Insight Daily 11 Jul 2025 Penulis: KabarBursa.com

Saham WIFI Masih Menarik, ini Alasan Ruang Upside 19 Persen

Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) direkomendasikan oleh Kiwoom Sekuritas karena fundamental kuat, margin tinggi, dan potensi pertumbuhan pasca rights issue serta ekspansi jaringan FTTH.

KABARBURSA.COM – Siapa yang masih melirik saham teknologi di tengah euforia sektor komoditas dan perbankan? Kapan terakhir kali publik melihat saham infrastruktur digital melonjak bukan karena spekulasi, tetapi karena fundamental yang kuat? Titik temunya: strategi ekspansi masif yang dijalankan dengan efisiensi operasional hingga mencetak margin tertinggi se...

Ilustrasi: Saham WIFI, Solusi Sinergi Digital atau Surge. (Foto: Dok. Surge)
Ilustrasi: Saham WIFI, Solusi Sinergi Digital atau Surge. (Foto: Dok. Surge)

Insight Navigator

  1. 01 Harga Kompetitif, Infrastruktur Adaptif
  2. 02 Naik Kelas di Tengah Persaingan
  3. 03 Potensi Upside Belum Tertakar Penuh

KABARBURSA.COM – Siapa yang masih melirik saham teknologi di tengah euforia sektor komoditas dan perbankan? 

Kapan terakhir kali publik melihat saham infrastruktur digital melonjak bukan karena spekulasi, tetapi karena fundamental yang kuat? Titik temunya: strategi ekspansi masif yang dijalankan dengan efisiensi operasional hingga mencetak margin tertinggi sepanjang sejarah emiten.

Ini menjelaskan soal bagaimana sebuah perusahaan teknologi lokal mengubah cara orang mengakses internet hingga pelosok, sambil menjaga pertumbuhan laba ratusan persen. Pertanyaan ini menggiring perhatian ke satu nama, yakni PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).

Riset terbaru dari Kiwoom Sekuritas Indonesia yang dirilis pada Jumat, 11 Juli 2025 menyatakan bahwa saham WIFI masih memiliki ruang tumbuh sebesar 19 persen dari harga saat ini di Rp2.020 menuju target Rp2.410 per saham. 

Rekomendasi "buy" yang ditegaskan oleh Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, bukan semata spekulasi valuasi, tetapi didasari oleh lonjakan kinerja keuangan kuartal I 2025 dan strategi ekspansi nasional yang terukur.

“Kami melihat ruang pertumbuhan yang besar bagi WIFI karena keberhasilan ekspansi yang terukur dan margin operasional yang terus membaik,” kata Liza dalam risetnya, dikutip Kabarbursa.com.

Sepanjang kuartal I 2025, pendapatan WIFI tercatat sebesar Rp231,6 miliar atau naik 65,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi laba bersih, pertumbuhannya bahkan lebih mencolok: lonjakan 181 persen secara tahunan membawa angka laba menjadi Rp82,6 miliar. 

Di saat banyak perusahaan teknologi masih mengejar profitabilitas, WIFI justru mencetak margin laba bersih 35,7 persen. Margin EBITDA-nya pun tak kalah mencolok, menyentuh 60,7 persen, naik signifikan dari 49,3 persen pada kuartal I 2024. Margin kotor perusahaan tercatat 75,3 persen, menjadi refleksi efisiensi biaya dan model operasional yang hemat modal.

Model bisnis yang dijalankan WIFI bukanlah model digital murni, melainkan kombinasi antara kepemilikan infrastruktur jaringan, layanan konektivitas, serta pemanfaatan media luar ruang dan digital advertising. Pendapatan perusahaan terbagi hampir seimbang antara segmen telekomunikasi (50 persen) dan periklanan (48 persen), dengan 2 persen sisanya dari layanan digital. 

Di bawah ekosistem "Surge", perusahaan mengintegrasikan jaringan serat optik sepanjang lebih dari 6.900 km dengan penyediaan internet berbasis fiber-to-the-home (FTTH), serta sistem iklan DOOH yang tersebar di transportasi umum, stasiun, hingga toko ritel di seluruh Indonesia.

Keunggulan strategis WIFI adalah kemampuannya menekan biaya pembangunan jaringan dengan menggandeng badan usaha miliki negara (BUMN) lain. Lewat anak usaha WEAVE, WIFI membangun jaringan fiber di atas jalur rel milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sepanjang 5.724 km, sehingga menghindari kebutuhan pembebasan lahan dan perizinan yang mahal. 

Perusahaan juga bekerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN untuk bundling layanan internet dengan gas rumah tangga, serta dari PT PLN (Persero), PLN Icon+ dan Link Net dalam distribusi layanan dan dukungan infrastruktur. Kombinasi ini menghasilkan struktur biaya yang sangat efisien.

Harga Kompetitif, Infrastruktur Adaptif

Kekuatan harga juga menjadi senjata utama. Layanan FTTH milik WIFI yang dikenal dengan merek Starlite, menawarkan internet 200 Mbps hanya dengan Rp100.000 per bulan, sudah termasuk pajak, modem, instalasi gratis, dan tanpa FUP (Fair Usage Policy). 

Dibandingkan Indihome, Biznet, atau First Media yang menawarkan bandwidth lebih rendah dengan harga dua kali lipat, Starlite menjadi pilihan paling rasional untuk konsumen rumah tangga yang butuh kecepatan dan stabilitas. Hasilnya, tingkat penggunaan (take-up rate) pelanggan fixed broadband WIFI mencapai 90 persen, tertinggi di industri.

Namun pertumbuhan ini tidak terjadi tanpa modal. WIFI tengah menjalankan aksi rights issue senilai Rp5,9 triliun pada Juli 2025. Dana ini akan digunakan untuk memperluas cakupan jaringan FTTH hingga menjangkau 4 juta homepasses di Pulau Jawa. 

Di luar itu, perusahaan juga mendapat dukungan dari mitra strategis Jepang, NTT East, yang menginvestasikan Rp4 triliun, terdiri atas Rp1 triliun dalam bentuk tunai dan Rp3 triliun dalam bentuk kontribusi non-kas seperti transfer teknologi dan aset tak berwujud. Kolaborasi ini dinilai bukan hanya menambah dana, tetapi juga mempercepat transfer keahlian dan peningkatan mutu layanan.

“Dengan dukungan investor strategis seperti NTT East, WIFI tidak hanya memperkuat struktur permodalan tetapi juga meningkatkan kapasitas teknologinya secara signifikan,” ujar Liza.

Dari sisi makroekonomi, kondisi pasar mendukung strategi ekspansi WIFI. Nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp15.800 per USD memberikan kepastian biaya impor perangkat jaringan, sementara inflasi yang terkendali menjaga daya beli masyarakat. 

Di sisi fiskal, pemerintah terus mendukung perluasan jaringan digital dan pemerataan konektivitas lewat program transformasi digital nasional yang digerakkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Hal ini menjadi ekosistem makro yang kondusif bagi pemain seperti WIFI yang agresif membangun infrastruktur dengan efisiensi tinggi.

Naik Kelas di Tengah Persaingan

Jika dibandingkan dengan emiten sejenis, seperti Link Net (LINK), First Media, atau bahkan Telkomsel melalui Indihome, posisi WIFI tergolong unik dan progresif. 

Perusahaan ini bukan sekadar penyedia internet berbasis fiber, tetapi telah memosisikan diri sebagai orkestrator infrastruktur digital dengan pendekatan kolaboratif lintas sektor.

Pertama, karena pendekatannya yang lintas-sektor, menggandeng BUMN logistik dan energi, WIFI mampu mengakses jalur distribusi strategis yang tidak bisa dijangkau pemain swasta biasa. 

Kedua, karena kemampuannya menghasilkan margin tinggi di fase ekspansi, sesuatu yang biasanya sulit dicapai oleh perusahaan jaringan, terutama yang masih dalam fase pembangunan jaringan skala besar.

Ketiga, karena struktur biaya operasionalnya jauh lebih ringan, tanpa pembebasan lahan, tanpa infrastruktur sendiri yang berat, WIFI bisa menawarkan harga sangat kompetitif tanpa mengorbankan kualitas jaringan. 

Hal ini membuat WIFI bukan hanya bersaing di kelas startup berbasis teknologi, tetapi juga mulai mengancam dominasi pemain lama yang sudah mapan dengan model bisnis lama yang mahal dan lamban beradaptasi.

Potensi Upside Belum Tertakar Penuh

Dalam laporan yang sama, Kiwoom Sekuritas juga mencatat bahwa proyeksi pendapatan WIFI untuk 2025 dipatok sebesar Rp2,52 triliun dengan laba bersih Rp546 miliar. 

Margin EBITDA diproyeksikan tetap tinggi di kisaran 71 persen, menandakan bahwa ekspansi yang dilakukan tidak menekan efisiensi. 

Return on Equity (ROE) diestimasi mencapai 8 persen tahun ini, dan bisa meningkat ke 19 persen pada 2026 jika seluruh proyek berjalan sesuai rencana.

Secara teknikal, saham WIFI saat ini masih dalam tren kenaikan menengah. Dari level terendah dalam satu tahun di Rp189, saham ini telah melonjak hingga lebih dari sepuluh kali lipat, menyentuh Rp2.730 di puncaknya. 

Namun berdasarkan penutupan terakhir di Rp2.020, valuasi forward P/E saham ini masih di kisaran 14,6 kali, lebih murah dibanding rerata emiten teknologi berbasis konektivitas dan infrastruktur digital. 

Dengan pertumbuhan pendapatan dan laba yang kuat, Kiwoom Sekuritas menilai bahwa harga saat ini belum merefleksikan potensi penuhnya.

Meski begitu, risiko yang diidentifikasi dalam riset ini termasuk potensi keterlambatan pembangunan infrastruktur, tantangan eksekusi di lapangan, serta sensitivitas terhadap permintaan iklan digital yang bisa fluktuatif. 

Namun demikian, dengan struktur ekuitas yang makin kuat pasca rights issue, serta suntikan modal dari investor strategis, risiko tersebut dinilai manageable.

Pada akhirnya, pasar akan menentukan seberapa cepat valuasi saham WIFI bisa mengejar kinerjanya. Dengan kombinasi pertumbuhan laba tiga digit, margin jumbo, strategi ekspansi efisien, dan dukungan makro yang kuat, saham ini berada dalam posisi yang secara valuasi masih memberikan ruang kenaikan.

“Momentum laba bersih dan ekspansi jaringan yang dikombinasikan dengan valuasi yang belum maksimal menjadikan WIFI sebagai salah satu pilihan utama kami di sektor teknologi,” pungkas Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas itu. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya