Insight Daily 05 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

Saham Undervalued September 2025: Saatnya Koleksi?

Saham-saham undervalued seperti BBTN, BFIN, ACES, ROTI, dan JSMR menyimpan potensi besar. Investor cerdas mencium peluang sebelum yang lain sadar.

KABARBURSA.COM - Sektor teknologi dan komoditas telah melesat di paruh pertama 2025, membuat sebagian besar saham unggulan sudah diperdagangkan pada valuasi premium. Namun, ketika euforia mengejar saham yang sedang naik berlangsung, peluang justru muncul dari mereka yang tertinggal atau saham-saham undervalued. Beberapa saham justru tertinggal meski kinerjan...

Ilustrasi daftar saham undervaluated yang layak dikoleksi. Gambar dibuat oleh Chat GPT untuk KabarBursa.com
Ilustrasi daftar saham undervaluated yang layak dikoleksi. Gambar dibuat oleh Chat GPT untuk KabarBursa.com

Insight Navigator

  1. 01 Memahami Saham Undervalued
  2. 02 Mereka yang Masih Terpinggirkan
  3. 03 Strategi Masuk Berdasarkan Sinyal Pasar
  4. 04 Sentimen Pasar dan Psikologi Harga
  5. 05 Menyusun Strategi: dari Watchlist ke Eksekusi

KABARBURSA.COM - Sektor teknologi dan komoditas telah melesat di paruh pertama 2025, membuat sebagian besar saham unggulan sudah diperdagangkan pada valuasi premium. Namun, ketika euforia mengejar saham yang sedang naik berlangsung, peluang justru muncul dari mereka yang tertinggal atau saham-saham undervalued. 

Beberapa saham justru tertinggal meski kinerjanya tumbuh stabil. Mereka tidak ramai dibicarakan, namun valuasinya memberi ruang yang cukup lebar untuk naik. Di sinilah peluang sering bersembunyi.

Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif sepanjang kuartal II 2025 hingga awal September. Hal ini ditopang oleh antusiasme IPO besar, dorongan dari sektor teknologi, serta sentimen pelonggaran moneter global, indeks acuan Indonesia menembus kembali area psikologis 7.500. Ini merupakan sebuah level yang terakhir disentuh hampir dua tahun lalu.

Sektor teknologi memimpin dengan lonjakan kinerja luar biasa, tercatat naik 133 persen year-to-date hingga Juli 2025, sebagaimana ditunjukkan dalam laporan Stock Digest Juli 2025.

Saham-saham seperti GoTo, EMTK, dan anak usaha grup besar lain yang bergerak di digital economy menjadi pusat perhatian. Di saat yang sama, sektor komoditas energi dan batubara juga mencatatkan rebound moderat, dengan emiten seperti ADRO dan PTBA menikmati sentimen harga batu bara global yang lebih stabil.

Di balik performa positif tersebut, ada bagian pasar yang cenderung terabaikan. Sektor infrastruktur, konsumer defensif, bahkan perbankan BUMN justru menunjukkan pergerakan harga yang stagnan atau bahkan negatif meskipun laporan keuangan kuartal II memperlihatkan stabilitas yang layak diapresiasi.

Bahkan, beberapa emiten dengan fundamental kuat dan laba tumbuh justru mengalami penurunan harga saham atau tetap berkutat di rentang bawah. Fenomena ini mengindikasikan satu hal: ada peluang yang belum tergali.

Pasar saham, seperti yang sering diungkapkan investor kawakan, bukan tempat untuk membeli yang sedang populer. Tapi tempat menemukan nilai sebelum orang lain menyadarinya. Inilah esensi dari saham undervalued atau saham yang harganya belum mencerminkan nilai sesungguhnya.

Maka pertanyaannya, bagaimana kita mengidentifikasi saham yang benar-benar undervalued? Dan yang lebih penting lagi adalah mengapa saham tersebut belum naik, meski seharusnya layak?

Memahami Saham Undervalued 

Tidak semua saham berharga rendah layak disebut undervalued. Seperti barang diskon di etalase, ada yang murah karena berkualitas dan ada pula yang murah karena rusak. Di pasar saham, membedakan keduanya memerlukan lebih dari sekadar melihat harga.

Saham undervalued bukan hanya soal angka kecil di layar monitor. Ia adalah kondisi ketika nilai intrinsik sebuah perusahaan. Ini mencakup potensi laba, aset bersih, posisi pasar, dan prospek bisnis di mana tidak tercermin dalam harga sahamnya. Kondisi ini bisa terjadi karena sentimen pasar yang belum berpihak, siklus sektor yang sedang turun, atau perhatian investor yang sedang teralihkan ke tempat lain.

Salah satu indikator utama yang sering digunakan untuk menilai apakah saham tergolong undervalued adalah rasio Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Ratio (PER). PBV mengukur seberapa besar pasar menghargai ekuitas bersih perusahaan.

Jika PBV di bawah 1, artinya pasar menghargai perusahaan lebih rendah dari nilai bukunya — kondisi ini bisa menjadi sinyal undervaluasi, terutama untuk sektor-sektor seperti perbankan atau konstruksi yang padat aset.

Namun, angka-angka ini tidak bisa berdiri sendiri. PBV rendah pada perusahaan dengan aset bermasalah tidak bisa dianggap peluang. Di sisi lain, PER yang rendah bisa menandakan saham undervalued, tetapi bisa juga menunjukkan pasar memperkirakan penurunan laba pada masa depan. Di sinilah pentingnya melihat konteks: mengapa valuasi saham itu rendah.

Mereka yang Masih Terpinggirkan

Ketika arus modal besar mengalir deras ke saham-saham teknologi dan energi, sebagian emiten justru dibiarkan bergerak perlahan di jalur sepi. Bukan karena fundamental mereka rapuh, bukan pula karena pasar kehilangan kepercayaan, melainkan karena sorotan belum datang ke arah sana.

Namun, di pasar yang kerap bergerak dalam siklus dan rotasi, justru di sanalah peluang tersembunyi berada — di saham-saham yang belum dipanggil naik.

Seperti contoh, Bank Tabungan Negara, misalnya. BBTN per akhir Juli 2025 diperdagangkan pada harga Rp1.115 per saham. Angka ini mencerminkan valuasi Price to Book Value (PBV) sekitar 0,7 kali dan Price to Earnings Ratio (PER) hanya sekitar 6 kali — jelas di bawah rerata bank BUMN besar lainnya.

Padahal, pertumbuhan pendapatan bunga bersih bank ini tergolong impresif, mencapai 22,86 peresn secara tahunan. Laba bersih memang tidak melonjak, tapi tetap tumbuh positif. Hambatan utama ada pada lonjakan pencadangan risiko kredit.

Namun, langkah ini justru memperlihatkan kehati-hatian manajemen dalam menjaga kualitas aset. Dari sisi teknikal, BBTN belum bergerak keluar dari zona konsolidasi sejak Juni, namun mulai menunjukkan pola akumulasi perlahan. Jika Bank Indonesia melanjutkan penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini, maka BBTN akan menjadi salah satu bank yang paling diuntungkan karena sensitivitasnya terhadap pembiayaan KPR.

Dari sektor pembiayaan non-bank, BFI Finance atau BFIN mencuri perhatian karena efisiensi yang konsisten. Harga sahamnya pada akhir Juli berada di Rp765, dengan valuasi yang bahkan lebih rendah: PBV di bawah 1 dan PER di kisaran 5,8. Return on Equity (ROE)-nya masih dua digit, dan Net Profit Margin (NPM) termasuk tertinggi di industrinya.

Secara teknikal, saham ini memang belum menunjukkan lonjakan. Pergerakan masih datar di rentang Rp750 hingga Rp780. Namun tekanan jual rendah dan volume transaksi mulai menunjukkan peningkatan. Sektor multifinance memang belum dilirik pasar luas pasca gelombang suku bunga tinggi tahun lalu, namun justru di fase inilah rotasi biasanya dimulai.

Di sektor ritel, Ace Hardware Indonesia atau ACES sedang membangun kembali fondasi kepercayaan pasar. Harga sahamnya stagnan di level Rp470, jauh dari masa kejayaannya sebelum pandemi.

Namun, posisi kas perusahaan sehat, dan beban utang hampir tak ada. Rasio PBV-nya sekitar 1,4 kali, PER-nya di bawah 10. Artinya, pasar saat ini membayar ACES dengan harga yang layak, atau bahkan terlalu murah, jika dilihat dari kestabilan operasionalnya.

Di sisi teknikal, pergerakan membentuk pola dasar yang kokoh dengan support kuat di area Rp450. Jika konsumsi domestik membaik di akhir tahun. Hal ini seiring tradisi belanja saat liburan, saham ini bisa menjadi kandidat kuat untuk bangkit lebih awal dibanding kompetitornya.

Sementara itu, Nippon Indosari Corpindo atau ROTI tetap menjadi representasi saham defensif yang undervalued. Di harga Rp810 per akhir Juli, saham ROTI menawarkan stabilitas yang jarang dihargai pasar dalam masa euforia. PER-nya sekitar 10, PBV mendekati 1.

Dengan jaringan distribusi yang solid dan pengendalian biaya yang ketat, ROTI menjaga margin keuntungannya tetap sehat. Selama dua bulan terakhir, harga sahamnya tertahan di kisaran Rp790–830, tapi volume transaksi menunjukkan peningkatan pelan. Ini merupakan sinyal yang kerap muncul sebelum rotasi dana masuk ke saham-saham sektor konsumsi dasar.

Kemudian ada Jasa Marga, pemain utama di sektor infrastruktur jalan tol nasional. Saham JSMR bergerak stagnan di kisaran Rp3.580, meskipun di lapangan, penyelesaian proyek-proyek strategis berjalan sesuai jadwal.

Salah satunya adalah tol Probolinggo–Banyuwangi, yang telah menyelesaikan konstruksi di beberapa ruas kunci. Valuasi JSMR tergolong murah untuk perusahaan sekelasnya: PBV sekitar 1,1 dan PER hanya 7 kali.

Dari sisi teknikal, saham ini membentuk pola segitiga menyempit, menandakan akumulasi dalam diam. Jika rencana pemerintah dalam APBN 2026 kembali menekankan pembangunan infrastruktur, maka saham ini tidak butuh waktu lama untuk menyusul.

Kelimanya saham ini mewakili berbagai sektor yang berbeda, namun memiliki satu kesamaan: harga saham mereka tertinggal dari nilai sebenarnya. Bukan karena mereka buruk, tapi karena pasar belum memberi giliran. Dan dalam pasar yang efisien, giliran itu selalu datang baik cepat atau lambat.

Transisi ke giliran itu kerap diawali dengan sinyal teknikal: peningkatan volume, breakout harga, atau pola konsolidasi yang matang. Oleh karena itu, mengenali valuasi saja belum cukup. Investor yang ingin mengambil peluang dari saham-saham undervalued juga perlu memahami kapan momentum pergerakan akan dimulai.

Strategi Masuk Berdasarkan Sinyal Pasar

Menemukan saham undervalued adalah satu hal. Tapi, memahami kapan harus masuk adalah hal lain dan sering kali jauh lebih menentukan hasil akhir. Karena, pasar tidak memberi penghargaan hanya kepada mereka yang tahu, tetapi kepada mereka yang tahu dan bertindak di saat yang tepat.

Saham seperti BBTN, BFIN, ACES, ROTI, JSMR memiliki satu kesamaan: belum bergerak jauh dari harga dasarnya. Ini bukan kebetulan. Pasar memang belum memberi giliran. Tapi, jika dicermati dengan saksama, beberapa tanda awal mulai muncul: volume yang perlahan meningkat, pola harga yang menyempit, atau harga yang menolak turun meski indeks terkoreksi.

Ambil contoh BBTN. Saham ini bergerak datar dalam rentang sempit sejak awal Juli, di antara Rp1.080 dan Rp1.150. Rentang ini terlalu kecil untuk trader jangka pendek, tapi justru menarik bagi investor jangka menengah yang mencari titik akumulasi.

Pola seperti ini disebut base building atau sebuah fase akumulasi diam-diam yang sering mendahului kenaikan signifikan. Ketika harga mulai menembus batas atas rentangnya, terutama disertai volume harian yang naik dua hingga tiga kali lipat dari rata-rata, itu sering menjadi sinyal awal bahwa pelaku pasar besar mulai masuk.

BFIN memperlihatkan karakter teknikal serupa. Harga yang stabil di kisaran Rp750–780 selama berbulan-bulan bisa jadi terlihat membosankan, tetapi di sinilah jebakan logika jangka pendek sering menjauhkan investor dari peluang jangka panjang.

Dalam grafik mingguan, area ini justru membentuk support yang kuat. Ketika harga berkali-kali menguji batas bawahnya namun gagal turun lebih dalam, itu menandakan adanya tekanan beli yang tidak kasat mata. Jika breakout ke atas Rp790 terjadi, ruang kenaikan menuju Rp850 terbuka dan dari situ, reaksi pasar akan lebih ditentukan oleh sentimen makro.

Saham seperti ACES dan ROTI menampilkan sinyal yang lebih halus. Keduanya membentuk pola segitiga simetris — artinya, harga makin menyempit, bergerak seperti mata panah yang belum dilepas. Dalam kondisi seperti ini, pasar sedang “menahan napas.”

Volume transaksi ACES mulai meningkat sejak akhir Agustus, meski harganya belum keluar dari kisaran Rp470–490. ROTI menunjukkan pola serupa, dengan konsolidasi yang tenang di sekitar Rp800. Kedua pola ini dikenal sebagai volatility squeeze, dan ketika tekanan ini dilepas — baik ke atas atau ke bawah — pergerakan berikutnya biasanya kuat.

JSMR sedikit berbeda. Pola segitiganya cenderung membentuk ascending triangle, di mana support naik perlahan dan resistance tetap di level horizontal. Ini pola klasik dari potensi breakout. Ketika resistance di Rp3.700 tertembus dengan volume yang meyakinkan, biasanya harga tidak sekadar naik tapi juga mengunci momentum yang akan membawa ke area Rp3.900 bahkan Rp4.200 dalam waktu singkat. Tapi, sebelum itu terjadi, investor sabar menunggu di fase datar, membiarkan harga “beristirahat” di tempat yang sama.

Membaca grafik bukan soal meramal, melainkan membaca intensi pasar. Volume yang tiba-tiba membesar di tengah harga yang masih diam bisa lebih berarti daripada lonjakan harga yang tidak disertai minat beli. Dalam saham undervalued, sinyal teknikal sering kali pelan, halus, dan hanya dikenali oleh mereka yang memperhatikan dengan tenang.

Dalam dunia yang penuh kebisingan harga harian dan fluktuasi indeks, pendekatan ini mengajarkan satu hal: tidak semua peluang datang dalam bentuk lonceng yang nyaring. Beberapa justru datang seperti langkah kaki di pasir — terlihat samar, tapi membawa arah yang pasti.

Sentimen Pasar dan Psikologi Harga

Pasar saham bukan sekadar tempat menjual angka dan rasio. Di dalamnya, ada psikologi kolektif, persepsi risiko, harapan yang berubah-ubah, dan narasi yang bisa mengangkat atau menjatuhkan harga, bahkan sebelum laporan keuangan berikutnya dirilis. Saham undervalued, seberapapun menariknya secara fundamental dan teknikal, tetap tidak akan bergerak tanpa dorongan sentimen yang mendukung.

Salah satu sentimen terbesar yang membayangi pasar selama semester pertama 2025 adalah arah suku bunga. Sepanjang tahun lalu, Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level tinggi, sejalan dengan kebijakan moneter global yang ketat.

Namun, memasuki kuartal ketiga, tanda-tanda pelonggaran mulai terlihat. Jika The Fed benar-benar mulai menurunkan suku bunga pada kuartal keempat Bank Indonesia kemungkinan akan mengikuti. Dan bagi saham seperti BBTN dan BFIN, ini adalah katalis yang besar.

Bank seperti BBTN hidup dari margin bunga bersih. Semakin rendah suku bunga, semakin banyak ruang untuk ekspansi kredit perumahan dengan bunga kompetitif. Bagi BFIN, pelonggaran moneter berarti biaya dana yang lebih murah — membuka potensi peningkatan pinjaman dan efisiensi margin.

Di luar makro, ada pula sentimen sektoral. Saham seperti ROTI, misalnya, mendapat manfaat dari stabilnya harga bahan baku pangan dunia. Tidak ada guncangan besar dari sisi input, dan dengan distribusi yang merata, ROTI bisa menjaga margin.

Sementara itu, ACES mengandalkan pulihnya belanja rumah tangga menjelang akhir tahun. Musim liburan akhir tahun, didorong promosi dan diskon besar-besaran, kerap membawa lonjakan omzet ritel. Jika ekspektasi ini mulai dibicarakan pasar, rotasi ke saham-saham konsumer bisa dimulai dari nama-nama seperti ACES.

Sedangkan JSMR menghadapi sentimen politik dan anggaran. APBN 2026 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang akan mulai digodok di akhir 2025 bisa memunculkan kembali isu pembangunan infrastruktur sebagai prioritas. Dalam masa seperti itu, saham badan usaha milik negara di sektor tol sering kali mendapat perhatian lebih, meskipun kinerjanya belum banyak berubah.

Di sisi lain, investor juga perlu mencermati risiko sentimen negatif. Isu geopolitik di Asia Timur, penurunan daya beli di luar Jawa, atau koreksi teknikal di sektor perbankan global bisa sewaktu-waktu memukul harga saham yang sebenarnya sehat. Karena itulah, pendekatan terhadap saham undervalued selalu harus mencakup pemahaman terhadap psikologi pasar: kapan sentimen mulai berubah, dan apa cerita yang sedang diikuti investor saat ini.

Menyusun Strategi: dari Watchlist ke Eksekusi

Setelah mengenali valuasi, membaca sinyal teknikal, dan memahami sentimen pasar, pertanyaan selanjutnya adalah: apa yang harus dilakukan sekarang? Banyak investor terjebak dalam fase observasi berkepanjangan. Mereka sudah tahu sahamnya menarik, sudah melihat polanya, tapi ragu mengambil posisi karena takut terlalu cepat — atau terlambat.

Strategi masuk ke saham undervalued membutuhkan keseimbangan antara kesabaran dan keberanian. Satu pendekatan yang umum digunakan oleh investor berpengalaman adalah akumulasi bertahap, bukan membeli sekaligus. Artinya, investor membeli dalam beberapa tahap: sebagian di harga sekarang, sebagian jika harga turun, dan sisanya jika harga mulai menunjukkan konfirmasi arah naik.

Misalnya pada BFIN. Jika saat ini harga berada di Rp765 dan mendekati support Rp750, investor bisa mulai masuk dengan sebagian kecil portofolio. Jika harga turun ke Rp740, menambah. Tapi jika harga justru naik ke atas Rp790 dengan volume kuat, investor bisa menambah lebih agresif — karena itu pertanda konfirmasi.

Hal serupa berlaku untuk BBTN dan ACES. Strategi ini menggabungkan prinsip risk management dengan conviction. Membeli bertahap juga memberi ruang psikologis: jika pasar bergerak melawan, kerugian tidak langsung terasa berat; jika bergerak searah, posisi sudah terbentuk sejak awal.

Selain itu, penting untuk menetapkan kerangka waktu investasi. Saham undervalued bukan tipe yang naik dalam seminggu atau dua. Beberapa mungkin butuh waktu berbulan-bulan sebelum pasar mulai menyadari nilainya. Tapi ketika rotasi modal datang, kenaikannya bisa sangat cepat — bahkan tanpa peringatan. Karena itu, investor harus menyiapkan mental untuk “membosankan tapi cuan”.

Dan yang tak kalah penting adalah disiplin terhadap narasi dan data sendiri. Dalam perjalanan waktu, mungkin akan muncul komentar analis, rumor pasar, atau kenaikan sesaat yang membuat ragu.

Tetapi selama alasan membeli masih valid atau dengan kata lain valuasi tetap murah, kinerja terjaga, dan arah teknikal belum rusak, posisi sebaiknya tetap dipegang. Inilah yang membedakan investor dari sekadar penonton.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya