong pasar untuk terus mengejar. Secara konteks, katalis itu bisa datang dari kabar baik seputar portofolio utama seperti MDKA dan AADI—dua saham yang banyak menentukan persepsi pasar terhadap strategi SRTG.

Jadi, di tengah sinyal optimisme teknikal yang kuat, investor sebaiknya tetap membaca tren dengan rem tangan separuh ditarik. Momentum bisa saja berlanjut, tapi pasar sedang masuk ke zona di mana volatilitas gampang tersulut oleh kabar kecil sekalipun.

Bagaimana Harusnya Langkah Investor?

Bagi sebagian investor asing, SRTG dengan portofolio sektor barang baku seperti MDKA dan AADI, erlalu dekat dengan sektor yang sedang ringkih. Harga komoditas berguguran, regulasi dalam negeri berubah cepat, dan ketidakpastian politik pasca-pemilu belum reda sepenuhnya. Tak heran jika sebagian modal asing memilih minggir dan mengamankan posisi.

Tapi berbeda dengan investor global yang menyukai stabilitas, pelaku pasar domestik justru terlihat mulai masuk. Bukan tanpa alasan, mereka melihat sinyal turnaround—bukan hanya pada pergerakan harga, tetapi juga dalam narasi SRTG yang mulai berbelok dari tambang ke tiga sektor baru: energi hijau, infrastruktur digital, dan layanan kesehatan.

Pertanyaannya, apakah portofolio baru ini cukup kuat menahan gejolak dari sektor tambang? Apakah ekspansi ke RS Brawijaya, data center JST1, dan aksi beli AADI bisa mengubah persepsi pasar bahwa SRTG bukan cuma penumpang tren komoditas?

Bagi pelaku pasar dengan orientasi jangka pendek, momentum teknikal saham SRTG memang masih menguat. Tapi tren ini rawan terkoreksi jika tekanan dari saham-saham portofolio utama seperti MDKA dan AADI tak segera mereda. Sebaliknya, mereka yang punya visi lebih panjang mungkin akan melihat Saratoga sebagai kendaraan investasi yang sedang bersiap pindah gigi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya